Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi LcFenomena kesurupan masih mengundang perdebatan hingga saat ini. Kalangan yg menolak masih menggunakan alasan klasik yakni “tidak bisa diterima akal”. Semoga kajian berikut bisa membuka kesadaran kita bahwa syariat Islam sejatinya dibangun di atas dalil bukan penilaian pribadi atau logika orang per orang.MuqaddimahPeristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia masih menjadi teka-teki bagi sebagian orang.

Peristiwa yg lbh dikenal dgn istilah kesurupan atau kerasukan jin ini acap kali menjadi polemik di tengah masyarakat kita yg heterogen. Sehingga sekian persepsi bahkan kontroversi sikap pun meruak dan bermunculan ke permukaan. Ada yg membenarkan dan ada pula yg mengingkari. Bahkan ada pula yg menganggapnya sebagai perkara dusta dan termasuk dari kesyirikan.Para pembaca yg mulia sebagai muslim sejati yg berupaya meniti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya tentunya prinsip ‘berpegang teguh dan merujuk kepada Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbeda pendapat’ haruslah selalu dikedepankan. Sebagaimana bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kalam-Nya nan suci:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا“Dan berpegang teguhlah kalian semua dgn tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai.” Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan kepada kita agar berpegang teguh dgn Kitab-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta merujuk kepada keduanya ketika terjadi perselisihan. Ia memerintahkan kepada kita agar bersatu di atas Al- Qur`an dan As-Sunnah secara keyakinan dan amalan…” Demikianlah timbangan adil yg dijunjung tinggi oleh Islam. Berangkat dari sini maka kami bermaksud menyajikan –di tengah-tengah anda– beberapa sajian ilmiah berupa keterangan atau fatwa dari Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin ini.

