Al Ustadz Zuhair SyarifPenyebab rusaknya ittiba’ dan tersebarnya bid’ah serta kesalahan-kesalahan dalam beribadah adalah krn adanya hadits-hadits dlaif dan maudlu’ yg tidak ada sandarannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di samping itu juga dikarenakan sikap taqlid dan ta’ashub pada salah satu madzhab tertentu tanpa mengindahkan hadits-hadits shahih dari Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.Dalam rangka menghidupkan sunnah yg lurus inilah dalam edisi ini kami ingin menjelaskan beberapa hal yg berkaitan dgn shalat Ied . Hal itu agar kita dapat melaksanakan ibadah ini dgn sebenar-benarnya sesuai dgn tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.Di antara hal-hal yg berkaitan dgn shalat Ied adalah:Tempat Shalat utk Dua IedTelah masyhur baik dari kalangan huffadh maupun ahli hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –dalam ucapan dan perbuatan-perbuatannya— terus meneru melakukan shalat Ied di mushalla . Pendapat para ulama ini didasarkan pada dalil hadits-hadits shahih yg ada dalam Shahihain kitab-kitab Sunan kitab-kitab sanad dan lainnya yg diriwayatkan dari banyak jalan.Untuk itu utk lbh meyakinkan pembaca atas pendapat para ulama tersebut akan kami bawakan hadits-hadits yg berkaitan dengannya. Hadits-hadits tersebut kami nukilkan beserta takhrij dan tahqiqnya serta penjelasannya dari kitab Syaikh Al-Albani yg berjudul Shalatul ‘Iedain fil Mushalla Hiya Sunnah.Hadits Pertamaعَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي رضي الله عنه قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى. فَأَوَّلُ شَيْئٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْمُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَ النَّاسُ جُلُوْسٌ عَلَى صُفُوْفِهِمْ، فَيَعِظُهُمْ وَ يُوْصِيْهِمْ وَ يَأْمُرُهُمْ. فَإِنْ كَانَ يُرِيْدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرُ بِشَيْئٍ أَمَرَ بِهِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ، قَالَ أَبُوْ سَعِيْدٍ: فَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ.. {رواه البخاري ٢/٢٥٩-٢٦٠ و مسلم ٣/٢٠ و النسائي ١/٢٣٤ و المحاملى في كتاب العيدين جـ ٢ رقم ۸٦ و أبو نعيم في مستخرجه ٢/١٠/٢ و البيهقي في سننه ٣/٢۸٠}Dari Abi Sa’id Al-Khudri radliallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Iedul Fithri dan Adl-ha. Hal pertama yg beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia di mana mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau memberi pelajaran wasiat dan perintah. Jika beliau ingin mengutus satu utusan maka memutuskannya. Atau bila beliau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau memerintahkannya dan kemudian berpaling. Abu Said berkata: Maka manusia terus menerus melakukan yg demikian.. {HR. Bukhari 2/259-260 Muslim 3/20 Nasa`i 1/234; Lihat Al-Muhamili di dalam Kitab Iedain 2/76 Abu Nu’aim dalam Mustakhraj 2/10/2 dan Baihaqi dalam Sunannya 3/280}Hadits Keduaعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ صلى الله عليه و سلم يَغْدُوْ إِلَى الْمُصَلَّى فِي يَوْمِ الْعِيْدِ، وَ الْعَنَزَةُ تُحْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ، فَإِذَا بَلَغَ الْمُصَلَّى نُصِبَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيُصَلِّي إِلَيْهَا. وَ ذَلِكَ أَنَّ الْمُصَلَّى فَضَاءً لَيْسَ فِيْهِ شَيْءٌ يَسْتَتِرُ بِهِ. {رواه البخاري ١/٣٥٤ و مسلم ٢/٥٥ و أبو داود ١/١٠٩ و النسائي ١/٢٣٢ و ابن ماجه ١/٣٩٢ و أحمد رقم ٦٢۸٦ و المحاملي في كتاب العيدين جـ ٢ رقم ٢٦-٣٦ و أبو القاسم الشحامى في تحفة العيد رقم ١٤-١٦ و البيهقي ٣/٢۸٤-٢۸٥}Dari Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpagi-pagi ke mushalla pada hari Ied sedangkan ‘anazah dibawa di depannya.

Ketika beliau sampai di sana ditancapkan di depan beliau dan beliau shalat menghadapnya. Hal ini krn mushalla itu terbuka tidak ada yg membatasinya. {HR. Bukhari 1/354 Muslim 2/55 Abu Dawud 1/109 An-Nasa`i 1/232 Ibnu Majah 1/392 Ahmad 6286 Al- Muhamili 2/26-36 Abul Qasim As-Syaukani(1) di dalam Tuhfatul Ied 14-16 dan Al-Baihaqi 3/284- 285}’Anazah bentuknya seperti setengah tombak atau lbh besar sedikit. Di ujungnya ada mata lembing seperti mata tombak dan paling mirip dgn bentuk tongkat.Hadits Ketigaعَنِ الْبَرَّاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يَوْمَ أَضْحَى إِلَى الْبَقِيْعِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَ قَالَ: إِنَّ أَوَّلَ نُسُكِنَا فِي يَوْمِنَا هَذَا أَنْ نَبْدَأَ بِالصَّلاَةِ ثُمَّ نَرْجِعَ فَنَنْحَرُ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ وَافَقَ سُنَّتَنَا، وَمَنْ ذَبَحَ قَبْلَ ذَلِكَ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْئٌ عَجَّلَهُ ِلأَهْلِهِ، لَيْسَ مِنَ النُّسُكِ فِي شَيْئٍ.

