Abu Isa Abdullah bersama Team As-SalaamBanyak dari orang-orang yg mulai sadar akan pentingnya shalat masih mengabaikan perkara thuma’ninah di dalam shalat. Padahal hanya dgn thuma’ninah seseorang bisa khusyu’. Dan mustahil kekhusyu’an bisa tercapai dgn ketergesa-gesaan. Karena tiap kali bertambah thuma’ninah seseorang maka bertambah pula kekhusyu’annya dan tiap kali berkurang thuma’ninah-nya maka bertambahlah ketergesa-gesaannya sehingga jadilah gerakan kedua tangannya seperti sesuatu yg sia-sia yg tidak diiringi dgn kekhusyu’an. Dan Allah  telah memuji hamba-hamba-Nya yg khusyu’ di dalam shalatnya Sungguh beruntunglah orang-orang yg beriman mereka yg khusyu’ di dalam shalat mereka .Tapi alangkah banyaknya kaum muslimin yg melalaikan hal ini. Tidaklah kita dapati kebanyakan mereka kecuali telah menyia-nyiakan shalat menyia-nyiakan rukun-rukunnya dan meninggalkan thuma’ninah di dalamnya. Ini adl perkara yg sangat menyedihkan.Sungguh manusia telah menyia-nyiakan shalat sejak zaman Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu.

Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dari Al Imam Az-Zuhri beliau berkata “Aku masuk menemui Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu di Damaskus dan ketika itu ia sedang menangis. Maka aku bertanya kepadanya Apa yg membuatmu menangis? Ia menjawab Aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yg dahulu aku dapati kecuali shalat ini dan shalat ini telah disia-siakan .

Dan dalam riwayat yg lain Anas Radhiyallahu ’anhu berkata aku tidak mengetahui sedikit pun dari apa yg dahulu ada pada zaman Rasulullah ”. Kemudian seseorang berkata Bagaimana dgn shalat?” Ia menjawab Bukankah kalian telah menyia- nyiakannya?!”Karena itu tidaklah kita dapati kebanyakkan mereka shalat kecuali dgn mematuk. Dan tidaklah mereka berlalu dalam shalat kecuali seperti berlalunya anak panah. Inilah adl musibah besar bagi umat ini. Kalau kita menyaksikan bagaimana mereka shalat kita akan dapati penyelisihan-penyelisihan yg sangat banyak terhadap petunjuk Nabi  di dalam shalatnya.

Mereka mempercepat bacaan Al-Fatihah hingga tidak mungkin bagi ma’mum utk membacanya dengan thuma’ninah dan tadabbur. Kejadian seperti ini banyak kita temui dalam shalat sirr atau dalam dua rakaat terakhir dari shalat jahr. Begitu pula di saat ruku’ dan sujud padahal dalam sabdanya Rasulullah  berkata Allah tidak melihat hambanya yg tidak menegakkan punggungnya diantara ruku’nya dan sujudnya HR. Ahmad dari Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah Shahih At-Targhib Wattarhib.Dan dalam hadits yg lain beliau  bersabda Seburuk-buruknya pencuri adl orang yg mencuri shalatnya. Berkata Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu Bagaimana dia mencuri shalatnya?” Beliau bersabda Dia tidak menyempurnakan ruku’nya dan sujudnya” HR. Ath- Thabrani dan lain-lain dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam Shahih At- Targhib Wattarhib.Dan beliau  juga bersabda “Sesungguhnya seseorang benar-benar shalat selama enam puluh tahun akan tetapi tidak diterima shalatnya. Bisa jadi dia menyempurnakan ruku’nya tetapi tidak menyempurnakan sujudnya dan bisa jadi dia menyempurnakan sujudnya tetapi tidak menyempurnakan ruku’nya HR. Abul Qasim Al Asbahani dan dihasankankan oleh Asy Syaikh Al Albani Rahimahullah dalam Shahih At-Targhib Wattarhib.Apa yg beliau  sabdakan diatas seperti itu pulalah kondisi ummatnya saat ini. Adapun shalat beliau  adl seperti yg diriwayatkan dari Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ’anhu bahwasanya ia berkata Saya shalat bersama Rasulullah  maka saya dapati berdirinya ruku’nya ‘itidalnya setelah ruku’ sujudnya duduknya diantara dua sujud sujudnya dan duduknya sebelum salam dan pergi hampir sama. Muttafaqun ‘Alaihi.Demikianlah Nabi kita  kalau shalat. Rukunya i’tidalnya sujudnya temponya hampir sama yaitu tidak ada perbedaan yg mencolok sehingga yg satu lbh panjang dari yg lainnya sebagaimana hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang yg tidak memiliki ilmu tentang As- Sunnah. Dan demikian pula petunjuk Nabi  di dalam dua rukun i’tidal {i’tidal setelah ruku’ dan duduk diantara dua sujud} menyelisihi perbuatan kebanyakan manusia pada zaman sekarang.

