Agama Ini Telah Sempurna
Agama Ini Telah Sempurna
penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar Thalib
Syariah Kajian Utama 19 - November - 2003 20:15:11
Allah menurunkan agama Islam dlm keadaan telah sempurna. Ia tdk membutuhkan penambahan ataupun pengurangan. Namun toh banyak manusia menciptakan amalan-amalan baru yg disandarkan pada agama hanya krn kebanyakan dari mereka menganggap baik perbuatan tersebut.
Perjalanan agama Islam yg telah mencapai rentang waktu 14 abad lebih sedikit banyak memberikan pengaruh bagi para penganutnya. Sebagian besar di antara mereka menjalankan agama ini hanya sebatas seperti apa yg dilakukan para orang tuanya. Yang lbh parah tdk sedikit pula yg menjalankan agama ini dlm kungkungan kelompok-kelompok sesat seperti Khawarij Syi’ah Mu’tazilah Sufi dan sebagainya. Sementara yg menjalankan agama ini di atas pemahaman yg shahih jumlah amatlah sedikit.
Seperti inilah kondisi umat Islam. As Sunnah sudah semakin asing sementara bid’ah kian berkembang. Banyak orang menganggap As Sunnah sebagai bid’ah dan menganggap bid’ah sebagai As Sunnah. Syi’ar-syi’ar bid’ah dgn mudah dijumpai di sekeliling kita sebalik syi’ar-syi’ar As Sunnah bagaikan barang langka.
Bid’ah secara bahasa arti adl mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Dari sini mk pengertian firman Allah :
“Allah Pencipta langit dan bumi.”
Makna adl yg mengadakan kedua tanpa ada contoh sebelumnya.
Dan firman Allah :
“Katakanlah: Aku bukanlah rasul yg pertama dari rasul-rasul.”
Maksud aku bukanlah orang pertama yg membawa risalah ini dari Allah kepada hamba-hamba-Nya telah datang rasul-rasul sebelumku.
Dari sini dapat dikatakan bahwa seseorang berbuat bid’ah arti dia membuat suatu metode baru yg belum pernah ada contoh sebelumnya. Dari pengertian ini pula mk sesuatu yg baru yg diada-adakan dlm agama juga dinamakan bid’ah.
Maka dari keterangan ini dapat disimpulkan bahwa bid’ah adl suatu cara atau jalan yg baru yg diada-adakan di dlm agama yg menyerupai syariat dan tujuan adl menunjukkan sikap berlebihan dlm beribadah kepada Allah.
Jenis-jenis Bid’ah
Al-Imam Asy-Syathibi t menyebutkan pembagian bid’ah ini menjadi dua yaitu bid’ah haqiqiyyah dan bid’ah idhafiyyah.
1. Bid’ah haqiqiyyah adl bid’ah yg tdk ada dalil syariat yg menunjukkan sama sekali secara global maupun terperinci tdk dari Al Qur’an atau As Sunnah ataupun Ijma’ .
2. Bid’ah idhafiyyah adl bid’ah yg mengandung dua keadaan. Yang pertama dlm hal amalan itu termasuk yg disyariatkan akan tetapi si pembuat bid’ah memasukkan suatu perkara dari diri mereka kemudian merubah asal pensyariatan dgn pengamalan ini. Kebanyakan bid’ah yg terjadi adl dari jenis ini.
Sebagai contoh adl dzikir secara berjamaah dgn irama yg bersamaan. Pada asal dzikir adl amalan yg disyariatkan akan tetapi dgn bentuk atau cara yg seperti ini tdk pernah sama sekali dicontohkan oleh Rasulullah mk ini dikatakan bid’ah.