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju ke Baqi’ pada hari Iedul Adl-ha. Di sana beliau shalat dua rakaat setelah itu beliau menghadapkan wajahnya kepada kami seraya berkata: Sesungguhnya awal ketaatan dan ibadah pada hari kita ini adl kita memulai dgn shalat kemudian pulang dan berkurban.

Barangsiapa melaksanakan yg demikian itu sungguh dia telah mencocoki sunnah kami. Dan barangsiapa berkurban sebelum itu maka itu sesuatu yg dia tergesa-gesa utk keluarganya tidak ada sedikitpun nilai ibadahnya. {HR. Bukhari 2/372 Ahmad 4/282 Al-Muhamili 2/96 bagi keduanya ada riwayat lain dgn sanad hasan}Hadits Keempatعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قِيْلَ لَهُ: أَشَهِدْتَ الْعِيْدَ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم؟ قَالَ: نَعَمْ، وَلَوْلاَ مَكَانِي مِنَ الصِّغَرِ مَا شَهِدْتُهُ، حَتَّى أَتَى الْعَلَمَ الَّذِيْ عِنْدَ دَارِ كَثِيْرِ بْنِ الصَّلَتْ فَصَلَّى ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ وَ مَعَهُ بِلاَلٌ فَوَعَظَهُنَّ وَ ذَكَّرَهُنَّ وَ أَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ فَرَأَيْتُهُنَّ يَهْوِيْنَ بِأَيْدِيْهِنَّ يَقْذِفْنَهُ فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ ثُمَّ انْطَلَقَ هُوَ وَ بِلاَلٌ إِلَى بَيْتِهِ. أخرجه البخاري ٢/٣۷٣ و مسلم ٢/١۸-١٩ و ابن أبي شيبة ٢/٣/٢ و المحاملى رقم ٢۸، ٢٩ و الفريابى رقم ۸٥، ٩٣ و أبو نعيم في مستخرجه ٢/۸/٢-٩/١٠ و زاد مسلم في رواية عن ابن جريج: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: أَحَقًّا عَلَى اْلإِمَامِ اْلآنَ أَنْ يَأْتِيَ النِّسَاءَ حِيْنَ يَفْرَغُ فَيُذَكِّرُهُنَّ؟ قَالَ: أَيْ لَعُمْرِي إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ عَلَيْهِمْ وَمَا لَهُمْ لاَ يَفَعَلُوْنَ ذَلِكَ؟!Dari Ibnu Abbas beliau ditanya: Apakah engkau menghadiri shalat Ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau menjawab Ya dan kalaulah bukan krn tempatku yg kecil ini tidaklah aku menyaksikannya hingga beliau datang ke ‘alam yg berada di sisi rumah Katsir bin As-Shalt. Maka beliau shalat kemudian berkhutbah dan datang ke para wanita bersama Bilal. Beliau memberi pelajaran mengingatkan dan memerintah mereka untuk bershadaqah. Maka aku lihat mereka merentangkan tangan-tangan mereka utk melemparkannya pada baju Bilal. Kemudian beliau pergi bersama Bilal ke rumahnya.

{HR. Bukhari 2/373 Muslim 2/18-19 Ibnu Abi Syaibah 2/3/2 Al-Muhamili 38-39 Al-Firyaabi no.

