Al Ustadz Qomar Suaidi LcAkal adl ni’mat besar yg Allah titipkan dalam jasmani manusia. Nikmat yg bisa disebut hadiah ini menunjukkan akan kekuasaan Allah yg sangat menakjubkan. {Al-’Aql wa Manzilatuhu fil Islam hal. 5}Oleh karenanya dalam banyak ayat Allah memberi semangat utk berakal {yakni menggunakan akalnya} di antaranya:وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ“Dan Dia menundukkan malam dan siang matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dgn perintah-Nya. Sesungguhnya pada yg demikian itu benar-benar ada tanda-tanda bagi kaum yg memahami.” وَفِي اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيْلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِيْ ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُوْنَ“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yg berdampingan dan kebun-kebun anggur tanaman- tanaman dan pohon korma yg bercabang dan yg tidak bercabang disirami dgn air yg sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yg lain tentang rasanya.

Sesungguhnya pada yg demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yg berfikir.” Sebaliknya Allah mencela orang yg tidak berakal seperti dalam ayat-Nya:وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْ أَصْحَابِ السَّعِيْرِ“Dan mereka berkata: ‘Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yg menyala-nyala’.” Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan: “ tidak berakal dan tidak punya tamyiz … Bagaimanapun tidak terpuji dari sisi itu sehingga tidaklah terdapat dalam kitab Allah  serta dalam Sunnah Rasulullah  pujian dan sanjungan bagi yg tidak berakal serta tidak punya tamyiz dan ilmu. Bahkan Allah  telah memuji amal akal dan pemahaman bukan hanya dalam satu tempat serta mencela keadaan yg sebaliknya di beberapa tempat…” Kitapun dapat melihat agama Islam dalam ajarannya memberikan beberapa bentuk kemuliaan terhadap akal seperti:1. Allah  menjadikan akal sebagai tempat bergantungnya hukum sehingga orang yg tidak berakal tidak dibebani hukum. Nabi bersabda:رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلىَ عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَأَ وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقَظَ وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمُ“Pena diangkat dari tiga golongan: orang yg gila yg akalnya tertutup sampai sembuh orang yang tidur sehingga bangun dan anak kecil sehingga baligh.” {HR. Ibnu Khuzaimah Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthni dari shahabat ‘Ali dan Ibnu ‘Umar Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Shahih” dalam Shahih Jami’ no. 3512}2. Islam menjadikan akal sebagai salah satu dari lima perkara yg harus dilindungi yaitu: agama akal harta jiwa dan kehormatan. 3. Allah  mengharamkan khamr utk menjaga akal. Allah  berfirman:يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ“Hai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamar berjudi berhala mengundi nasib dgn panah adl perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” Nabi  bersabda:كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٍ“Setiap yg memabukkan itu haram.” Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan: “Dalam rangka menjaga akal maka wajib ditegakkan had bagi peminum khamr.” 4. Tegaknya dakwah kepada keimanan berdasarkan kepuasan akal. Artinya keimanan tidak berarti mematikan akal bahkan Islam menyuruh akal utk beramal pada bidangnya sehingga mendukung kekuatan iman dan tidak ada ajaran manapun yg memuliakan akal sebagaimana Islam memuliakannya tidak menyepelekan dan tidak pula berlebihan.