Dengan harapan ini bisa menjadi pelita dalam gelapnya permasalahan dan pembuka bagi cakrawala berpikir kita semua. Amiin ya Rabbal ‘Alamin…Penjelasan Asy-Syaikh Abdul Azizbin Abdullah bin Baz rahimahullahuAsy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu berkata:“Segala puji hanyalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Shalawat dan salam semoga tercurahkan keharibaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluarganya para shahabatnya dan orang-orang yg haus akan petunjuknya. Amma ba’du:Pada bulan Sya’ban tahun 1407 H sejumlah surat kabar lokal dan nasional telah memuat berita –ada yg ringkas dan ada yg detail– tentang masuk Islamnya sejumlah jin di hadapanku di kota Riyadh yg sedang merasuki tubuh salah seorang wanita muslimah. Sebelumnya jin tersebut telah mengumumkan keislamannya di hadapan saudara Abdullah bin Musyarraf Al-‘Amri seorang penduduk kota Riyadh. Setelah dibacakan ayat-ayat Al-Qur`an kepada wanita yg kerasukan itu dan berdialog dgn jin itu serta mengingatkan bahwa perbuatannya itu merupakan dosa besar dan kedzaliman yg diharamkan saudara Abdullah pun menyuruhnya agar keluar dari tubuh si wanita. Jin itu pun patuh kemudian menyatakan keislamannya di hadapan saudara Abdullah ini.Abdullah dan para wali wanita itu ingin membawa si wanita kepadaku agar aku turut menyaksikan keislaman jin tersebut. Mereka pun datang kepadaku.Aku menanyai jin tersebut tentang sebab-sebab dia masuk ke dalam tubuh si wanita. Dia pun menceritakan kepadaku beberapa faktor penyebabnya. Dia berbicara melalui mulut si wanita itu akan tetapi suaranya adl suara seorang laki-laki dan bukan suara wanita yg ketika itu sedang duduk di kursi bersama-sama dgn saudara laki-lakinya saudara perempuannya dan Abdullah bin Musyarraf yg tidak jauh dari tempat dudukku.Sebagian masyayikh pun menyaksikan kejadian ini dan mendengarkan secara langsung ucapan jin tersebut yg telah menyatakan keislamannya. Dia menjelaskan bahwa asalnya dari India dan beragama Budha. Aku pun menasehatinya dan berwasiat kepadanya agar bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memintanya keluar dari tubuh si wanita serta tidak menzaliminya. Dia pun menyambut ajakanku itu seraya mengatakan: “Aku merasa puas dengan agama Islam.”Aku wasiatkan pula kepadanya agar mengajak kaumnya utk masuk Islam setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah. Dia menjanjikan hal itu lalu ia pun keluar dari tubuh si wanita. Ucapan terakhir yg dia katakan ketika itu: “Assalamu’alaikum”. Setelah itu barulah si wanita mulai berbicara dgn suara aslinya dan benar-benar merasakan kesembuhan serta kebugaran pada tubuhnya.Selang sebulan atau lebih si wanita ini datang kembali kepadaku bersama dua saudara laki-laki paman dan saudarinya. Dia mengabarkan bahwa keadaannya sehat wal afiat dan syukur alhamdulillah jin itu tidak mendatanginya lagi. Aku bertanya kepada wanita tersebut tentang kondisinya saat kemasukan jin. Dia menjawab bahwa saat itu merasa selalu dihantui oleh pikiran- pikiran kotor yg bertentangan dgn syariat. Pikirannya selalu condong kepada agama Budha serta antusias utk mempelajari buku-buku agama tersebut. Kini setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkannya dari gangguan jin tersebut sirnalah berbagai pikiran yg menyimpang itu.Kemudian sampailah berita kepadaku bahwa Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi mengingkari peristiwa ini seraya menyatakan bahwa ini adl penipuan dan kedustaan. Bisa jadi itu rekayasa rekaman yg dibawa oleh si wanita dan bukan dari ucapan jin sama sekali. {Seketika itu juga –pen.} kuminta kaset rekaman tentang dialogku dgn jin tersebut. Setelah kudengarkan secara seksama aku pun yakin bahwa suara itu adl suara jin. Sungguh aku sangat heran dengan pernyataan yg dilontarkan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi bahwa itu adl rekayasa rekaman belaka. Karena aku berulang kali mengajukan pertanyaan kepada jin tersebut dan dia pun selalu menjawabnya. Bagaimana mungkin akal sehat bisa membenarkan adanya sebuah tape/alat rekam yg bisa ditanya dan bisa menjawab?! Sungguh ini merupakan kesalahan fatal dan statement yg sulit utk diterima.Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi juga menyatakan bahwa masuk Islamnya seorang jin oleh seorang manusia bertentangan dgn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yg tidak dimiliki seorang pun sesudahku.” Tidak diragukan lagi pernyataan di atas merupakan kesalahan dan pemahaman yg keliru semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya hidayah.Masuk Islamnya seorang jin oleh manusia tidaklah menyelisihi doa Nabi Sulaiman .

Karena sungguh telah banyak jin yg masuk Islam melalui Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat Al-Ahqaf dan Al-Jin. Demikian pula telah disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:إِنَّ الشَّيْطَانَ عَرَضَ لِي فَشَّدَ عَلَيَّ لِيَقْطَعَ الصَّلاَةَ عَلَيَّ فَأَمْكَنَنِيَ اللهُ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أُوْثِقَهُ إِلَى سَارِيَةٍ حَتَّى تُصْبِحُوا فَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ فَذَكَرْتُ قَوْلَ سُلَيْمَانَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ ، فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِيًا. هَذَا لَفْظُ الْبُخَارِي“Sesungguhnya setan telah menampakkan diri di hadapanku utk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku utk menghadapinya {baca: mengalahkannya} sehingga aku dapat mendorongnya dgn kuat. Sungguh sebenarnya aku ingin mengikatnya di sebuah tiang hingga kalian dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah kepadaku kerajaan yg tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.” Demikianlah lafadz yg diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari. Adapun lafadz Al- Imam Muslim adl sebagai berikut:إِنَّ عِفْرِيْتًا مِنَ الْجِنِّ جَعَلَ يَفْتِكُ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ وَإِنَّ اللهَ أَمْكَنَنِيْ مِنْهُ فَذَعَتُّهُ فَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى جَنْبِ سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا تَنْظُرُونَ إِلَيْهِ أَجْمَعُونَ أَوْ كُلُّكُمْ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِيْ سُلَيْمَانَ فَرَدَّهُ اللهُ خَاسِئًا.“Sesungguhnya ‘Ifrit dari kalangan jin telah menampakkan diri di hadapanku tadi malam utk memutus shalatku. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan kepadaku utk menghadapinya sehingga aku dapat mendorongnya dgn kuat.