85 93 dan Abu Nu’aim di dalam Mustakhrajnya 2/8/2-9/10 dan Muslim menambahkan di dalam riwayatnya dari Ibnu Juraij: Aku berkata kepada Atha’: Apakah benar bagi imam sekarang utk mendatangi para wanita jika telah selesai dan mengingatkan mereka? Beliau menjawab Ya demi Allah sesungguhnya yg demikian itu haq. Kenapa mereka tidak melakukan yg demikian? }Demikianlah hadits-hadits yg merupakan hujjah yg kokoh dan jelas tentang sunnahnya melakukan shalat Ied di mushalla . Oleh krn itu jumhur ulama mengatakan di dalam Syarhus Sunnah : Termasuk sunnah bagi imam utk keluar {ke mushalla} guna melaksanakan dua shalat Ied. Kecuali jika ada udzur maka shalat di masjid yaitu masjid di dalam negeri-. Al-’Allamah Ibnul Haaj Al-Maliki berkata: Sunnah yg berlangsung pada dua shalat Ied adl dilakukan di mushalla krn sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Shalat di masjidku ini lbh utama dari seribu shalat di tempat lain selain Masjidil Haram. {HR. Bukhari 1190 dan Muslim 1394}. Walaupun ada fadlilah yg besar seperti ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih juga keluar dan meninggalkannya . {Al-Madkhal 2/283}.Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi berkata di dalam Al-Mughni : Termasuk dari sunnah adl shalat Ied di mushalla. Ali radliallahu ‘anhu memerintahkan yg demikian dan Al- Auza’i serta Ashhabur Ra’yi menganggapnya baik. Inilah ucapan Ibnul Mundzir. Mengomentari hadits pertama Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: Dari hadits ini diambillah dalil atas sunnahnya keluar ke tanah lapang utk shalat Ied. Sesungguhnya yang demikian itu lbh utama daripada shalat Ied di masjid krn Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukan yg demikian. Padahal shalat di masjid beliau memiliki banyak keutamaan. Imam Muhyiddin An-Nawawi berkata dalam Syarah Shahih Muslim ketika mengomentari hadits pertama: Hadits ini adl dalil bagi orang yg menyatakan sunnahnya menuju ke mushalla untuk shalat Ied. Dan ini lbh afdlal daripada dikerjakan di masjid. Hal ini berlaku bagi kaum muslimin di seluruh negeri. Adapun mengenai penduduk Mekah yg selalu melaksanakan shalat Ied di masjid sejak awal di kalangan kami ada dua pendapat:1. di tanah lapang lbh afdlal berdasarkan hadits ini.2. Yang ini lbh benar menurut kebanyakan mereka bahwa di masjid lbh afdlal kecuali jika masjidnya sempit. Mereka berkata: Sesungguhnya penduduk Mekah shalat di masjid karena luasnya sedangkan keluarnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke mushalla krn sempitnya masjid. Hal in menunjukkan bahwa shalat di masjid lbh utama apabila masjid itu luas . Bantahan terhadap Alasan bahwa Shalat Ied di Tanah Lapang dgn sebab Sempitnya MasjidPernyataan para pengikut dan murid Imam Nawawi ini perlu ditinjau lagi. Sebab jika permasalahannya sebagaimana yg mereka nyatakan maka tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus menunaikannya di tanah lapang. Beliau tentu tidak akan terus menerus dalam melakukan suatu ibadah kecuali krn itulah yg paling utama. Jadi pendapat yang menyatakan bahwa hal itu dilakukan krn sempitnya masjid adl pendapat yg tidak ada dalilnya.Yang menguatkan bantahan terhadap pendapat mereka adl bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat Jum’at di masjid sedangkan yg datang utk shalat adl seluruh penduduk Madinah dan sekitarnya. Beliau shalat Jum’at bersama mereka di masjid tersebut. Tidak jelas perbedaan jumlah antara dua kelompok ini yakni kelompok yg hadir pada shalat Jum’at dan kelompok yg hadir pada shalat Ied sehingga dikatakan: Masjid ini cukup luas utk yg ini dan tidak cukup utk yg itu . Barangsiapa yg mengatakan demikian maka dia harus mendatangkan dalilnya dan kami yakin dia tidak akan menemuinya.Kalau misalnya shalat Ied yg dilakukan di masjid lbh utama daripada dilakukan di tanah lapang krn kondisi masjid saat itu sempit tentu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas utk memperluasnya sebagaimana yg dilakukan oleh khalifah-khalifah sesudah beliau. dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lbh pantas sebagai orang yang pertama memperluasnya dibandingkan dgn mereka kalau memang tidak cukup dipakai untuk shalat Ied. Walaupun demikian beliau meninggalkannya sehingga tidak mungkin pernyataan tersebut diterima. Hal ini hanyalah merupakan anggapan seseorang yg ingin menolak. Dan tidaklah aku menyangkan ada seseorang yg alim berani atas tanggapan seperti ini. Kalau dia melakukan yg demikian maka kami mendahuluinya dgn firman Allah Ta’ala yang artinya: Katakanlah tunjukkanlah bukti kalian jika kalian orang-orang yg benar. {Al- Baqarah: 111}Dengan demikian pernyataan di atas sudah terbantah. Adapun Imam Nawawi yang bermadzhab Syafi’i kita nukilkan ucapan Imam Syafi’i sendiri: Telah sampai kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke tengah lapang pada dua hari Ied di Madinah. Demikian pula orang-orang sesudah beliau kecuali jika ada udzur hujan dan selainnya. Demikian juga kebanyakan negeri-negeri kecuali penduduk Makkah. Selanjutnya beliau mengisyaratkan bahwa sebab yg demikian adl krn luasnya masjid dan sempitnya pinggiran-pinggiran Mekah dgn ucapannya: Jika suatu negeri yg makmur dan masjid mereka mencukupi utk shalat Ied aku tidak berpendapat bahwa mereka harus keluar darinya . Sedangkan kalau masjidnya tidak mencukupi mereka aku memakruhkan shalat di dalamnya dan tidak ada pengulangan. .Alasan yg dikehendaki dari keterangan tersebut berkisar tentang luas dan sempitnya masjid bukan tentang keluarnya ke tanah lapang krn yg dikehendaki adl terkumpulnya masyarakat. Apabila di masjid sudah mencukupi lebih-lebih masjid yg ada keutamaannya maka lbh afdlal.Mengenai perkataan Imam Syafi’i ini Imam As-Syaukani mengomentari dgn ucapannya: Dalam perkataannya bahwa alasan dgn sempit dan luasnya masjid ini hanya kira-kira dan prasangka saja. Untuk itu tidak boleh digunakan sebagai dalih utk tidak mencontoh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam perkara keluar ke tanah lapang sesudah diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya. Adapun pengambilan dalil yg demikian sebagai alasan utk shalat Ied di masjid Makkah dapat dijawab dgn kemungkinan tidak dilakukannya keluar ke tanah lapang krn sempitnya pinggiran-pinggiran kota Makkah bukan krn luasnya masjid. Syaikh Al-Albani berkata: Kemungkinan yg disebutkan oleh Imam Syaukani ini diisyaratkan juga oleh Imam Syafi’i sendiri dgn ucapannya: ‘Sesungguhnya apa yg aku katakan ini adalah tidak lain krn tidak adanya keluasan di sekeliling rumah-rumah kota Makkah keluasan yang lebar .’ Hal ini menguatkan pendapat Imam Syaukani: Alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya di masjid krn sempit adl hanya kira-kira saja. Kemudian dgn alasan tadi mereka berargumentasi dgn riwayat Baihaqi di dalam Sunan Al-Kubra dari jalan Muhammad bin Abdul Aziz bin Abdurrahman dari Utsman bin Abdurrahman At-Taimi ia berkata: Hujan deras turun di Madinah pada hari Iedul Fithri pada masa pemerintahan Aban bin Utsman. Maka beliau mengumpulkan manusia di masjid dan tidak keluar ke tanah lapang di mana beliau biasa shalat Iedul Fithri dan Adl-ha padanya. Kemudian beliau berkata kepada Abdullah bin Amir bin Rabi’ah: Berdirilah dan khabarkan kepada manusia apa yg kamu khabarkan kepadaku. Abdullah bin Amir berkata: Sesungguhnya manusia di jaman Umar bin Khaththab radliallahu ‘anhu kehujanan sehingga mereka terhalang utk keluar ke tanah lapang. Lalu Umar pun mengumpulkan manusia ke masjid dan shalat bersama mereka. Kemudian beliau berdiri di atas mimbar seraya berkata: ‘Wahai sekalian manusia sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama manusia ke tanah lapang utk shalat krn tanah lapang lbh memberi manfaat dan lebih leluasa utk mereka. Dan bahwasanya masjid beliau tidak mencukupi mereka. Namun apabila turun hujan maka masjid lbh bermanfaat.’ Jawaban terhadap argumentasi ini Syaikh Al-Albani berkata: Riwayat ini dlaif jiddan {lemah sekali} krn di dalam sanadnya ada Muhammad bin Abdul Aziz. Dia adl Muhammad bin Abdul Aziz bin Umar bin Abdurrahman bin Auf Al-Qadli. Bukhari berkata tentangnya: ‘Dia munkarul hadits .’ An-Nasa`i berkata: ‘Dia matruk .’ Imam Syafi’i telah mengeluarkan riwayat ini di dalam al-Umm dari jalan yg lain dari Aban secara mauquf. Bersamaan dgn itu sanadnya juga lemah sekali krn riwayatnya dari Ibrahim guru Imam As-Syafi’i dan dia adl Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya Al-Aslami.

