Kebodohan Merusak Kebersamaan
penulis Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed
Syariah Nasehat 01 - Oktober - 2007 10:01:57
orang2 yg cerdas dan berilmu niscaya mengetahui betapa penting kebersamaan. Sehingga mereka benar-benar menjaga kebersamaan dlm jamaah kaum muslimin dan penguasa -nya. Adapun orang2 yg bodoh sama sekali tdk mengerti betapa penting kehidupan berjamaah dgn satu penguasa. Bahkan mereka tdk mengerti mana yg lbh banyak antara satu dan sepuluh. Yakni mana yg lbh besar antara korupsi kolusi atau nepotisme dgn pertumpahan darah kaum muslimin dlm perang saudara.
Seorang yg berilmu mengetahui bahwa dgn mengikuti bimbingan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut penerapan yg dicontohkan salafus shalih pasti kaum muslimin akan terbimbing ke jalan yg terbaik. mk ia akan menghadapi penguasa yg dzalim dgn petunjuk dan bimbingan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan orang2 yg bodoh berjalan bersama emosi dan hwa nfsu (**) tanpa meminta bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka merasa lbh pandai dan lbh cerdas dari para nabi dan para ulama yg merupakan para pewarisnya. Merekalah kaum reaksioner Khawarij yg selalu menyebabkan petaka dan bencana di tiap zaman. Mereka tdk memperbaiki keadaan –seperti pengakuan mereka– tetapi justru menghancurkan kebersamaan.
Banyak tulisan-tulisan mereka yg sampai kepada tangan penulis dlm bentuk surat selebaran ataupun makalah-makalah. Hampir seluruh berisi “dalil-dalil” dan “bukti-bukti” tentang kafir penguasa yg kemudian berujung menghalalkan darah mereka. Tentu saja dgn nama samaran alamat palsu dan penerbit yg tdk jelas. Namun seperti CD yg diputar ulang isi tetap sama seperti ucapan Khawarij yg pertama: “Siapa yg tdk berhukum dgn hukum Allah mk ia kafir.”
Tentu saja jawaban kita Ahlus Sunnah seperti jawaban Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan para shahabat yg lain: “Kalimat yg haq namun yg dimaukan adl kebatilan.” Yakni ayat-ayat dan hadits-hadits dlm tulisan mereka adl kalimat-kalimat yg haq dan kita tdk membantahnya. Namun apa yg dimaukan dengannya?
Diriwayatkan dari ‘Ubaid bin Rafi’ bahwa ketika kaum Khawarij mengatakan “Tidak ada hukum kecuali hukum Allah” Ali radhiyallahu ‘anhu pun berkata: “Kalimat yg haq namun yg mereka maukan adl kebatilan. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kepada kami suatu kaum mk kamipun telah mengenalinya. Yaitu sekelompok orang yg berbicara kebenaran namun tdk melewati ini –sambil mengisyaratkan ke tenggorokannya–. Mereka adl makhluk-makhluk yg paling dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Kalau saja mereka menulis dalil-dalil tersebut dlm rangka memperingatkan dan mengancam mk kamipun sepakat. Karena Al-Imam Ahmad rahimahullahu menyatakan dlm masalah wa’id : “Biarkanlah ancaman seperti apa ada agar manusia menjadi takut.” Namun ketika men-ta’yin kafir tentu kita harus merincinya. Karena pada dalil-dalil itu bisa jadi yg dimaksud kufur ashghar atau kufur akbar kafir amali atau kafir i’tiqadi dan lain-lain. Namun yg kita bahas kali ini adl kebodohan mereka dlm penerapan dalil-dalil tersebut serta akibat dari kebodohan mereka.
Adapun kebodohan sangat jelas sekali. Karena mereka menerapkan dalil-dalil kepada orang2 yg masih shalat berpuasa mengeluarkan zakat dan pergi haji. Bukankah di antara hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mendasar adl ibadah tersebut? Berarti mereka –paling tidak– masih berhukum dgn hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm perkara-perkara yg sangat penting tersebut yg merupakan dasar-dasar keislaman. Oleh krn itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita utk memerangi penguasa yg masih shalat.
Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ، يُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لاَ مَا أَقَامُوا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ فَاكْرَهُوْا عَمَلَهُ، وَلاَ تَنْزِعُوْا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ
“Sebaik-baik penguasa kalian adl yg kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian yg kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan sejelek-jelek penguasa kalian adl yg kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian serta kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” Dikatakan:”Wahai Rasulullah tidakkah kita perangi saja mereka dgn pedang?” Beliau bersabda: “Jangan selama mereka masih menegakkan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari penguasa kalian sesuatu yg tdk kalian sukai bencilah perbuatan namun jangan mencabut tangan kalian dari ketaatan.”
Ibnu ‘Allan rahimahullah wa ghafarallahu lahu berkata: “Ucapan beliau ‘selama mereka menegakkan shalat di tengah-tengah kalian’ adl larangan utk memerangi mereka selama mereka masih menegakkan shalat. Karena shalat merupakan tanda-tanda keislaman mereka. Sebab perbedaan antara kekafiran dan keislaman adl shalat. Yang demikian krn kekhawatiran akan timbul fitnah dan perpecahan di kalangan kaum muslimin yg tentu lbh parah kemungkaran daripada bersabar terhadap kejelekan dan kemungkaran yg muncul dari penguasa tersebut.”
