Pemikiran Pengantar berikut ini adl sebuah penjelasan mengenai kesalahan pertama yg timbul di kalangan ummat Islam. Bagaimana dan pada siapa ia timbul serta bagaimana terwujudnya? Telah kami jelaskan bahwa kesalahan-kesalahan yg timbul pada masa-masa lalu sama persis dgn yg terjadi pada masa-masa berikutnya. Dengan cara yg sama dapat kami tunjukkan bahwa pada zaman tiap nabi dan pendiri suatu umat atau agama kesalahan-kesalahan di kalangan umatnya pada akhir zamannya timbul dari kesalahan-kesalahan musuh-musuhnya yg ada pada permulaan zamannya yakni dari kaum kafir dan orang-orang yg tak beriman kebanyakan mereka adl munafik. Semua ini akan nampak ada pada kita dgn memperhatikan manusia terdahulu pada masa yg telah lama berlalu. Mengenai kesalahan-kesalahan dalam umat Islam ini bukan rahasia lagi bahwa hal itu timbul dari kaum munafik pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tidak mengakui apa yg beliau perintahkan dan apa yg beliau larang namun mereka mulai mencari-cari alasan sesuai dgn maksud mereka. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan tentang hal-hal yg tak diperbolehkan dan mendebat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secar tak berdasar tentang perkara-perkara yg tak perlu diperdebatkan. Perhatikan hadis mengenai Dzul Khuwaisirah at-Tamimi ketika ia berkata “Berlaku adillah wahai Muhammad atas apa yg engkau telah gagal berlaku adil.” Ketika itu pula Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “Jika aku tidak berlaku adil maka siapakah yg mau berlaku adil?” Tetapi orang terkutuk itu mengulangi apa yg telah beliau katakan dan melanjutkan dgn katanya “Ini merupakan suatu distribusi yg tidak ada dalam pikiran Allah.” Ini merupakan suatu pembangkangan yg nyata terhadap Nabi. Jadi kalau orang yg mengritik imam yg haq menjadi seorang Khawarij maka betapa lbh pantas orang tesebut disebut sebagai Khawarij. Bukankah kritiknya itu sama dgn memegang pendapat tentang sesuatu yg baik dan buruk berdasarkan akal dan menghukumi sesuatu menurut ide seseorang yg jelas bertentangan dgn perintah yg jelas? Apakah bukan perbuatan tercela jika menolak perintah yg jelas benarnya dgn bentuk analogi tertentu? Nabi akhirnya bersabda “Dari kedua pinggang orang inilah akan ada suatu ummat yg lari dari agama ini bagai lepasnya anak panah dari busurnya.” Begitulah yg terjadi semasa hidup Nabi ketika beliau masih sehat kuat dan bugar. Kaum munafik kala itu bertindak dgn tipu daya dan muslihat secara lahiriah berwujud Islam padahal mereka menyembunyikan keingkaran mereka. Akan tetapi kemunafikan mereka terlihat dgn sendirinya dari adanya kritikan dan penolakan mereka yg konstan terhadap segala yg Nabi lakukan. Kritik-kritik mereka itu tidak ubahnya laksana tebaran benih cikal-bakal sebuah pohon kesalahan besar. Adapun mengenai perselisihan yg timbul di kalangan sahabat Nabi ketika beliau sakit dan setelah kematiannya hanyalah perselisihan yg bersifat ijtihadiyah yg tujuan mereka hanya utk mempertahankan syariah dan menegakkannya. Adapun setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal terjadilah perdebatan tentang meninggalnya beliau antara Umar dan yg lainnya. Umar berkata “Siapa pun yg mengatakan bahwa Muhammad telah meninggal maka aku akan membunuhnya dgn pedangku ini. Dia telah di angkat ke langit sebagaimana Isa.” Akan tetapi Abu Bakar bin Abi Quhafah menyatakan “Siapa yg menyembah Muhammad maka Muhammad kini telah mati. Siapa yg menyembah Tuhan Muhammad maka Tuhan Muhammad masih dan akan tetap hidup Dia tidak mati dan tidak akan mati.” Kemudian Abu Bakar membacakan