Al Ustadz Abu ‘Abdillah Mustamin MusaruddinPertanyaan :Pada bulan-bulan tertentu seperti pada bulan Rajab Sya’ban dan Syawal sering terlihat orang- orang ramai melakukan ziarah kubur baik laki-laki maupun perempuan tua maupun muda dan sebagian mereka membawa air dan kembang utk ditaburkan ke kuburan yg diziarahi.

Fenomena ini mengundang pertanyaan dibenak saya di dalam beberapa hal yaitu sebagai berikut :Apa hukumnya berziarah kubur ?Apa ada waktu-waktu khusus dan hari-hari tertentu yg afdhal utk berziarah ?Apakah ziarah kubur itu mempunyai manfaat ?Bagaimana sebenarnya tata cara berziarah kubur yg syar’i ?Apakah ada hal-hal yg terlarang sehubungan dgn ziarah kubur tersebut ?Jawaban :1. Hukum Ziarah kuburBerziarah kubur adl sesuatu yg disyari’atkan di dalam agama berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan ijma’ .a} Dalil dari hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :Dalil-dalil dari hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang disyari’atkannya ziarah kubur diantaranya :1. Hadits Buraidah bin Al-Hushoib radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam beliau bersabda :إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian utk menziarahi kubur maka ziarahilah kuburan”. Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dan oleh Imam Abu Daud dgn tambahan lafazh :فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ“Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat”.Dan dari jalan Abu Daud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam Al-Baihaqy Imam An-Nasa`i dan Imam Ahmad .2. Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu yg semakna dgn hadits Buraidah.

Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 3/3863 dan 66 dan Al-Hakim 1/374-375 dan Al-Baihaqy dari jalan Al-Hakim.3. Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yg juga semakna dgn hadits Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hakim 1/376.b. Ijma’Adapun Ijma’ diriwayatkan oleh :1. Al-‘Abdary sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al- Muhadzdzab .2. Al-Imam Muwaffaquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdasy Al-Hambaly dalam kitab Al-Mughny .3. Al-Hazimy sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syaukany dalam kitab Nailul Authar .Batasan disyari’atkannya ziarah kubur.Syariat yg telah disebutkan di atas tentang ziarah kubur adl disunnahkan bagi laki-laki berdasarkan dalil-dalil dari hadits-hadits maupun hikayat ijma’ tersebut di atas. Adapun bagi wanita maka hukumnya adl mubah makruh bahkan sampai kepada haram bagi sebagian wanita.Perbedaan hukum antara laki-laki dan wanita dalam masalah ziarah kubur ini disebabkan oleh adanya hadits yg menunjukkan larangan ziarah kubur bagi wanita :عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata : “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita peziarah kubur””.Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibban di dalam Shohihnya sebagaimana dalam Al-Ihsan no.3178.Dan mempunyai syawahidnya diriwayatkan oleh beberapa orang Shahabat diantaranya :Ø Hadits Hassan bin Tsabit dikeluarkan oleh Ahmad 3/242 Ibnu Abi Syaibah 4/141 Ibnu Majah 1/478 Al-Hakim 1/374 Al-Baihaqy dan Al-Bushiry di dalam kitabnya Az-Zawa`id dan dia berkata isnadnya shohih dan rijalnya tsiqot.Ø Hadits Ibnu ‘Abbas : Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhabus Sunan Al-Arba’ah {Abu Daud An-Nasa`i At-Tirmidzy dan Ibnu Majah} Ibnu Hibban Al-Hakim dan Al-Baihaqy.Catatan :Hadits dgn lafazh seperti di atas زَائِرَاتِ menunjukkan pengharaman ziarah kubur bagi wanita secara umum tanpa ada pengecualian.Akan tetapi ada lafazh lain dari hadits ini yaitu :لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ زُوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ. وَ فِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam }dalam lafazh yg lain Allah subhanahu wa ta’ala} melaknat wanita-wanita yg banyak berziarah kubur”.Lafazh زُوَّارَاتِ menjadi dalil bagi sebagian ‘ulama utk menunjukkan bahwa berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara mutlak akan tetapi terlarang bagi wanita utk sering melakukan ziarah kubur.Sebagian dari perkataan para ‘ulama tentang ziarah kubur bagi wanitaa} Yang mengatakan terlarangnya ziarah kubur bagi wanita.