Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia banyak para sahabat yg berpindah dari satu negeri ke negeri lain terutama pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Di tiap negeri yg mereka diami mereka mengajarkan apa yg mereka peroleh dari Rasulullah kepada penduduk di mana mereka tinggal.Di antara kota-kota tempat tinggal para sahabat tersebut akhirnya ada yg berkembang menjadi pusat perkembangan ilmu-ilmu keislaman yg di antaranya adl ilmu fiqh Islam. Kota-kota tersebut antara lain Madinah Di kota ini berdiam seluruh khulafaurrasyidin dan sejumlah besar ulama sahabat. Di antaranya adl Abdullah bin Abbas Abdullah bin Umar sebelum keduanya pindah ke Makkah Zaid Bin Tsabit dll. Dari merekalah para ulama tabiin -seperti Said bin Musayyab Urwah bin Zubair Abu Bakar bin Abdurrahman Sulaiman bin Yasar dll- yg tinggal di madinah menimba ilmu.Imam Malik adl seorang ulama Madinah yg hidup setelah generasi tabiin tersebut. Beliau adl seorang mujtahid dan ulama besar yg diikuti oleh banyak orang yg kepada beliaulah mazhab Maliki di nisbahkan. Mazhab Maliki ini juga dikenal dgn mazhab ahlul hadis. Sebab mereka lbh banyak mendasarkan ijtihad mereka pada hadis-hadis Nabi yg banyak mereka terima dari para tabiin yg meriwayatkannya dari Rasulullah. Makkah Di antara sahabat besar yg tinggal di Makkah adl Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar. Murid-murid beliau dari kalangan tabiin di antaranya adl Atha’ bin Rabah Thawus bin Kaisan Sufyan bin Uyainah Muslim bin Khalid al Jauzi dll. Muslim bin Khalid ini adl guru Imam Syafii sebelum beliau pergi berguru kepada Imam Malik di Madinah. Sedangkan Sufyan bin Uyainah adl salah satu guru Imam Ahmad bin Hambal. Kufah Di antara sahabat yg terkenal di kota ini adl Abdullah bin Mash’ud dan Ali bin Abi Thalib . Di antara para murid mereka adalah Alqomah bin Qais Annakha’i dan Qadli Syuraih .Kepada merekalah para fuqaha Kufah seperti Ibrahim Annakha’i Sufyan Ats-Tsauri Abdullah bin Syubrumah dan Imam Abu Hanifah belajar ilmu fiqh. Namun hanya Abu Hanifahlah yg kemudian mempunyai pengikut hingga sekarang. Mazhab beliau dikenal dgn mazhab Hanafi atau mazhab ahlu arra’yi. Sebab beliau dalam ijtihadnya banyak menggunakan ra’yu atau qiyas dan mengembangkan madzhabnya yg sampai sekarang banyak dianut oleh kebanyakan bangsa Mesir Turki dan India. Ulama Kufah terkenal dgn mazhab qiyasnya krn mereka dalam memahami fiqh banyak menggunkakan qiyas. Hasil-hasil ijtihad dan pendapat Imam Malik Imam Abu Hanifah Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hambal tersebut akhirnya dikembangkan dan dibukukan oleh pengikut-pengikutnya. Karenanya pengikut pengikut mereka masih eksis hingga saat ini. Hasil-hasil ijtihad dan pendapat para imam itulah yg kemudian kita kenal dgn mazhab. Sebenarnya selain mereka ada juga mazhab lain tapi sayang mazhab mereka kurang dikenal krn pendapat-pendapatnya tidak dibukukan seperti mazhab yg empat. Akan tetapi kita dapat menemukan pendapat-pendapat mereka dalam kitab-kitab mazhab yg masyhur. Di antara mazhab-mazhab yg kurang dikenal tersebut adl

    Mazhab Auza’iyyah yg dinisbahkan kepada Abdurrahman Al Auza’i .
