Membongkar Kedok Jamaah Tabligh

penulis Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc.
Syariah Manhaji 07 - Agustus - 2004 02:30:31

Jamaah Tabligh tentu bukan nama yg asing lagi bagi masyarakat kita terlebih bagi mereka yg menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yg sering dituding sebagai ‘biang pemecah belah umat’ membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.
Bahkan saking populer bila ada seseorang yg berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yg sama dgn mereka biasa akan ditanya; ”Mas Jamaah Tabligh ya?” atau “Mas karkun ya?” Yang lbh tragis jika ada yg berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.
Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yg berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adl jawabannya.

Pendiri Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yg berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah sebuah desa yg terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli ibukota India. Di tempat dan negara inilah markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adl nisbat dari Diyuband yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah yg didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti.
Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dgn nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H.

Latar Belakang Berdiri Jamaah Tabligh

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan ”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat jauh dari ajaran Islam berbaur dgn orang2 Majusi para penyembah berhala Hindu bahkan bernama dgn nama-nama mereka serta tdk ada lagi keislaman yg tersisa kecuali hanya nama dan keturunan kemudian kebodohan yg kian merata tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikh dan Syaikh tarekat seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi utk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhir mendirikan gerakan tabligh di India atas perintah dan arahan dari para syaikh tersebut.”
Merupakan suatu hal yg ma’ruf di kalangan tablighiyyin bahwasa Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergian ke makam Rasulullah  .

Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi tepat di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind sebuah desa di kota Lahore . Markas ketiga berada di kota Dakka . Yang menarik pada markas-markas mereka yg berada di daratan India itu terdapat hizb yg berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas nama Allah yg agung dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dlm bentuk segi empat yg dikelilingi beberapa kode yg tdk dimengerti.
Yang lbh mengenaskan mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yg dijadikan markas oleh mereka di mana di belakang terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang2 Yahudi dan Nashrani di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang2 shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah  melaknat orang2 yg menjadikan kuburan sebagai masjid bahkan mengkhabarkan bahwasa mereka adl sejelek-jelek makhluk di sisi Allah .

Asas dan Landasan Jamaah Tabligh

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yg sangat teguh mereka pegang bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dgn al-ushulus sittah atau ash-shifatus sittah dgn rincian sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah
Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yg rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yg benar tentang dzat Allah bahwasa Dialah Sang Pencipta Maha Pemberi Rizki Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat Maha Memuliakan dan Menghinakan Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata .
Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada sesembahan yg berhak diibadahi melainkan Allah.” . Adapun makna merealisasikan adl merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah ar-rububiyyah dan al-asma wash shifat . Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid arti membersihkan dan memurnikan tauhid dari kesyirikan bid’ah dan kemaksiatan.”
Oleh krn itu Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara ‘keistimewaan’ Jamaah Tabligh dan para pemuka adl apa yg sering dikenal dari mereka bahwasa mereka adl orang2 yg berikrar dgn tauhid. Namun tauhid mereka tdk lbh dari tauhid kaum musyrikin Quraisy Makkah di mana perkataan mereka dlm hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja serta kental dgn warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dlm hal ini mereka termasuk golongan orang2 musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat mereka berada dlm lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah dan kepada Maturidiyyah mereka lbh dekat”.

Sifat Kedua: Shalat dgn Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri
Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepada shalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat kewajiban-kewajiban sunnah-sunnah hukum sujud sahwi dan perkara fiqih lain yg berhubungan dgn shalat dan thaharah. Seorang tablighi tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” .

Sifat ketiga: Keilmuan yg Ditopang dgn Dzikir
Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail menurut mereka adl ilmu yg dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adl ilmu yg dipelajari pada ritus khuruj dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi yg mereka maksudkan dgn ilmu adl sebagian dari fadhail amal serta dasar-dasar pedoman Jamaah seperti sifat yg enam dan yg sejenis dan hampir-hampir tdk ada lagi selain itu.
orang2 yg bergaul dgn mereka tdk bisa memungkiri tentang keengganan mereka utk menimba ilmu agama dari para ulama serta tentang minim mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha utk menghalangi orang2 yg cinta akan ilmu dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya.

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim
Sesungguh Jamaah Tabligh tdk mempunyai batasan-batasan tertentu dlm merealisasikan sifat keempat ini khusus dlm masalah al-wala dan al-bara . Demikian pula perilaku mereka yg bertentangan dgn kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang2 yg menasehati mereka atau yg berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman walaupun orang tersebut ‘alim rabbani. Memang hal ini tdk terjadi pada semua tablighiyyin tapi inilah yg disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka.