- Berkata Imam An-Nawawy Asy-Syafi’iy : “Nash-nash Imam Asy-Syafi’iy dan Al-Ashhab {pengikut Madzhab Syafi’iyyah} telah sepakat bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi laki-laki”. {Al-Majmu’ 5/285}.Perkataannya : “Disunnahkan bagi laki-laki” mempunyai pengertian bahwa bagi wanita tidak disunnahkan.- Berkata Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Al-Maqdasy Al-Hambaly : “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan dikalangan Ahlul ‘Ilmi tentang bolehnya laki-laki berziarah kubur”. Lihat Al- Mughny 3/517.Perkataannya : “Bolehnya laki-laki berziarah kubur” memiliki pengertian bahwa bagi wanita belum tentu boleh atau tidak boleh sama sekali.- Berkata Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Al-Malikiy terkenal dgn nama kunyahnya “Ibnul Hajj” : “Dan seharusnya baginya utk melarang wanita- wanita utk keluar ke kuburan meskipun wanita-wanita tersebut memiliki mayat {karena si mayat adalah keluarga atau kerabatnya} sebab As-Sunnah telah menghukumi/menetapkan bahwa mereka tidak diperkenankan utk keluar rumah”. Lihat : Madkhal As-Syar‘u Asy- syarif 1/250.- Berkata : Abu An-Naja Musa bin Ahmad Al-Maqdasy Al-Hambaly : “Disunnahkan ziarah kubur kecuali bagi wanita”. Lihat : Kitab Hasyiah Ar-Raudhul Murbi’ Syarah Zadul Mustaqni’ 3/144-145.- Berkata Al-Imam Mar’iy bin Yusuf Al-Karmy : “Dan disunnahkan berziarah kubur bagi laki-laki dan dibenci bagi wanita”. Lihat : Kitab Manar As-Sabil Fii Syarh Ad-Dalil 1/235}.- Berkata Syaikh Ibrahim Dhuwaiyyan : “Minimal hukumnya adl makruh”.- Berkata Syaikh Doktor Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan : “Dan ziarah itu disyariatkan bagi laki-laki adapun wanita diharamkan bagi mereka berziarah kubur”. Lihat : Al-Muntaqo Min Fatawa Syaikh Sholeh Al-Fauzan.b. Yang menyatakan bolehnya ziarah kubur bagi wanita :- Imam Al-Bukhary dimana beliau meriwayatkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu : “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melewati seorang wanita yg sedang berada di sebuah kuburan sambil menangis. Maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata padanya : “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah”. Maka berkata wanita itu : “Menjauhlah dariku engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yg menimpaku” dan wanita itu belum mengenal Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adl Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati . Kemudian wanita itu mendatangi pintu Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga- penjaga pintu maka wanita itu berkata : “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku belum mengenalmu maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata : “Sesungguhnya yg dinamakan sabar itu adl ketika pada pukulan pertama”.Al-Bukhary memberi terjemah utk hadits ini dgn judul “Bab tentang ziarah kubur” yang mana ini menunjukkan bahwa beliau tidak membedakan antara laki-laki dan wanita dalam berziarah kubur. Lihat : Shohih Al-Bukhary 3/110-116.- Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany menerangkan hadits di atas dalam Fathul Bary katanya : “Dan letak pendalilan dari hadits ini adl bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak mengingkari duduknya wanita tersebut di kuburan. Dan taqrir Nabi adl hujjah.- Berkata Al-‘Ainy : “Dan pada hadits ini terdapat petunjuk tentang bolehnya berziarah kubur secara mutlak baik peziarahnya laki-laki maupun wanita dan yg diziarahi muslim atau kafir krn tidak adanya pembedaan padanya”. - Al-Imam Al-Qurthuby berkata : “Laknat yg disebutkan di dalam hadits adl bagi wanita- wanita yg memperbanyak ziarah krn bentuk lafazhnya menunjukkan “mubalaghah” . Dan sebabnya mungkin krn hal itu akan membawa wanita kepada penyelewengan hak suami dan berhias diri dan akan munculnya teriakan erangan raungan dan semisalnya. Dan dikatakan jika semua hal tersebut aman maka tidak ada yg bisa mencegah utk memberikan izin kepada para wanita sebab mengingat mati diperlukan oleh laki-laki maupun wanita”. .- Berkata Al-Imam Asy-Syaukany : “Dan perkataan ini adl yg pantas utk pegangan dalam mengkompromikan antara hadits-hadits bab yg saling bertentangan pada lahirnya”. Lihat : Nailul Authar 4/121.- Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany : “Dan wanita seperti laki-laki dalam hal disunnahkannya ziarah kubur”. Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan empat alasan yg sangat kuat dalam menunjukkan hal tersebut di atas. Setelah itu beliau berkata : “Akan tetapi tidak dibolehkan bagi mereka utk memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kuburan sebab hal ini akan membawa mereka utk melakukan penyelisihan terhadap syariat seperti meraung memamerkan perhiasan/kecantikan menjadikan kuburan sebagai tempat tamasya dan menghabiskan waktu dgn obrolan kosong sebagaimana terlihatnya hal tersebut dewasa ini pada sebagian negeri-negeri Islam dan inilah maksud Insya Allah dari hadits masyhur :لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam wanita- wanita yg banyak berziarah kubur”.{Sunan Al-Baihaqy 4/6996 Sunan Ibnu Majah no.1574 Musnad Ahmad 2/8430 8655}.Lihat : Kitab Ahkamul Janaiz karya Syaikh Al-Albany 229-237.Kesimpulan penulis :Wanita tidak dianjurkan utk berziarah kubur krn ditakutkan akan terjadi padanya hal-hal yang bertentangan dgn syari’at disebabkan krn kelemahan hati wanita dan krn perbuatannya seperti akan terjadinya teriakan atau raungan ketika menangis/sedih tabarruj ikhtilath dan hal-hal lain yg sejenis. Itulah sebabnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita yg sering melakukan ziarah kubur krn banyaknya berziarah kubur tersebut akan mengantarkannya kepada penyelisihan/penyelewengan terhadap syari’at. Akan tetapi jika seorang wanita kebetulan melewati kuburan atau berada di kuburan krn kebetulan {tanpa sengaja} seperti yg terjadi pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika mengikuti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ke pekuburan Baqi’ maka pada waktu itu keadannya seperti laki-laki dalam hal bolehnya wanita tersebut berziarah dgn memberi salam dan mendo’akan para penghuni kubur.Berkata Syaikh Ibrahim Duwaiyyan : “Jika seorang wanita yg sedang berjalan melewati suatu kuburan di jalannya dia memberi salam dan mendo’akan penghuni kubur maka hal ini baik sebab wanita tersebut tidak sengaja keluar utk ke pekuburan”. Lihat : Manar As-Sabil Fi Syarh Ad-Dalil. Wallahu A’lam Bis Showab.Hikmah dilarangnya para wanita memperbanyak berziarahDiantara hikmah tersebut :1. Karena ziarah dapat membawa kepada penyelewengan hak-hak suami akan keluarnya para wanita dgn berhias lalu dilihat orang lain dan tak jarang ziarah tersebut disertai dgn raungan ketika menangis. Hal ini disebutkan oleh Imam Asy-Syaukany dalam Nailul Authar 4/121.2. Karena para wanita memiliki kelemahan/kelembekan dan tidak memiliki kesabaran maka ditakutkan ziarah mereka akan mengantarkan kepada perkataan-perkataan dan perbuatan- perbuatan yg akan mengeluarkan mereka dari keadaan sabar yg wajib. Hal ini disebutkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassam dalam kitab Taudhihul Ahkam 2/563-564.3. Sebab wanita sedikit kesabarannya maka tidaklah dia aman dari gejolak kesedihannya ketika melihat kuburan orang-orang yg dicintainya dan ini akan membawa dia pada perbuatan- perbuatan yg tidak halal baginya berbeda dgn laki-laki. Disebutkan oleh Syaikh Ibrahim Duwaiyyan menukil dari kitab Al-Kafi. Lihat : Manar As-Sabil Fii Syarh Ad-Dalil 1/236.4. Berkata Imam Ibnul Hajj rahimahullah setelah menyebutkan 3 pendapat ulama tentang boleh tidaknya berziarah kubur bagi wanita : “Dan ketahuilah bahwa perselisihan pendapat para ‘ulama yang telah disebutkan adl dgn kondisi wanita pada waktu itu {zamannya para ‘ulama salaf sebelum Ibnul Hajj yg wafat pada thn 732 H} maka mereka sebagaimana diketahui dari kebiasaan mereka yg mengikuti sunnah sebagaimana telah lalu . Adapun keluarnya mereka pada zaman ini maka kami berlindung kepada Allah dari kemungkinan adanya seorang dari ‘ulama atau dari kalangan orang- orang yg memiliki muru`ah atau cemburu terhadap agamanya yg akan membolehkan hal ini. Jika terjadi keadaan darurat baginya utk keluar maka hendaknya berdasarkan hal-hal yg telah diketahui dalam syari’at berupa menutup aurat sebagaimana yg telah lalu bukan sebagaimana adat mereka yg tercela pada masa ini. Lihatlah mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala merahmati kami dan merahmatimu. Lihatlah mafsadah ini yg telah dilemparkan oleh syaithan kepada sebagian mereka didalam membangun tingkatan- tingkatan kerusakan ini di kuburan .ADAKAH WAKTU-WAKTU TERTENTU UNTUK BERZIARAH ? dapat dilakukan kapan saja tidak ada waktu yg khusus dan tidak boleh {tidak layak} dikhususkan utk itu baik pada bulan sya’ban syawal maupun waktu-waktu yg lainnya.

