TAQLID DAN FANATISME GOLONGAN

penulis Al-Ustadz Idral Harits
new Kajian Utama 14 - Agustus - 2003 06:36:39

“Kiai-ku lbh pintar dari kamu!” “Imamku-lah yg paling benar!” ungkapan-ungkapan seperti ini sering kita dengar ketika ada nasehat disampaikan. Inilah antara lain gambaran taqlid dan fanatisme golongan penyakit yg telah lama menjangkiti umat.

Hancur kaum muslimin dan jatuh mereka ke dlm kehinaan tdk lain disebabkan kebodohan mereka terhadap Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam serta tdk memahami pengertian dan pelajaran yg terdapat pada keduanya.

Demikian pula yg menjatuhkan umat Islam ke dlm perbuatan bid’ah serta khurafat. Bahkan kebodohan terhadap agama ini merupakan faktor utama yg menumbuhsuburkan taqlid.

Berbagai kebid’ahan tumbuh dgn subur di atas ketaqlidan dan kebodohan yg ada di tengah-tengah kaum muslimin. Hal ini juga disebabkan ada para dajjal dari berbagai golongan yg menyandarkan diri kepada imam-imam madzhab yg telah dikenal. Padahal pengakuan mereka yg menyebutkan bahwa mereka adl pengikut para imam tersebut adl pengakuan dusta.

Kita dapati dlm kitab-kitab tentang tafsir fiqih tasawwuf ataupun syarh hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbagai kebid’ahan bahkan khurafat yg ditulis oleh mereka yg menyatakan diri bermadzhab Fulani. Innaa lillah wa Innaa ilaihi raji’un.

Begitu hebat penyakit ini melanda kaum muslimin seakan-akan sudah menjadi wabah yg tdk ada obat di dunia ini. Dan akibat taqlid ini muncullah sikap-sikap fanatik terhadap apa yg ada pada diri atau kelompoknya. Sampai-sampai seorang yg bermadzhab dgn satu madzhab tertentu tdk mau menikahkan puteri dgn orang dari madzhab lain tdk mau pula shalat di belakang imam yg berbeda madzhab dan sebagainya. Bahkan yg ironis di antara penganut madzhab ada yg saling mengkafirkan.

Inilah sesungguh penyakit yg mula-mula menimpa makhluk ciptaan Allah. Iblis yg terkutuk makhluk pertama yg mendurhakai Allah tdk lain disebabkan oleh sikap fanatik di mana dia merasa unggul krn unsur yg menjadi asal dia diciptakan. Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan hal ini:
“Aku lbh baik daripadanya. Engkau menciptakanku dari api sedangkan dia Kau ciptakan dari tanah.”

Definisi Taqlid

Taqlid secara bahasa diambil dari kata {} yg bermakna mengikatkan sesuatu di leher. Jadi orang yg taqlid kepada seorang tokoh ibarat diberi tali yg mengikat leher utk ditarik seakan-akan hewan ternak.

Sedangkan menurut istilah taqlid arti beramal dgn pendapat seseorang atau golongan tanpa didasari oleh dalil atau hujjah yg jelas.

Dari pengertian ini jelaslah bahwa taqlid bukanlah ilmu dan ini hanyalah kebiasaan orang yg awam dan jahil. Dan Allah subhanahu wa ta’ala telah mencela sikap taqlid ini dlm beberapa tempat dlm Al Qur’an. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Atau adakah Kami memberikan sebuah kitab kepada mereka sebelum Al Qur’an lalu mereka berpegang dgn kitab itu? Bahkan mereka berkata: ‘Sesungguh kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh kami orang2 yg mendapat petunjuk dgn jejak mereka.’ Dan demikianlah kami tdk mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dlm suatu negeri melainkan orang2 yg hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguh kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh kami adl pengikut jejak-jejak mereka.’ berkata: ‘Apakah sekalipun aku membawa untukmu yg lbh memberi petunjuk daripada apa yg kamu dapati bapak-bapak kalian menganutnya?’ Mereka menjawab: ‘Sesungguh kami mengingkari agama yg kamu diutus utk menyampaikannya.’ mk Kami binasakan mereka mk perhatikanlah bagaimana kesudahan orang2 yg mendustakan itu.”