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat
Tidak diragukan lagi bahwasa memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adl porosnya. Akan tetapi semua membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adl orang2 yg minim ilmu agama mk banyak pula kesalahan mereka dlm merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karena engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yg dibangun di atas kuburan.

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata’ala
Cara merealisasikan adl dgn menempuh khuruj bersama Jamaah Tabligh empat bulan utk seumur hidup 40 hari pada tiap tahun tiga hari tiap bulan atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dgn menetap pada suatu daerah dan yg kedua dgn cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yg lain. Hadir pada dua majelis ta’lim tiap hari majelis ta’lim pertama diadakan di masjid sedangkan yg kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 25 jam tiap hari utk menjenguk orang sakit mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi membaca satu juz Al Qur’an tiap hari memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore membantu para jamaah yg khuruj serta i’tikaf pada tiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah yg disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yg berpengalaman dlm hal khuruj.
Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adl khuruj utk berperang. Adapun apa yg sekarang ini mereka sebut dgn khuruj mk ini bid’ah. Belum pernah ada dari salaf tentang keluar seseorang utk berdakwah di jalan Allah yg harus dibatasi dgn hari-hari tertentu. Bahkan hendak berdakwah sesuai dgn kemampuan tanpa dibatasi dgn jamaah tertentu atau dibatasi 40 hari atau lbh sedikit atau lbh banyak.”
Asy-Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah akan tetapi berdakwah kepada Muhammad Ilyas syaikh mereka yg ada di Banglades .

Aqidah Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya

Jamaah Tabligh dan para tokoh merupakan orang2 yg sangat rancu dlm hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al-Kandahlawi merupakan kitab yg penuh dgn kesyirikan bid’ah dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dlm masalah aqidah adalah2:
1. Keyakinan tentang wihdatul wujud .

2. Sikap berlebihan terhadap orang2 shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib.

3. Tawassul kepada Nabi dan juga kepada selain serta berlebihan mereka dlm hal ini.

4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni .
5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin.

6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dgn mengikuti tarekat Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi . Oleh krn itu Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai’at di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata utk melihat wajah syaikh tersebut.

7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah Naqsyabandiyyah Qadiriyyah dan Sahruwardiyyah.

8. Keyakinan tentang keluar tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau utk berjabat tangan dgn Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i.

9. Kebenaran suatu kaidah bahwasa segala sesuatu yg menyebabkan permusuhan perpecahan atau perselisihan -walaupun ia benar- mk harus dibuang sejauh-jauh dari manhaj Jamaah.

10. Keharusan utk bertaqlid .
11. Banyak cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dlm kitab Fadhail A’mal mereka di antara apa yg disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dlm kitab Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yg mereka jadikan sebagai bahan utama utk berdakwah. Wallahul Musta’an.

Fatwa Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh

1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Siapa saja yg berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: walaupun hanya satu ayat} akan tetapi Jamaah Tabligh India yg ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat bid’ah dan kesyirikan. mk dari itu tdk boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yg berilmu yg keluar bersama mereka dlm rangka mengingkari dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj semata ikut dgn mereka mk tdk boleh”.
2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz krn jika mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi mk tdk akan ada rasa keberatan utk khuruj bersama mereka. Namun kenyataan mereka tdk mau menerima nasehat dan tdk mau rujuk dari kebatilan mereka dikarenakan kuat fanatisme mereka dan kuat mereka dlm mengikuti hwa nfsu (**) . Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yg batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah jika demikian permasalahan mk tdk boleh keluar bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yg berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dlm hal tahdzir terhadap ahlul bid’ah dan peringatan utk tdk bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dlm menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dlm hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yg pada terdapat keyakinan hulul wihdatul wujud kesyirikan dan kebid’ahan”.
3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata: “Bahwasa organisasi ini tdk ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka mk benar-benar kami dapati kesesatan bid’ah ajakan kepada peribadatan terhadap kubur-kubur dan kesyirikan sesuatu yg tdk bisa dibiarkan. Oleh krn itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.
4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta pemahaman as-salafus shalih.” Beliau juga berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adl dakwah sufi modern yg semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat mk sedikit pun tdk mereka lakukan krn -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan yg mana mereka adl orang2 yg selalu berubah-ubah dgn perubahan yg luar biasa sesuai dgn situasi dan kondisi yg ada”.
5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq ‘Afifi berkata: “Kenyataan mereka adl ahlul bid’ah yg menyimpang dan orang2 tarekat Qadiriyyah dan yg lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah akan tetapi kepada Muhammad Ilyas syaikh mereka di Bangladesh ”.
Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwamith Thariq.

Sumber: www.asysyariah.com