Hal ini krn tidak adanya dalil yg menunjukkan tentang adanya waktu khusus atau afdhal utk berziarah kubur.Ketika Syaikh Doktor Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan ditanya tentang waktu/hari yg afdhal utk berziarah beliau berkata : “Tidak ada waktu khusus dan tidak ada waktu tertentu utk berziarah kubur”. Lihat Al-Muntaqa min Fatawa Syaikh Sholih Al-Fauzan : 2/166.FAIDAH ZIARAH KUBURa. Bagi yg berziarahFaidah yg bisa dipetik dan hasil yg akan didapatkan oleh orang yg berziarah kubur antara lain :1. Memberikan nasehat bagi dirinya.2. Mengingatkannya kepada kematian balasan dan hari kiamat.3. Menambahkan kebaikan baginya.4. Mengambil pelajaran.5. Melunakkan hati.6. Menjadikannya zuhud terhadap dunia dan tamak terhadap kebaikan hari akhirat.Semua hal tersebut di atas ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الْآخِرَةَ وَلْتَزِدْكُمْ زِيَارَتُهَاخَيْرًا“Sesungguhnya aku pernah melarang kalian dari berziarah kubur maka ziarahilah kubur sebab ziarah itu akan mengingatkan kalian terhadap hari akhirat dan akan menambah kebaikan pada diri kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari hadits Buraidah bin Al-Hushoib .Dalam riwayat yg lain dari Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu :فَإِنَّ فِيْهَا عِبْرَةً“Sesungguhnya pada ziarah itu terdapat pelajaran”.Diriwayatkan oleh : Ahmad Al-Hakim dan Al-Baihaqy dari jalan Al-Hakim.Dalam riwayat yg lain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :فَإِنَّهَا يُرِقُّ الْقَلْبَ وَتَدْمَعُ الْعَيْنُ وَتُذِكَّرُ الْآخِرَةَ“Sesungguhnya ziarah itu akan melunakkan hati mengundang air mata dan mengingatkan pada hari kiamat”. Diriwayatkan oleh Al-Hakim .b} Bagi Penghuni KuburPenghuni kubur akan mendapatkan manfaat dari ziarah kubur dgn adanya salam yg ditujukan padanya yg isinya adl permohonan keselamatan baginya permohonan ampunan dan rahmat baginya. Semua hal ini hanya bisa didapatkan oleh seorang muslim. {Disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ahkamul Janaiz : 239}.Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’ala :“Pasal : Tentang Petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam ziarah kubur : Adalah beliau shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam jika menziarahi kubur para shahabatnya beliau menziarahinya utk mendo’akan mereka dan memintakan rahmat dan pengampunan bagi mereka. Inilah bentuk ziarah yg disunnahkan bagi ummatnya dan beliau syari’atkan utk mereka dan memerintahkan mereka jika menziarahi kuburan utk mengatakan :اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَSalam keselamatan atas penghuni rumah-rumah dan kaum mu’minin dan muslimin mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yg terdahulu dari kita dan orang-orang yg belakangan dan kami Insya Allah akan menyusul kalian kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. {Disebutkan dalam Kitab Zadul Ma’ad karya Ibnul Qoyyim}.APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN OLEH PEZIARAH KUBUR/ ZIARAHYang dilakukan oleh seorang peziarah adl :1. Memberi salam kepada penghuni kubur dan mendo’akan kebaikan bagi mereka.

Diantara do’a yg diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam kepada ummatnya yg berziarah kubur :اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَArtinya : “Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah dan kaum mu’minin dan muslimin mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yg terdahulu dari kita dan orang- orang yg belakangan dan kami Insya Allah akan menyusul kalian kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim 975 An-Nasa`i 4/94 Ahmad 5/353 359 360.اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنِ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ“Keselamatan atas penghuni kubur dari kaum mu’minin dan muslimin mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan dan kami Insya Allah akan menyusul kalian”.2. Tidak berjalan di atas kuburan dgn mengenakan sandal. Hal ini berdasarkan hadits Basyir bin Khashoshiah :بَيْنَمَا هُوَ يَمْشِيْ إِذْ حَانَتْ مِنْهُ نَظَرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بَيْنَ الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَرَمَى بِهِمَا“Ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sedang berjalan tiba-tiba beliau memandang seorang laki-laki yg berjalan diantara kubur dgn mengenakan sandal maka Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda : “Wahai pemilik sandal celakalah engkau lepaskanlah sandalmu”. Maka orang itu memandang tatkala ia mengetahui Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ia melepaskan kedua sandalnya dan melemparkannya. Diriwayatkan oleh Abu Daud 2/72 An-Nasa`i 1/288 Ibnu Majah 1/474 Al- Hakim 1/373 dan dia berkata : “Sanadnya shohih” dan disepakati oleh Adz-Dzahaby dan dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar .Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan diantara kuburan dengan sandal” . Berkata Syaikh Al-Albany : “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di atas kuburan dgn memakai sandal. Lihat Ahkamul Janaiz 252}.3. Tidak duduk atau bersandar pada kuburan.Hal ini berdasarkan hadits Abu Marbad radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan melakukan shalat padanya”. Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :لَأَنْ يَجْلِسَ أَحُدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adl lbh baik daripada dia duduk di atas kuburan”.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim.4. Dibolehkan bagi peziarah utk mengangkat tangannya ketika berdo’a utk penghuni kubur berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam keluar pada suatu malam maka aku mengutus Barirah utk membuntuti kemana saja beliau pergi maka Rasulullah mengambil jalan ke arah Baqi’ Al-Garqad kemudian beliau berdiri pada sisi yg terdekat dari Baqi’ lalu beliau mengangkat tangannya setelah itu beliau pulang maka kembalilah Barirah kepadaku dan mengabariku . Maka pada pagi hari aku bertanya dan berkata :Wahai Rasulullah keluar kemana engkau semalam ? Beliau berkata : “Aku diutus kepada penghuni Baqi’ utk mendo’akan mereka. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan sebelumnya oleh Imam Malik pada kitabnya }.5. Berkata ‘Abdullah Al-Bassam : “Tidaklah pantas bagi seseorang yg berada dipekuburan baik dia bermaksud berziarah atau hanya secara kebetulan utk berada dalam keadaan bergembira dan senang seakan-akan dia berada pada suatu pesta seharusnya dia ikut hanyut atau memperlihatkan perasaan ikut hanyut dihadapan keluarga mayat”. {Lihat Taudhihul Ahkam 2/564}.6. Menghadap ke kuburan ketika memberi salam kepada penghuni kubur.Hal ini diambil dari hadits-hadits yg lalu tentang cara memberi salam pada penghuni kubur.7. Ketika mendo’akan penghuni kubur tidak menghadap kekuburan melainkan menghadap kiblat.

Sebab Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang ummatnya shalat menghadap kubur dan krn do’a adl intinya ibadah sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa adl ibadah”.Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy dan Ibnu Majah .HAL-HAL YANG DIHARAMKAN DALAM ZIARAH KUBUR.Macam-macam dan Hal-hal yg diharamkan dalam dalam .Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassam dalam Kitab Taudhihul Ahkam bahwa keadaan seorang yg berziarah ada empat jenis yaitu :1} Mendo’akan para penghuni kubur dgn cara memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala pengampunan dan rahmat bagi para penghuni kubur dan memohonkan do’a khusus bagi yg dia ziarahi dan pengampunan. Mengambil pelajaran dari keadaan orang mati sehingga bisa menjadi peringatan dan nasehat baginya. Inilah bentuk ziarah yg syar’i.2} Berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang yg dicintainya dipekuburan atau di dekat sebuah kuburan tertentu dgn keyakinan bahwa berdo’a dipekuburan atau pada kuburan seseorang tertentu afdhal dan lbh mustajab daripada berdo’a di mesjid. Dan ini adl bid’ah munkarah haram hukumnya.3} Berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala dgn mengambil perantara jah penghuni kubur atau haknya. Seperti dia berkata : “Aku memohon pada-Mu wahai Rabbku berikanlah …… dgn jah penghuni kuburan ini atau dgn haknya terhadap-Mu atau dgn kedudukannya disisi-Mu” ; atau yg semisalnya. Dan ini adl bid’ah muharramah dan haram hukumnya sebab perbuatan tersebut adl sarana/jalan yg mengantar kepada kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.4} Tidak berdo’a kepada Allah subhanahu wa ta’ala melainkan berdo’a kepada para penghuni kubur atau kepada penghuni kubur tertentu seperti dia berkata : Wahai wali Allah Wahai Nabi Allah Wahai tuanku cukupilah aku atau berilah aku……dan semisalnya. Dan ini adl syirik Akbar .Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala dalam kitabnya Ar-Raddu ‘Alal Bakry hal.56-57 ketika menyebutkan tingkatan bid’ah yg berhubungan dgn ziarah kubur kata beliau : “Bid’ahnya bertingkat-tingkat :Tingkatan Pertama : Dia meminta hajatnya pada mayat atau dia beristighotsah padanya sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang terhadap kebanyakan penghuni kubur. Dan ini adl termasuk jenis peribadatan kepada berhala.Tingkatan kedua : Dia meyakini bahwa berdo’a disisi kuburnya mustajab atau bahwa do’a tersebut afdhal daripada berdo’a di mesjid-mesjid dan di rumah-rumah. Dan dia maksudkan ziarah kuburnya utk hal itu atau utk shalat disisinya atau utk tujuan meminta hajat-hajatnya padanya. Dan ini juga termasuk kemungkaran- kemungkaran yg baru berdasarkan kesepakatan imam-imam kaum muslimin. Dan ziarah