Sungguh sebenarnya aku ingin mengikatnya di salah satu tiang masjid hingga kalian semua dapat menontonnya di pagi harinya. Tapi aku teringat akan ucapan saudaraku Nabi Sulaiman ‘alaihissalam: ‘Ya Rabbi anugerahkanlah kepadaku kerajaan yg tidak dimiliki seorang pun sesudahku’. Maka Allah mengusirnya dalam keadaan hina.”Para pembaca yg budiman peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh manusia hingga membuatnya kesurupan telah ada keterangannya di dalam Kitabullah Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ijma’ umat ini. Maka tidak bisa dibenarkan bagi orang yg tergolong intelek utk mengingkarinya tanpa berlandaskan ilmu dan petunjuk ilahi. Bahkan krn semata-mata taqlid kepada sebagian ahli bid’ah yg berseberangan dgn Ahlus Sunnah wal Jamaah. Wallahul musta’an walaa haula walaa quwwata illa billah. Akan aku sajikan utk anda –wahai pembaca– beberapa perkataan ahlul ilmi tentang masalah ini insya Allah.Berikut ini pernyataan para mufassir berkenaan dgn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ“Orang-orang yg makan riba itu tidaklah berdiri melainkan seperti berdirinya orang yg kerasukan setan lantaran penyakit gila.”  Al-Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata: “Yang dimaksud dgn ayat tersebut adalah orang yg kesurupan di dunia yg mana setan merasukinya hingga menjadi gila {rusak akalnya}.” Al-Imam Al-Baghawi berkata tentang makna al-massu: “Yaitu gila/hilang akal. Seseorang disebut مَمْسُوْسٌ jika dia menjadi gila atau rusak akalnya.”Al-Imam Ibnu Katsir berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yg kesurupan saat setan merasukinya yaitu berdiri dalam keadaan sempoyongan. Shahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: ‘Seorang pemakan riba akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan gila .’ . Seperti itu pula yg diriwayatkannya dari Auf bin Malik Sa’id bin Jubair As-Suddi Rabi’ bin Anas Qatadah dan Muqatil bin Hayyan .” Al-Imam Al-Qurthubi berkata: “Di dalam ayat ini terdapat argumen tentang rusaknya pendapat orang yg mengingkari adanya kesurupan jin. Juga argumen tentang rusaknya anggapan bahwa itu hanyalah proses alamiah yg terjadi pada tubuh manusia serta rusaknya anggapan bahwa setan tidak dapat merasuki tubuh manusia.”Perkataan para ahli tafsir yg semakna dgn ini cukup banyak. Barangsiapa yg mencari insya Allah akan mendapatkannya.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam kitabnya Idhah Ad-Dilalah Fi ‘Umumir Risalah Lits-tsaqalain yg terdapat dalam Majmu’ Fatawa –setelah berbicara beberapa hal– berkata: “Oleh krn itu sekelompok orang dari kalangan Mu’tazilah semacam Al-Jubba’i Abu Bakr Ar-Razi dan yg semisalnya mengingkari peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan namun tidak mengingkari adanya jin. Hal itu krn dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang peristiwa masuknya jin ke dalam tubuh orang yang kesurupan tidak sejelas dalil yg menunjukkan tentang adanya jin walaupun sesungguhnya mereka itu keliru. Karena itu Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah bahwasanya mereka {yakni Ahlus Sunnah} menyatakan: “Sesungguhnya jin itu dapat masuk ke dalam tubuh orang yg kesurupan sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ“Orang-orang yg makan riba itu tidaklah berdiri melainkan seperti berdirinya orang yg kerasukan setan lantaran penyakit gila.” Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yg mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yg kesurupan.’ Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar pada tempatnya.”Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa juga mengatakan: “Keberadaan jin merupakan perkara yg benar menurut Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah {para pendahulu umat ini} dan para ulamanya. Demikian pula masuknya jin ke dalam tubuh manusia juga merupakan perkara yg benar sesuai dgn kesepakatan para imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ“Orang-orang yg makan riba itu tidaklah dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yg kerasukan setan lantaran penyakit gila.” Di dalam kitab Ash-Shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” {HR.