Dia seorang pendusta . Imam Malik berkata: ‘Dia tidak dipercaya di dalam hadits dan agamanya.’ Oleh krn itu Al-Hafidh berkata tentangnya di dalam At-Taqrib: Ditinggalkan riwayat hadits darinya. Dari keterangan yg telah lewat terlihat batilnya alasan dgn sempitnya masjid dan rajih nya ucapan para ulama yg memastikan bahwa shalat Ied di tanah lapang adl sunnah dan disyariatkan di tiap jaman dan negeri kecuali krn darurat. Dan aku tidak mengetahui seorang pun dari kalangan para ulama yg mumpuni dalam ilmunya menyelisihi yang demikian itu.Demikian pula Ibnu Hazm di dalam Al-Muhalla berkata: Adapun sunnahnya shalat dua Ied adalah keluarnya penduduk di tiap desa atau kota ke tanah lapang yg luas pada waktu sesudah meningginya matahari dan ketika mula bolehnya shalat sunnah. Beliau berkata lagi : Jika mereka mempunyai masyaqqah maka mereka shalat jamaah di masjid. Selanjutnya beliau menyambung : Kami telah meriwayatkan dari Umar dan Utsman radliyallahu ‘anhuma bahwasanya keduanya shalat Ied di masjid bersama manusia krn terjadi hujan di hari Ied. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ke tanah lapang utk shalat dua Ied. Maka perkara shalat di tanah lapang ini lbh utama sedangkan selainnya juga diganjar karena shalat di lapangan adl perbuatan Rasulullah bukan perintah. Al-’Allamah Al-’Aini Al-Hanafi berkata di dalam Syarah Bukhari ketika mengambil hukum dari hadits Abi Said : Di dalam hadits tersebut ada dalil utk menampakkan diri dan keluar ke tanah lapang dan tidak boleh shalat di masjid kecuali krn darurat. Ibnu Ziyad meriwayatkan dari Imam Malik beliau berkata: Termasuk sunnah adl keluar ke tanah lapang kecuali penduduk Makkah maka di masjid. Di dalam Fatawa Al-Hindiyah disebutkan: Keluar ke tanah lapang pada shalat Ied adl sunnah walaupun masjid jami’ masih lapang. Demikianlah pendapat para ulama dan inilah yg shahih . Dalam Al-Mudawwanah yg diriwayatkan dari Malik beliau berkata: Tidak boleh shalat dua Ied di dua tempat dan tidak boleh di masjid mereka akan tetapi hendaklah mereka keluar sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar. Dari Ibnu Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke mushalla {tanah lapang} kemudian disunnahkan hal itu kepada penduduk negeri-negeri. Dengan ucapan-ucapan dan bantahan-bantahan yg kami nukilkan dari para ulama maka terbantahlah ucapan-ucapan atau kesalahan di atas.Sunnah nabawiyah yg tercantum di dalam hadits-hadits yg shahih menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua Ied di tanah lapang di luar daerah. Terus menerus pekerjaan ini berlangsung sejak jaman pertama dan mereka tidak melakukan shalat Ied di masjid kecuali kalau ada darurat yaitu hujan atau yg lainnya. Ini adl madzhab imam yg empat dan selain mereka dari para ulama ridwanullahu alaihim.Aku tidak mengetahui seorangpun yg menyelisihinya kecuali ucapan Syafi’i radliyallahu ‘anhu tentang memilih shalat di masjid apabila mencukupi penduduk negeri.

