Manfaat Menahan Pandangan

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husen Al-Atsariyyah
Sakinah Mutiara Kata 30 - Januari - 2006 23:27:41

Mata dan qalbu senantiasa berhubungan. Jika salah satu baik mk akan baik pula yg lainnya. mk menjaga mata merupakan sesuatu yg mesti kita lakukan agar qalbu merasakan banyak manfaat darinya.

Saudariku muslimah… semoga Allah k
memberkahimu.
Dalam edisi yg lalu kita telah mengetahui aturan syariat dlm masalah menahan pandangan mata. Berikut ini utk menambah semangat dlm mengamalkan aturan syariat tersebut kita nukilkan -secara ringkas- uraian yg diberikan oleh Al-Imam Al-Allamah Al-Hafizh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Asy-Syaikh Taqiyuddin Abu Bakr yg lbh dikenal dgn Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah v
tentang manfaat menahan pandangan mata dlm kitab yg sangat bernilai Ad-Da`u wad Dawa`atau Al-Jawabul Kafi liman Sa`ala ‘anid Dawa`isy Syafi.
Pertama: Dengan menahan pandangan mata berarti berpegang dgn perintah Allah k
yg merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba dlm kehidupan di dunia dan di akhirat.
Kedua: Menahan pandangan akan mencegah sampai pengaruh panah beracun ke dlm qalbu1 seorang hamba.
Ketiga: Menahan pandangan akan mewariskan kedekatan seorang hamba dgn Allah k
dan menyatukan qalbu agar hanya tertuju kepada Allah k
. Sebalik mengumbar pandangan akan memecah belah qalbu dan mencerai-beraikannya.
Keempat: Menguatkan qalbu dan membahagiakannya. Sebalik mengumbar pandangan akan melemahkan qalbu dan membuat sedih.
Kelima: Menahan pandangan akan menghasilkan cahaya bagi qalbu sebagaimana mengumbar pandangan akan menggelapkan qalbu. Karena itulah setelah Allah k
memerintahkan ghadhul bashar dlm surah An-Nur :

قُلْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوْجَهُمْ

“Katakanlah kepada laki2 yg beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…”
Allah k
ikutkan dgn firman-Nya:

اللهُ نُوْرُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ مَثَلُ نُوْرِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيْهَا مِصْبَاحٌ

“Allah cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adl seperti lubang yg tdk tembus yg di dlm ada pelita besar…” yakni perumpamaan cahaya-Nya pada qalbu seorang hamba yg beriman yg berpegang dgn perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Apabila qalbu itu bercahaya datanglah utusan-utusan kebaikan kepada dari segala arah. Sebagaimana bila qalbu itu gelap akan datang kepada awan-awan bala` dan kejelekan dari tiap tempat. Segala macam bid‘ah kesesatan mengikuti hwa nfsu (**) menjauhi petunjuk berpaling dari sebab-sebab kebahagiaan dan menyibukkan diri dgn sebab-sebab kesengsaraan semua itu akan tersingkap oleh cahaya yg ada di dlm qalbu. Namun bila cahaya itu hilang jadilah pemilik qalbu tersebut seperti seorang yg buta yg berkeliaran di malam yg gelap gulita.
Keenam: Menahan pandangan akan mewariskan firasat yg benar yg dengan ia akan membedakan antara yg haq dgn yg batil antara orang yg jujur dgn yg dusta.
Ibnu Syujja‘ Al-Kirmani v
pernah berkata: “Siapa yg memakmurkan zhahir dgn mengikuti sunnah dan batin dgn terus menerus muraqabah2 dan menahan pandangan dari perkara-perkara yg diharamkan menahan jiwa dari syubhat dan makan dari yg halal mk firasat tdk akan salah.”
Allah k
memberikan kepada hamba-Nya balasan yg sejenis dgn amalan yg dilakukan dan “Siapa yg meninggalkan sesuatu krn Allah k
niscaya Allah k
akan menggantikan dgn yg lbh baik dari sesuatu tersebut.”3 Bila si hamba menahan pandangan dari perkara yg Allah k
haramkan mk Allah k
gantikan dgn memberikan cahaya pada pandangan hatinya. Allah k
bukakan bagi pintu ilmu dan iman ma’rifah firasat yg benar dan tepat semua ini hanya diperoleh dgn bashirah qalb .
Ketujuh: Menahan pandangan akan mewariskan kekokohan keberanian dan kekuatan pada qalbu.
Kedelapan: Menahan pandangan akan menutup celah bagi masuk setan ke dlm qalbu. Karena setan itu masuk bersama pandangan mata dan akan menembus bersama pandangan tersebut ke dlm qalbu lbh cepat dari masuk udara ke tempat yg kosong. Lalu setan pun menyusupkan bayangan dari apa yg dilihat dan memperindah sehingga gambaran itu menjadi berhala di mana qalbu berdiam di atasnya. Kemudian setan menjanjikan membuat berangan-angan dan dinyalakanlah api syhwt (**) di dlm qalbu. Lalu dilemparkanlah kayu bakar maksiat di atasnya. Jadilah qalbu tersebut berada di dlm api yg menyala-nyala seperti seekor kambing di atas tungku api.
Kesembilan: Menahan pandangan akan mengosongkan qalbu dari memikirkan hal yg haram sehingga qalbu hanya tersibukkan dgn perkara yg memberikan maslahat.
Kesepuluh: Antara mata dan qalbu itu ada penghubung dan jalan sehingga saling berhubungan satu sama lain. Bila salah satu baik mk baik pula yg lain. Dan sebalik bila salah satu rusak mk rusak pula yg lain. Rusak qalbu akan merusakkan pandangan dan rusak pandangan akan merusakkan qalbu. Demikian pula sebalik pandangan yg baik akan menjadikan qalbu baik dan qalbu yg baik akan membaikkan pandangan. Jika qalbu telah rusak jadilah ia seperti tempat sampah yg merupakan tempat pembuangan najis kotoran dan yg berbau busuk. Bila sudah demikian keadaan ia tdk bisa menjadi tempat tinggal yg nyaman bagi pengenalan terhadap Allah k
cinta kepada-Nya dan kembali pada-Nya senang dan gembira bila dekat dengan-Nya. Namun yg menempati ketika itu adl perkara-perkara yg sebaliknya.
Wallahul musta’an.

1 Qalbu bermakna jantung namun sering di-bahasa Indonesia-kan dgn hati. Rasulullah n
bersabda tentang jantung ini:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah sesungguh dlm tubuh itu ada segumpal daging apabila baik daging itu mk baik pula seluruh tubuh dan bila rusak mk rusak pula seluruh tubuh ketahuilah segumpal daging itu adl qalbu.”

2 Merasakan pengawasan Allah k

3 Diambil dari hadits:
مَنْ تَرَكَ شَيْئًا ِللهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ
diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan selainnya.

Sumber: www.asysyariah.com