Keimanan yg Tidak Membuahkan Hasil

penulis Al-Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi
Syariah Tafsir 20 - Juni - 2007 10:29:01

إِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيْدُوْنَ أَن يُفَرِّقُواْ بَيْنَ اللهِ وَرُسُلِهِ وَيقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ وَيُرِيْدُوْنَ أَن يَتَّخِذُواْ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيْلاً أُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ حَقًّا وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا

“Sesungguh orang2 yg kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud membedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya dgn mengatakan: ‘Kami beriman kepada yg sebagian dan kami kafir terhadap sebagian ’ serta bermaksud mengambil jalan di antara yg demikian merekalah orang2 yg kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan utk orang2 yg kafir itu siksaan yg menghinakan.”

Penjelasan Mufradat Ayat
يَكْفُرُوْنَ
“Yang kafir.” Yang dimaksud orang2 kafir di sini adl Yahudi dan Nashara sebagaimana yg disebutkan oleh Qatadah As-Suddi dan yg lainnya.
سَبِيْلاً
“Jalan.” Yang dimaksud di sini adl agama yg mereka jadikan sebagai keyakinan. Ini disebutkan oleh Ibnu Juraij. Adapula yg mengatakan: jalan menuju kesesatan yg mereka ada-adakan bid’ah yg mereka buat mereka mengajak orang2 bodoh dari kalangan manusia kepadanya.

Penjelasan Makna Ayat
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala ini menjelaskan tentang keadaan sebuah kelompok yg berada di antara dua kelompok yg telah jelas kedudukan dan sikap mereka. Dua kelompok yg jelas tersebut adalah:
Pertama: kelompok yg mengimani segala hal yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka adl kaum mukminin.
Kedua: kelompok yg mengingkari seluruh apa yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Mereka adl kaum kafir yg jelas kekufurannya.
Adapun kelompok yg ketiga adl kelompok yg disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat ini yaitu orang2 yg mengimani sebagian rasul dan tdk mengimani sebagian lain serta menyangka bahwa ini merupakan jalan yg dapat menyelamatkan mereka dari siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun itu hanyalah angan-angan belaka sebab mereka bermaksud memisahkan antara keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para rasul-Nya. Sebab barangsiapa yg bersikap loyal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala secara hakiki niscaya dia akan bersikap loyal kepada seluruh rasul-Nya sebagai wujud loyalitas yg sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan barangsiapa yg memusuhi salah seorang dari kalangan rasul-Nya mk sungguh dia telah memusuhi Allah k dan memusuhi seluruh rasul-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيْلَ وَمِيْكَالَ فَإِنَّ اللهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِيْنَ
“Barangsiapa yg menjadi musuh Allah malaikat-malaikat-Nya rasul-rasul-Nya Jibril dan Mikail mk sesungguh Allah adl musuh orang2 kafir.”
Demikian pula orang yg kufur terhadap seorang rasul mk sungguh ia telah mengkufuri seluruh rasul termasuk terhadap rasul yg disangka telah diimaninya. Oleh krn itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa mereka ini adl orang2 kafir yg sebenar-benar agar tdk menimbulkan persangkaan bahwa mereka berada di sebuah tingkatan antara keimanan dan kekafiran.
Dan sisi penyebab kafir mereka –meskipun terhadap sesuatu yg mereka menyangka beriman kepadanya- bahwa tiap dalil yg mengantarkan mereka menuju keimanan terhadap apa yg mereka imani juga terdapat yg semisal atau bahkan lbh daripada itu terhadap nabi yg mereka ingkari. Demikian pula tiap syubhat yg mereka gunakan utk meragukan kenabian seorang nabi yg mereka ingkari juga terdapat yg semisal atau bahkan lbh dari itu terhadap nabi yg mereka imani.
Sehingga tdk ada yg tinggal dari mereka melainkan syhwt (**) dan mengikuti hwa nfsu (**) serta sekedar pengakuan yg memungkinkan bagi yg lain utk mendatangkan lawan yg semisalnya. Sehingga tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyifatkan bahwa mereka itu adl orang2 kafir yg sebenar-benar mk Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan hukuman yg meliputi mereka secara menyeluruh dgn firman-Nya “Dan Kami telah persiapkan bagi orang2 kafir siksaan yg menghinakan” sebagaimana mereka yg bersikap sombong utk beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mk Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menghinakan mereka dgn siksaan yg sangat pedih dan menghinakan.
Qatadah rahimahullahu berkata dlm menjelaskan ayat ini: “Mereka adl musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kalangan Yahudi dan Nashara Yahudi beriman kepada Taurat dan Musa serta mengingkari Injil dan Nabi Isa. Kaum Nashara beriman kepada injil dan Isa serta mengingkari Al-Qur`an dan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. mk mereka lbh memilih jalan agama Yahudi dan Nashrani padahal kedua merupakan agama bid’ah yg tdk berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu meninggalkan Islam yg merupakan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yg dengan Dia mengutus para rasul-Nya.”

