Bahaya Menyelisihi Ulama

penulis Ustadz Qomar Suaidi
Syariah Kajian Utama 27 - April - 2003 19:54:14

Imam Bukhari meriwayatkan dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa ia menyatakan: Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam berada di majelis dan bicara di hadapan orang2 datang seorang Arab badui seraya menyatakan kapan hari kiamat? Tapi Rasul tetap meneruskan pembicaraan sehingga sebagian orang yg ada menyatakan beliau mendengar apa yg dikatakan tapi beliau tdk suka dgn apa yg dikatakan. Sebagian yg lain menyatakan beliau tdk mendengarnya. Sampai beliau menyudahi pembicaraan lalu berkata: “Dimana orang yg berta tentang hari kiamat?” mk pena berkata: “Ini saya ya Rasulullah”. Beliau berkata: “Jika amanah telah ditelantarkan mk tunggulah hari kiamat”. Ia menyatakan: “Bagaimana terlantarnya?” Jawabannya: “Jika sebuah perkara diserahkan kepada selain ahli mk tunggulah hari kiamat”

Dalam hadits lain terdapat ancaman kesesatan utk yg tdk rujuk kepada ulama dlm fitnah. Sabdanya:
Sesungguh Allah tdk mencabut ilmu dgn mencabut dari hamba-hamba akan tetapi mencabut dgn mewafatkan para ulama sehingga jika Allah tdk menyisakan lagi seorang ulama manusia akan menjadikan orang2 bodoh sebagai pimpinan mk ditanyalah pimpinan-pimpinan itu sehingga berfatwa tanpa ilmu akhir mereka sesat dan menyesatkan.

Mudah-mudahan dua hadits ini bisa mencegah kelalaian banyak kaum muslimin terhadap perkara ini

Fitnah Ibnu Muthi’

Sungguh benar-benar pada kisah mereka itu ada ibrah bagi orang2 yg memiliki akal.

Dalam sejarah Islam kejadian Al-Harrah adl kejadian yg sangat masyhur sekaligus sangat menyedihkan. Orang yg mendengar akan berlindung kepada Allah daripadanya. Mula ketika Yazid bin Muawiyah menjabat sebagai khalifah setelah ayah terdengar berita-berita buruk tentang khusus berita tentang maksiat-maksiat yg dilakukannya. Sampai berita itu kepada sebagian kaum muslimin diantara Abdullah bin Muthi’. Mendengar hal itu bangkit ghirah keagamaannya

Ringkas cerita ia bertekad mencabut baiat terhadap Yazid dan melakukan kudeta. mk ia mengirim utusan guna mengultimatum Yazid dan mengajak utk taat kepada Allah dan diberi waktu sampai 3 hari. Sepulang mereka ke Madinah Abdullah bin Muthi’ bersama rekan-rekan mendatangi Muhammad bin Hanafiyah putra Ali bin Abi Thalib. Mereka menginginkan beliau utk bersama-sama memberontak Yazid tapi beliau menolaknya. Berkatalah Ibnu Muthi’: “Sesungguh Yazid minum Khamr meninggalkan shalat dan melanggar hukum Al Qur’an”

Muhammad bin Hanafiyah menjawab: “Saya tdk melihat pada apa yg kalian sebutkan dan saya pernah mendatangi bahkan tinggal di sana justru yg saya lihat dia selalu shalat mencari kebaikan berta masalah fiqh dan berpegang kuat dgn sunnah”.

Mereka menyatakan: “Itu dibuat-buat krn dia di hadapanmu”.
Jawabnya: “Apa yg dia takuti atau harapkan dariku sehingga dia perlu menampakkan kekhusyu’an dihadapanku? Apakah dia menampakkan kepada kalian meminum khamr? Jika dia menampakkan kepada kalian yg demikian berarti kalian sama dgn dia tapi jika tdk mk tdk halal buat kalian bersaksi tentang sesuatu yg kalian tdk ketahui”.

Mereka katakan: “Sesungguh menurut kami benar ada walaupun kami tdk melihatnya”.
Beliau menjawab: “Allah menolak yg demikian pada orang yg besaksi. Firman-Nya:
Kecuali orang yg bersaksi dgn Al-Haq sedang mereka mengetahui

Saya tdk ikut-ikutan urusan kalian sedikitpun”.
Mereka katakan: “Mungkin engkau tdk suka kalau yg memimpin selainmu jika demikian kami jadikan engkau pimpinan kami”.

Beliau menjawab: “Saya tdk menghalalkan pemberontakan ini sebagaimana yg kalian inginkan dariku baik saya jadi pimpinan atau yg dipimpin”.

Mereka katakan: “Dulu engkau ikut bersama ayahmu berperang .
Jawabnya: “Datangkan kepada saya orang yg seperti ayahku aku akan memerangi seperti yg diperangi ayahku”.

Mereka katakan: “Kalau begitu perintahkan 2 anakmu Abdul Qosim dan Qosim utk berperang bersama kami”.
Beliau menjawab : “Kalau aku perintah kedua aku juga akan berperang”.
Mereka katakan: “Kalau begitu bangkitlah bersama kami utk sekedar menganjurkan orang berperang bersana kami”.
Beliau menjawab: “Subhanallah apakah aku akan memerintahkan orang sesuatu yg saya tdk melakukan dan meridhai kalau begitu saya tdk punya keinginan- keinginan baik pada hamba-hamba Allah”.
Mereka katakan: “Kalau begitu kami akan membencimu.

Beliau menjawab: “Kalau begitu aku akan memerintahkan manusia utk bertakwa kepada Allah dan tdk mencari ridhanya mahkluk dgn kemurkaan Allah”. Lalu beliau pergi ke Makkah

Datang Abdullah bin Umar kepada Abdullah bin Muthi’ mk Ibnu Muthi’ menyatakan: “Berikan bantal kepada Abi Abdirahman ”.
Ibnu Umar menjawab: “Saya tdk datang kepadamu utk duduk akan tetapi aku datang utk memberitakanmu sebuah hadits yg pernah saya dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam beliau bersabda:
Barangsiapa mencabut tangan dari bai’at ia akan bertemu Allah dlm keadaan tdk memiliki hujjah dan barangsiapa meninggal sedang tiada bai’at dileher dia akan meninggal seperti meninggal orang2 jahiliyyah.

Sumber: www.asysyariah.com