Berlatih Puasa
Berlatih Puasa
penulis Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Bintu ‘Imran
Sakinah Permata Hati 06 - Oktober - 2006 11:00:51
Anak yg belum baligh memang tdk memiliki kewajiban utk berpuasa Ramadhan. Namun tentu tdk ada salah bila para orang tua mulai melatih mereka utk berpuasa yg dgn latihan ini akan memberi banyak manfaat pada diri anak.
Ramadhan telah tiba kembali. Seluruh kaum muslimin menyongsong bulan ini dgn penuh kerinduan dan merenda harapan semoga mendapatkan pahala yg berlipat dlm segala kebaikan yg ditunaikan. Mereka bersemangat menyambut perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“Wahai orang2 yg beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang2 sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Anak-anak kecil pun tdk luput dari kegembiraan ini. Mereka berlomba-lomba utk berpuasa. Orang tua pun turut menghasung mereka utk menunaikan ibadah ini bahkan terkadang dgn iming-iming hadiah bila berhasil menyelesaikan puasa hingga Ramadhan berakhir.
Namun bagaimana sesungguh yg dilakukan para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak mereka yg belum baligh saat menghadapi perintah puasa? Adakah di antara mereka yg menyuruh anak-anak mereka berpuasa sebagaimana yg banyak dilakukan kaum muslimin sekarang ini?
Dikisahkan oleh seorang shahabiyah Ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiallahu ‘anha tentang hal ini ketika datang perintah puasa ‘Asyura` puasa wajib sebelum difardhukan puasa Ramadhan:
أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُوْرَاءَ إِلَى قُرَى اْلأَنْصَار: مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ. قَالَ: فَكُنَّا نَصُوْمُهُ بَعْدُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ. فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ اْلإِفْطَارِ
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang pada pagi hari ‘Asyura ke kampung-kampung Anshar utk memerintahkan: ‘Barangsiapa yg pagi hari itu dlm keadaan tdk berpuasa hendak dia sempurnakan hari itu dgn puasa dan barangsiapa yg pagi itu berpuasa hendak melanjutkan puasanya.’ mk kami pun menunaikan puasa ‘Asyura setelah itu dan kami suruh anak-anak kami utk berpuasa dan kami buatkan utk mereka mainan dari wol. Apabila mereka menangis krn minta makanan kami berikan mainan itu. Demikian hingga tiba waktu berbuka.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu menyebutkan bahwa dlm hadits ini terdapat hujjah disyariatkan melatih anak-anak utk berpuasa krn siapa pun yg masuk dlm usia kanak-kanak sebagaimana yg disebutkan dlm hadits belumlah mukallaf . Namun perintah utk berpuasa itu semata sebagai latihan.
Demikian pula Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu dlm penjelasan beliau tentang hadits ini. Beliau mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan ada latihan bagi anak-anak utk melaksanakan ketaatan membiasakan mereka utk beribadah namun mereka bukanlah mukallaf. Al-Qadhi mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari ‘Urwah bahwa ketika anak-anak itu mampu berpuasa mk mereka wajib berpuasa. Ini adl pendapat yg keliru yg terbantah dgn hadits shahih:
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ. وَفِي رِوَايَةٍ: يَبْلُغَ
“Pena diangkat dari tiga golongan dari anak kecil sampai dia ihtilam1.” dlm riwayat yg lain: “Hingga dia baligh.”
Wallahu a’lam.
Adapun mengenai batasan usia seorang anak mulai dilatih utk berpuasa ada perselisihan di dlm hal ini. Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan disenangi memerintahkan anak-anak berpuasa utk melatih mereka apabila mereka mampu. Yang berpendapat seperti ini adl sekelompok dari kalangan salaf di antara Ibnu Sirin Az-Zuhri Asy-Syafi’i dan yg lainnya. Murid-murid Al-Imam Asy-Syafi’i berselisih dlm hal batasan usia seorang anak mulai diperintahkan utk puasa. Di antara ada yg berpendapat tujuh tahun ada pula yg berpendapat sepuluh tahun dan ini pula yg dipegangi oleh Al-Imam Ahmad. Ada pula yg berpendapat duabelas tahun demikian pendapat Ishaq. Sementara Al-Imam Al-Auza’i berpendapat apabila seorang anak mampu berpuasa tiga hari berturut-turut dan dia tdk menjadi lemah dgn puasa mk diperintahkan utk berpuasa. Pendapat yg masyhur dari kalangan Malikiyah puasa tidaklah disyariatkan pada anak-anak. Namun pendapat ini terbantah dgn hadits di atas krn sungguh sangat tdk mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk mengetahui hal ini.
Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu pernah dita apakah anak-anak kecil di bawah usia limabelas tahun diperintahkan utk berpuasa sebagaimana mereka diperintah shalat? Beliau rahimahullahu menjawab “Ya. Anak-anak yg belum mencapai baligh diperintahkan utk berpuasa jika mereka mampu sebagaimana hal ini dilakukan pula oleh para shahabat radhiallahu ‘anhum terhadap anak-anak mereka. Ahlul ilmi telah menyatakan pula bahwa wali memerintahkan anak-anak yg ada di bawah perwalian utk berpuasa agar mereka terlatih dan terbiasa melakukan dan pokok-pokok agama Islam pun terbentuk dlm jiwa mereka sehingga menjadi tabiat pada diri mereka. Akan tetapi apabila hal ini berat atau membahayakan mereka mk mereka tdk diharuskan berpuasa.
Di sini saya juga memperingatkan tentang suatu permasalahan yg dilakukan oleh sebagian ayah atau ibu yaitu melarang anak-anak mereka berpuasa berbeda dgn apa yg dilakukan oleh para shahabat radhiallahu ‘anhum. Mereka beranggapan mereka melarang anak-anak berpuasa krn rasa sayang dan iba terhadap anak-anak. Padahal pada kenyataan kasih sayang terhadap anak-anak itu dilakukan dgn memerintahkan mereka utk melaksanakan syariat Islam dan membiasakan mereka terhadapnya. Tidak diragukan lagi yg demikian ini merupakan pendidikan yg baik dan penjagaan yg sempurna. Telah tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ رَاعٍ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ وَمَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Sesungguh seorang laki2 adl penanggung jawab terhadap keluarga dan kelak akan ditanyai tentang tanggung jawabnya.”2
Maka yg selayak dilakukan oleh wali terhadap orang yg Allah jadikan di bawah perwalian baik keluarga maupun anak-anak kecil hendak dia bertakwa kepada Allah dlm mengurusi mereka dan memerintahkan mereka dgn segala sesuatu yg dia diperintahkan utk memerintahkan berupa syariat Islam.”
Berkaitan dgn hal ini ada satu catatan penting yg diberikan oleh Fadhilatusy Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullahu. Beliau pernah dita tentang seorang anak kecil yg ingin terus menunaikan puasa sementara orang tua khawatir krn usia yg masih kecil dan ditakutkan mengganggu kesehatannya. Beliau rahimahullahu menjawab “Apabila dia masih kecil dan belum baligh mk tdk diharuskan puasa. Akan tetapi jika dia mampu dan tdk merasa berat mk dia diperintahkan utk berpuasa. Dahulu para shahabat menyuruh anak-anak mereka berpuasa. Sampai-sampai jika ada di antara anak-anak itu menangis mereka memberikan mainan utk membuat mereka lupa. Namun jika memang hal ini benar-benar membahayakan mk orang tua boleh melarang krn Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita memberikan harta milik anak-anak kepada mereka krn khawatir akan rusak harta tersebut. mk tentu kekhawatiran akan bahaya yg menimpa badan lbh utama utk dicegah. Akan tetapi larangan tersebut bukan dgn cara yg keras krn hal ini tidaklah layak dilakukan terhadap anak-anak pada saat mendidik mereka.”
Demikian yg dapat terbaca dari teladan para shahabat radhiallahu ‘anhum di saat menyongsong perintah berpuasa. Mereka menghasung anak-anak mereka utk melaksanakan syariat Allah yg mulia hingga syariat Allah nanti menjadi sesuatu yg menyatu dlm diri mereka.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
1 Ihtilam yg dimaksud di sini adl baligh.
2 Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Kitab Al-Jumu’ah Bab Al-Jumu’ah fil Qura wal Mudun dan Muslim Kitab Al-Imarah Bab Fadhilatil Imamil ‘Adil wa ‘Uqubatil Ja`ir
Sumber: www.asysyariah.com