Bersamaan dgn ini beliau berpendapat tidak apa-apa shalat di tanah lapang walaupun masjid cukup utk menampung mereka. Telah jelas pula dari beliau bahwasanya beliau memakruhkan shalat Ied di masjid jika masjid tidak cukup oleh penduduk negeri.Begitulah yg terdapat di dalam hadits-hadits yg shahih. Perbuatan ini terus menerus dilakukan pada jaman pertama dan demikian pula ucapan para ulama. Semua itu menunjukkan bahwasanya dua shalat Ied yg dilakukan sekarang di masjid-masjid adl bid’ah. Demikian pula sampai kepada kita perkataan Syafi’i yang menyatakan tidak didapati satu masjid pun di sebuah negeri yg dapat menampung seluruh penduduk negeri.Hikmah Shalat di Tanah LapangSunnah dua shalat Ied di tanah lapang mempunyai hikmah yg agung yaitu: kaum muslimin mempunyai dua hari di dalam satu tahun di mana penduduk negeri dapat berkumpul pada hari itu baik laki-laki perempuan maupun anak-anak utk menghadapkan hati-hati mereka kepada Allah. Mereka berkumpul pada kalimat yg satu shalat di belakang imam yg satu bertahlil bertakbir dan berdoa kepada Allah dgn keikhlasan seakan-akan mereka satu hati. Mereka bergembira dan bahagia dgn ni’mat Allah atas mereka. Maka hari Ied tersebut di sisi mereka adalah hari besar.Hukum Shalat IedSebagian manusia meremehkan hukum shalat Ied. Mereka mengatakan bahwa hukumnya adalah sunnah sehingga mereka tidak menunaikannya di tanah lapang. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyuruh para wanita utk keluar ke tanah lapang guna menunaikan shalat Ied. Dalam permasalahan ini Imam As-Syaukani berkata: Ketahuilah bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus mengerjakan dua shalat Ied ini dan tidak pernah meninggalkannya satu pun dari beberapa Ied. Dan beliau memerintahkan manusia untuk keluar padanya hingga menyuruh wanita yg merdeka gadis-gadis pingitan dan wanita yang haidl. Beliau menyuruh wanita-wanita yg haid agar menjauhi shalat dan menyaksikan kebaikan serta panggilan kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yg tidak mempunyai jilbab agar saudaranya meminjamkan jilbabnya. Semua ini menunjukkan bahwasanya shalat ini wajib wajib yg ditekankan atas individu bukan fardlu kifayah. .Syaikh Masyhur Hasan Salman mengomentari ucapan ini: Syaukani rahimahullah mengisyaratkan kepada hadits Ummu ‘Athiyah radliallahu ‘anha:عَنْ أُمِّ عَطِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى: الْعَوَاتِقَ وَ الْحِيَّضَ وَ ذَوَاتِ الْخُدُوْرِ فَأَمَّا الْحِيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاَةَ. وفي لفظ: الْمُصَلَّى، وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! إِحْدَنَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ! قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا. {أخرجه البخاري في الصحيح رقم ٣٢٤، ٣٥١، ٩۷١، ٩۷٤، ٩۸٠، ٩۸١، و ١٦٥٢ ومسلم في الصحيح رقم ٩۸٠ وأحمد في المسند ٥/۸٤ و ۸٥ والنسائي في المجتبى ٣/١۸٠ وابن ماجه في السنن رقم ١٣٠۷ والترمذي في الجامع رقم ٥٣٩}Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami utk mengeluarkan mereka pada Iedul Fithri dan Adl-ha wanita-wanita yg merdeka yg haid dan gadis-gadis pingitan. Di dalam lafadh : ke mushalla dan mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Aku berkata: Wahai Rasulullah. Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab? Beliau berkata: agar saudaranya memakaikan jilbabnya.

{HR. Bukhari di dalam Shahihnya no. 324 351 971 974 980 981 1652 Muslim di dalam Shahihnya 980 Ahmad di dalam Musnadnya 5/84-85 An-Nasa`i di dalam Al-Mujtaba 3/180 Ibnu Majah di dalam As-Sunan 1307 dan At-Tirmidzi di dalam Al-Jami’ no. 539}Perintah utk keluar mengharuskan perintah utk shalat bagi orang yg tidak mempunyai udzur. Inilah sebenarnya inti dari ucapan Rasul krn keluar ke tanah lapang merupakan perantara pada shalat. Maka wajibnya perantara mengharuskan wajibnya tujuan dan dalam hal ini laki-laki lbh diutamakan daripada wanita .Termasuk dalil wajibnya dua shalat Ied adl bahwasanya shalat Ied menggugurkan kewajiban shalat Jum’at apabila bertepatan waktunya. Telah jelas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya ketika berkumpulnya shalat Ied dan Jum’at pada hari yg sama beliau bersabda:اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ، فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمْعَةِ، وَإِنَّا مُجْمَعُوْنَ.