Telah datang hadits yg diriwayatkan Abu Daud dari Anas bin Malik Radhiyallahu ’anhu ia berkata Saya tidak pernah shalat dibelakang seseorangpun yg lbh ringkas dan sempurna shalatnya dibandingkan Rasulullah  Dahulu Rasulullah  apabila membaca “Sami’allahu liman hamidah” beliau berdiri hingga kami berkata Beliau telah salah” kemudian beliau bertakbir dan sujud dan beliau duduk diantara dua sujud hingga kami berkata beliau telah salah”.Dan memanjangkan i’tidal dan duduk diantara dua sujud adl termasuk dari sunnah-sunnah Nabi kita  yg telah ditinggalkan sejak terputusnya zaman shahabat Radhiyallahu ’anhu hingga zaman kita sekarang ini.Berdasarkan penjelasan tadi kita mengetahui bahwasanya kadar tasbih dalam ruku’ sujud dan rukun lainnya tidak terbatas dgn tiga tasbih saja. Dan hadits yg menerangkan bahwasanya Nabi  bertasbih dgn tiga tasbih keshahihannya diperselisihkan oleh ulama. Asy Syaikh ‘Abdullah al Mar’ii Hafidzahullah menjelaskan tentang hal tersebut Yang populer di kalangan manusia bahwa tasbih dalam ruku’ dan sujud dibatasi dgn tiga tasbih saja tidak ada dalil yg shahih dan jelas yg mengikatnya dgn bilangan ini” Dan Ibnul Qayyim Rahimahullah juga menjelaskan hal yg sama di dalam kitabnya Ash-shalat wa Hukmu Tarikiha. Dan kalau pun kita anggap haditsnya shahih Nabi  tidak membacanya dgn tergesa-gesa tanpa tadabbur dan khusyu’ seperti yg banyak dilakukan oleh ummatnya sekarang.Sebagai kesimpulan berkata Syaikh Abdullah Al Mar’ii Hafidzahullah Yang benar dalam hal ini adalah tergantung bacaan . Kalau bacaannya panjang ruku’ dan sujudnya juga panjang”. Kemudian beliau Hafidzahullah melanjutkan “Yang dimaksud hampir sama bahwa tambahan bacaan menuntut adanya tambahan tasbih dan pengurangan bacaan menuntut adanya pengurangan tasbih”Sesungguhnya penyelisihan manusia terhadap petunjuk Nabi  di dalam shalat teramat banyak sekali. Karena itu penting bagi kita utk mengingat-ingat ucapan Imam Ahlus Sunnah Al Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah Sesungguhnya bagian seseorang di dalam Islam adl sesuai kadar perhatian mereka terhadap shalat dan kecintaan mereka kepada Islam adl sesuai kadar kecintaan mereka kepada shalat. Maka kenalilah dirimu wahai hamba Allah! Hati- hatilah jangan sampai engkau bertemu dgn Allah  sedangkan tidak ada kadar keislaman di sisimu! Karena sesungguhnya kadar keislaman di dalam hatimu sesuai dgn kadar shalat di dalam hatimu”. Wallahua’lam bis Shawaab.Sumber:Majalah As-Salaam Depok
sumber : file chm Darus Salaf 2