Begitu pula bid’ah perayaan Maulid Nabi . Pada hakekat mencintai Nabi Muhammad adl wajib bagi tiap muslim dan tdk sempurna keimanan sehingga dia menjadikan Rasulullah orang yg paling dicintai lbh dari diri sendiri anak-anak ibu bapak atau bahkan seluruh manusia. Namun semua itu dibuktikan dgn mentaati melaksanakan semua perintah menjauhi larangan membenarkan semua berita yg disampaikannya. Dan sesungguh beliau telah melarang umat dari kebid’ahan:
“Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara baru yg diada-adakan krn sesungguh tiap yg diada-adakan adl bid’ah dan tiap kebid’ahan adl sesat.” .
“Barangsiapa mengerjakan satu amalan yg tdk ada perintah kami atas mk amalan itu tertolak.” .
Tidak ada satu riwayat pun yg menyebutkan bahwa para Al-Khulafa Ar-Rasyidin atau shahabat Rasulullah yg lain ataupun ulama-ulama Ahlus Sunnah yg menjadi panutan mengamalkan perayaan maulid ini. Bahkan sesungguh bid’ah maulid ini pertama kali dilakukan oleh sebagian orang dari dinasti Fathimiyyin Al-’Ubaidiyyin dari golongan sesat Syiah yg mengaku-aku bahwa mereka adl keturunan Fathimah x bintu Rasulullah .
Adapula yg membagi bid’ah ini berdasarkan akibat yaitu menyebabkan seseorang menjadi kafir keluar dari Islam dan bid’ah yg tdk menyebabkan pelaku kafir.
Adapun bid’ah yg menyebabkan pelaku keluar dari Islam adl mengingkari perkara agama yg dharuri yg telah diketahui dan disepakati oleh kaum muslimin serta mutawatir menurut syariat Islam. Misal menentang hal-hal yg telah dinyatakan wajib oleh syariat atau menghalalkan apa yg diharamkan atau sebalik atau mempunyai keyakinan tentang suatu perkara yg Allah dan Rasul-Nya serta kitab-Nya bersih dari perkara tersebut.
Bid’ah yg tdk menyebabkan pelaku keluar dari Islam adl bid’ah yg tdk menimbulkan pendustaan terhadap Al Qur’an atau sesuatu yg dibawa oleh Rasulullah . Seperti yg pernah terjadi di masa kekuasaan Bani ‘Umayyah misal menunda shalat dari waktu yg seharus dan mendahulukan khutbah dari shalat ‘ied. Hal ini ditentang oleh para shahabat yg masih hidup ketika itu namun mereka tdk mengkafirkan para penguasa yg ada ketika itu bahkan tdk menarik bai’at mereka dari para penguasa itu.
Larangan Berbuat Bid’ah
Dari keterangan tentang pengertian dan bentuk-bentuk bid’ah ini mk tdk samar lagi bahwa perbuatan bid’ah adl sangat tercela dan mengikuti berarti menyimpang dari ash-shirathal mustaqim .
Adapun larangan berbuat bid’ah senantiasa erat kaitan dgn perintah mengikuti Sunnah Rasulullah dan jamaah baik yg bersumber dari Al Qur’an maupun hadits-hadits shahih dan atsar para ulama salaf .
Allah berfirman:
“Dan berpeganglah kamu sekalian dgn tali Allah! Dan janganlah kalian berpecah belah dan ingatlah ni’mat Allah atas kalian ketika kalian dlm keadaan saling bermusuhan lalu Dia mempersatukan hati-hati kalian sehingga akhir kalian menjadi bersaudara dan ketika kalian di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayat -Nya mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk.”
Dan firman Allah :
“Ikutilah apa yg telah diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain Allah sedikit sekali dari kalian yg mau mengambil pelajaran.”
“Katakanlah jika kalian mencintai Allah mk ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni kalian dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“Kalau kalian mentaati niscaya kalian akan mendapat petunjuk.”
“Sesungguh telah ada dlm diri Rasulullah suri teladan yg baik bagi orang yg mengharapkan Allah dan hari akhirat dan banyak mengingat Allah.”
“Dan apa yg dibawa oleh Rasul itu kepada kalian mk ambillah dia dan apa yg dilarang mk tinggalkanlah.”