{أخرجه الفريابي في أحكام العيدين رقم ١٥٠ وأبو داود في السنن رقم ١٠۷٣ وابن ماجه في السنن رقم ١٣١١ وابن الجارود في المنتقى ٣٠٢ والحاكم في المستدرك ١/٢۸۸ والبيهقي في السنن الكبرى ٣/٣١۸ وابن عبد البر في التمهيد ١٠/٢۷٢ والخطيب في تاريخ بغداد ٣/١٢٩ وابن الجوزي في الواهيات ١/٤۷٣ والحديث صحيح لشواهده انظر للشيخ مساعد بن سليمان بن راشد، ص ٢١١ وما بعده}Telah berkumpul pada hari kalian ini dua hari raya. Maka barangsiapa yg ingin {melakukan shalat Ied} maka dia telah tercukupi dari shalat Jum’at dan sesungguhnya kita telah dikumpulkan.

{Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Firyabi dalam Ahkamul Iedain no. 150 Abu Dawud di dalam Sunannya no. 1073 Ibnu Majah di dalam As-Sunan no. 1311 Ibnul Jarud di dalam Al-Muntaqa 302 Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak 1/288 Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra 3/318 Ibnu Abdil Barr di dalam At-Tamhid 10/272 Al-Khatib di dalam Tarikh Baghdad 3/129 Ibnul Jauzi di dalam Al-Wahiyat 1/473. Hadits ini SHAHIH dgn syahid-syahidnya .

Lihat kitab Sawathi’ Al-Qamarain fi Takhriji Ahaditsi Ahkamil Iedain karya Syaikh Musa’id bin Sulaiman bin Rasyid hal. 211.Telah diketahui bahwa bukanlah sesuatu yg wajib kalau tidak menggugurkan sesuatu yg wajib. Dan sungguh telah jelas bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melaksanakannya dgn berjamaah sejak disyariatkannya sampai beliau meninggal.

Dan beliau menggandengkan perintahnya kepada manusia dgn terus menerusnya ini agar mereka keluar ke tanah lapang utk shalat {Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 24/212 dan 23/161 Ar-Raudlah An-Nadiyah 1/142 Nailul Authar 3/282-283 dan termasuk Tamamul Minnah 344}.Inilah yg dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dgn ucapannya: Kami menguatkan pendapat bahwa shalat Ied adl wajib atas individu sebagaimana ucapan Abu Hanifah dan selainnya. Hal ini juga merupakan salah satu dari ucapan-ucapan Imam Syafi’i dan salah satu di antara dua pendapat madzhab Ahmad bin Hanbal .Adapun ucapan orang yg berkata bahwa shalat Ied tidak wajib ini sangat jauh {dari kebenaran}. Sesungguhnya shalat Ied itu termasuk syiar Islam yg sangat agung. Manusia berkumpul pada saat itu lbh banyak daripada shalat Jum’at serta disyariatkan pula takbir di dalamnya. Sedangkan ucapan orang yg menyatakan bahwa shalat Ied itu fardlu kifayah ini pun tidak jelas .Sifat/Cara Shalat IedPertama jumlah adl dua rakaat berdasarkan riwayat Umar radliallahu ‘anhu bahwa shalat safar shalat Iedul Adl-ha dan shalat Iedul Fithri adl dua rakaat dgn sempurna tanpa qashar atas lisan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam {Dikeluarkan oleh Ahmad 1/37 An-Nasa`i 3/183 At-Thahawi di dalam Syarhul Ma’anil Atsar 1/421 dan Al-Baihaqi 3/200 dan sanadnya shahih}.Kedua rakaat pertama –seperti semua shalat— dimulai dgn takbiratul Ihram selanjutnya membaca takbir padanya tujuh kali. Sedangkan pada rakaat kedua takbir lima kali selain takbir perpindahan sebagaimana yg diriwayatkan oleh Aisyah radliallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam takbir di shalat Iedul Fithri dan Adl-ha pada rakaat pertama tujuh kali takbir dan rakaat kedua lima kali takbir selain dua takbir ruku’. {Dikeluarkan oleh Abu Dawud 1150 Ibnu Majah 1280 Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 3/287 dan sanadnya SHAHIH}.Takbir di atas diucapkan sebelum membaca Al-Fatihah. Al-Baghawi berkata: Perkataan kebanyakan ahlul ilmi dari kalangan shahabat dan orang yg sesudah mereka bahwasanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam takbir pada shalat Ied pada takbir pertama tujuh kali selain takbir pembukaan. Pada rakaat kedua lima kali selain takbir perpindahan sebelum membaca {Al- Fatihah}. Diriwayatkan yg demikian dari Abu Bakar Umar Ali dan yg lainnya.. {Syarhus Sunnah 4/309 lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Islam 24/220 221}.Ketiga Tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dgn takbir-takbir shalat Ied . Akan tetapi Ibnul Qayyim berkata: Ibnu Umar yg beliau sangat bersemangat dalam ittiba’ {kepada Rasulullah} beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dgn tiap takbir {Zadul Ma’ad 1/441}.Tetapi sebaik-baik petunjuk adl petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan yg demikian diriwayatkan dari Ibnu Umar dan ayahnya radliallahu ‘anhuma oleh karenanya hal ini tidak dapat dijadikan sebagai sunnah. Lebih-lebih riwayat Umar dan anaknya ini tidak shahih .Imam Malik berkata tentang mengangkat tangan pada takbir shalat Ied: Aku tidak mendengar sedikitpun. {Dikeluarkan oleh Al-Firyabi dalam Ahkamul Iedain no. 137 dgn sanad SHAHIH}.Keempat tidak shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dzikir tertentu di antara takbir-takbir Ied. Akan tetapi telah jelas dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata tentang shalat Ied: Di antara tiap dua takbir terdapat pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diam sejenak di antara dua takbir tidak dihapal darinya dzikir tertentu di antara takbir-takbir tersebut.

