Apakah yg menyebabkan Islam memiliki resistensi tinggi menghadapi tantangan zaman yg menyebabkannya senantiasa survive dan estabilish sehingga cocok utk tiap zaman dan menembus batas teritorial ?. Tidak lain krn Islam memiliki karakteristik teguh dalam prinsip dan fleksibel dalam mensikapi perkembangan sehinga ia menjadi sebuah harmoni keseimbangan yg indah. Islam telah menempatkan masing-masing dari keduanya dalam posisi yg benar maka ia menjaga keteguhan prinsip pada hal-hal yg kekal dan lestari serta memberikan keleluasaan dan fleksibilitas serta kelenturan dalam hal-hal yg menerima perubahan dan perkembangan aktual. Karakteristik ini tidak terdapat pada risalah samawi lainnya maupun pada ajaran agama yg lain di dunia krn syari’at samawi selain Islam hanya diperuntukkan serta cocok utk suatu zaman tertentu tidak pada yg lainnya sehingga biasanya mewakili kekerasan prinsip atau bahkan kejumudan dan sikap statis yg kaku. Sejarah mencatat tokoh-tokoh agama samawi dgn sikapnya yg tidak menerima perkembangan sains dan anti terhadap gerakan ilmiah serta apatis terhadap hal-hal yg baru dalam bidang pemikiran hukum atau manajemen. Keteguhan prinsip dalam Islam akan kita dapati pada hal-hal yg penting yg sifatnya kekal dan tidak akan pernah berubah selamanya yaitu

    Rukun Iman yg kesemuanya berkaitan dgn aqidah
    Hal-hal yg diharamkan secara tegas seperti sihir membunuh zina riba dan lain sebagainya.
    Nilai-nilai utama keluhuran budi pekerti seperti kejujuran amanah ‘iffah sabar malu dan sebagainya.
    Syari’at Islam yg Qoth’i dalam pernikahan talak warisan hudud qishash dan sebagainya yg kesemuanya tetap dgn dalil-dalil qoth’i. Oleh krn itu kita dapati contoh dalam sejarah ketika Rasulullah Sallallahu’alaihi wasallam ditawari sebuah kompromi dalam masalah aqidah dgn menyembah Allah selama setahun dan setahun berikutnya menyembah berhala Allah menjawabnya dgn menurunkan surat Al Kafirun yg menjelaskan akan keteguhgan prinsip dalam hal keyakinan yg tak bisa ditawar-tawar lagi. Ini berbeda pada saat Rasulullah mengadakan perjanjian di Hudaibiyyah. Kita dapat melihat sikap fleksibilitas Rasulullah tampak jelas dalam gambaran yg paling indah. Hal itu tampak pada ucapan beliau di hari itu “Demi Allah tidaklah kaum Quraisy mengajakku hari ini kepada suatu garis kerjasama dimana mereka memintaku utk menyambung silaturahmi kecuali saya memberikannya kepada mereka.” Penerimaan beliau Sallallahu’alaihi wasallam utk menulis naskah perjanjian damai “Dengan nama-Mu ya Allah” sebagai ganti “Dengan nama-Mu Ya Allah yg maha pengasih lagi Maha Penyayang” yg merupakan pengatasnamaan yg ditolak oleh kaum Quraisy. Juga penerimaan beliau utk menghapus kata Rasulullah setelah namanya yg mulia pada saat Ali Radiallahu anhu justru menolak utk menghapusnya sampai Rasulullah sendiri yg menghapusnya. Serta pada penerimaan beliau terhadap sarat-sarat yg diajukan oleh Quraisy pada perjanjian tersebut. Rahasia dari fleksibilitas dalam hal ini serta keteguhan prinsip dalam sikap sebelumnya adl ; bahwa sikap-sikap pertama berkaitan dgn prinsip dan aqidah maka kompromi dalam hal ini tidak dapat diterima sementara pada sikap yg terakhir adl berkaitan dgn urusan parsial politik temporal ataupun penampilan lahir simbolis maka beliau bersikap longgar dan fleksibel. Adapun wilayah fleksibilitas dalam Islam mencakup hal-hal berikut
    Wilayah kekosongan hukum yaitu wilayah yg dibiarkan oleh nash ntuk diserahkan pada ijtihad para penguasa muslim ulama dan para ahli ijtihad. Seperti kewajiban Syura dalam Islam bagaimanakah mekanisme syura itu diserahkan kepada ijtihad berdasarkan maslahat umat ‘Urf dalam batasan yg tidak bertentangan dgn syari’at.
    Wilayah Nash interpretatif yg menampung lbh dari satu penafsiran. Maka didisitu terdapat keluasan bagi orang yg menginginkan tarjih perbandingan serta pendapat yg paling dekat kepada kebenaran. Perubahan fatwa dgn perubahan zaman kondisi dan Adat Istiadat Dari sini para peneliti dari ulama fiqih belum menemukan di berbagai masa suatu kenaifan atau keberatan apapun dalam menyatakan keharusan berubahnya fatwa dgn perubahan zaman tempat tradisi dan kondisi. Ibnu ‘Abidin salah seorang ulama abad ketiga belas menyebutkan dalam risalahnya bahwa kebanyakan hukum berbeda-beda dgn perbedaan zaman krn perubahan tradisi generasinya atau krn terjadinya kebutuhan darurat atau krn kerusakan generasi zaman itu dimana kalau hukum itu tetap seperti semula niscaya mengakibatkan kesulitan dan berbahaya bagi manusia dan niscaya akan menyalahi kaidah-kaidah syari’ah yg dibangun berdasarkan keringanan kemudahan dan mencegah bahaya dan kerusakan.

    sumber file al_islam.chm