Salat jenazah hukumnya fardhu kifayah bagi semua orang muslim yg hidup. Jika telah dikerjakan oleh satu orang sekalipun maka gugurlah kewajibannya dari yg lain. Salat ini mempunyai beberapa syarat rukun dan sunnah serta keutamaan sebagaimana akan kami sebutkan. Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda “Barangsiapa mengantarkan jenazah dan menyalatkannya maka ia mendapat pahala satu qirat dan barangsiapa mengantarkannya sampai selesai penguburannya maka ia mendapat pahala dua qirat. Satu qirat terkecil itu sama dgn Gunung Uhud.” . Dari Khabbab ra ia mendengar Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa pergi mengantar jenazah dari rumah duka dan menyalatkannya lalu mengantarnya sampai dikuburkan maka ia mendapat pahala dua qirath dan tiap qirathnya sama dgn Gunung Uhud. Dan barangsiapa menyalatkannya lalu pulang maka ia hanya memperoleh sebesar Gunung Uhud.” . Syarat-Syarat Salat Jenazah 1. Jenazah harus orang muslim.Karenanya orang non muslim haram disalatkan berdasarkan firman Allah SWT “Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan seorang yg mati di antara mereka dan janganlah kamu berdiri di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” .2. Jenazah harus berada di tempat. Ulama Syafi’i dan Hanbali tidak mensyaratkannya krn itu boleh menyalatkan jenazah yg tidak berada di tempat di mana salat diselenggarakan. Hal ini berdasarkan hadis yg diriwayatkan dari Abu Hurairah “Pada hari raja Najasyi wafat Nabi saw mengumumkan kematiannya kepada orang-orang dan mengajak mereka pergi ke mushalla kemudian ia membariskannya lalu mengerjakan salat dgn takbir empat kali.” .3. Jenazah telah disucikan. Karena itu ia tidak boleh disalatkan sebelum dimandikan atau ditayamumkan jika sulit memandikannya.4. Jenazah berada di depan orang yg menyalatkannya. Maka salat tidak sah apabila jenazah diletakkan di belakang mereka. Namun menurut ulama Maliki yg wajib ialah kehadiran jenazah sedang meletakkan di depan itu hukumnya sunnah.5. Jenazah harus diletakkan di atas tanah. Maka tidak sah menyalatkan jenazah yg sedang diangkut di atas hewan atau kendaraan atau sedang dipikul orang. Tetapi menurut ulama Syafi’i boleh menyalatkannya sekalipun ia dibawa atau dipikul orang. 6. Jenazah bukanlah syahid yg gugur dalam pertempuran melawan orang non muslim. Karenanya orang mati syahid haram disalatkan krn haram dimandikannya. Dari Jabir ra “Nabi saw memerintahkan agar para syuhada yg gugur dalam perang Uhud dikuburkan berikut darahnya tidak dimandikan dan tidak pula disalatkan.” . Dari Anas ra “Para syuhada itu tidak dimandikan mereka dikubur dgn darah mereka tanpa disalatkan lagi.” . Menurut ulama Hanafi orang yg mati syahid itu tidak boleh dimandikan tetapi wajib disalatkan berdasarkan hadis dari ‘Uqbah bin Amir “Pada suatu hari Nabi saw keluar rumah lalu menyalatkan para syuhada Uhud seperti halnya menyalatkan mayat biasa setelah delapan tahun. Beliau seakan-akan sedang berpamitan kepada orang yg hidup dan orang yg mati.” . Dari Abu Malik al-Ghiffari berkata “Sebanyak sembilan orang yg gugur dalam perang Uhud dan Hamzah sebagai orang kesepuluh dibawa ke hadapan Rasulullah saw lalu disalatkan oleh beliau kemudian dibawa pergi. Setelah itu didatangkan lagi sembilan orang sedang Hamzah masih berada di tempat semula dan beliau pun menyalatkannya semua.” . 7. Bagian tubuh mayat yg ada yg disalatkan itu haruslah merupakan bagian terbesar.Bayi yg lahir prematur jika dilahirkan dalam keadaan menangis wajib disalatkan. Hal ini berdasarkan keterangan dari Jabir Nabi bersabda “Jika bayi yg baru lahir itu menangis ia harus disalatkan dan mendapatkan pusaka.” . Tetapi jika di saat lahir tidak menangis krn sudah mati dalam kandungan ibunya maka ia tidak boleh disalatkan. Namun menurut ulama Hanbali jika sewaktu dalam perut ibunya telah ditiupkan ruh dan setelah itu mati maka ketika lahir ia harus disalatklan. Hal ini berdasarkan hadis yg diterima dari Mughirah bin Syu’bah Nabi bersabda “Bayi keguguran itu harus disalatkan dan kedua orang tuanya supaya didoakan mendapat ampunan dan rahmat.” . Adapun syarat-syarat yg berkaitan dgn orang yg menyalatkan jenazah adl sama dgn syarat-syarat salat biasa yakni niat bersuci menghadap kiblat menutup aurat dan lain sebagainya. Rukun-Rukun Salat Jenazah Salat Jenazah mempunyai beberapa rukun yg dengannya terwujudlah hakikat salat itu. Bila salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi maka salat itu tidak sah menurut hukum syara’. Rukun-rukun tersebut adalah 1. Niat. Namun menurut ulama Hanafi dan Hanbali niat adl syarat bukan rukun.2. Membaca takbir empat kali. Setiap takbir itu sama nilainya dgn satu rakaat. hal itu berdasarkan hadis Jabir ra “Nabi saw menyalatkan Najasyi maka beliau bertakbir empat kali.”3. Berdiri bagi yg mampu. Apabila salat ini dilakukan dgn duduk tanpa udzur maka salatnya tidak sah.4. Membaca Al-Fatihah sesudah takbir pertama berdasarkan sabda Rasul “Tiada salat itu sah bagi yg tidak membaca surah Al-fatihah.” . Dan berdasarkan pula keterangan dari Thalhah bin Abdullah bahwa ia pernah mengerjakan salat Jenazah bersama Ibnu Abbas dgn membaca surah Al-Fatihah lalu Ibnu Abbas berkata bahwa hal itu adl sunnah rasul saw. . Ulama Hanafi berpendapat makruh hukumnya membaca Al-Fatihah ini. Ulama Hanafi pun sependapat dgn mereka dinisbahkan bagi makmum kecuali jika dimaksudkan sebagai doa tetapi jika dimaksudkan sebagai bacaan maka hukumnya tetap makruh. 5.Membaca shalawat kepada Nabi saw setelah takbir kedua. Sekurang-kurangnya adl Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Namun yg lbh sempurna ialah membaca shalawat ibrahimiyah. 6. Berdoa utk mayit sesudah takbir ketiga berdasakan hadis Abu Hurairah Rasulullah saw bersabda “Jika kamu menyalatkan mayit maka berdoalah dgn ikhlas untuknya.” . Berdoa boleh dilakukan dgn doa apa saja sekalipun hanya sedikit dan paling sedikit adalah “Allahummaghfir lahu warhamhu” . Tetapi yg paling utama ialah doa yg bersumber dari Rasul. Sedangkan berdoa menurut ulama Maliki adl wajib sesudah tiap takbir. 7. Mengucapkan salam sesudah takbir keempat. Tetapi menurut ulama Hanafi salam adl wajib bukan rukun sebagaimana pada salat-salat yg lain. Sumber As-Shalatu ‘alal Mazahibil Arba’ah Abdul Qodir ar-Rahbawi Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm