Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Aalu Fauzan RahimahullahSesungguhnya Allah Azza wa Jalla mewajibkan puasa atas kaum muslimin secara langsung bagi mereka yg tidak memiliki udzur dan dgn qadha bagi mereka yg memiliki udzur yaitu mereka yg mampu mengerjakannya di hari-hari yg lain.Ada golongan ketiga yg tidak bisa melakukan puasa baik secara langsung maupun qadha.

Misalnya orang lanjut usia yg sudah sangat lemah dan orang sakit yg tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya. Golongan ini diberi keringanan oleh Allah Azza wa Jalla maka Dia mewajibkan kepadanya suatu pengganti puasa yaitu memberi makan orang-orang miskin pada tiap hari setengah sha’ makanan pokok.Allah Azza wa Jalla berfirman “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dgn kesanggupannya.” {Qs. Al-Baqarah: 286}Allah Azza wa Jalla berfirman “Dan wajib bagi orang-orang yg berat menjalankannya membayar fidyah memberi makan seorang miskin.” Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhumaa berkata yaitu orang lelaki yg sangat tua dan seorang wanita yg sangat tua pula. Keduanya tidak mampu melakukan puasa. Maka keduanya hendaknya memberi makanan pada tiap hari kepada satu orang miskin. FootnoteOrang sakit yg tidak bisa lagi diharapkan kesembuhannya hukumnya seperti orang yg sangat tua. Maka la harus memberikan makanan tiap hari kepada seorang miskin.Barangsiapa yg tidak puasa krn udzur temporer seperti bepergian orang sakit yang bisa diharapkan kesembuhannya wanita hamil wanita menyusui jika mengkhawatirkan keadaan diri atau keadaan anaknya dan wanita yg sedang haidh atau sedang nifas tiap mereka itu mutlak harus melakukan qadha dan harus berpuasa pada hari-hari lain sejumlah hari- hari yg la batalkan puasanya. Allah Azza wa Jalla berfirman“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan maka {wajiblah baginya berpuasa} sebanyak hari yg ditinggalkannya itu pada hari-hari yg lain.” Sunnah berbuka bagi orang sakit yg jika dgn berpuasa malah membahayakan dirinya.

Juga sunnah berbuka bagi orang yg safar yg jarak safarnya membuat dia boleh mengqashar shalat. Firman Allah Azza wa Jalla Maka sebanyak hari yg ditinggalkannya itu pada hari-hari yg lain. Artinya la tidak berpuasa dan mengqadha-nya pada hari-hari yg lain sejumlah puasa yg la batalkan. Allah Azza wa Jalla berfirman “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendakikesukaran bagimu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika diberi kesempatan utk memilih antara dua perkara beliau memilih yg paling mudah dari keduanya. Disebutkan dalam kitab Ash-Shahihain“Bukan suatu kebajikan berpuasa ketika dalam bepergian.” Sedangkan jika seorang yg dalam bepergian atau sedang sakit tetap melakukan puasa sekalipun dgn susah payah maka puasanya tetap sah dgn dibarengi kemakruhan.Wanita yg sedang haidh atau nifas diharamkan bagi mereka berpuasa puasanya tidak sah.Wanita yg sedang hamil atau sedang menyusui keduanya harus mengqadha puasa yg ditinggalkannya pada hari-hari yg lain. Seraya mengqadha puasa yg ditinggalkannya krn kekhawatiran terhadap keadaan anaknya wajib pula memberi makan kepada orang miskin selama mengqadha hari-hari yg ditinggalkan.Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata Ibnu Abbas dan selainnya memberikan fatwa berkenaan dengan wanita hamil dan wanita menyusui jika keduanya mengkhawatirkan anak-anak mereka; keduanya boleh berbuka puasa dan memberikan makan seorang miskin pada tiap hari.

Memberikan makan sebagai ganti berpuasa. Yakni secara langsung dgn kewajiban mengqadha bagi keduanya itu.Wajib berbuka puasa bagi orang yg sangat membutuhkannya krn sedang menyelamatkan orang lain dari bahaya maut seperti orang tenggelam dan lain sebagainya.Ibnul Qayyim berkata Penyebab dibolehkan berbuka puasa ada empat: safar sakit haidh dan rasa takut terhadap munculnya madharat krn puasa seperti wanita menyusui dan wanita hamil. Demikian pula perkara orang tenggelam. Setiap muslim harus menentukan niat puasa wajib dari sejak malam. Misalnya niat puasa Ramadhan puasa kafarat dan puasa nadzar. la harus meneguhkan niat bahwa dirinya akan melakukan puasa Ramadhan atau qadhanya atau puasa kafarat atau puasa nadzar.

Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Sesungguhnya tiap amal perbuatan itu tergantung niatnya dan bagi tiap orang itu apa yg ia niatkan. Disebutkan dalam hadits dari Aisyah Radhiallahu ‘anha secara marfu’ Barangsiapa yg tidak berniat puasa sejak sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. Wajib berniat utk mengerjakan puasa wajib sejak malam hari.Barangsiapa berniat puasa pada siang hari misalnya orang yg kesiangan dan belum makan setelah terbit fajar lalu berniat berpuasa maka itu tidak cukup baginya kecuali dalam puasa sunnah.Sedangkan dalam puasa wajib tidak cukup dgn niat pada siang hari krn sepanjang hari itu wajib berpuasa. Niat tidak berbarengan dgn ibadah yg sedang berjalan.Adapun dalam puasa sunnah boleh berniat di siang hari. Berdasarkan hadits Aisyah Radhiallahu ‘anha Suatu hari Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam masuk kepadaku seraya bertanya Apakah ada sesuatu padamu?’ Kami menjawab ‘Tidak.’Maka beliau berujar “Jadi aku berpuasa. {HR.

Jama’ah kecuali Al Bukhari} Hadits tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam sedang tidak berpuasa krn ternyata beliau sedang mencari makanan. Hadits itu menjadi dalil yg menunjukkan bolehnya mengakhirkan niat puasa sunnah. Dengan hadits itulah dikhususkan dalil- dalil yg melarang.Syarat sahnya puasa sunnah dgn niat di siang hari adl tidak ada sesuatu yg menghapuskan puasa sebelum niat misalnya makan minum atau lainnya. Jika sebelum niat melakukan hal-hal yg membatalkan puasa maka puasanya tidak sah. Demikian tanpaadanya khilaf .Footnote Al Bukhari Bab “At-Tafsir” 25. Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah: Al-Bukhari dan Muslim . Muttafaqun `alaih dari hadits Jabir bin Abdullah: Al-Bukhari Bab Ash Shaum 36 dan Muslim Bab Ash-Shiyam 92 tanpa kata-kata من “dari”. Lihat kitab Zadul Ma’ad dgn sedikit perubahan. Lihat kitab Hasyiyatu Ar-Raudhul Marba’ . Telah berlalu di muka takhrijnya. Diriwayatkan semisal itu darinya dan dari Hafshah dalam satu buah hadits: An-Nasa’i Bab Ash-Shiyam. Diriwayatkan dari hadits Hafshah: Abu Daud At- Tirmidzi An-Nasa’i dan Ibnu Majah . Muslim Abu daud At Tirmidzi An-Nasa’I dan Ibnu Majah {Referensi : Buku : “Ringkasan Fiqih Islam” Panduan Ibadah Sesuai Sunnah Jilid 2 Hal. 97-101 Penerbit: Pustaka Salafiyah Cetakan Pertama : juni 2006/Jumada Ula 1427 H Penerjemah: Akhmad Yusjawi}
sumber : file chm Darus Salaf 2