tersebut haram. Dan saya tidak mengetahui adanya pertentangan pendapat dikalangan imam- imam agama ini tentang masalah ini.Tingkatan ketiga : Dia meminta kepada penghuni kubur agar memintakan baginya kepada Allah. Dan ini adl bid’ah berdasarkan kesepakatan para imam-imam kaum muslimin.Hal-hal yg diharamkan dalam ziarah kubur1. Kesyirikan.Syirik Akbar sering terjadi dan dilakukan oleh sebagian orang di kuburan. Batasan syirik besar itu sendiri adl jika seseorang memalingkan satu jenis atau satu bentuk dari jenis-jenis/bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Segala i’tiqod atau perkataan atau perbuatan yg telah tsabit bahwa itu adl diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka memalingkannya kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala adl kesyirikan dan kekufuran. {Lihat : Al-Qaul As-Sadid Syarh kitab At- Tauhid karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy hal 48}.Syirik Akbar yg mungkin sering terjadi dikuburan adl :- menyembelih utk penghuni kubur- menunaikan nadzar kepadanya- memberikan persembahan kepada penghuni kubur yg disertai dgn keyakinan dan perasaan cinta dan atau berharap dan atau takut terhadap penghuni kubur- bertawakkal kepadanya- berdo’a kepadanya- meminta pertolongan utk mendapatkan kebaikan atau utk lepas dari kesulitan pada penghuni kubur- thawaf pada kuburan- dan ibadah lainnya yg ditujukan utk penghuni kubur.Semua hal tersebut di atas adl syirik besar dan mengakibatkan batalnya seluruh amalan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman ; setelah menyebutkan tentang para nabi dan rasul-Nya :ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ“Itulah petunjuk Allah yg dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yg dikehendaki- Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah niscaya lenyaplah dari mereka amalan yg telah mereka kerjakan”.Tidak ada seorangpun yg beramal seperti amalannya para nabi dan rasul sebab merekalah orang-orang yg paling tahu tentang Allah dan paling taqwa kepada-Nya tetapi Allah subhanahu wa ta’ala tetap menyatakan bahwa seandainya mereka berbuat kesyirikan maka akan sirna/lenyap semua apa yg mereka kerjakan. Seperti juga firman Allah subhanahu wa ta’ala yang lainnya :وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada yg sebelummu : “Jika kamu mempersekutukan niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yg merugi. Karena itu maka hendaklah Allah saja yg kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yg bersyukur”. .Dan ayat-ayat di atas menggambarkan tentang begitu berbahayanya syirik tersebut dan begitu sesatnya manusia jika terjatuh ke dalam kesyirikan tersebut. Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا“Barangsiapa yg mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yg besar”.dan firman Allah subhanahu wa ta’ala :إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan dgn Dia dan Dia mengampuni dosa yg selain dari syirik itu bagi siapa yg dikehendaki-Nya. Barangsiapa yg mempersekutukan dgn Allah maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh- jauhnya”. .dan firman Allah subhanahu wa ta’ala :وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ“Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan sesungguhnya mempersekutukan adl benar-benar kezaliman yg besar ”. .2. Duduk di atas kuburan sebagaimana penjelasan yg lalu dalam tata cara ziarah kubur.3. Shalat menghadap kuburanPoint 2 dan 3 berdasarkan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula kalian duduk di atasnya”.Diriwayatkan oleh Imam Muslim 3/62 dari hadits Abi Martsad Al-Ghanawy.4. Shalat dikuburan meskipun tidak menghadap padanya berdasarkan hadits Abu Sa’id Al- Khudry :الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ“Bumi ini semuanya adl mesjid kecuali pekuburan dan kamar mandi”.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no.317 Ibnu Majah 1/246 no.745 Ibnu Hibban 8/92 no.2321.Dan hadits Anas bin Malik :نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الْقُبُوْرِ“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang dari shalat diantara kuburan”.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban 4/596 no.1698.Dan Hadits Ibnu ‘Umar :اِجْعَلُوْا فِيْ بُيُوْتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا“Lakukanlah di rumah-rumah kalian sebagian dari shalat-shalat kalian dan janganlah menjadikannya sebagai kuburan”. H.R. Bukhary no.422.Maksudnya bahwa kuburan tidaklah boleh dijadikan tempat shalat sebagaimana rumah yg dianjurkan utk dilakukan sebagian shalat padanya .Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تَقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yg dibacakan padanya surah Al-Baqarah”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim no.780.5. Menjadikan kuburan sebagai tempat peringatan dikunjungi pada waktu-waktu tertentu dan pada musim-musim tertentu utk beribadah disisinya atau utk selainnya.Berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَلاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْراً وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat peringatan dan janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan dan dimanapun kalian berada bersholawatlah kepadaku sebab sholawat kalian akan sampai kepadaku”. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2/367 Abu Daud no.2042. .6. Melakukan perjalanan dgn maksud hanya utk berziarah kubur.Berdasarkan hadits :v Hadits Abu Hurairah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ وَمُسْلِمٌ وَلَفْظُهُ إِنَّمَا يُسَافَرَ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِيْ وَمَسْجِدِ إِيْلِيَاءَ.“Tidaklah dilakukan perjalanan kecuali kepada tiga mesjid : Al-Masjidil Haram dan Masjid Ar-Rasul dan Masjid Al-Aqsho”. Dikeluarkan oleh Imam Bukhary dan Muslim dengan lafazh “safar itu hanyalah kepada tiga mesjid Masjid Al-Ka’bah dan Mesjidku dan Masjid Iliya`”.v Hadits Abu Sa’id Al-Khudry dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam :لاَ تُشَدُّ وَفِيْ لَفْظٍ : لاَ تَشُدًّوْا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقُصَى. أَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَاللَّفْظُ الْآخَرُ لِمُسْلِمٍ.Artinya : “Tidaklah dilakukan perjalanan -dan dalam sebuah riwayat : janganlah kalian melakukan perjalanan- kecuali kepada tiga mesjid : Mesjidku Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsho”. Muttafaqun ‘alaihi.7. Menyalakan lampu pada kuburan.Karena perbuatan tersebut adl bid’ah yg tidak pernah dikenal oleh para salafus sholeh dan hal itu merupakan pemborosan harta dan krn perbuatan tersebut menyerupai Majusi {para penyembah api}. Lihat : Kitab Ahkamul Jana`iz hal. 294.8. Membaca Al-Qur`an dikuburan.Membaca Al-Qur`an dipekuburan adl suatu bid’ah dan bukanlah petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Bahkan petunjuk Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adl berziarah dan mendo’akan mereka bukan membaca Al-Qur`an.Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda :لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yg dibacakan padanya surah Al-Baqarah”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim no.

780.Pada hadits ini terkandung pengertian bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memerintahkan ummatnya agar membaca Al-Qur`an di rumah-rumah mereka {menjadikan rumah-rumah mereka sebagai salah satu tempat membaca Al-Qur`an} kemudian beliau menjelaskan hikmahnya yaitu bahwa syaithan akan lari dari rumah-rumah mereka jika dibacakan surah Al-Baqarah.Dan sebelumnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah melarang utk menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kuburan yg dihubungkan dgn hikmah maka mafhum dari hadits di atas adl bahwa kuburan bukanlah tempat yg disyari’atkan untuk membaca Al-Qur`an bahkan tidak boleh membaca Al-Qur`an padanya.Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Para ulama telah menukil dari Imam Ahmad tentang makruhnya membaca Al-Qur`an dikuburan dan ini adl pendapat jumhur As-Salaf dan para shahabatnya yg terdahulu juga di atas pendapat ini dan tidak ada seorangpun dari ‘ulama yg diperhitungkan mengatakan bahwa membaca Al-Qur`an dikuburan afdhal {lebih baik}. Dan menyimpan mashohif dikuburan adl bid’ah meskipun utk dibaca… dan membacakan Al-Qur`an bagi mayat adl bid’ah”. Lihat Min Bida’il Qubur hal.59.9. Mengeraskan suara di kuburan.Berkata Qais bin Abbad : “Adalah shahabat-shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyukai merendahkan suara dalam tiga perkara : dalam penerangan ketika membaca Al-Qur`an dan ketika di dekat jenazah-jenazah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no.11201.

Lihat Min Bida’il Qubur hal.88.Catatan:Untuk no.10 dan seterusnya akan disebutkan saja bentuk bid’ahnya dgn menunjuk rujukannya kalau ada adapun yg tidak disebutkan rujukannya maka ia masuk ke dalam umumnya perkara-perkara yg bid’ah krn tidak dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maupun para shahabatnya walaupun sebab utk melakukannya ada. Hal ini dilakukan agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang. Wallahul Musta’an.10. Memasang payung. Lihat Min Bida’il Qubur hal 93-94.11. Menanaminya dgn pohon dan kembang.12. Menyiraminya dgn air13. Menaburkan kembang padanya.14. Berziarah kubur setelah hari ke-3 dari kematian dan berziarah pada tiap akhir pekan kemudian pada hari ke-15 kemudian pada hari ke-40 dan sebagian orang hanya melakukannya pada hari ke-15 dan hari ke-40 saja. .15. Menziarahi kuburan kedua orang tua tiap hari jum’at .16. Keyakinan sebagian orang yg menyatakan bahwa : mayat jika tidak diziarahi pada malam jum’at maka dia akan tinggal dgn hati yg hancur diantara mayat-mayat lainnya dan bahwa mayat itu dapat melihat orang-orang yg menziarahi begitu mereka keluar dari batas kota. {Al- Madkhal 3/277}.17. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari ‘Asyura`. .18. Mengkhususkan ziarah pada malam nisfu sya’ban .19. Bepergian ke pekuburan pada 2 hari raya ‘Ied . {Ahkamul Jana`iz hal.325}.20. Bepergian kepekuburan pada bulan-bulan Rajab Sya’ban dan Ramadhan {Ahkamul Jana`iz hal.325}.21. Mengkhususkan berziarah kubur pada hari senin dan kamis .22. Berdiri dan diam sejenak dgn sangat khusyu’ di depan pintu pekuburan seakan-akan meminta izin utk masuk kemudian setelah itu baru masuk ke pekuburan {Ahkamul Jana`iz hal.325}.23. Berdiri di depan kubur sambil meletakkan kedua tangan seperti seorang yg sedang shalat kemudian duduk disebelahnya .24. Melakukan tayammum utk berziarah kubur .25. Membacakan surah Al-Fatihah utk para mayit. .26. Membaca do’a :اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحُرْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ تُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتَ“Ya Allah aku meminta kepada-MU dgn kehormatan Muhammad shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam agar Engkau tidak menyiksa mayat ini”. .27. Menamakan ziarah terhadap kuburan tertentu sebagai haji. .28. Mengirimkan salam kepada para Nabi melalui orang yg menziarahi kuburan mereka. {Lihat : Kitab Ahkamul Jana`iz hal.327}.29. Mengirimkan surat dan foto-foto kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lewat orang yang berziarah ke Mesjid Nabawy. Dan hal ini sering terjadi/dialami.30. Berziarah kekuburan pahlawan tak dikenal. .31. Perkataan bahwa do’a akan mustajab jika dilakukan di dekat orang-orang sholeh. {Ahkamul Jana`iz}.32. Memukul beduk gendang dan menari disisi kuburan Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam rangka pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala .33. Meletakkan mushaf dikuburan bagi orang-orang yg bermaksud membaca Al-Qur`an. {Al- Fatawa 1/174}.34. Melemparkan sapu tangan dan pakaian ke kuburan dgn tujuan tabarruk .

.35. Berlama-lamanya seorang wanita pada sebuah kuburan dan menggosok-gosokkan kemaluannya pada kuburan dgn tujuan supaya ia bisa hamil. .36. Mengusap-usap kuburan dan menciumnya. {Iqtidha` Ash-Shirathal Mustaqim karya Ibnu Taimiyah Al-I’tishom karya Asy-Syathiby}.37. Menempelkan perut dan punggung atau sesuatu dari anggota badan pada tembok kuburan .38. Berziarah kekubur para nabi dan orang-orang sholeh dgn maksud utk berdo’a disisi kuburan mereka dgn harapan terkabulnya do’a tersebut. .39. Keluar dari kuburan yg diagungkan dgn cara berjalan mundur. {Al-Madkhal 4/238}.40. Berdiri yg lama dihadapan kuburan Nabi utk mendo’akan dirinya sendiri sambil menghadap ke kuburan. .Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk amalan/perbuatan yg dilakukan ketika berziarah kubur yang menyelisihi cara berziarah yg syar’i yg mana semua bentuk-bentuk tersebut adl bid’ah di dalam agama ini yg telah dinyatakan oleh nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa tiap bid’ah adl sesat dan tiap yg sesat tempatnya di neraka. Na’udzu billahi minha. Wallahu Ta’ala A’lam Bishshowab.Maroji’1. Ahkamul Jana`iz Wa Bid’auha / Syaikh Al-Imam Muhammad Nashirudddin Al-Albany.2. Al-I’tishom / Al-Imam Asy-Syathiby.3. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab / Al-Imam An-Nawawy.4. Al-Mughny / Ibnu Qudamah.5. Al-Muntaqo Min Fatawa Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan.6. Ash-Shorimul Munky Fii Ar-Raddi ‘Ala As-Subky / Muhammad bin Abdul Hady.7. Hasyiah Ar-Raudhoh Murbi’ Syarh Zadul Mustaqni’ / ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim An-Najdy.8. Iqtidho` Ash-Shirothol Mustaqim Fii Mukhalafatu Ashhabul Jahim / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.9. Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarif / Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Ibnul Hajj.10. Majmu’ Al-Fatawa / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.11. Manarus Sabil Fii Syarh Ad-Dalil / Syaikh Ibrahim bin Muhammad Duwaiyyan.12. Min Bida’il Qubur / Hamad bin ‘Abdullah bin Ibrahim Al-Humaidy.13. Nailul Author Min Ahaditsi Sayyidil Akhyar / Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukany.14. Talbis Iblis / Ibnul Jauzy.15. Talkhis Kitab Al-Istighotsah / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.16. Taudhihul Ahkam / ‘Abdullah Al-Bassam.17. Zadul Ma’ad Fii Hadyi Khairil ‘Ibad / Ibnul Qoyyim Al-Jauzy.18. Ziyaratul Qubur Wa Hukmul Istinjad bil Maqbur / Syaikh Islam Ibnu Taimiyah.http://www.an-nashihah.com/isi_berita.php?id=43
sumber : file chm Darus Salaf 2