Akan tetapi telah disebutkan dari Ibnu Mas’ud bahwasanya beliau berkata: ‘Allah dipuji dan disanjung dan dibacakan shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ .Kelima apabila takbirnya sudah sempurna dimulai membaca surat Al-Fatihah. Setelah itu membaca surat Qaaf pada salah satu dari dua rakaat. Pada rakaat lainnya membaca surat Al- Qamar. {Diriwayatkan oleh Imam Muslim 891 An-Nasa`i 3/84 At-Tirmidzi 534 Ibnu Majah dari Abi Waqid Al-Laitsi}.Terkadang pada dua rakaat itu beliau juga membaca surat Al-A’laa dan Al-Ghasiyah.

{Diriwayatkan oleh Muslim 378 Tirmidzi 533 An-Nasa`i 3/184 dan Ibnu Majah dari shahabat Nu’man bin Basyir radliallahu ‘anhu}. Telah shahih keadaan riwayatnya dan tidak shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selain itu. {Zaadul Ma’ad 1/443 dan lihat Majalatul Azhar 7/194}.Keenam selebihnya sama seperti shalat-shalat yg biasa tidak berbeda darinya sedikitpun. {Lihat buku Sifat Shalat Nabi oleh Syaikh Al-Albani dan buku At- Tadzhirah Wudlu`i wa Shalatu Nabi oleh Syaikh Ali Hasan}.Ketujuh barangsiapa yg luput/tidak mendapati shalat Ied berjamaah maka hendaklah dia shalat dua rakaat.Imam Bukhari berkata: Apabila seseorang tidak mendapati shalat Ied hendaklah dia shalat dua rakaat. .Atha’ berkata: Apabila kehilangan Ied shalatlah dua rakaat . Imam Waliyullah Ad-Daklawi berkata: Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa apabila seseorang tidak mendapati shalat Ied bersama Imam maka hendaklah dia shalat dua rakaat sehingga dia mendapatkan keutamaan shalat Ied walaupun kehilangan keutamaan berjamaah bersama imam.

Adapun menurut madzhab Hanafi tidak ada qadla utk shalat Ied. Kalau kehilangan shalat bersama imam maka telah hilang sama sekali. {Syarhu Taraajimi Abwabil Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu’ 3/27-29}.Tidak Ada Shalat Sunnah Sebelum Shalat IedTerdapat kesalahan pada sebagian kaum muslimin di kebanyakan negeri mereka yakni mereka melakukan shalat dua rakaat di tanah lapang sebelum mereka duduk ketika menunggu berdirinya imam utk shalat Ied. Shalat seperti ini tidak teriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan diriwayatkan dari beliau bahwa beliau meninggalkannya. Dari Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat pada hari Ied tidak shalat sebelumnya dan tidak pula sesudahnya. {Dikeluarkan oleh Bukhari 945 989 1364 Muslim 884 Abu Dawud 1159 At-Tirmidzi 537 An-Nasa`i 3/193 Ibnu Majah 1291 Abdurrazaq 3/275 Ahmad 1/355 dan Ibnu Abi Syaibah 2/177}.Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata: Jadi kesimpulannya bahwa utk shalat Ied tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudahnya. Berbeda dgn orang yg menqiyaskan nya dengan shalat Jum’at. .Imam Ahmad berkata: Tidak ada shalat sebelum dan sesudahnya sama sekali. {Masa`il Imam Ahmad no. 469}.Beliau berkata juga: Tidak ada shalat sebelum dan tidak pula sesudahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar utk shalat Ied dan beliau tidak shalat sebelum dan tidak pula sesudahnya. Sebagian penduduk Bashrah shalat sunah Qabliyyah dan sebagian penduduk Kuffah(2) shalat sunnah ba’diyah . Ibnul Qayyim berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat tidak pernah shalat apabila sampai ke tanah lapang sebelum shalat Ied dan sesudahnya. {Zadul Ma’ad 1/443}.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila sampai ke tanah lapang beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat. tidak mengucapkan: As-Shalatul jami’ah. Yang demikian ini tidak dikerjakan sama sekali. . Bahkan para muhaqiqin {peneliti dari para ulama} menyatakan bahwa melaksanakan hal itu adl bid’ah. .Khutbah IedTermasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adl berkhutbah Ied sesudah shalat.

Dalam permasalahan ini Bukhari memberi bab di dalam kitab Shahihnya bab Khutbah Sesudah Shalat Ied. .Ibnu Abbas berkata: Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar Umar dan Utsman radliallahu ‘anhum. Semuanya shalat Ied sebelum berkhutbah.