Al-Bukhari Kitab Al-Ahkam no. 7171 dan Muslim Kitab As-Salam no. 2175}Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yg mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yg kesurupan.’Apa yg Al-Imam Ahmad katakan ini adl perkara yg masyhur. Sangat mungkin seseorang yang mengalami kesurupan berbicara dgn sesuatu yg tidak dipahaminya. Ketika tubuhnya dipukul dgn keras pun ia tidak merasakannya. Padahal bila pukulan itu ditimpakan kepada unta jantan niscaya akan kesakitan. Sebagaimana ia tidak menyadari pula apa yg diucapkannya. Seorang yg kesurupan terkadang dapat menarik tubuh orang lain yg sehat.

Dia juga dapat menarik alas duduk yg didudukinya serta dapat memindahkan berbagai macam benda dari satu tempat ke tempat yg lain dan sebagainya. Siapa saja yg menyaksikannya niscaya meyakini bahwa yg berbicara melalui mulut orang yg kesurupan itu dan yg menggerakkan benda-benda tadi bukanlah diri orang yg kesurupan tersebut. Tidak ada para imam yg mengingkari masuknya jin ke dalam tubuh orang yg kesurupan. Barangsiapa mengklaim bahwa syariat ini telah mendustakan peristiwa tersebut berarti dia telah berdusta atas nama syariat. Dan sesungguhnya tidak ada dalil-dalil syar’i yg menafikannya.”-sekian nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-Al-Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad berkata: “Kesurupan ada dua macam:1. Kesurupan yg disebabkan oleh gangguan roh jahat yg ada di muka bumi ini.2. Kesurupan yg disebabkan oleh gangguan fisik yg amat buruk.Jenis kedua inilah yg dibahas oleh para dokter berikut faktor penyebab dan cara pengobatannya.Adapun kesurupan yg disebabkan oleh gangguan roh jahat para pemuka dan ahli kedokteran juga mengakui eksistensinya. Menurut mereka pengobatannya harus dgn roh-roh yg mulia lagi baik agar dapat melawan roh-roh yg jahat lagi jelek itu.

Sehingga dapat mengatasi pengaruh-pengaruh buruknya bahkan dapat membatalkan tindak kejahatannya.Keyakinan semacam ini telah dinyatakan oleh Buqrath dalam beberapa bukunya berikut beberapa jenis pengobatan utk kesurupan. Buqrath mengatakan: ‘Pengobatan ini hanya berfungsi utk kesurupan yg disebabkan oleh gangguan fisik dan masuknya zat-zat tertentu ke dalam tubuh. Sedangkan kesurupan yg disebabkan oleh gangguan roh-roh jahat {termasuk jin/setan} maka pengobatan di atas tidaklah bermanfaat.’Adapun sebagian dokter yg bodoh dan rendah –terlebih yg mengagungkan paham zandaqah – mengingkari kesurupan. Mereka juga tidak mengakui adanya efek buruk roh-roh tersebut terhadap tubuh orang yg kesurupan.

Mereka sesungguhnya telah dikuasai oleh kebodohan. Sebab menurut ilmu kedokteran sendiri jenis kesurupan semacam ini benar-benar ada dan tidak ada alasan utk mengingkarinya.

Terlebih bila keberadaannya dapat dibuktikan pula oleh panca indra dan realita.Berkenaan dgn klaim para dokter tersebut bahwa kesurupan itu diakibatkan oleh gangguan fisik memang bisa dibenarkan. Namun hal ini berlaku pada sebagian jenis kesurupan saja dan tidak secara keseluruhan.” –Hingga perkataan beliau–: “Kemudian datanglah para dokter dari kalangan zanadiqah yg tidak mengakui adanya kesurupan kecuali yg diakibatkan oleh gangguan fisik saja. Orang yg berakal dan mengetahui roh berikut gangguannya akan tertawa melihat kebodohan dan lemahnya akal mereka itu.Untuk mengobati kesurupan jenis ini perlu memperhatikan dua hal:1. Berkaitan dgn diri orang yg kesurupan itu sendiri.2. Berkaitan dgn orang yg mengobatinya.Adapun yg berkaitan dgn diri orang yg kesurupan itu sendiri maka dgn kekuatan jiwanya dan kemantapannya dalam menghadap Pencipta roh-roh tersebut {yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala} serta kesungguhannya dalam meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berpadu antara hati dan lisannya. Karena kondisinya ibarat pertempuran yg mana seseorang tidak akan mampu menundukkan musuhnya dgn senjata yang dimilikinya kecuali bila terpenuhi dua hal: senjatanya benar-benar tajam dan ayunan tangannya benar-benar kuat. Di saat kurang salah satunya maka senjata itu pun kurang berfungsi. Lalu bagaimana jika tidak didapati kedua hal tersebut?! Di mana hatinya kosong dari tauhid tawakkal takwa dan kemantapan dalam menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu lebih dari itu yakni dia tidak memiliki senjata.”Sedangkan yg berkaitan dgn orang yg mengobati dia pun harus memiliki dua hal yg telah disebutkan di atas. Sampai-sampai di antara orang yg mengobati itu ada yg cukup mengatakan : ‘Keluarlah darinya!’ atau ‘Bismillah’ atau ‘Laa haula wala quwwata illa billah.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah mengatakan: ‘Keluarlah wahai musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala! Aku adl Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’Aku pernah menyaksikan Syaikh kami mengutus seseorang kepada orang yg sedang kesurupan utk menyampaikan kepada roh yg ada pada diri orang yg kesurupan itu: “Syaikh menyuruhmu utk keluar {dari tubuh orang ini} krn perbuatan itu tidak halal bagimu!” Seketika itu sadarlah orang yg kesurupan tersebut. Dan terkadang beliau menanganinya sendiri. Ada kalanya roh itu jahat sehingga utk mengusirnya pun harus dgn pukulan. Ketika orang yg kesurupan itu tersadar dia tidak merasakan rasa sakit akibat pukulan tersebut.Sungguh kami dan yg lainnya sering kali menyaksikan beliau rahimahullahu melakukan pengobatan semacam itu.” –Hingga perkataan beliau–: “Secara garis besar kesurupan jenis ini berikut pengobatannya tidaklah diingkari kecuali oleh orang yg minim ilmu akal dan pengetahuannya.Kebanyakan masuknya roh-roh jahat ini ke dalam tubuh seseorang disebabkan minimnya agama dan kosongnya hati serta lisan dari hakekat dzikir permintaan perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta pembentengan keimanan yg diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ketika ia tidak lagi memiliki senjata dan kosong sama sekali dari pembentengan diri masuklah roh-roh jahat itu kepadanya.” -sekian nukilan dari Ibnul Qayyim-Dari beberapa dalil syar’i yg telah kami sebutkan dan juga ijma’ ahlul ilmi dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah tentang kemungkinan masuknya jin ke dalam tubuh manusia maka menjadi jelaslah bagi para pembaca akan batilnya pernyataan orang-orang yg mengingkari permasalahan ini. Menjadi jelas pula kekeliruan Asy-Syaikh ‘Ali Ath-Thanthawi dalam pengingkarannya tersebut. Dia berjanji utk rujuk kepada kebenaran kapan pun tampak baginya. Maka dari itu hendaknya dia kembali kepada kebenaran setelah membaca keterangan kami. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniakan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua.” {Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram hal. 1586-1595}Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahuSuatu hari Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu ditanya: “Adakah dalil yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia?”Beliau menjawab “Ya. Ada dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yg menunjukkan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia.Dari Al-Qur`anul Karim adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ“Orang-orang yg makan riba itu tidaklah dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yg kerasukan setan lantaran penyakit gila.” Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Orang-orang pemakan riba itu tidaklah dibangkitkan dari kubur mereka di hari kiamat melainkan seperti bangkitnya orang yg kesurupan saat setan merasukinya.”Sedangkan dalil dari As-Sunnah adl sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ“Sesungguhnya setan itu dapat berjalan pada tubuh anak cucu Adam melalui aliran darah.” {HR.

