Keutamaan Ilmu dan Ulama

penulis Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi
Syariah Tafsir 05 - Februari - 2005 03:05:02

Mengenal Beberapa Makna Sebagian Mufradat Ayat

يَرْفَعِ اللَّهُ

“Allah meninggikan” makna Allah mengangkat. Yaitu mengangkat kaum mukminin di atas selain kaum mukminin dan mengangkat orang yg berilmu di atas orang yg tdk berilmu.

أُوتُوا الْعِلْمَ

“orang2 yg diberi ilmu” yg dimaksud ilmu di dlm ayat ini adl ilmu syar’i. Sebab dengannyalah seseorang akan mendapatkan keterangan dlm mengamalkan agama berdasarkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

دَرَجَاتٍ

“Beberapa derajat”. Al-Qurthubi rahimahullah berkata: yaitu derajat di dlm agama ketika mereka melaksanakan apa yg diperintahkan.

Tafsir Ayat
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mulia ini menjelaskan keutamaan para ahli ilmu dan orang2 yg senantiasa menuntut ilmu agama. Di samping krn keimanan yg mereka miliki mereka juga diangkat derajat dan kedudukan oleh Allah krn bertambah ilmu agama mereka yg menjadikan semakin jauh dari kejahilan dan mendekatkan kepada keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berikut beberapa penafsiran para ulama tentang tafsir ayat ini:
- Ath-Thabari rahimahullah berkata: Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat kaum mukminin dari kalian wahai kaum dgn ketaatan mereka kepada Rabb mereka. mk pada apa yg diperintahkan kepada mereka utk melapangkan ketika mereka diperintahkan utk melapangkannya. Atau mereka bangkit menuju kebaikan apabila diperintahkan mereka utk bangkit kepadanya. Dan dgn keutamaan ilmu yg mereka miliki Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat derajat orang2 yg berilmu dari ahlul iman di atas kaum mukminin yg tdk diberikan ilmu jika mereka mengamalkan apa yg mereka diperintahkan.” Lalu beliau menukilkan beberapa perkataan ulama salaf di antara Qatadah rahimahullah beliau berkata: “Sesungguh dgn ilmu pemilik memiliki keutamaan. Sesungguh ilmu memiliki hak atas pemilik dan hak ilmu terhadap kamu wahai seorang alim adl keutamaan. Dan Allah memberikan kepada tiap pemilik keutamaan keutamaannya.”

Antara Ilmu dan Ibadah
Menuntut ilmu juga merupakan jenis ibadah. Namun ilmu merupakan jenis ibadah yg memiliki nilai dan kedudukan yg lbh tinggi dibandingkan jenis ibadah lainnya. Sebagaimana yg telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ وَمِلاَكُ الدِّيْنِ الْوَرَعُ

“Keutamaan ilmu lbh baik dari keutamaan ibadah. Dan kunci agama adl bersikap wara’ .”
Hadits ini menjelaskan demikian mulia ilmu dan penuntut ilmu. Ini disebabkan krn seorang yg berilmu kemudian mengajarkan ilmu mendakwahkan hingga Allah memberikan hidayah kepada orang lain dgn sebab dakwah mk menjadi salah satu amal jariyah baginya. Selama ada yg mengamalkan ilmu tersebut mk dia akan terus mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala walaupun dia telah meninggal. Berbeda dgn orang yg mengerjakan shalat sunnah dan semisal tdk ada yg merasakan manfaat kecuali hanya diri sendiri.
Ishaq bin Manshur rahimahullah berkata: “Aku berta kepada Al-Imam Ahmad tentang perkataannya: Mudzakarah ilmu pada sebagian malam lbh aku senangi daripada menghidupkan . Ilmu apakah yg dimaksud?” Beliau menjawab: “Yaitu ilmu yg memberi manfaat kepada manusia dlm perkara agamanya.” Aku berta lagi: “Dalam hal berwudhu’ shalat puasa haji talak dan semisalnya?”. Beliau menjawab: “Iya.”
Dan berkata pula Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi: Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

طَلَبُ الْعِلْمِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلاَةِ النَّافِلَةِ

“Menuntut ilmu lbh utama daripada shalat sunnah.”
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Aku tdk mengetahui ada satu ibadah yg lbh afdhal daripada seseorang yg mempelajari ilmu.”