.Ibnu Umar berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Abu Bakar dan Umar mereka shalat Ied sebelum khutbah. {Dikeluarkan oleh Bukhari 963 Muslim 888 At-Tirmidzi 531 An-Nasa`i 3/183 Ibnu Majah 1286 dan Ahmad 2/1238}.Waliyullah Ad-Dahlawi mengomentari terhadap bab Bukhari di atas dgn ucapannya: Bahwasanya sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yg dikerjakan oleh khulafa`ur rasyidin adl khutbah sesudah shalat. Adapun penggantian yg terjadi –yakni mendahulukan khutbah atas shalat dgn mengqiyaskan dgn shalat Jum’at- hal itu adl bid’ah yg bersumber dari Marwan bin Hakam bin Abil Ash .Imam Tirmidzi berkata: Ahlul ilmi dari kalangan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengamalkan seperti ini. Mereka melakukan shalat Iedain sebelum khutbah. Sedangkan pertama kali orang yg khutbah sebelum shalat adl Marwan bin Hakam. {lihat kitab Al-Umm 1/235- 236 karya Imam As-Syafi’i dan Tuhfatul Ahwadzi 3/3-6 karya Al-Qadli Ibnul Arabi Al-Maliki}.Di samping itu termasuk bid’ah Marwaniyah adl mengeluarkan mimbar ke tanah lapang sebagaimana yg telah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Said. Beliau berkata: Terus menerus manusia atas yg demikian sampai aku keluar bersama Marwan. Dia –sebagai amir Madinah- ke lapangan pada Iedul Adl-ha dan Fithri. Tatkala kami sampai ke tanah lapang tiba-tiba ada mimbar yg dibuat oleh Katsir bin As-Shalt. Ketika Marwan ingin menaikinya sebelum shalat aku menarik bajunya diapun menariknya.

Kemudian dia naik dan berkhutbah sebelum shalat. Aku berkata kepadanya: Demi Allah engkau telah merubah . Dia menjawab Wahai Abu Said! Sungguh telah hilang apa-apa yg engkau ketahui. Aku berkata: Demi Allah apa-apa yg aku ketahui lbh baik daripada yg tidak aku ketahui. Dia menjawab Sesungguhnya manusia tidak mau duduk bersama kami sesudah shalat maka aku berkhutbah sebelum shalat. Menghadiri Khutbah Bukan Merupakan KewajibanDari Abu Said Al-Khudri dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke tanah lapang pada hari Iedul Fithri dan Adl-ha. Pertama kali yg beliau mulai adl shalat kemudian berpaling. Selanjutnya beliau menghadap manusia dimana manusia dalam keadaan duduk pada shaf-shaf mereka. Beliau memberi pelajaran wasiat dan perintah kepada mereka. {Dikeluarkan oleh Al-Bukhari 958 Muslim 889 An-Nasa`i 3/187 dan Ahmad 3/36 54}.Khutbah Ied sebagaimana khutbah-khutbah lainnya dibuka dgn sanjungan dan pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka semua khutbahnya dgn pujian kepada Allah. Tidak ada satu haditspun yang dihapal bahwa beliau membuka khutbah dua Ied dengan takbir. Adapun yg diriwayatkan oleh Ibnu Majah di dalam Sunannya 1287 dari Said Al- Quradli muadzin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau memperbanyak bacaan takbir di sela-sela khutbah Iedain hal itu tidak menunjukkan bahwa beliau membuka khutbah dengan takbir.. .Menghadiri khutbah Ied tidak wajib seperti shalat. Sebagaimana yg telah diriwayatkan oleh Abdullah bin As-Suaib dia berkata: Aku menghadiri Ied bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai shalat beliau berkata: ‘Sesungguhnya kami berkhutbah barangsiapa suka utk duduk maka duduklah dan barangsiapa yg suka untuk pergi maka pergilah. {Dikeluarkan oleh Abu Dawud 1155 dan sanadnya SHAHIH lihat Irwa`ul Ghalil 3/96-98}.Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan terhadap orang yg menghadiri Ied utk duduk khutbah atau pergi. {Zadul Ma’ad 1/448}.Termasuk dari kesalahan-kesalahan khatib shalat Ied adl menjadikan dua khutbah dan memisahkan antara keduanya dgn duduk. semua riwayat yg menerangkan adanya dua khutbah pada shalat Ied adl dlaif. Imam Nawawi berkata: Tidak tsabit sama sekali pengulangan khutbah. {Lihat Fiqhus Sunnah 1/322 dan Tamamul Minnah hal. 348}.Demikianlah keterangan-keterangan dari Rasulullah dan para ulama dari kalangan shahabat dan orang yg sesudahnya tentang masalah shalat dan khutbah Ied. Kami uraikan hal-hal yg demikian agar kita mengamalkan Islam di atas bashirah dan hujjah yg mantap dan agar kita selamat dari bid’ah dan kesalahan.Wallahu A’lam.Maraji’:1. Shalatul Iedain fil Mushalla Hiyas Sunnah Syaikh Al-Albani.2. Ahkamul Iedain fis Sunnah Al-Muthahharah Syaikh Ali Hasan.3. Al-Qaulul Mubin fi Akhtha`il Mushallin Syaikh Masyhur Hasan Salman.Sumber: SALAFY edisi XIII/Sya’ban-Ramadlan/1417/1997 rubrik Ahkam.________________________________________(1) Namanya berbeda dgn yg tertulis di tulisan arabnya kemungkinan ada kesalahan wallahu a’lam. (2) Dua kota yg banyak terjadi fitnah di dalamnya dan banyak bermunculan padanya firqah- firqah bid’ah.

sumber : file chm Darus Salaf 2