    Mazhab Atstsauri yg dinisbahkan kepada Imam Sufyan Atstsauri dll. HUKUM BERMADZHAB Pada beberapa tahun yg silam di Jepang tepatnya di Tokyo diadakan konferensi Islam. Dalam acara itu ada seorang yg menanyakan bagaimana hukumnya bermazhab apakah wajib bagi seseorang utk mengikuti salah satu mazhab yg empat. Pada kesempatan itu tampil syaikh Muhammad Sulthan Alma’sumi Al Khajandi seorang pengajar di masjidil Haram Makkah. Beliau menyerukan kaum muslimin utk kembali kepada yg pernah dilakukan oleh umat yg terbaik yaitu para sahabat. Beliau menyeru utk tidak bertaqlid buta pada salah satu mazhab tertentu. Akan tetapi dipersilahkan mengambil dari tiap mujtahid atau ahli ijtihad dgn berdasarkan pada Alqur’an dan sunnah sebagai rujukan. Sebab sebenarnya mazhab-mazhab adl pendapat dan pemahaman orang-orang berilmu dalam beberapa masalah. Pendapat ijtihad dan pemahaman ini tidak diwajibkan oleh Allah dan rasul-Nya utk mengikutinya. Karena di dalamnya terdapat kemungkinan betul dan salah. Karena tidak ada pendapat yg seratus persen benar kecuali yg berasal dari Rasulullah SAW. Sementara itu mengikuti salah satu mazhab yg empat atau lainnya bukanlah persoalan wajib atau sunnah. Seorang muslim tidak diharuskan mengikuti salah satunya. Dan bahkan orang yg mengharuskan utk mengikuti salah satunya sebenarnya ia seorang fanatik. Begitulah menurut Syekh Sulthan. Lain lagi pendapat syekh Ramadlan Al Buthi dalam bukunya “Alla Mazhabiyyah Akhtharu bida’in fil Islam” . Beliau berpendapat wajib bagi seorang muslim utk mengikuti salah satu mazhab yg masyhur . Sebab mazhab-mazhab itu sudah teruji kevalidannya. Namun kendati begitu tidak boleh bagi yg telah mengikuti salah satu mazhab tertentu menyalahkan orang di luar mazhabnya. Dalam buku tersebut beliau membagi kaum muslimin sekarang menjadi dua golongan. Golongan muttabi’ dan golongan muqallid. Orang yg telah faham Alqur’an dan sunnah wajib mengikuti mazhab tertentu sebagai kerangka berfikir supaya ia tidak jatuh pada kesalahan. Golongan inilah yg disebut muttabi’ Sementara orang yg belum faham terhadap Alqur’an dan sunnah diharuskan mengikuti ulama yg dianggap mengerti dalam masalah agama.Golongan yg ke dua ini disebut muqallid. Secara implisit beliau meniadakan kelompok yg ketiga yaitu kelompok mujtahidin. Dengan kata lain beliau menutup pintu ijtihad utk masa sekarang. Inilah yg kemudian ditentang oleh Muhammad Abu Abbas dalam bukunya “Al mazahibul muta’ashshabah hiyal bid’ah aw bid’atut ta’ashshubi al Mazhabi” Beliau berpendapat justru pintu ijtihad masih terbuka sampai sekarang dgn alasan Nabi telah membuka pintu ijtihad ini dan beliau tidak pernah menutupnya. Karenanya tidak ada seorangpun yg berhak utk menutup pintu ijtihad tersebut. Oleh krn itu Muhammad Abu Abbas membagi kaum muslimin pada tiga golongan yaitu Mujtahid muttabi dan muqallid. Bagi mereka yg telah mampu utk mengetahui dan mengkaji hukum-hukum langsung dari Alqur’an dan Sunnah walaupun hanya dalam masalah tertentu maka haram baginya bertaklid dalam masalah tersebut . Sedangkan bagi mereka yg hanya mampu utk mengkaji pendapat-pendapat para ulama serta mengetahui metode istimbath mereka dari Alqur’an dan sunnah maka kewajiban mereka adl ‘ittiba’. Jelasnya ittiba’ -mengutip perkataan Abu Syamah- adl mengikuti pendapat seorang ulama lantaran nyata dalilnya dan shah mazhabnya.” Adapun bagi orang yg betul-betul awam BOLEH bagi mereka bertaklid dgn syarat -sebagaimana dikatakan Imam Asysyatibi dalam ali’tishom- Tidak boleh bertaklid kecuali pada orang yg benar-benar ahli di bidang agama. Tidak boleh mengikat dirinya serta menutup dirinya dari mengikut selain mazhabnya jika telah jelas padanya bahwa pendapat mazhabnya itu salahmaka wajib baginya mengikuti yg telah jelas kebenarannya. Pendapat yg terahir inilah yg wasath . Sebab mengharamkan taklid secara mutlak adl menafikan mereka yg benar-benar awam terhadap agama. Sedangkan mewajibkan taklid dan menutup pintu ijtihad berarti menghilangkan universalitas Islam yg senantiasa relevan dan responsive terhadap perkembangan zaman. Padahal banyak hal-hal baru yg tidak bisa dijawab dan disikapi kecuali dgn ijtihad. Jelasnya tiap orang perlu ditempatkan sesuai dgn kemampuan dan kondisinya. Berarti fenomena bermadzhab adl sesuatu yg perlu dilihat berdasarkan kondisi orang per-orang yg tentunya tidak bisa digeneralisir. Tidak bisa diharuskan secara mutlak dan tidak bisa dilarang secara mutlak pula.Berkaitan dgn masalah bermazhab ini ada dua hal yg perlu dijauhi oleh tiap muslim
    Fanatisme terhadap suatu madzhab tertentu seraya memonopoli kebenaran apalagi jika sampai menimbulkan perpecahan. Sebab tiap orang kecuali nabi memiliki potensi utk salah walaupun ia seorang mujtahid. Karenanya Rasul bersabda Barang siapa berijtihad dan ia benar maka baginya dua pahala dan barang siapa berijtihad dan ternyata salah maka baginya satu pahala.”
    Tatabbu’ rukhas atau mencari-cari pendapat para ulama yg paling mudah dan sesuai dgn seleranya. Perilaku seperti ini berarti mempermainkan agama. Sebab ia menggunakan dalih agama utk memperturutkan hwa nfsu (**) nya. Wallahu a’lam bishshowab. . Oleh Al-Islam Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm