Keutamaan Bersiwak

penulis Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari
Syariah Seputar Hukum Islam 28 - Februari - 2007 06:11:35

Bersiwak merupakan perbuatan yg sangat disukai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada beberapa waktu yg sangat dianjurkan oleh syariat utk kita bersiwak. Bila kita mampu menjalankan ajaran Rasulullah ini Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk hanya mulut kita yg menjadi bersih namun pahala dan keridhaan Allah pun insya Allah bisa kita raih.

Kata siwak bukan lagi sesuatu yg asing di tengah sebagian kaum muslimin meskipun sebagian orang awam tdk mengetahui disebabkan ketidaktahuan mereka tentang agama. Wallahul musta’an.
Pengertian siwak sendiri bisa kembali pada dua perkara:
Pertama bermakna alat yaitu kayu/ranting yg digunakan utk menggosok mulut guna membersihkan dari kotoran. Asal adl kayu dari pohon araak.
Kedua bermakna fi’il atau perbuatan yaitu menggosok gigi dgn kayu siwak atau semisal utk menghilangkan warna kuning yg menempel pada gigi dan menghilangkan kotoran sehingga mulut menjadi bersih dan diperoleh pahala dengan .
Dengan demikian disenangi bersiwak dgn kayu siwak dari araak atau dgn apa saja yg bisa menghilangkan perubahan bau mulut seperti membersihkan gigi dgn kain perca atau sikat gigi.
Namun tentu bersiwak dgn menggunakan kayu siwak lbh utama. Karena hal itulah yg dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditunjukkan dlm hadits-hadits yg berbicara tentang siwak.
Hukum bersiwak ini sunnah –tak wajib– dlm seluruh keadaan baik sebelum shalat ataupun selainnya. Dan ini merupakan pendapat yg rajih yg dipegangi oleh penulis. Ini juga merupakan pendapat jumhur ulama menyelisihi sebagian ulama yg memandang wajib perkara ini. Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullahu mengatakan: “Kami tdk mengetahui ada seorang pun yg berpendapat bersiwak itu wajib kecuali Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri.” .
Dalil tdk wajib bersiwak ini diisyaratkan dlm hadits:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Seandai aku tdk memberati umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali berwudhu.”
Al-Imam Asy-Syafi‘i rahimahullahu mengatakan: “Dalam hadits ini ada dalil bahwa siwak tidaklah wajib. Seseorang diberi pilihan . Karena jika hukum wajib niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan mereka baik mereka merasa berat ataupun tidak.” .
Kekhawatiran memberatkan umat merupakan sebab yg mencegah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk mewajibkan bersiwak ini.
Bersiwak merupakan ibadah yg tdk banyak membebani sehingga sepatut seorang muslim bersemangat melakukan dan tdk meninggalkannya. Di samping itu banyak faedah yg didapatkan berupa kebersihan kesehatan menghilangkan aroma yg tdk sedap mewangikan mulut memperoleh pahala dan mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Banyak sekali hadits yg berbicara tentang siwak sehingga Ibnul Mulaqqin rahimahullahu dlm Al-Badrul Munir mengatakan: “Telah disebutkan dlm masalah siwak lbh dari seratus hadits.”
Karena perkara bersiwak ini disenangi oleh Rasul kita yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tdk pernah beliau tinggalkan sampai pun menjelang ajal sementara kita diperintah dlm Al-Qur`an utk menjadikan beliau sebagai qudwah suri teladan mk pembahasan tentang siwak tdk patut kita abaikan. Ditambah lagi bersiwak ini termasuk sunnah wudhu dan termasuk thaharah yg kita dianjurkan utk melakukannya. Semoga apa yg kami tuliskan ini menjadi ilmu yg bermanfaat dan mudah-mudahan dapat diamalkan oleh kita semua. Amin!

Kesenangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Bersiwak
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian senang bersiwak. Beliau tdk melupakan sampai pun pada detik-detik menjelang beliau dijemput kembali ke sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan:

دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا مُسْنِدَتُهُ إِلَى صَدْرِي، وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ، فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضَمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ، فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ: فِي الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى -ثَلاَثًا- ثُمَّ قَضَى

‘Abdurrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma masuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm keadaan dadaku menjadi tempat sandaran beliau. ‘Abdurrahman membawa siwak yg masih basah yg dipakai utk bersiwak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat pandangan mata beliau melihat siwak itu. Aku pun mengambil siwak tersebut lalu mematahkan ujung serta memperbaiki dan membersihkan kemudian aku berikan pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kemudian bersiwak dengannya. Aku tdk pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak sebagus yg kulihat kali itu. Tidak berapa lama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari bersiwak beliau mengangkat tangan atau jari kemudian berkata: “Pada teman-teman yg tinggi 1.” Lalu beliau pun wafat.
Dalam satu lafadz ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan:

فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ. فَقُلْتُ: آخِذُهُ لَكَ؟ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ

Aku melihat beliau memandangi siwak tersebut dan aku tahu beliau menyukai bersiwak. mk aku katakan: “Apakah aku boleh mengambilkan untukmu?” Beliau mengisyaratkan “iya” dgn kepala beliau . 2

Bersiwak Membersihkan Mulut dan Diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السِّوَاكُ مُطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu membersihkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb.”
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma juga mengabarkan hal yg senada dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ فَإِنَّهُ مَطْيَبَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى

“Seharus bagi kalian utk bersiwak. Karena dgn bersiwak akan membaikkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb tabaraka wa ta’ala.”

Waktu-waktu Disunnahkan Bersiwak
Bersiwak adl sunnah dlm seluruh waktu. Namun ada lima waktu yg lbh ditekankan bagi kita utk melakukan . Waktu-waktu tersebut adl sebagai berikut:
1. Setiap akan shalat dan wudhu
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ

“Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali berwudhu.”
Al-Imam Al-Bukhari dlm Shahih- dan Al-Imam Muslim dlm Shahih- juga mengeluarkan hadits di atas hanya saja lafadz akhir adalah: مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ . Selengkap adalah:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali tiap kali hendak mengerjakan shalat.”
Permasalahan disunnahkan bersiwak ketika hendak shalat dan berwudhu ini diriwayatkan dari sejumlah shahabat. Di antara Abu Hurairah Zaid bin Khalid ‘Ali bin Abi Thalib Al-’Abbas bin Abdil Muththalib Ibnu ‘Umar Abdullah bin Hanzhalah dan selain mereka radhiyallahu ‘anhum ajma’in.
Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu berkata: “Rahasia dianjurkan kita bersiwak saat hendak shalat adl kita diperintahkan dlm tiap keadaan taqarrub diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala utk berada dlm kesempurnaan dan kebersihan dlm rangka menampakkan kemuliaan ibadah.”
Ada pula yg berpendapat bahwa perkara berkaitan dgn malaikat. Karena malaikat akan terganggu dgn aroma tdk sedap yg keluar dari mulut seseorang.

2. Ketika masuk rumah
Syuraih bin Hani` pernah berta kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ؟ قَالَتْ: بِالسِّوَاكِ

“Apa yg mulai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan apabila beliau masuk rumah?” Aisyah menjawab: ‘Beliau mulai dgn bersiwak’.”

3. Saat bangun tidur di waktu malam
Hudzaifah ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun di waktu malam beliau menggosok mulut dgn siwak.”
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لاَ يَنَامُ إِلاَّ وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah tidur melainkan siwak berada di sisi beliau. Bila terbangun dari tidur beliau mulai dgn bersiwak.”
Alasan disenangi bersiwak pada saat seperti ini kata Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu adl krn tidur menyebabkan berubah bau mulut. Sedangkan siwak merupakan alat utk membersihkan mulut. Sehingga disunnahkan bersiwak tatkala terjadi perubahan bau mulut.
Dalam hal ini sama saja baik bangun utk mengerjakan shalat atau tidak. ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengabarkan:

قُمْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي وَقُمْتُ مَعَهُ..

“Aku pernah bangkit bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mulai bersiwak. Setelah itu beliau berwudhu. Kemudian beliau bangkit utk mengerjakan shalat dan aku pun bangkit bersama beliau”

4. Ketika hendak membaca Al-Qur`an
Dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

السِّوَاكُ مَطَهَّرَةٌ لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِ

“Siwak itu membersihkan mulut diridhai oleh Ar-Rabb.”
Sementara membaca Al-Qur`an tentu menggunakan mulut.

5. Saat bau mulut berubah
Perubahan bau mulut bisa terjadi krn beberapa hal. Di antaranya: krn tdk makan dan minum krn memakan makanan yg memiliki aroma menusuk/tak sedap diam yg lama/tak membuka mulut utk berbicara banyak berbicara dan bisa juga krn lapar yg sangat demikian pula bangun dari tidur.

Bersungguh-sungguh dlm Bersiwak
Ketika seseorang bersiwak hendaklah ia melakukan dgn sungguh-sungguh sebagaimana yg dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Musa Al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu menceritakan:

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ. قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ. وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ بَتَهَوَّعُ

“Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu beliau sedang bersiwak dgn siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidah beliau dan beliau mengatakan “o’ o’3″ sedangkan siwak di dlm mulut beliau seakan-akan beliau hendak muntah.”
Hadits di atas menunjukkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dlm bersiwak sampai-sampai hendak muntah karenanya. Selain itu menunjukkan disenangi bersiwak menggunakan siwak yg basah sebagaimana dlm hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yg telah lewat tentang bersiwak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelang wafatnya. Di samping itu hadits ini menunjukkan bahwa selain digunakan utk membersihkan gigi siwak dapat pula digunakan utk membersihkan lidah.

Cara Bersiwak
Kata Al-Imam Al-Mawardi rahimahullahu disenangi menggunakan siwak secara melintang ketika menggosok permukaan gigi dan bagian dalamnya. Dan siwak dijalankan di atas ujung-ujung gigi dan pangkal gigi geraham agar semua bersih dari kotoran warna kuning dan perubahan bau yg ada. Dijalankan pula di atas langit-langit dgn perlahan utk menghilangkan bau yg ada.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan tentang permasalahan cara menggunakan siwak apakah memanjang atau melintang: “Memungkinkan utk dikatakan: cara penggunaan kembali kepada apa yg dituntut oleh keadaan. Apabila keadaan menuntut utk bersiwak dgn memanjang mk dilakukan dgn memanjang. Apabila keadaan menuntut utk bersiwak dgn melintang mk dilakukan dgn melintang. Karena tdk ada sunnah yg jelas dlm hal ini.”

Bersiwak dgn Tangan Kanan atau Tangan Kiri?
Manakah yg lbh utama bersiwak dgn menggunakan tangan kanan atau tangan kiri?
Zainuddin Abul Fadhl Abdurrahim bin Al-Husain Al-‘Iraqi rahimahullahu berkata: “Sebagian orang belakangan dari kalangan Hanabilah yg pernah aku lihat menyebutkan bahwa ia bersiwak dgn tangan kanannya. Karena terdapat dlm sebagian jalan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yg masyhur bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mendahulukan yg kanan ketika menyisir rambut mengenakan sandal bersuci dan bersiwak.4
Saya sendiri pernah mendengar dari sebagian guru kami dari kalangan Syafi’iyyah bahwa perkara dibangun di atas permasalahan apakah siwak itu termasuk bab tath-hir dan tathyib atau termasuk bab menghilangkan kotoran? Bila kita menganggap termasuk bab tath-hir dan tathyib mk disenangi menggunakan siwak dgn tangan kanan. Namun bila kita menganggap termasuk bab menghilangkan kotoran mk disenangi menggunakan dgn tangan kiri. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yg menyatakan bahwa tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg kanan beliau gunakan utk bersuci dan utk makan sedangkan tangan kiri beliau gunakan utk cebok dan utk perkara yg bersentuhan dgn kotoran. Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dgn sanad yg shahih.5 Abu Dawud meriwayatkan pula dari hadits Hafshah bintu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

كَانَ يَجْعَلُ يَمِيْنَهُ لِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ وَثِيَابِهِ، وَيَجْعَلُ شِمَالَهُ لِمَا سِوَى ذلِكَ

“Beliau menggunakan tangan kanan beliau utk makan minum dan berpakaiannya. Sedangkan tangan kiri beliau gunakan utk selain itu.”6
Namun sebenar dalil yg dijadikan sandaran oleh kalangan Hanabilah tersebut7 tidaklah mendukung pendapat . Karena yg dimaukan dgn hadits tersebut adl memulai bagian/belahan kanan dlm bersisir memulai kaki kanan dlm memakai sandal memulai dgn anggota kanan dlm bersuci/wudhu memulai dgn sisi yg kanan dari mulut dlm bersiwak sebagaimana telah lewat. Adapun bila dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan tangan kanan utk melakukan hal itu mk hal ini butuh penukilan . Yang dzahir bersiwak termasuk bab menghilangkan kotoran sebagaimana menghilangkan ingus dan semisal mk dilakukan dgn tangan kiri.
Abul ‘Abbas Al-Qurthubi dari kalangan Malikiyyah secara jelas menyatakan pendapat ini. Beliau berkata dlm Al-Mufhim menghikayatkan dari Al-Imam Malik: “Tidak boleh bersiwak dlm masjid krn bersiwak termasuk menghilangkan kotoran. Wallahu a‘lam.”
Namun larangan bersiwak dlm masjid ini tdk ada dalil sehingga boleh dilakukan di dlm maupun di luar masjid bila memang diperlukan berdasarkan keumuman hadits:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

“Seandai aku tdk memberatkan umatku niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak tiap kali tiap kali hendak mengerjakan shalat.”
Namun sepantas seseorang tdk berlebih-lebihan dlm melakukan hingga sampai pada tingkat hendak muntah padahal berada di masjid. Karena khawatir dia akan muntah atau mengeluarkan darah sehingga mengotori masjid.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan disenangi tayammun dlm bersiwak dan disenangi mencuci siwak dgn air utk menghilangkan kotoran yg mungkin menempel padanya. Sebagaimana ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengabarkan:

كَانَ نَبْيُّ اللهِ صَلىَّ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَاكُ فَيُعْطِيْنِي السِّوَاكَ لأَغْسِلَهُ، فَأَبْدَأُ بِهِ فَأَسْتاَكُ ثُمَّ أَغْسِلُهُ، ثُمَّ أَدْفَعُهُ إِلَيْهِ

“Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersiwak lalu memberiku siwak tersebut utk kucuci. Lalu aku menggunakan utk bersiwak kemudian mencuci setelah menyerahkan kepada beliau8.” .
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Ulama berbeda pendapat apakah bersiwak dilakukan dgn tangan kanan atau tangan kiri. Sebagian mereka mengatakan: dgn tangan kanan krn siwak itu sunnah. Sementara sunnah merupakan ketaatan dan amalan qurbah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian bersiwak tdk dilakukan dgn tangan kiri krn tangan kiri itu digunakan utk menghilangkan kotoran berdasarkan kaidah bahwa tangan kiri digunakan utk kotoran sedangkan tangan kanan utk yg selainnya. Apabila siwak ini dianggap ibadah mk asal dilakukan dgn tangan kanan.
Ulama yg lain mengatakan: ‘Bersiwak menggunakan tangan kiri lbh utama.’ Ini pendapat yg masyhur dlm madzhab ini . Karena siwak itu utk menghilangkan kotoran sedangkan menghilangkan kotoran dilakukan dgn tangan kiri seperti hal istinja` dan istijmar .
Sebagian Malikiyyah berkata: “Dalam hal ini dirinci. Bila ia bersiwak utk mensucikan mulut sebagaimana bila ia bangun dari tidur atau menghilangkan makanan yg tersisa mk dia bersiwak dgn tangan kiri krn berkaitan dgn menghilangkan kotoran. Bila ia bersiwak utk memperoleh amalan sunnah mk dilakukan dgn tangan kanan krn ia bersiwak dgn tujuan utk melakukan qurbah sebagaimana bila ia baru saja berwudhu dan ia bersiwak ketika wudhu kemudian ia hendak mengerjakan shalat. mk ia bersiwak utk memperoleh pahala amalan sunnah.
perkara lapang dan tdk dibatasi krn tdk ada nash yg jelas yg menetapkannya.”

