Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin4. Dari Abu Abdillah Jabir Ibnu Abdillah Al Anshari radhiallahu ‘anhuma berkata : Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah peperangan; maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang yg kalian tidak menempuh sebuah perjalanan dan tidak melewati sebuah lembah; melainkan mereka bersama-sama kalian mereka terhalangi udzur berupa sakit” dan dalam riwayat yg lain : “Melainkan mereka bersekutu dgn kalian dalam pahala” H.R Muslim.5. Al Bukhari meriwayatkan dari Anas radhiallahu ‘anhu ia berkata : Kami pulang dari perang tabuk bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda : “Sesungghnya orang- orang yg kita tinggalkan di madinah tidaklah kita melewati jalan-jalan di gunung dan di lembah kecuali mereka bersama-sama dgn kita mereka terhalang krn udzur.”Penjelasan Hadits : berkata Asy Syaikh Al Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah :Makna hadits tersebut adalah: bahwa seseorang apabila berniat hendak beramal shalih akan tetapi ada sesuatu yg menghalanginya maka tetap ditulis untuknya pahala yaitu pahala apa yang ia niatkan.Adapun apabila dia terbiasa mengerjakannya di saat tidak ada udzur yakni ketika ia mampu kemudian setelah itu ia tidak mampu maka ditulis baginya pahala amalan tersebut secara sempurna krn Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مَا كَانَ يَعْمَلُ صَحِيْحاً مُقِيْماً“Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian maka dicatat pahala untuknya amal yang biasa ia kerjakan di saat ia sehat dan tidak bepergian”. Maka seseorang yg menginginkan dan hendak melakukan satu kebaikan sementara hal itu termasuk dari kebiasaannya mengamalkan kebaikan tersebut namun ia terhalang sesuatu sebab maka iapun ditulis pahala untuknya secara sempurna.Misalnya:- Apabila seseorang yg kebiasaannya sholat berjama’ah di masjid namun suatu ketika ia terhalang utk melaksanakan-nya krn sesuatu misalnya tertidur atau sakit ataupun yg semisalnya maka tetap ditulis untuknya pahala orang yg sholat berjama’ah secara sempurna tanpa terkurangi.- Begitu juga kalau termasuk kebiasaan dia adl sholat sunnah namun dia terhalang sesuatu sebab yg tidak memungkinkan dia melakukannya maka ditulis baginya pahala sempurna dan misal-misal yg lainnya.Sedangkan utk amalan-amalan yg tidak termasuk kebiasaan dia mengerjakannya maka ditulis untuknya pahala niat saja tanpa pahala amalannya.Dalilnya: bahwasanya orang-orang faqir dari kalangan shahabat berkata kepada Rasulullah: “orang-orang kaya telah mengalahkan kami dgn banyak pahala dan keni’matan abadi {yakni dengan shodaqoh dan membebaskan budak} maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahukan dgn sesuatu yg kalau kalian melakukannya kalian bisa mengejar orang-orang yg mendahului kalian dan kalian tidak bisa di ungguli seorangpun kecuali oleh orang yg mengerjakan seperti apa yg kalian kerjakan. Maka beliau bersabda: “Kalian bertasbih bertakbir dan bertahmid tiap setelah sholat 33 kali”.“Maka merekapun mengerjakannya kemudian orang-orang kayapu mengetahuinya maka mereka juga mengerjakan seperti yg mereka tersebut kerjakan maka orang-orang faqir kembali datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sembari berkata: “Wahai Rasulullah saudara-saudara kita orang-orang kaya mendengar apa yg kami kerjakan lantas mereka pun mengerjakannya”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab “itulah karunia Allah yg Allah berikan kepada siapa yg Dia kehendaki dan Allah- lah yg memiliki karunia yg amat besar”. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan kepada mereka: “kalian telah menyamai pahala amalan mereka”{karena mereka memang tidak/belum mengerjakan amalan yang dilakukan orang-orang kaya pent.} namun tidak diragukan bahwa mereka mendapat pahala niat amalan {yaitu mereka berniat bila mereka memiliki harta mereka juga akan bersedekah dan membebaskan budak pent.}Karena itu di lain kesempatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang orang yg Allah berikan padanya harta yg dia infaq-kan di jalan kebaikan dan ada seorang yg miskin yang berkata:“Kalau seandainya saya memiliki harta seperti si fulan pasti aku akan melakukan apa yg dilakukan si fulan”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Maka Dia dgn sebab niatnya keduanya mendapat pahala sama”.Yakni : sama pahala niatnya. Adapun secara amalan maka dia tidak ditulis pahalanya kecuali kalau sudah termasuk amalan yg biasa ia lakukan sebelumnya.Pada hadits awal diatas: mengisyarat-kan bahwa orang yg keluar fisabilillah pada sebuah peperangan dan jihad maka dia mendapatkan pahala perjalanannya.Untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “tidaklah kalian menempuh sebuah perjalanan dan tidak pula melewati lembah dan jalan-jalan di gunung-gunung melainkan mereka bersama kalian”.Dan hal ini juga ditunjukkan firman Allah Ta’ala :“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yg berdiam di sekitar mereka tidak turut menyertai Rasulullah dan tidak patut bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. yg demikian itu ialah Karena mereka tidak ditimpa kehausan kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah dan tidak menginjak suatu tempat yg membangkitkan amarah orang-orang non muslim dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh melainkan dituliskanlah bagi mereka dgn yg demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yg berbuat baik.

Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yg kecil dan tidak yg besar dan tidak melintasi suatu lembah melainkan dituliskan bagi mereka Karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yg lbh baik dari apa yg Telah mereka kerjakan.” {At- Taubah: 120-121}Seperti halnya ; seseorang yg berwudhu di rumahnya lalu ia sempurnakan wudhunya kemudian ia keluar ke masjid di mana ia tidak keluar kecuali utk tujuan sholat maka tidaklah ia melangkahkan kakinya satu langkah kecuali Allah Subhanahu wa ta’ala angkat satu derajat untuknya dan Allah Subhanahu wa ta’ala hapus satu kesalahannya.Ini adl termasuk karunia Allah Azza wa Jalla yg mana Allah menjadikan dalam menempuh wasilah utk tiap amalan ada pahalanya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Wallahul Muwaffiq.Diterjemahkan oleh Ustadz Muhammad Ar Rifa’i dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Darul Atsar Halaman 16-19.
sumber : file chm Darus Salaf 2