Al-Bukhari Kitab Al-Ahkam no.7171 dan Muslim Kitab As-Salam no. 2175}Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu dalam Maqalat Ahlis Sunnah Wal Jama’ah berkata: “Bahwasanya mereka –yakni Ahlus Sunnah– menyatakan: ‘Sesungguhnya jin dapat masuk ke dalam tubuh orang yg kesurupan’.” Beliau berdalil dgn ayat di atas.Abdullah bin Al-Imam Ahmad rahimahumallahu berkata: “Aku pernah berkata pada ayahku: ‘Sesungguhnya ada sekelompok orang yg mengatakan bahwa jin itu tidak dapat masuk ke dalam tubuh manusia.’ Maka ayahku berkata: ‘Wahai anakku mereka itu berdusta. Bahkan jin dapat berbicara melalui mulut orang yg kesurupan.’Ada beberapa hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg diriwayatkan Al-Imam Ahmad dan Al-Baihaqi: “Bahwasanya seorang bocah gila didatangkan di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata {kepada jin yg merasukinya -pent} :Keluarlah wahai musuh Allah! Aku adl Rasulullah.’ Maka sembuhlah bocah tersebut.” Dari sini engkau dapat mengetahui bahwa permasalahan masuknya jin ke dalam tubuh manusia ada dalilnya dari Al-Qur`anul Karim dan juga dua dalil dari As-Sunnah.Inilah sesungguhnya pendapat Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan para imam dari kalangan as- salafush shalih. Realita pun membuktikannya. Walaupun demikian kami tidak mengingkari adanya penyebab lain bagi penyakit gila seperti lemahnya syaraf atau rusaknya jaringan otak dll.” {Dikutip dan diterjemahkan dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah fil Masa`il Al-‘Ashriyyah Min Fatawa ‘Ulama Al-Balad Al-Haram hal. 1563-1564}PenutupPembaca yg budiman demikianlah sajian ilmu dari dua ulama besar Ahlus Sunnah Wal Jamaah jaman ini seputar permasalahan kesurupan atau kerasukan jin yg berpijak di atas dalil dari Al-Qur`an As-Sunnah dan ijma’ para ulama terpercaya umat Islam.

Adapun kesimpulannya sebagai berikut:1. Keberadaan jin merupakan perkara yg benar menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya.2. Masuknya jin ke dalam tubuh manusia benar pula adanya menurut Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kesepakatan salaful ummah dan para ulamanya serta realita pun membuktikannya.3. Para pemuka dan ahli kedokteran pun mengakui adanya peristiwa kesurupan jin sebagaimana keterangan Al-Imam Ibnul Qayyim di atas. Sehingga barangsiapa mengklaim bahwasanya syariat ini telah mendustakan adanya kesurupan jin berarti dia telah berdusta atas nama syariat itu sendiri.4. Masuk Islamnya jin melalui seorang manusia diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dgn doa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam:وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَََحَدٍ مِنْ بَعْدِي“Dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yg tidak dimiliki seorang pun sesudahku.”Wallahu a’lam.
sumber : file chm Darus Salaf 2