Dari Imran bin Husain ra ia berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” . Dari Ibnu Umar ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alainhi wa sallam melewati seseorang dari golongan Anshor sedang menasehati saudaranya dgn malu-malu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “Biarkanlah dia sesungguhnya rasa malu itu sebagian dari keimanan.” . Para ulama mengatakan “Hakikat malu adl suatu perangai yg membuat seseorang meninggalkan kejelekan dan mencegah dari kelalaian berbuat yg hak.” Sejenak mari alihkan pandangan kita pada diri kita masyarakat pemimpin dan bangsa kita ini. Masihkah kita memiliki rasa malu yg mencegah kita dari berbuat keburukan dan mendorong kita utk berbuat kebaikan dan ketaatan. Kenyataan yg banyak kita saksikan justru sangat mengherankan. Orang sekarang banyak yg tidak malu berbuat maksiyat kejahatan dan kebusukan di depan khalayak ramai tetapi justru banyak yg malu utk melakukan kebaikan. Banyak orang yg ingin bertaubat dari sebuah dosa akhirnya tidak serius dgn taubatnya krn disindir oleh teman-temannya “Wah sekarang udah alim ya?” dan sebagainya. Kondisi ini tentu sangat menyedihkan dan harus kita ubah agar tidak menjadi suatu budaya buruk yg kita wariskan pada generasi selanjutnya. Fenomena hilangnya rasa malu ini terjadi pada individu kelompok dan masyarakat serta para pemimpin. Yang sangat menyolok terutama dalam hal pornografi yg saat ini marak dan tidak digubris oleh pemerintah. Pada individu dapat kita lihat banyak yg dgn rendahnya memamerkan aurat di jalanan sehingga tidak dapat dibedakan antara pelacur dan yg bukan. Lihatlah para penjual tubuh yg rela memperjualkanbelikan dirinya di media-media elektronik maupun cetak dgn segelintir harta dunia yg tak berharga. Dengan pakaian yg menantang dan tampil kayak binatang lalu dipuji kecantikannya hatinya langsung girang walaupun kehormatan diri sudah melayang. Alasan mereka adl demi keindahan senilah profesionalismelah dan macam-macam. Padahal yg paling berhak atas diri mereka adl Allah yg telah menciptakan mereka yg telah memberi mereka keindahan dan segala ni’mat yg tak terhingga. Lalu mana kepatuhan mereka kepada-Nya ketika Dia memerintahkan mereka utk menutup aurat mereka dan menjaga kehormatan diri. Manusia hanya memberi segelintir harta duniawi dan sedikit pujian semu langsung dituruti. Sementara Allah yg menciptakannya memberinya kehidupan dgn segala ni’mat keindahan dan kesehatan dan sebagainya mereka abaikan perintah-Nya. Kaum pria pun tidak kalah bobroknya. Mereka menjadi lemah di hadapan segala bentuk pornografi lemah iman lemah kendali diri. Maka sangatlah wajar kalau banyak terjadi perkosaan bahkan semakin marak. Dan yg tak pernah terbayangkan adl korbannya anak-anak di bawah umur. Apakah kita masih tetap diam?

sumber file al_islam.chm