"Siapakah Sururi ?" ketegori Muslim.

Siapakah Sururi ?

Kategori Bahaya Hizbiyyah

Senin, 9 Agustus 2004 09:38:55 WIB

SIAPAKAH SURURI ?

Oleh
Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr Hafizhahullah

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr dita : "Kita telah mengetahui bahwa dakwah Salafiyyah ialah dakwah yg bersih dan benar. Tetapi sangat disaygkan telah datang pencemaran nama dan keburukan dari pihak lain. Seperti dari Sururiyyin (para pengikut surur). Maka bagaimanakah Sururiyyah (pemahaman surur) itu? Dan apakah kaedah-kaedah dan prinsip-prinsip faham Sururiyah itu, agar kita dpt mengetahui dan menghukuminya?"

Jawaban:
Sururiyah (pemahaman Surur) ialah Jama’ah Hizbiyyah. Muncul pada tahun-tahun terakhir ini. Tidak dikenal kecuali pada seperempat akhir abad ini. Karena semenjak dahulu hingga sekarang, ia berselimut Salafiyyah. Pada hakekatnya, Sururiyah memiliki prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, bergerak secara sirriyah (sembunyi-sembunyi/rahasia). Merupakan pergerakkan politik, takfir, mencela dan menyindir para ulama Rabbaniyyin, seperti Imam-imam kita yg tiga: Bin Baaz, Al-Albani dan Utsaimin. Menuduh mereka sebagai ulama haidh dan nifas. Setelah perang Teluk II serangan terhadap dakwah Salafiyyah secara terang-terangan, bertambah keras baik secara aqidah dan pemberitaan. Sampai menuduh para masyayikh dan ulama kita bahwa mereka tdk mengetahui waqi’ (situasi dan kondisi/kenyataan), ilmu dalam perkara nifas dan wanita-wanita nifas. Mereka sesuai dgn ahli bid’ah zaman dahulu, yg mengatakan: “Fiqh (Imam) Malik, Auza’i dan lain tdk melewati celana perempuan.” Alangkah besar dosanya. Kalimat yg keluar dari mulut mereka.

Orang yg tdk menghormati para ulama, dia ialah para penyeru fitnah. Orang-orang yg merendahkan Al-Albani, Bin Baz dan Utsaimin di zaman kita, maka dia tenggelam (di dalam kesesatan), pemuntuk fitnah, dia berada di pinggir jurang yg dalam. Karena dia berkehendak memalingkan wajah manusia kpd dan menghalangi manusia dari para ulama dan imam mereka yg Rabbani.

Sehingga walaupun mereka mengaku beraqidah Salafiyyah, tetapi manhaj mereka Ikhwani. Bahkan (mungkin) mereka lebih berbahaya dari Ikhwanul Muslimin, krn mereka berbaju Salafiyyah.

Kita memohon kpd Allah Ta’ala agar mereka diberi petunjuk menuju jalan yg lurus, dan agar kelak mereka bersama dgn Salafiyyah yg murni, yg para Sahabat Rasulullah dan para tabi’in berada diatasnya.

Tambahan Redaksi Majalah As-Sunnah:

Sururiyah ialah nisbat kpd seseorang yg bernama Muhammad Surur bin Nayif Zainal Abidin. Dia pernah menjadi guru di Arab Saudi dalam waktu yg cukup lama, sehingga memungkinkan menjalankan rencana dan menyebarkan racun di tengah-tengah para pemuda. Tetapi setelah nampak keburukan niatnya, dia pergi, lalu bermukim di kota London, Inggris, sebuah negara kafir.

Di antara kesesatan dan penyimpangan Muhammad Surur ini ialah:

[1.] Merendahkan Kitab-Kitab Aqidah Salafiyyah Dan Berlebihan Dengan Fiqhul Waqi’.

Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya fi Dakwah Ila Allah I/8: “Aku memperhatikan kitab-kitab aqidah, maka aku lihat kitab-kitab itu ditulis bukan pada zaman kita. Sehingga kitab-kitab itu sebagai solusi berbagai permasalahan dan kemusykilan pada zaman ditulis kitab-kitab tersebut. Sedangkan pada zaman kita terdpt berbagai kemusykilan yg membutuhkan solusi yg baru. Kerena itulah model kitab-kitab aqidah itu sangat kering, krn ha berisi nash-nash dan hokum-hukum. Karena inilah kebanyakan pemuda berpaling dari dan tdk menyukainya.”

Perkataan orang ini tentulah sangat menyesatkan, krn kitab-kitab aqidah yg berisi nash-nash dan hukum-hukum mrpk kebenaran hakiki. Sedangkan berpaling dari akan menjerumuskan kpd pendpt si Fulan dan Fulan yg tdk jelas kebenarannya.

[2.] Beraqidah Takfir Bil Ma’shiyah, Yaitu Mengkafirkan Kaum Muslimin Dengan Sebab Maksiat.

Dia mengkafirkan para penguasa zhalim, sehingga dia banyak mencela para penguasa dan menerjuni medan politik ala Barat!

Dia berkata di dalam majalah yg terbit di London, majalah As-Sunnah no: 26, Jumadal Ula 1413H, hal: 2-3 (Tidak ada hubungan sama sekali dgn Majalah As-Sunnah kita ini): “Dizaman ini perbudakan memiliki tingkatan-tingkatan yg berbentuk piramida:

Tingkatan Pertama:
Presiden Amerika Serikat, George Bush, duduk bersila di atas singgasananya, yg besok akan diganti Clinton.

Tingkatan Kedua:
Tingkatan penguasa negara-negara Arab. Mereka ini berkeyakinan bahwa kebaikan dan bahaya mereka di tangan Bush (Bagaimana dia bisa memastikan aqidah mereka seperti itu? Apakah dia telah membedah dada mereka? Atau mereka memberitahukan kpdnya? Maha suci Engkau wahai Allah, sesungguh hal ini mrpk kedustaan yg besar!-red). Oleh krn inilah mereka berhajji kpd (mengunjungi) nya, serta mempersembahkan nadzar-nadzar dan kurban-kurban (Perkataan ini mrpk pengkafiran secara nyata kpd Penguasa yg zhalim! -red).

Tingkatan Ketiga:
Para pengiring penguasa negara-negara arab, dari kalangan menteri, wakil menteri, komandan tentara, dan para penasehat. Mereka ini bersikap nifaq kpd tuan-tuan mereka, menghias-hiasi segala kebatilan dgn tanpa malu dan ahlaq.

Tingkatan Keempat, Kelima dan Keenam:
Para penjabat tinggi pada kementerian. Sesungguh perbudakan pada zaman dahulu sederhana, krn seorang budak memiliki seorang tuan secara langsung, tetapi sekarang perbudakan itu kompleks. Aku tdk habis fikir, tentang orang yg membicarakan tauhid, tetapi mereka ialah budak-budak, yg dimiliki oleh budak-budak, yg dimiliki oleh budak-budak, yg dimiliki oleh budak-budak, yg dimiliki oleh budak-budak. Tuan mereka yg akhir ialah seorang Nashrani (Alangkah keji dan lancang perkataan yg ditujukan kpd para ulama yg dimuliakan oleh Allah Ta’ala –red).
Perkataan orang ini dgn jelas menunjukkan kesesatan dan kedustaan yg nyata!.

[3.] Juga Mengkafirkan Rakyat Karena Maksiat Yang Mereka Lakukan.

Dia berkata di dalam bukunya, Manhajul Ambiya’ Fi Dakwah ila Allah I/158: “Tidaklah aneh jika problem laki-laki mendatangi laki-laki (homo seksua) mrpk permasalahan paling penting di dalam dakwah Nabi Luth. Kerena seandai kaum menyambut dakwah untuk beriman kpd Allah dan tdk menyekutukan-Nya, maka sambutan mereka itu tdk ada maknanya, jika mereka tdk meninggalkan kebiasaan keji yg telah mereka sepakati itu.”

Itulah aqidah sesat Surur! Adapun aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap pelaku dosa besar telah mansyur, yaitu tdk keluar dari iman, tetapi iman berkurang, dan dia dikhawatirkan terkena siksaaan Allah Ta’ala.

[4.] Memusuhi Dan Mencela Para Ulama Ahlus Sunnah As-Salafiyyin.

Dia berkata di majalah yg terbit di London, Majalah As-Sunnah no. 23, Dzulhijjah-1412 H hal. 29-30: “Dan jenis manusia yg lain (Yang dimaksudkan ialah para ulama Arab Saudi –red) mengambil (yakni mengambil bantuan resmi) dan mengikatkan sikap-sikap mereka dgn sikap para tuan mereka (yg dimaksud dgn tuan mereka disini ialah para penguasa Arab Saudi). Maka jika sang tuan minta bantuan Amerika (Dia membicarakan masalah permintaan tolong kpd Amerika pada waktu perang teluk-red), para budak pun berlomba mengumpulkan dalil-dalil yg membolehkan peruntukan ini, dan mengingkari orang-orang yg menyelisihi mereka. Jika sang tuan berselisih dgn Iran Rafidhah, para budakpun membicarakan kebusukan Rafidhah. Dan jika perselisihan berhenti, para budakpun diam dan berhenti membagikan buku-buku yg diberikan kpd mereka. Jenis manusia ini: mereka berdusta, memata-matai, menulis laporan-laporan, dan melakukan segala sesuatu yg diminta oleh sang tuan kpd mereka. Mereka ini jumlah sedikit –al-hamdulillah-, mereka ialah orang-orang asing di dalam dakwah dan amal islami. Dokumen mereka telah terbongkar, walaupun mereka memanjangkan jenggot, memendekkan pakaian, dan menygka sebagai penjaga sunnah. Ada jenis manusia tersebut tdklah membahayakan dakwah Islam. Kemunafikan sudah ada sejak dahulu….”