ayat 114 surat Ali Imran yg artinya “Muhammad tiada lain hanyalah seorang Rasul yg telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul yg lain. Lalu mengapakah seandainya ia mati atau terbunuh kamu akan berpaling daripadanya ? Siapa pun yg murtad maka sedikit pun tidak akan merugikan Allah. Allah akan memberi balasan bagi orang-orang yg bersyukur.” Umat Islam ketika itu langsung menerima apa yg dikatakan oleh Abu Bakar. Umar berkata “Seolah-olah aku belum pernah mendengar ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya.” Demikianlah umat Islam selalu bisa keluar dari beberapa perselisihan yg terjadi pada mereka -dengan taufik Allah- dgn kesepakatan yg menjaga keutuhan mereka. Demikian juga perselisihan yg terjadi ketika pengangkatan khalifah sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal semua berakhir dgn dibai’atnya Abu Bakar. Juga ketika Abu Bakar meninggal perselisihan dicegah dgn diangkatnya Umar. Pengangkatan Utsman sesudah Umar pun dgn jalan musyawarah antara enam orang sahabat yg tentunya mencegah terjadinya beda pendapat yg meluas di kalangan kaum muslimin. Namun beliau terbunuh secara tidak adil di rumahnya sendiri akibat perbuatan pihak yg zalim yg ingin menimbulkan perpecahan di kalangan kaum muslimin. Perdebatan tentang khilafah dan imamah memang merupakan perdebatan dan perselisihan terbesar yg pernah dihadapi oleh kaum muslimin. Sebab belum ada sebelum itu yg melibatkan pedang sampai bicara sampai timbulnya perselisihan tentang khilafah dan imamah ini. Yang terbesar dan berpengaruh pada keutuhan umat adl perselisihan yg terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib setelah secara bulat ia diakui sebagai khalifah. Mulanya Thalhah dan Zubair berangkat ke Makkah dan mengajak ‘Aisyah utk berangkat ke Bashrah bersama mereka utk menuntut darah Utsman. Berikutnya mereka terlibat ‘Perang Jamal’ dgn Ali. Akan tetapi keduanya berhati lembut dan bertaubat sebab Ali memperingatkan mereka dgn sesuatu yg harus mereka ingat. Ketika keluar dari peperangan Zubair dibunuh oleh Ibnu Jarmuz yg kini berada di neraka sebab Nabi bersabda “Berikan kabar kepada pembunuh Ibnu Shafiyyah bahwa ia akan masuk neraka.” Thalhah terbunuh dgn panah Marwan bin al-Hakam ketika ia pulang dari perang. Adapun ‘Aisyah dia tetap ingin melakukan apa yg hendak ia lakukan namun akhirnya ia menyesali perbuatannya dan bertaubat. Adapun mengenai perselisihan antara Ali dan Mu’awiyah Perang Shiffin perlawanan kaum Khawarij yg memaksa ‘Ali menerima arbitrasi tipu muslihat ‘Amr bin al-’Ash kepada Abu Musa al-Asy’ari dan kelajutan perselisihan tersebut sampai Ali meninggal merupakan perkara yg begitu terkenal. Demikian pula halnya dgn perselisihan antara Ali dgn kaum Khawarij mereka yg berkumpul di Nahrawan meneruskan perlawanan terhadap Ali ejekan mereka kepadanya dan konflik senjata antara mereka dengannya semua itu juga amat termasyhur. Secara keseluruhan Ali berada di pihak yg benar. Ali pada masanya bukan hanya menyaksikan orang yg memberontak kepadanya seperti Asy’ats bin Qais Mis’ar bin Fadaki at-Tamimi Zaid bin Hushain ath-Tha’i dan lain-lainnya tetapi juga menyaksikan orang-orang yg bersikap ekstrem seperti Abdullah bin Saba dan para pengikutnya. Dari kedua kelompok ini muncullah penyimpangan dan kesesatan. Dengan demikian benarlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Dua jenis kelompok manusia akan binasa krn engkau mereka yg mengatakan cinta setia kepadamu dan mereka yg sangat membencimu.” Sumber Diadaptasi dari Sekte-Sekte Islam Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm