Kisah-kisah Israiliyat?” ketegori Muslim. Saya pernah mendengar penafsiran kisah dari ayat
Al-Qur’an bahwa Nabi Adam dan Ibu Hawa setelah melanggar perintah untuk
mendekati pohon dengan memakan buah khuldi karena godaan syetan, terbukalah
auratnya. Penafsirkan ayat ini adalah sebagai asal muasal pertama kalinya muncul
jakun pada leher laki-laki dan maaf payudara pada wanita. Telah lama saya
meyakini hal ini sebagai kisah Israiliyat.

Tapi akhir-akhir ini istri saya cerita, di
salah satu kuliah program pendidikan Islam pada universitas Islam negeri,
dosennya memunculkan lagi kisah tersebut sebagai tafsir dari ayat itu. Ketika
ditanyakan pada teman-temannya merekapun meyakini hal yang sama. Bagaimana
penafsiran ayat tersebut sebenarnya?

Agus Salim

Jawaban

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh,
Israiliyat adalah kisah-kisah atau
kabar tentang masa lalu, baik kisah tentang para nabi atau pun orang-orang
shalih lainnya. Dinisbatkan istilah ini kepada Bani Israil lantaran sumber kisah
ini memang dari Bani Israil.

Nama Israil sesungguhnya nama nabi Ya’qub ‘alaihissalam.
Beliau punya anak 12 orang, salah satunya nabi Yusuf ‘alaihissalam. Ke-12
anak ini kemudian menurunkan sebuah bangsa yang di kemudian hari dikenal dengan
istilah Bani Israil.

Kisah israiliyat sebenarnya kisah yang bersumber
dari literatur ahli kitab, yang kebanyakannya merupakan kisah yang bersumber
dari orang-orang Yahudi, atau orang Islam yang dahulunya pernah memeluk agama
itu. Beberapa di antara shahabat nabi SAW memang ada yang dahulu berasal dari
agama itu. Misalnya, Ka’ab Al-Ahbar dan Wahab ibn Munabbih.

Barangkali para shahabat yang masuk Islam itu tidak
bermaksud menyampaikan cerita bohong. Sebab selama mereka memeluk agama itu,
kisah-kisah itulah yang mereka punya. Ketika ada ayat Al-Quran menyinggung kisah
yang sama, mereka pun memberi komentar berdasarkan apa yang mereka baca di
kitab-kitab mereka sebelumnya.

Kalau pun ada kebohongan dan dusta, bukan terletak
pada shahabat itu, melainkan dusta itu sudah ada sejak lama dalam agama mereka
sebelumnya. Mereka hanya mendapatkan imbas yang tidak enak dari agama lama
mereka.

Dan sebenarnya, pada titik inilah letak perbedaan
Islam dan agama sebelumnya. Yaitu tidak adanya proses penshahihan sebagaimana
yang kita kenal dalam sistem periwayatan hadits. Orang Yahudi tidak pernah
mengenal kritik sanad, tidak kenal riwayat yang shahih, hasan, dhaif atau palsu.
Semua bercampur aduk menjadi satu, tanpa seorang pun yang bisa membedakan mana
kisah yang benar dan mana yang bohong.

Namun Rasulullah SAW sendiri tetap bijaksana
menyikapinya. Beliau tidak menggeneralisir bahwa semua kisah yang bersumber dari
Yahudi pasti salah. Meski pun juga tidak bisa langsung membenarkannya. Beliau
hanya mengingatkan untuk berhati-hati dalam menerimanya. Sebagaimana sabda
beliau:

إذا حدَّثكم أهل الكتاب فلا تصدقوهم ولا تكذبوهم

Bila ahli kitab menceritakan kisah kepadamu, jangan
kalian benarkan dan jangan pula kalian ingkari.

Ukuran yang Bisa Diterapkan

Namun demikian, tetap masih ada beberapa ukuran
atau pedoman yang bisa kita terapkan sebagai standar untuk menerima atau menolak
kisah israiliyat. Yang utama adalah bila kisah itu bertentangan dengan kisah
yang ada dalam Al-Quran atau hadits nabi SAW. Baik bertentangan dari alur cerita,
logika maupun dasar-dasar aqidah.

Sebab dari segi aqidah, agama kita relatif agak
sama dengan agama mereka. Seperti tentang Allah, rasul, kitab dan hari akhir.
Perbedaan yang mendasar ada pada masalah teknis ibadah ritual. Sementara masalah
aqidah tetap sama.

Karena kita bisa menjamin 100% kebenaran aqidah
kita, maka bisa kita jadikan tolok ukur untuk menilai penyelewengan aqidah agama
sebelum Islam. Bila dari segi aqidah Islam terlihat jelas pertentangannya, maka
kita bisa pastikan bahwa kisah israiliyat itu bohong dan dusta serta tidak bisa
diterima. Atau bila dari segi iman kepada nabi bahwa nabi itu adalah hamba yang
taat, lalu kita terima kisah dari mereka menceritakan bahwa ada nabi yang mabok,
berzina, stres dan lainnya, sudah bisa kita pastikan bahwa kisah dari mereka itu
salah.

Atau kalau ada nabi dikisahkan mati digantung hanya
pakai celana kolor saja, jelas kisah itu sangat dusta. Apalagi Al-Quran sendiri
menyatakan bahwa nabi itu tidak dibunuh, tidak disalib tetapi diangkat ke sisi
Allah.

Kisah Israiliyat dalam kitab tafsir

Banyak orang yang salah dalam mengerti kitab tafsir,
sehingga menuduh bahwa sumber cerita israiliyah itu berasal dari sana. Memang
benar adanya kitab tafsir yang mencantumkan keterangan dari sumber-sumber ahli
kitab.Keberadan kitab itu sesungguhnya harus dipahami dengan cerdas. Yaitu
sekedar menghimpun data, namun belum dibedakan mana yang benar dan mana yang
mitos.

Tergantung dari bagaimana sikap dan tujuan para
mufassir ketika menyusunnya. Ada yang lebih menekankan pencatatan semua hal yang
berkaitan, meski belum lagi dilakukan proses penelitian lebih jauh. Kitab
seperti ini, sebenarnya lebih dikhususkan buat para ahli sejarah dan para
peneliti. Tugas mereka akan lebih ringan, karena tidak perlu lagi mengumpulkan
data, tinggal meneliti saja lalu memilah mana yang shahih dan mana yang tidak.

Dan di sisi lain, ada sebagai ulama tafsir yang
lebih maju dansudah sampai taraf itu. Sehingga semua materi yang ada di dalam
kitabnya, sudah dikaji dan diteliti ulang. Sehingga dikeluarkan kisah-kisah yang
tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kitab-kitab tafsir seperti ini lebih
memudahkan buat orang awam karena sudah siap santap.

Wallahu a;lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum
warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Sumber Kisah-kisah Israiliyat? : http://www.salaf.web.id