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Mereka adl sejahat-jahat makhluk krn membawa ayat-ayat yg turun tentang orang non muslim kemudian diterapkan kepada kaum muslimin.”
Maka jangan teperdaya dgn banyak ucapan dari para ulama salaf Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits yg dinukil dlm tulisan-tulisan mereka. Karena semua itu hanya sesuatu yg dipakai utk menutupi kebatilan mereka. Para ulama berbicara tentang bahaya berhukum dgn selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm bentuk ancaman kemudian mereka menyimpulkan dgn pengkafiran kaum muslimin dan penghalalan darah secara ta’yin!
Terlebih kebanyakan mereka berusia muda serta bodoh krn minim kedewasaan mereka. Sehingga mereka hanya mengandalkan semangat dan ‘otot’ saja tanpa dilandasi oleh ilmu serta pertimbangan yg matang. Hal seperti ini pun digambarkan dlm riwayat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai berikut:
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ، أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَاهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لاَ يُجَاوِزُ إِيْمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، فَأَيْنَمَا لَقِيْتُمُوْهُمْ فَاقْتُلُوْهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yg masih muda umur tapi bodoh pemikirannya. Mereka berbicara seperti perkataan manusia yg paling baik. Keimanan mereka tdk melewati tenggorokannya. Mereka keluar dari agama ini seperti keluar anak panah dari buruannya. Di mana saja kalian temui mereka bunuhlah mereka. Sesungguh membunuh mereka akan mendapatkan pahala pada hari kiamat.”
Al-Imam Al-Ajurri rahimahullahu berkata tentang Khawarij: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama yg dahulu maupun sekarang bahwa Khawarij adl kaum yg sangat jelek. Mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun mereka melakukan shalat puasa dan bersungguh-sungguh dlm beribadah.”
Maka akibat sangat fatal sekali. Dengan kebodohan mereka mengkafirkan penguasa berikut aparatur pendukung serta semua yg tdk mengkafirkan mereka. Kemudian mereka menghalalkan darah serta membolehkan pemberontakan dan praktik-praktik teror. Ini sangat fatal krn mereka menjadikan citra Islam demikian menakutkan di mata manusia. Akhir islamofobia menjalar di masyarakat. Sungguh para pengacau Khawarij memikul dosa besar atas rusak gambaran Islam yg dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Padahal sesungguh diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa Islam ini adl sebagai rahmat bagi seluruh alam.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan utk rahmat bagi semesta alam.”
Karikatur orang2 kafir Denmark –la’natullah ‘alaihim– memang sangat menyakitkan. Namun apakah pemicu perbuatan mereka kalau bukan perbuatan para teroris banci?!
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat berperang melawan orang2 kafir namun mereka tetap berwibawa di hadapan kawan dan lawan. Mengapa? Karena perang mereka sangat gentle. Memerangi kafir harbi dan tdk memerangi kafir dzimmi mu’ahad dan utusan-utusan. Berhadapan muka bukan dari belakang. Membunuh tentara mereka dan tdk membunuh warga sipil wanita dan anak-anak.
Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya. Kemudian beliau melihat orang2 mengerumuni sesuatu mk beliau mengutus seseorang utk melihatnya. Ternyata didapati seorang wanita yg terbunuh oleh pasukan terdepan yg dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu mk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
انْطَلِقْ إِلَى خَالِدِ بْنِ الْوَلِيْدِ فَقُلْ لَهُ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُكَ يَقُوْلُ لاَ تَقْتُلَنَّ ذُرِّيَّةً وَلاَ عَسِيْفًا
“Pergilah kepada Khalid dan katakanlah kepadanya: ‘Sesungguh Rasulullah melarang engkau membunuh dzurriyyah dan pekerja ’.”
Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قُلْ لِخَالِدٍ لاَ تَقْتُلَنَّ امْرَأَةً وَلاَ عَسِيْفًا
“Katakan kepada Khalid: ‘Jangan ia membunuh wanita dan pekerja’.”
Dengan kata lain kebodohan kaum reaksioner Khawarij telah menyuburkan berbagai bentuk kerusakan di antaranya: meruntuhkan kebersamaan kaum muslimin pertumpahan darah sesama muslim kekacauan dan yg lbh parah lagi adl rusak citra Islam. Tidak heran jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan mereka dgn gambaran-gambaran yg sangat jelek dan mengerikan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebut mereka sebagai anjing-anjing neraka sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit dan lain-lain.
Diriwayatkan dari Abu Ghalib rahimahullahu bahwa ia berkata: “Pada saat aku berada di Damaskus tiba-tiba didatangkanlah 70 kepala dari tokoh-tokoh Haruriyyah dan dipasang di tangga-tangga masjid. Pada saat itu datanglah Abu Umamah –sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam– kemudian masuk ke masjid. Beliau shalat dua rakaat lalu keluar menghadap kepala-kepala tadi. Beliau memandang beberapa saat sambil meneteskan air mata kemudian berkata: “Apa yg dilakukan oleh iblis-iblis ini terhadap ahlul Islam?” . Dan beliau berkata lagi: “Anjing-anjing neraka.” . Kemudian beliau berkata:
هُمْ شَرُّ قَتْلَى تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمْاءِ، خَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوْهُ
“Mereka adl sejelek-jelek bangkai di bawah naungan langit dan sebaik-baik orang yg terbunuh adl orang yg dibunuh oleh mereka.”
Kemudian beliau menghadap kepadaku seraya berkata: “Wahai Abu Ghalib sesungguh engkau berada di negeri yg banyak tersebar hwa nfsu (**) dan banyak kekacauan.” Aku menjawab: “Ya.” Beliau berkata: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungimu dari mereka.” Aku katakan: “Tetapi mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab: “Karena kasih sayangku kepada mereka sesungguh mereka dulu adl golongan Islam .” Aku berta kepadanya: “Apakah yg kau sampaikan itu sesuatu yg kau dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau sesuatu yg kau sampaikan dari pendapatmu sendiri?!” Beliau menjawab: “Kalau begitu berarti aku sangat lancang jika aku menyampaikan apa yg tdk aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali dua kali tiga kali dan seterus –hingga beliau menyebut sampai tujuh kali.
Diriwayatkan pula dari Sa’id bin Jahman beliau berkata: “Saya masuk menemui Ibnu Abi Aufa dlm keadaan beliau telah buta. Aku memberi salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku kemudian bertanya: “Siapakah engkau ini?” Aku menjawab: “Saya Sa’id bin Jahman.” Dia berta lagi: “Apa yg terjadi pada ayahmu?” Aku menjawab: “Dia dibunuh oleh sekte Azariqah .” mk Ibnu Abi Aufa mengatakan tentang Azariqah: “Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerangi Azariqah. Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan kepada kami:
أَلآ إِنَّهُمْ كِلاَبُ أَهْلِ النَّارِ
“Ketahuilah bahwa mereka adl anjing-anjing penduduk neraka.”
Aku bertanya: “Apakah sekte Azariqah saja atau seluruh Khawarij?” Beliau menjawab: “Seluruh Khawarij.”
Sebalik kita lihat orang2 yg cerdas dan berilmu yaitu para shahabat radhiyallahu ‘anhum ketika mengalami masa-masa fitnah. Di antara Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu yg –konon katanya1– diusir oleh khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. mk beliau pergi ke Syam. Ternyata di Syam pun terjadi perselisihan dgn gubernur yaitu Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Ia pun keluar dari Syam dan tinggal di desa terpencil yg bernama Rabadzah. Apa sikap beliau? Apakah ia bergabung bersama Khawarij memerangi penguasa utk membela pribadinya?
Sungguh itulah dugaan kaum reaksioner Khawarij kepada Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Tetapi Abu Dzar tdk sebodoh yg mereka sangka. Ketika mereka mendatangi Rabadzah dan mengatakan kepadanya: “Kibarkanlah bendera utk kami! Niscaya kami akan menjadi tentaramu melawan khalifah ‘Utsman!” Abu Dzar pun menjawab: “Demi Allah kalaupun ‘Utsman mengusirku ke timur ataupun ke barat niscaya aku pun akan mendengar dan taat.”
Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah rahimahullahu Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai ahlul Islam jangan kalian tawarkan kejelekan kalian kepadaku! Jangan kalian jatuhkan kehormatan penguasa. Karena sesungguh barangsiapa menghinakan penguasa mk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghinakannya.”
Jangan kita mengatakan bahwa sikap tersebut khusus krn penguasa adl seorang shahabat yg mulia ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Jangan bodoh atau berpura-pura bodoh! Bukankah pelajaran yg kita ambil adl dari keumuman lafadz yaitu “penguasa muslim”? Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan ada penguasa yg hati seperti hati setan dlm tubuh manusia tdk mengikuti As-Sunnah. Namun tetap beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan utk sabar dan menahan diri selama masih shalat .
Sungguh kita tdk sedang membela para penguasa. Tidak pula menyamakan penguasa kita dgn ‘Utsman bin ‘Affan. Jauh sekali perbedaan antara keduanya. Tetapi kita mengajak kaum muslimin utk menghitung dgn hitungan hikmah dan As-Sunnah. Agar kita tdk terjerumus dlm kemungkaran yg lbh besar menyalakan api peperangan sesama kaum muslimin mengacaukan keamanan yg akan merusak kehidupan kaum muslimin dan lain-lain dgn mengatasnamakan dakwah dan jihad. Wallahul musta’an.
1 Saya katakan “konon katanya” krn ternyata riwayat tidaklah benar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu tidaklah diusir melainkan menyendiri atas kemauan sendiri krn perbedaan pendapat yg terjadi antara beliau dgn beberapa shahabat yg lain.
Sumber: www.asysyariah.com