Tidak Ada Kedudukan yg Ketiga antara Haq dan Batil
Ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg mulia ini juga menerangkan bahwa tdk ada kedudukan di antara kekufuran dan keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya membagi dua keadaan adakala keimanan dan adakala kekufuran. Adapun yg disangka oleh mereka yg beriman terhadap sebagian apa yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyangka bahwa hal tersebut bermanfaat bagi mereka mk ayat ini membatalkan persangkaan mereka itu dan mendustakan apa yg selama ini mereka imani disebabkan krn seseorang tdk diperkenankan utk memilih apa yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sesuai dgn kehendak hwa nfsu (**) namun yg diinginkan adl sikap istislam dan inqiyad terhadap segala apa yg datang Allah Jalla wa ‘Ala tanpa membedakan antara yg satu dgn yg lainnya. Di dlm ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang2 Yahudi:

أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ

“..Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yg lain? Tiadalah balasan bagi orang yg berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dlm kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yg sangat berat. Allah tdk lengah dari apa yg kamu perbuat.”
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan pula bahwa sikap beriman kepada sebagian isi kitab yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu mengkufuri sebagian lain merupakan sikap yg mendatangkan kehinaan atas mereka dlm kehidupan dunia serta siksaan yg pedih dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat. Dan tidaklah diringankan siksaan itu atas mereka dan mereka dilaknat Allah Subhanahu wa Ta’ala disebabkan kekufuran mereka.
Ini semua menunjukkan bahwa mengingkari sebagian apa yg datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti mengingkari secara menyeluruh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُوْنَ
“Maka itulah Allah Rabb kamu yg sebenarnya; mk tdk ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. mk bagaimanakah kamu dipalingkan ?”
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdil Wahhab An-Najdi rahimahullahu berkata:
“Tidak ada perselisihan di kalangan para ulama seluruh bahwa jika seseorang membenarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm satu perkara dan mendustakan dlm perkara lain mk dia kafir dan tdk tergolong ke dlm Islam. Demikian pula jika ia mengimani sebagian Al-Qur`an dan mengingkari sebagian yg lain seperti orang yg mengikrarkan kalimat tauhid dan mengingkari kewajiban shalat atau mengikrarkan tauhid dan shalat dan mengingkari wajib zakat atau meyakini semua itu dan mengingkari wajib puasa atau meyakini semua itu dan mengingkari wajib haji. Tatkala sebagian manusia di zaman Nabi n tdk tunduk terhadap perintah haji mk Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya tentang mereka:
فِيْهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيْمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
“Pada terdapat tanda-tanda yg nyata maqam Ibrahim; barangsiapa memasuki menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adl kewajiban manusia terhadap Allah yaitu orang yg sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari mk sesungguh Allah Maha Kaya dari semesta alam.”

