Termasuk salat-salat sunnah berikutnya adl salat ‘Idain . Salat ini disyari’atkan pada tahun pertama dari hijrah Rasulullah saw. Hukumnya adl sunnah muakkadah . Salat tersebut disunnahkan berjama’ah bagi laki-laki dan perempuan. Selain itu disunnahkan pula dikerjakan di lapangan kecuali ada udzur seperti hujan maka di sunnahkan dikerjakan di masjid. Adapun waktunya utk salat Idul Fitri yaitu dimulai apabila matahari telah naik dua penggalah sampai tergelincirnya matahari dan utk salat Idul Adha yaitu dimulai apabila matahari telah naik sepenggalah sampai tergelincirnya matahari. Teknik Pelaksanaannya

    Dilaksanakan dgn dua rakaat dua belas takbir yakni takbir pada rakaat pertama tujuh takbir dan takbir pada rakaat kedua lima takbir serta tidak didahului dgn salat sunnah qabliyah dan tidak diakhiri pula dgn sunnah ba’diyah. Hal ini sesuai dgn hadis dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Nabi saw bertakbir pada salat ‘id dgn dua belas takbir tujuh takbir utk rakaat pertama dan lima takbir utk rakaat kedua seraya tidak melakukan salat sebelumnya dan sesudahnya.

    Tidak diawali dgn adzan dan iqamah sesuai dgn hadis yg artinya “Tidaklah diserukan adzan pada salat idul fitri dan idul adha.” .

    Dari Atha’ ra berkata “Aku diberitahu oleh Jabir bahwa pada salat idul fitri itu tidak diserukan adzan baik sebelum atau sesudah imam keluar tidak pula iqamah panggilan atau apa pun juga. Tegasnya pada hari itu tidak ada panggilan apa-apa atau iqamah.” .

    Dilaksanakan sebelum khotbah berdasarkan hadis Ibnu Umar ra yg berkata yg artinya “Rasulullah saw Abu Bakar dan Umar melakukan salat dua hari raya sebelum khotbah.”

    Berdasarkan Ijma’ khotbah salat dua hari raya itu tidak wajib. Hal yg mendasari hukum tersebut adl hadis Abdullah bin as-Saaib berkata “Aku salat Id bersama Rasulullah saw tatkala beliau selesai melaksanakan salatnya beliau bersabda ‘Sesungguhnya kami berkhotbah barangsiapa ingin duduk utk berkhotbah maka duduklah dan barangsiapa ingin pergi maka pergilah’.” Hal-Hal yg Disunnahkan Berkaitan dgn Salat Id

    Dalam melaksanakan Salat Id bagi imam -setelah membaca Al-Fatihah- disunnahkan membaca Surah Qaaf pada rakaat pertama dan surah Iqtarabat pada rakaat kedua sesuai dgn hadis yg riwayatkan oleh Imam Muslim. Jika ia tidak mampu membaca kedua surah tersebut maka disunnahkan baginya -setelah membaca Al-Fatihah- membaca surah al-’A'la pada rakaat pertama dan surah Al-Ghasyiah pada rakaat kedua.

    Setiap orang -baik imam maupun makmum- yg ingin melaksanakan salat Id maka disunnahkan baginya utk menempuh jalan yg berbeda ketika pergi dan pulangnya. Hal ini sesuai dgn hadis dari Jabir ra yg berkata “Rasulullah saw apabila berada pada hari raya maka beliau menempuh jalan yg berbeda .”

    Kemudian hikmah apa yg terkandung dalam kesunnahan ini? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat Pertama agar bisa memberikan salam kepada dua penduduk yg berada di sekitar dua jalan tersebut.Kedua agar penduduk yg berada di sekitar dua jalan itu mendapat keberkahan orang yg melakukan salat Id.Ketiga agar orang yg mempunyai keperluan dgn penduduk yg berada di sekitar dua jalan itu bisa memenuhinya.Keempat utk menampakkan syiar Islam di jalan-jalan penjuru-penjuru dan gang-gang.Kelima utk membangkitkan kemarahan orang-orang munafik ketika mereka melihat Izzah Islam syiarnya dan orang-orang Islam yg merayakan hari kemenangan itu.Keenam utk memperbanyak kesaksian tempat. Karena tiap orang yg pergi ke masjid atau ke tempat salat maka salah satu langkahnya akan mengangkat derajatnya dan langkahnya yg lain akan merontokkan kesalahannya sampai dia pulang ke rumahnya.Ketujuh inilah pendapat yg paling benar bahwa hikmah tersebut tidaklah bisa diukur dgn kasad mata dan panca indera. Dan perlu diketahui bahwa sahabat Ibnu Umar ra krn begitu perhatiannya terhadap sunnah beliau bertakbir dari rumahnya sampai ke tempat salat.

    Setiap orang yg pergi utk melaksanakan salat Idul Fitri maka sebelumnya dia disunnahkan agar makan terlebih dahulu. Akan tetapi apabila dia pergi utk melaksanakan salat Idul Adha maka dia disunnahkan menunda makannya sampai selesai melaksanakan salat Idul Adha berdasarkan hadis dari Anas ra yg berkata “Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw tidak berangkat ke tempat salat sebelum memakan beberapa korma dgn jumlah yg ganjil.” .

    Dari Buraidah ra berkata “Nabi saw tidak berangkat utk salat Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu dan tidak makan utk salat Idul Adha sampai beliau pulang.” .

    Disunnahkan berjalan kaki menuju ke tempat salat Id/masjid. Hal ini berdasarkan hadis Ali ra yg artinya “Termasuk sunnah adl Anda keluar menuju tempat salat Id/masjid dgn berjalan kaki.” .

    Disunnahkan mandi memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian yg terbaik. Dalilnya adl hadis dari Ibnu Abbas ra yg berkata “Pada hari Id Rasulullah saw memakai burdah merah.”

    Disunnahkan mengajak para gadis dan wanita-wanita yg haidh agar menghadiri salat Id. Akan tetapi utk para wanita yg sedang haidh hendaknya menjauhi tempat salat. Hal ini berdasarkan hadis dari Ummu ‘Athiyah ra yg berkata “Kami diperintahkan utk mengeluarkan semua gadis dan wanita yg haidh pada kedua hari raya agar mereka dapat menyaksikan kebaikan hari itu juga do’a kaum muslimin. Hanya saja supaya wanita-wanita yg haidh itu menjauhi tempat salat.” . Referensi
    Subulus Salaam Muhammad bin Ismail as-Shan’ani
    Fiqhus Sunnah Sayyid Sabiq
    Tamamul Minnah fit Ta’liq Ala Fiqhis Sunnah Muhammad Nashiruddin al-Albani Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm