Kedzaliman adl Kegelapan pada Hari Kiamat

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Sakinah Mutiara Kata 02 - Maret - 2007 23:24:33

Rasul yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

الظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Kedzaliman adl kegelapan pada hari kiamat.”
Ulama kita menerangkan dgn berpatokan pada hadits di atas bahwa kedzaliman merupakan sebab kegelapan bagi pelaku hingga ia tdk mendapatkan arah/jalan yg akan dituju pada hari kiamat atau menjadi sebab kesempitan dan kesulitan bagi pelakunya.
Mungkin ada di antara kita yg masih bertanya-ta apa sih yg dimaksudkan dgn dzalim? dlm bahasa Arab dzalim bermakna meletakkan sesuatu tdk pada tempatnya. Asal kata dzalim adl kejahatan dan melampaui batas dan juga menyimpang dari keseimbangan.

Sadar ataupun tdk kita sering berbuat dzalim. Padahal kedzaliman bukanlah perkara remeh. Hukum haram dlm syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan bagi diri-Nya. Dia Yang Maha Suci berfirman dlm hadits qudsi:

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوْا..

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguh Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan haram di antara kalian mk janganlah kalian saling mendzalimi”
Mengingat hal di atas dlm rubrik ini kita coba membahas tentang kedzaliman semoga dapat menjadi peringatan yg bermanfaat.

فَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Berilah peringatan krn sesungguh peringatan itu bermanfaat bagi kaum mukminin.”

Bentuk-Bentuk Kedzaliman
Kedzaliman banyak bentuk di antaranya:
1. Berbuat dzalim pada diri sendiri dgn melakukan dosa-dosa dan kemaksiatan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang dari berbuat dzalim seperti ini sebagaimana dlm firman-Nya:

فَلاَ تَظْلِمُوا فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian pada bulan-bulan haram1 itu .”
2. Kedzaliman seseorang kepada saudara bisa jadi dgn cara:
 ia melanggar kehormatan saudaranya
 ia menyakiti tubuh saudaranya
 ia mengganggu/merampas harta saudaranya
Semua ini diharamkan. Nabi kita yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هذَا، فِي شَهْرِكُمْ هذَا، فِي بَلَدِكمْ هذَا

“Sesungguh darah harta dan kehormatan kalian adl haram bagi kalian sebagaimana keharaman hari kalian ini pada bulan kalian ini dan di negeri kalian ini.”
3. Mengubah perkara yg Allah Subhanahu wa Ta’ala syariatkan
Mengganti syariat yg diturunkan dari atas langit dgn aturan atau undang-undang rendahan yg dibuat oleh manusia termasuk kedzaliman yg terbesar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengancam orang2 yg tdk mau berhukum dgn syariat-Nya:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

“Siapa yg tdk mau berhukum dgn hukum yg Allah turunkan mk mereka itu adl orang2 yg dzalim.”
Mereka berbuat dzalim krn mereka telah menempatkan perkara tdk pada tempat yg semestinya.
4. Mendzalimi hewan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ اْلأَرْضِ

“Ada seorang wanita yg diazab krn seekor kucing yg diikat/ dikurung hingga mati si wanita masuk neraka karenanya. Kucing itu tdk diberi makanan tdk diberi minum tdk pula dilepaskan hingga bisa memakan serangga/hewan yg ada di tanah.”
Sa‘id ibnu Jubair rahimahullah berkata: “Suatu ketika saat aku sedang berada di sisi Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mereka melewati anak-anak muda atau sekumpulan orang yg menancapkan seekor ayam betina sebagai sasaran bidikan anak panah yang dilemparkan. Ketika anak-anak muda itu melihat Ibnu ‘Umar mereka pun bubar meninggalkan ayam tersebut. Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Siapa yg melakukan hal ini? Sesungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat orang yg melakukan perbuatan seperti ini.”
5. Membedakan manusia dlm penerapan hukum berdasarkan status sosial.
Perbuatan seperti ini sama arti membuat kerusakan di muka bumi krn akan menumbuhkan kecemburuan kebencian dan permusuhan di tengah masyarakat yg berbeda-beda status sosialnya. Tentu muara dari semua ini adl kebinasaan sebagaimana keadaan umat terdahulu yg diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوْا إِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ أَقَامُوْا عَلَيْهِ الْحَدَّ

“Hanyalah yg membinasakan orang2 sebelum kalian adl ketidakadilan mereka di mana bila ada orang mulia di kalangan mereka yg mencuri mereka biarkan namun bila yg mencuri itu orang yg lemah mereka tegakkan hukum had padanya.”

Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala dari Berbuat Dzalim
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan perbuatan dzalim dan Dia mensucikan diri-Nya dari sifat tersebut.

وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ

“Dan sesungguh Allah tidaklah mendzalimi hamba-hamba-Nya.”

إِنَّ اللهَ لاَ يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

“Sesungguh Allah tidaklah berbuat dzalim walau seberat semut yg kecil.”
Dalam hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي..

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguh Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku”

Berbuat Dzalim adl Tabiat Manusia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ

“Sesungguh manusia itu sangatlah dzalim lagi kufur.”

إِنَّا عَرَضْنَا اْلأَمَانَةَ عَلَى السَّموَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا اْلإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً

“Sesungguh Kami telah mengemukakan amanat kepada langit bumi dan gunung-gunung mk semua enggan utk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianati dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguh manusia itu amat dzalim lagi amat bodoh.”
Dua ayat di atas cukuplah menjadi dalil bahwa manusia memiliki tabiat suka berbuat dzalim. Karena kita harus mencari obat penyembuh dari penyakit tabiat tersebut. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan kita utk membersihkan tabiat jiwa dari perkara yg mengotorinya?

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yg menyucikan jiwa dan sungguh merugi orang yg mengotori jiwanya.”
Penyucian jiwa tersebut dilakukan dgn memaksa agar mencocoki dan menyepakati manhaj/aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Cara Membersihkan Jiwa dari Berbuat Dzalim
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya utk bersungguh-sungguh memaksa jiwa mereka agar bersih dari perbuatan yg rendah baik berupa kedzaliman sombong hasad dan selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan utk memberikan petunjuk kepada jalan keselamatan bagi orang yg berbuat demikian krn mengharapkan wajah-Nya.

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“orang2 yg bersungguh-sungguh berupaya mencari keridhaan Kami niscaya Kami akan memberi mereka petunjuk kepada jalan-jalan Kami. Sesungguh Allah bersama orang2 yg berbuat ihsan.”
Berikut ini beberapa hal yg dapat membantu seseorang agar terhindar dari berbuat dzalim:
1. Bertakwa kepada Allah
Takwa sebagai wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yg awal sampai yg akhir merupakan asas agama ini. Dengan takwa seorang hamba akan menahan diri dari melanggar batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu tiap jiwa hendaklah merealisasikan takwa dan mengetahui keagungan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Mereka tidaklah mengagungkan Allah dgn sebenar-benar pengagungan padahal bumi seluruh berada dlm genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit-langit dilipat dgn tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi Maha Tinggi dari apa yg mereka sekutukan.”
Seorang yg berbuat dzalim seandai memiliki pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn sebenar-benar pengagungan niscaya ia akan menarik diri dan berhenti dari kedzaliman yg dilakukannya.
2. Tawadhu‘/rendah hati
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi penekanan utk bersikap tawadhu‘.

إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَبْغِي أَحَدٌ عَلىَ أَحَدٍ وَلاَ يَفْخَرُ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadaku agar hendak kalian bersikap tawadhu’ hingga seseorang tdk berbuat dzalim kepada orang lain dan seseorang tdk menyombongkan diri di hadapan orang lain.”
Tawadhu‘ adl obat kedzaliman adapun sombong merupakan sebab. Tawadhu‘ ini bisa diupayakan oleh seseorang dgn cara terus melatih dan membiasakan jiwa agar bersikap tawadhu‘.
3. Melepaskan diri dari sifat hasad
Karena hasad merupakan sebab kedzaliman dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah melarang dari berbuat hasad.

وَلاَ تَحَاسَدُوْا..

“Dan janganlah kalian saling hasad”
4. Menganjurkan jiwa utk bersemangat meraih apa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepada orang2 yg berlaku adil/tak dzalim.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ ..

“Ada tujuh golongan yg dinaungi oleh Allah dlm naungan-Nya pada hari di mana tdk ada naungan kecuali naungan-Nya ”
Di antara tujuh golongan itu disebutkan:

إِمَامٌ عَادِلٌ

“Pimpinan yg adil.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ عَلىَ يَمِيْنِ الرَّحْمنِ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ..

“Sesungguh orang2 yg adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan tangan kanan Ar-Rahman dan kedua tangan-Nya kanan.”
5. Menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn doa yg sungguh-sungguh.
Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengabulkan doa sebagaimana Dia berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ..

“Rabb kalian telah berfirman: ‘Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permintaan kalian’.”
Maka semesti seorang hamba senantiasa berdoa memohon pertolongan kepada-Nya agar diri dihindarkan dari perbuatan dzalim. Wallahul musta’an.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Bulan-bulan haram ada 4 yaitu Muharram Rajab Dzulqa‘dah dan Dzulhijjah. dlm bulan-bulan haram ini dilarang melakukan peperangan.

Sumber: www.asysyariah.com