Kemuliaan Para Ulama
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menjelaskan demikian tinggi derajat dan kedudukan para ulama di atas yg lainnya. Dan merekalah orang2 yg senantiasa mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga di kalangan manusia. Di dlm ayat yg lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشآءُ

“Kami tinggikan derajat orang yg Kami kehendaki.”
Al-Imam Malik rahimahullah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Yaitu dgn ilmu.”
Zaid bin Aslam rahimahullah berkata dlm menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَى بَعْضٍ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا

“ Dan sesungguh telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian dan Kami berikan Zabur .”
kata beliau: “yaitu dgn ilmu.” .
Diberitakan oleh Asy’ats bin Syu’bah Al-Misshishi bahwa beliau berkata: Suatu hari Harun Ar-Rasyid pergi ke Raqqah mk berlalu gerombolan manusia di belakang Abdullah ibnul Mubarak terputuslah sandal-sandal debu-debu bertebaran. Lalu salah seorang budak wanita Amirul Mukminin melongok dari dlm istana lalu bertanya: “Siapa ini?” Mereka menjawab: “Seorang alim dari Khurasan telah datang.”
Berkatalah sang budak: “Demi Allah inilah kerajaan sebenar bukan kerajaan milik Harun yg mengumpulkan manusia dgn tentara dan para pembantunya.”
Wallahi inilah kemuliaan yg sebenarnya. Dan bukanlah kemuliaan ketika seseorang diberikan pundi-pundi harta kekayaan atau jabatan yg menjadi incaran atau partai-partai yg menjadi dambaan atau duduk di kursi DPR/MPR dgn dalih “menegakkan syariat Islam” “merintis khilafah Islam” dan propaganda lainnya.
Katakanlah kepada mereka: “Wahai orang2 yg muflis bagaimanapun pandai kalian dlm menata organisasi dan partai kalian menyelenggarakan berbagai macam kegiatan hizbiyyah kalian menjaga diri dari berbagai makar dan tipu daya syaithan kalian tidaklah mungkin mendapatkan kemuliaan dan keagungan hingga kalian menjadikan amalan kalian di atas ilmu mengenal keutamaan ilmu dan ahli ilmu.”
Suatu hal yg mustahil bagi mereka yg ingin menegakkan syariat Islam mendirikan khilafah Islamiyah namun menempuh dgn cara-cara yg batil dgn membentuk partai masuk ke dlm parlemen menundukkan diri di hadapan demokrasi yg thaghut dan tdk membangun segala aktivitas di atas ilmu yg haq dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh mereka hanyalah mencari sesuatu yg bersifat fatamorgana sebagaimana sebuah syair:

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِي عَلىَ الْيَبَسِ

Kalian mengharapkan keselamatan namun tdk menempuh jalan-jalannya
Sesungguh kapal tdk akan berlayar di atas tempat yg kering

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Di antara tanda berpaling Allah dari hamba-Nya adl dia menjadikan sibuk terhadap apa-apa yg tdk bermanfaat baginya.”
Dengan ilmulah seseorang akan mendapatkan kemuliaan dunia sebelum akhirat. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memilih Thalut utk memimpin Bani Israil firman-Nya:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: ‘Sesungguh Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’”
Di dlm Shahih Muslim dari ‘Amir bin Watsilah bahwa Nafi’ bin Abdil Harits bertemu ‘Umar di ‘Usfan. Ketika itu ‘Umar mengangkat sebagai gubernur di Makkah. Kemudian ‘Umar bertanya: “Siapa yg engkau angkat jadi pemimpin daerah lembah?” Beliau menjawab: “Ibnu Abza.” bertanya: “Siapa Ibnu Abza?” Beliau menjawab: “Dia adl salah satu bekas budak kami.” bertanya: “Engkau jadikan yg memimpin mereka dari kalangan maula ?” Beliau menjawab: “Sesungguh dia mempunyai ilmu tentang kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan alim dlm ilmu warisan.” ‘Umar berkata: “Ketahuilah sesungguh Nabimu Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابَ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