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah mengatakan: “Ayat-ayat ini adl dalil terbesar tentang batil dan jelek taqlid. Karena sesungguh orang2 yg taqlid ini mengamalkan ajaran agama mereka hanyalah dgn pendapat para pendahulu mereka yg diwarisi secara turun temurun. Dan apabila datang seorang juru dakwah yg mengajak mereka keluar dari kesesatan kembali kepada al-haq atau menjauhkan mereka dari kebid’ahan yg mereka yakini dan warisi dari para pendahulu mereka itu tanpa didasari dalil yg jelas –hanya berdasarkan kata dan katanya- mereka mengatakan kalimat yg sama dgn orang2 yg biasa bermewah-mewah: ‘Sesungguh kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguh kami adl pengikut jejak-jejak mereka.’ Atau ungkapan lain yg semakna dgn ini.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli ibadah mereka sebagai Rabb selain Allah.”

Maksud mereka menjadikan para ulama dan ahli ibadah di kalangan mereka sebagai Rabb selain Allah. Arti ketika para ulama dan ahli ibadah itu menghalalkan utk mereka apa yg diharamkan oleh Allah mereka mengikuti penghalalan tersebut. Dan ketika mereka mengharamkan sesuatu yg dihalalkan oleh Allah mereka juga mengikuti pengharaman tersebut. Bahkan ketika para ulama dan ahli ibadah tersebut menetapkan suatu syariat yg baru dlm agama mereka yg bertentangan dgn ajaran para Rasul itu mereka juga mengikutinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Patung-patung apakah ini yg kamu tekun beribadat kepadanya? Mereka menjawab: ‘Kami dapati bapak-bapak kami menyembahnya’.”

Dan perhatikanlah bagaimana jawaban yg mereka berikan. Walhasil taqlid ini menghalangi mereka utk menerima kebenaran sebagaimana disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:
“Sesungguh kami mengingkari agama yg kamu diutus utk menyampaikannya.”

Dan para ulama menjadikan ayat-ayat ini dan yg semakna dengan sebagai hujjah tentang batil taqlid. Tidaklah menjadi halangan bagi mereka utk berhujjah dgn ayat ini meskipun ayat ini berbicara tentang orang2 kafir krn kesamaan yg terjadi bukan pada kekufuran satu golongan atau keimanan yg lain akan tetapi kesamaan adl bahwa taqlid itu terjadi krn kedua sama-sama mengikuti suatu keyakinan atau pendapat tanpa hujjah atau dalil yg jelas.

Demi Allah Yang Maha Agung sesungguh kaum muslimin itu ketika benar-benar sebagai kaum muslimin yg sempurna dan benar keislaman mereka keadaan mereka senantiasa mendapat pertolongan dan menjadi pahlawan-pahlawan yg membebaskan berbagai negara dan menundukkan di bawah kedaulatan muslimin. Akan tetapi ketika mereka mengubah-ubah perintah-perintah Allah mk Allah-pun memberi balasan kepada mereka dgn mengganti ni’mat-Nya kepada mereka dan menghentikan kekhalifahan yg ada di tangan mereka. Dan inilah kenyataan yg kita saksikan dan kita rasakan.

Al-‘Allamah Al-Ma’shumi mengatakan bahwa termasuk yg berubah adl ada prinsip dan kewajiban harus seorang muslim bermadzhab dgn satu madzhab tertentu dan bersikap fanatik meskipun dgn alasan yg batil. Padahal madzhab-madzhab ini baru muncul sesudah berakhir masa tiga generasi terbaik umat ini. Dan akhir dgn bid’ah ini tercapailah tujuan Iblis memecah-belah kaum muslimin. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari hal itu.

Beliau juga menyatakan bahwa pendapat yg menyatakan harus seseorang bermadzhab dgn satu madzhab tertentu sesungguh dibangun di atas satu kepentingan politik tertentu dan ambisi-ambisi atau tujuan pribadi. Dan sesungguh madzhab yg haq dan wajib diyakini dan diikuti adl madzhab junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yg merupakan Imam yg Agung yg wajib diikuti kemudian para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan apa-apa yg datang dari Rasul kepada kamu mk ambillah dia dan apa yg kamu dilarang mengerjakan mk jauhilah!”

Dan adapun yg dimaksud dgn Sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin yg harus diikuti tdk lain adl jalan hidup mereka yg sesuai dgn Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Daftar bacaan:
1 Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi Ibnu ‘Abdil Barr
2 Riyadhul Jannah Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i
3 Hadiyyatus Sulthan Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi
4 Al-Hadits Hujjatun Binafsihi Asy-Syaikh Al-Albani
5 Ma’na Qaulil Imam Al-Muththalibi As-Subki
6 Irsyadun Nuqqad Al-Imam Ash-Shan’ani
7 Al-Mudzakkirah Asy-Syinqithi
8 Al-Ihkam Ibnu Hazm
9 Al-Ihkam Al-Amidi

Sumber: www.asysyariah.com