Boleh Bersiwak saat Berpuasa
Dalam hal ini ada hadits dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu:

رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لاَ أُحْصِي يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm beberapa kali yg tdk bisa aku hitung beliau bersiwak dlm keadaan beliau puasa.”
Namun hadits yg diriwayatkan oleh Ar-Tirmidzi Abu Dawud dan lain-lain ini dha’if/lemah krn ada perawi yg lemah sebagaimana dijelaskan dlm Irwa`ul Ghalil . Karena dha’if berarti hadits ini tdk bisa dijadikan sebagai sandaran/hujjah.
Sehingga permasalahan boleh bersiwak ketika sedang puasa kembali kepada dalil-dalil yg umum. Seperti hadits yg berisi anjuran utk bersiwak ketika hendak shalat dan saat berwudhu.
Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullahu menyatakan: “Al-Imam Asy-Syafi’i berpandangan bahwa tdk mengapa bagi orang yg berpuasa utk bersiwak pada awal dan akhir siang. Sementara Al-Imam Ahmad dan Ishaq memakruhkan bila dilakukan di akhir siang.”
Di antara yg berpendapat disunnahkan bersiwak secara mutlak saat puasa ataupun tdk adl Abu Hanifah dan Malik. Pendapat ini yg dipilih oleh Ibnu Taimiyyah. Dan pendapat ini yg penulis rajihkan. Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Yang benar adl disunnahkan siwak bagi orang yg puasa baik di awal siang ataupun di akhirnya. Ini merupakan madzhab jumhur.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Isyarat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا

“Siapa yg taat kepada Allah dan Rasul-Nya mk mereka itu bersama orang2 yg Allah berikan keni’matan kepada mereka dari kalangan para nabi shiddiqin syuhada dan orang2 shalih. Mereka itu adl sebaik-baik teman.”
2 Hadits di atas menunjukkan beberapa hal:
- Disenangi menggunakan siwak yg basah
- Sebelum digunakan sebaik siwak diperbaiki/dibaguskan terlebih dahulu
- Boleh menggunakan siwak milik orang lain setelah dibersihkan
- Boleh bersiwak di hadapan orang lain yakni bersiwak bukan perkara yg harus dilakukan dgn sembunyi-sembunyi. Seorang pemimpin/tokoh tidaklah tercela bila melakukan di hadapan orang yg dipimpinnya/bawahan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang rasul/imam dan pimpinan umat melakukan di hadapan ‘Abdurrahman bin Abi Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma
3 Yakni mengeluarkan suara seperti orang yg hendak muntah krn bersungguh-sungguh beliau bersiwak.
4 Hadits diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim namun tanpa penyebutan bersiwak tambahan ini ada dlm riwayat Abu Dawud no. 4140
5 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Misykatul Mashabih 1/348
6 Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir 2/4912
7Yaitu hadits yg menyatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi mendahulukan yg kanan ketika menyisir rambut mengenakan sandal bersuci dan bersiwaknya.
8 dlm ‘Aunul Ma‘bud Syarah Abi Dawud disebutkan: “Setelah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan siwak utk membersihkan mulut beliau menyerahkan kepada ‘Aisyah utk dihilangkan kotoran yg mungkin menempel pada siwak tersebut agar tabiat itu tdk merasa jijik utk menggunakan pada kali yg lain. ‘Aisyah pun menyatakan: “Aku mencucinya” yakni mencuci siwak tersebut utk mengharumkan dan membersihkannya. “Aku menggunakannya” kata ‘Aisyah yakni memakai siwak tersebut pada mulutku sebelum dicuci agar mendapatkan barakah mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Sumber: www.asysyariah.com