Hukum Mengingkari Sebagian Apa yg Diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala
Di antara faedah yg dapat kita petik dari ayat ini bahwa seorang muslim diharuskan utk menerima seluruh apa yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa membedakan antara satu hukum dgn hukum yg lain. Sebab barangsiapa mengingkari satu hukum di antara apa yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm keadaan dia mengetahui bahwa itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala mk sungguh dia telah kafir. Termasuk di antara mereka adl orang yg menghalalkan apa yg diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atau mengharamkan apa yg dihalalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm keadaan dia mengetahuinya. Seperti contoh perkataan seseorang: “Saya tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan zina tapi menurut saya bahwa zina itu boleh-boleh saja.” Atau mengatakan: “Saya mengerti bahwa Islam mengharamkan korupsi tapi menurut saya korupsi itu hukum halal” atau yg semisalnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Yang halal adl apa yg dihalalkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sedangkan yg haram adl apa yg diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Adapun agama adl apa yg disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Tidak diperbolehkan bagi seseorang keluar dari sesuatu yg telah disyariatkan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu syariat yg wajib bagi tiap pemimpin utk mengharuskan manusia mengamalkan yg wajib bagi para mujahidin utk berjihad di atas dan yg wajib atas tiap individu utk mengikuti dan menolongnya.”
Ishaq bin Rahuyah t berkata: “Barangsiapa yg sampai kepada berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg dia yakini keshahihan lalu dia menolak tanpa taqiyyah mk dia kafir.”
Ibnu Baththah rahimahullahu berkata pula: “Kalau sekira ada seseorang yg mengimani semua yg datang dari para rasul kecuali satu perkara mk penolakan terhadap satu perkara tersebut menjadikan kafir menurut seluruh para ulama.”
Ibnu Hazm rahimahullahu berkata: “ tdk memperkenankan seorang muslim yg telah meyakini tauhid utk merujuk kepada selain Al-Qur`an dan berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tdk pula memperkenankan utk meninggalkan apa yg dia temukan pada kedua . Jika dia melakukan itu setelah ditegakkan hujjah atas mk dia fasiq. Adapun yg melakukan dgn keyakinan menganggap halal/boleh keluar dari kedua dan mengharuskan taat kepada salah seorang dari selain kedua mk dia kafir dan ragu menurut kami.” Dan beliau berhujjah dgn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا
“Maka demi Rabbmu mereka tdk beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dlm perkara yg mereka perselisihkan kemudian mereka tdk merasa keberatan dlm hati mereka terhadap putusan yg kamu berikan dan mereka menerima dgn sepenuhnya.” (Al-Ihkam 1/89)
Beliau juga mengatakan: “Mereka bahwa barangsiapa beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan tiap apa yg beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa dari apa yg dinukilkan dari beliau dgn penukilan secara mutawatir dan dia ragu tentang tauhid perkara kenabian atau terhadap Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau satu huruf dari apa yg beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bawa atau satu syariat yg beliau bawa dari apa yg dinukilkan dari beliau secara mutawatir mk barangsiapa yg mengingkari sesuatu dari apa yg kami sebutkan atau ragu pada dan mati dlm keadaan demikian mk dia kafir musyrik kekal dlm neraka selama-lamanya.”
Ibnu Abdil Barr rahimahullahu juga mengatakan: “Mereka sepakat bahwa orang menganggap halal khamr perasan anggur yg memabukkan adl kafir krn menolak hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm kitab-Nya dia murtad dan diminta bertaubat jika dia bertaubat dan mencabut perkataannya. Dan jika tdk mk dihalalkan darah seperti orang2 kafir lainnya.”
Dan masih banyak lagi penukilan dari ulama salaf rahimahumullahu baik dari kalangan sahabat maupun setelah mereka yg menunjukkan bahwa hal ini sudah menjadi kesepakatan di antara mereka. Namun dlm permasalahan ini hendaklah kita perhatikan dua hal berikut:
Pertama: tdk termasuk dlm kaidah tersebut di atas seseorang yg mengingkari sesuatu yg jelas terdapat di dlm agama ini namun pengingkaran dikarenakan tdk mengetahui bahwa hal tersebut termasuk dlm agama1 dan bukan disebabkan krn sikap menentang apa yg telah shahih dlm Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Para ulama tdk mengkafirkan orang yg menghalalkan sesuatu dari perkara-perkara yg diharamkan disebabkan krn dia baru masuk Islam atau dikarenakan dia tinggal jauh dari permukiman. mk sesungguh menghukumi kafir tdk dilakukan kecuali setelah sampai risalah . Sedangkan kebanyakan dari mereka ini ada kemungkinan tdk sampai kepada mereka nash-nash yg menyelisihi pendapat mereka dan dia tdk mengetahui bahwa Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus utk itu.”
Kedua: ayat ini bukan pula dalil utk membenarkan pemahaman kelompok Khawarij yg mengkafirkan tiap pelaku dosa besar dan mengkafirkan orang yg berhukum dgn selain apa yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn alasan bahwa orang yg berhukum dgn selain hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah tentu dia menghalalkan apa yg diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yg dgn itu berarti dia beriman kepada sebagian syariat dan mengkufuri sebagian lain dan ini adl kekafiran yg sebenar-benarnya.
Jawaban atas syubhat tersebut adl sebagai berikut:
Perlu diketahui bahwa para pelaku maksiat termasuk di dlm orang yg berhukum dgn selain apa yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki kondisi yg berbeda satu sama lain. Di antara mereka ada yg melakukan kemaksiatan disebabkan krn kejahilan bahwa perkara tersebut terlarang dlm Islam. Ada juga yg melakukan disebabkan krn kelemahan iman dan mengikuti hwa nfsu (**) dlm keadaan dia tetap meyakini bahwa hal tersebut dilarang oleh Islam. Di antara mereka ada yg melakukan kemaksiatan disebabkan krn terpaksa melakukan dan berbagai macam kemungkinan lain yg menyebabkan seseorang terjatuh dlm kemaksiatan dan berhukum dgn selain apa yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang tentu kemungkinan tersebut di atas menghalangi kita utk serta merta menghukumi/memvonis seseorang telah kafir dan keluar dari Islam dgn hanya sekedar melakukan perkara haram tersebut tanpa mengetahui apa yg melatarbelakangi perbuatannya. Adapun bila telah jelas dan meyakinkan bahwa ia melakukan kemaksiatan tersebut dgn keyakinan menghalalkan dlm keadaan dia mengetahui bahwa itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mk dlm hal ini orang tersebut divonis sebagai kafir dan keluar dari Islam.
Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam berkata: “Adapun atsar-atsar yg diriwayatkan di mana menyebutkan kekufuran dan kesyirikan serta kemaksiatan yg mengantarkan kepada kedua mk makna menurut kami adl tdk menetapkan kepada pelaku kekufuran dan kesyirikan yg menghilangkan keimanan dari pelaku itu. Namun sesungguh yg dimaksud bahwasa ia termasuk di antara akhlak dan jalan yg ditempuh oleh orang2 kafir dan musyrikin.”
Wallahul muwaffiq.

1 Namun demikian tdk semua orang yg tdk tahu mendapatkan udzur.

Sumber: www.asysyariah.com