Alangkah sesat perkataan ini, krn memperolok-olok sunnah Nabi dpt membawa kpd kekafiran! Membenci ulama Ahlus Sunnah ialah ciri utama Ahli Bid’ah! Dan kesesatan-kesesatan lainnya.

Lihat:
[1] Fitnah Takfir Wal Hakimiyah, hal: 93, Karya: Muhammad bin Abdullah Al-Husain.
[2] Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘An As-ilah Al-Manhaji Al-Jiddah, Bagian Pertama hal. 45-48
[3] Nazharat Fi Kitab Manhajul ambiya’ Fi Dakwah ila Allah, karya : Syaikh Ahmad Sallam.
[4] Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuuha, karya: Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-‘Adnani
[5] Al-Irhab, Karya: Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Makhdali.
[6] Dan lain-lain.

Peringatan:
Sebagian orang menuduh kami (redaksi dan ustad-ustad Salaf lain –pen) sebagai sururi, yakni mengikuti pemahaman sesat Muhammad bin Surur, kemudian mereka memperingatkan kaum muslimin agar menjauhi kami.
Padahal sifat-sifat sururi tdk ada pada kami. Bahkan sifat-sifat itu banyak melekat pada orang-orang yg telah menuduh.

Maka disini kami nasehatkan dgn beberapa ayat dan hadits tentang bahaya menyakiti kaum muslimin, dan memfitnah mereka dgn perkara yg tdk ada pada mereka. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk-Nya kpd mereka sehingga segera kembali ke jalan yg benar. Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti akan dicatat dan tdk akan dilupakan!

Allah Ta’ala berfirman:

“Arti : (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal peruntukannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yg lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu usapanpun yg diucapkan melainkan ada di dekat malaikat pengawas yg selalu hadir” [Al-Israa : 17-18]

Ingatlah bahwa seluruh perkataan pasti dimintai pertanggung-jawaban!

Allah Ta’ala berfirman:

“Arti : Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tdk mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. [Al-Israa : 36]

Ketahuilah bahwa menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yg mereka peruntuk, mrpk kebohongan dan dosa yg nyata!

Allah ta’ala berfirman:

“Arti : Dan orang-orang yg menyakiti orang-orang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yg mereka peruntuk, maka sesungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yg nyata”. [Al-Ahzab :58]

Ketahuilah bahwa satu kalimat saja dpt menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari jarak antara timur dan barat!.

Rasulullah bersabda:

“Arti : Sesungguh ada seorang hamba berbicara dgn satu kalimat yg dia fikirkan (baik atau buruknya) pada kalimat itu. Kalimat itu menyebabkan dia terjerumus ke dalam neraka lebih jauh dari timur dan barat”. [HR. Bukhari, Muslim, dari Abu Hurairah].

Rasulullah memperingatkan bahaya tuduhan yg tdk benar dgn sabdanya:

“Arti “ Tidaklah seseorang menuduh orang lain dgn kefasikan, dan tdklah dia menuduh orang lain dgn kekafiran, kecuali tuduhan itu kembali kpd jika yg dituduh tdk seperti itu”. [HR. Bukhari dari Abu Dzar].

Beliau juga memberitakan ancaman bagi orang yg memuntuk fitnah atas seorang mukmin dgn abdanya:

“Arti : Barangsiapa berbicara tentang seorang mukmin apa yg tdk ada padanya, niscaya Allah tempatkan dia di dalam lumpur racun penghuni neraka sampai dia keluar dari apa yg telah dia ucapkan, dan dia tdklah akan keluar!” [HR. Abu Dawud, Ahmad, dan Baihaqi, dari Ibnu Umar, di shahihkan Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi di dalam Ru’yah Waqi’iyyah hal: 84]

Hendaklah saudara-saudaraku mengetahui, kalau ha sekedar tuduhan, maka dgn sangat mudah setiap orang akan dpt melakukannya.
Tetapi hal itu bukanlah manhaj Salaf. Karena manhaj mereka ialah mengawasi apa saja yg muncul dari lisan, atau apa yg digerakkan oleh lisan, dan menegakkan hujjah terhadap setiap kalimat yg dibicarakan oleh bibir. Adapun melepaskan tuduhan-tuduhan, melepaskan istilah-istilah kasar, menyelinapkan prasangka-prasangka rusak, memunculkan gelar-gelar keji, semua itu mrpk kebatilan dan perkataan yg dusta.

Sesungguh Allah Ta’ala mengetahui seluruh isi hati hamba-Nya terakhir, ingatlah sabda Rasulullah :

Cukuplah seorang itu berdusta, jika dia menceritakan segala yg telah dia dengar. [HR. Muslim di dalam Muqaddimah dari Hafsh bin ‘Ashim]

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Hal.4-7]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=968&bagian=0

Sumber Siapakah Sururi ? : http://alsofwah.or.id