“Maka tidaklah patut bagi laki2 mukmin dan perempuan mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu keputusan akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yg mendurhakai Allah dan Rasul-Nya mk sesungguh dia telah tersesat dgn kesesatan yg nyata.”
“Maka demi Rabbmu mereka tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dlm perkara yg mereka perselisihkan kemudian mereka tdk merasa keberatan dlm hati mereka terhadap putusan yg kamu berikan dan menerima dgn sepenuhnya.”
Dan Rasulullah bersabda:
“Saya wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah mendengar dan mentaati walaupun yg memimpin kalian adl seorang budak belian. Dan sesungguh barangsiapa di antara kalian yg hidup sepeninggalku niscaya akan melihat perselisihan yg banyak. mk hendaklah kalian berpegang dgn Sunnah -ku dan sunnah para Al-Khulafa Ar-Rasyidin yg mendapat petunjuk dan gigitlah dia dgn geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara baru yg diada-adakan krn sesungguh tiap yg diada-adakan adl bid’ah dan tiap kebid’ahan adl sesat.”
“Kemudian dari pada itu. mk sesungguh perkataan yg paling benar adl Kitab Allah. Dan sebaik-baik tuntunan adl tuntunan Nabi Muhammad . Dan seburuk-buruk perkara adl yg diada-adakan. mk sesungguh tiap yg diada-adakan adl bid’ah dan tiap kebid’ahan adl sesat.”
‘Abdullah bin ‘Ukaim zmenyebutkan bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab z pernah mengatakan: “Sesungguh ucapan yg paling benar adl firman Allah . Dan sesungguh sebaik-baik tuntunan adl tuntunan Nabi Muhammad . Dan seburuk-buruk perkara adl yg diada-adakan. Ingatlah bahwa semua yg diada-adakan adl bid’ah dan tiap kebid’ahan adl sesat dan kesesatan itu di neraka.”
‘Abdullah bin Mas’ud zmenyebutkan: “Ikutilah dan janganlah berbuat bid’ah. Sungguh kamu sekalian telah diberi kecukupan . Dan tiap kebid’ahan adl sesat.”
‘Abdullah bin ‘Umar cmengatakan: “Semua bid’ah itu adl sesat meskipun orang menganggap baik.”
Al-Imam Malik bin Anas t mengatakan: “Barangsiapa yg berbuat satu kebid’ahan di dlm Islam dan dia menganggap baik berarti dia telah menuduh Rasulullah Muhammad telah mengkhianati risalah. Karena Allah telah menyatakan:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah Aku cukupkan ni’mat-Ku kepada kalian. Dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.”
Maka apapun yg ketika itu bukanlah sebagai ajaran Islam mk pada hari ini juga bukan sebagai ajaran Islam.”
Al-Imam Asy-Syaukani t menyebutkan: “Sesungguh apabila Allah menyatakan Dia telah menyempurnakan agama-Nya sebelum mencabut ruh Nabi-Nya mk apakah lagi guna segala pemikiran atau pendapat yg diada-adakan oleh pemilik sesudah Allah menyempurnakan agama-Nya ini?! Kalau pendapat mereka itu merupakan bagian dari agama ini menurut keyakinan mereka itu arti mereka menganggap bahwa agama ini belum sempurna kecuali setelah dilengkapi dgn pemikiran mereka. Hal ini berarti penentangan terhadap Al Qur’an. Dan seandai pemikiran tersebut bukan dari agama mk apa guna mereka menyibukkan diri dgn sesuatu yg bukan dari ajaran agama ?!
ini adl hujjah yg tegas dan dalil yg pasti. Tidak mungkin mereka membantah sama sekali selama-lamanya. mk jadikanlah ayat yg mulia ini senjata pertama yg dipukulkan ke muka ahlul bid’ah dan utk mematahkan semua hujjah mereka.”
Sumber: www.asysyariah.com