“Sesungguh Allah mengangkat sebagian kaum dgn kitab ini dan dengan Allah merendahkan yg lainnya.”
Ahmad bin Ja’far bin Muslim rahimahullah berkata: Aku mendengarkan Abbar berkata: Ketika aku berada di Al-Ahwaz aku melihat ada seorang laki2 yg telah mencukur habis kumisnya- aku menyangka dia berkata- dia telah membeli beberapa kitab dan siap menjadi seorang mufti. Lalu disebutkan kepada ashabul hadits mk dia menjawab: “Mereka tdk ada apa-apa mereka tdk memiliki apa-apa.” Aku pun berkata : “Engkau tdk pandai mengerjakan shalat.” Dia berkata: ‘Aku?’. Aku menjawab: ‘Iya apa yg engkau hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika engkau membuka shalatmu dan mengangkat kedua tanganmu?’ mk dia terdiam. Aku pun berta kembali: ‘Apa yg engkau hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala engkau sujud?’. Dia kembali terdiam. Aku berkata: ‘Bukankah aku telah mengatakan engkau tdk pandai mengerjakan shalat? mk janganlah engkau menjelekkan ashabul hadits.”

Ulama adl Para Mujahid
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan orang2 yg menuntut ilmu sebagai salah satu bagian dlm jihad fi sabilillah. Firman-Nya:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatut bagi orang2 mukmin itu pergi semua . Mengapa tdk pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang utk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan utk memberi peringatan kepada kaum apabila mereka telah kembali kepada supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”
Abu Darda radhiallahu ‘anhu berkata: “Barangsiapa yg menganggap bahwa berangkat seseorang mencari ilmu itu bukan jihad mk sungguh dia kurang akal dan fikiran.”
Terhadap merekalah kaum muslimin diperintahkan utk merujuk kepada ketika mereka menghadapi berbagai macam problem dan masyakil di dlm agama mereka. Baik masalah bersuci shalat puasa zakat jihad maupun persoalan-persoalan kontemporer dan lain sebagainya. Barangsiapa yg membagi para ulama menjadi dua: ulama dlm urusan jihad dan ulama mengurusi selain jihad mk sungguh dia telah terjerumus dlm kebatilan yg nyata.
Asy Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Jika sekira sikap memberontak terhadap pemerintah mendatangkan kejahatan yg telah dijelaskan oleh nash-nash syar’i yg saling menyatu disertai dgn berbagai kejadian yg nyata sebagaimana yg nampak dari hasil perbuatan para ahli bid’ah di tiap zaman. mk lbh jahat lagi adl orang2 yg keluar dari para ulama dgn menjatuhkan hak-hak mereka dan tdk bersandar kepada fatwa-fatwa mereka kecuali yg sesuai dgn hwa nfsu (**) para haraki dan meremehkan kedudukan mereka dlm hal politik dan melontarkan tuduhan kepada mereka dgn istilah “ulama di rumah wudhu” dan gelar-gelar semisal yg diwarisi oleh para ahlul bid’ah yg hina dari yg hina yg ditujukan kepada para ulama salafiyyin yg mulia kepada yg mulia. Dan hal ini berarti menggugurkan syariat dgn mencerca para saksi dan pembawanya. Dan Allah akan memenuhi janjinya.”

Sumber: www.asysyariah.com