Sedangkan yg dilakukan para pengkultus akal yg mereka beritikad memuliakan akal pada hakikatnya mereka justru menghinakan akal serta menyiksanya krn mambebani akal dgn sesuatu yg tidak mampu.Walaupun akal dimuliakan tapi kita menyadari bahwa akal adl sesuatu yg berada dalam jasmani makhluk. Maka ia sebagaimana makhluk yg lain memiliki sifat lemah dan keterbatasan.As-Safarini rahimahullah berkata: “Allah  menciptakan akal dan memberinya kekuatan adl untuk berpikir dan Allah  menjadikan padanya batas yg ia harus berhenti padanya dari sisi berfikirnya bukan dari sisi ia menerima karunia Ilahi. Jika akal menggunakan daya pikirnya pada lingkup dan batasnya serta memaksimalkan pengkajiannya ia akan tepat dgn ijin Allah. Tetapi jika ia menggunakan akalnya di luar lingkup dan batasnya yg Allah  telah tetapkan maka ia akan membabi buta…” Untuk itu kita perlu mengetahui di mana sesungguhnya bidangnya akal. Intinya bahwa akal tidak mampu menjangkau perkara-perkara ghaib di balik alam nyata yg kita saksikan ini seperti pengetahuan tentang Allah  dan sifat-sifat-Nya arwah surga dan neraka yg semua itu hanya dapat diketahui melalui wahyu.Nabi  bersabda:تَفَكَّرُوْا فِيْ أَلاَءِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ“Berpikirlah pada makhluk-makhluk Allah dan jangan berpikir pada Dzat Allah.” {HR. Ath- Thabrani Al-Lalikai dan Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar lihat Ash-Shahihah no. 1788 dan Asy-Syaikh Al-Albani menghasankannya}وَيَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوْتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.” Oleh karenanya akal diperintahkan utk pasrah dan mengamalkan perintah syariat meskipun ia tidak mengetahui hikmah di balik perintah itu. Karena tidak semua hikmah dan sebab di balik hukum syariat bisa manusia ketahui. Yang terjadi justru terlalu banyak hal yg tidak manusia ketahui sehingga akal wajib tunduk kepada syariat.Diumpamakan oleh para ulama bahwa kedudukan antara akal dgn syariat bagaikan kedudukan seorang awam dgn seorang mujtahid. Ketika ada seseorang yg ingin meminta fatwa dan tidak tahu mujtahid yg berfatwa maka orang awam itu pun menunjukkannya kepada mujtahid. Setelah mendapat fatwa terjadi perbedaan pendapat antara mujtahid yg berfatwa dgn orang awam yg tadi menunjuki orang tersebut. Tentunya bagi yg meminta fatwa harus mengambil pendapat sang mujtahid yg berfatwa dan tidak mengambil pendapat orang awam tersebut krn orang awam itu telah mengakui keilmuan sang mujtahid dan bahwa dia lbh tahu . {Lihat Syarh Aqidah Ath-Thahawiyah hal. 201}Al-Imam Az-Zuhri t mengatakan: “Risalah datang dari Allah kewajiban Rasul menyampaikan dan kewajiban kita menerima.” Orang yg menggunakan akal tidak pada tempatnya berarti ia telah menyalahgunakan dan melakukan kezaliman terhadap akalnya. Sesungguhnya madzhab filasafat dan ahli kalam yg ingin memuliakan akal dan mengangkatnya –demikian perkataan mereka– belum dan sama sekali tidak akan mencapai sepersepuluh dari sepersepuluh apa yg telah dicapai Islam dalam memuliakan akal -ini jika kita tidak mengatakan mereka telah berbuat jahat dgn sejahat- jahatnya terhadap akal. Di mana ia memaksakan akal masuk ke tempat yg tidak mungkin mendapatkan jalan ke sana. Akal yg terpuji dan akal yg tercelaMenengok penjelasan yg telah lalu dapat disimpulkan bahwa penggunaan akal terkadang terpuji yaitu ketika pada tempatnya. Dan terkadang tercela yaitu ketika bukan pada tempatnya.

Adapun pendapat akal yg terpuji secara ringkas adl yg sesuai dgn syariat dgn tetap mengutamakan dalil syariat. Sedang akal yg tercela adl sebagaimana disimpulkan Ibnul Qayyim yg menyebutkan bahwa pendapat akal yg tercela itu ada beberapa macam:1. Pendapat akal yg menyelisihi nash Al Qur’an atau As Sunnah.2. Berbicara masalah agama dgn prasangka dan perkiraan yg dibarengi dgn sikap menyepelekan mempelajari nash-nash memahaminya serta mengambil hukum darinya.3. Pendapat akal yg berakibat menolak asma Allah  sifat-sifat dan perbuatan- Nya dgn teori atau qiyas yg batil yg dibuat oleh para pengikut filsafat.4. Pendapat yg mengakibatkan tumbuhnya bid’ah dan matinya As Sunnah.5. Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekedar dgn anggapan baik dan prasangka. Jadi manakala kita mengambil sebuah kesimpulan dgn akal kita kemudian ternyata hasilnya adalah salah satu dari lima yg tersebut di atas maka yakinlah bahwa itu pendapat yg tercela dan salah. Ia harus ditinggalkan dan menundukkan akal di hadapan kepada syariat.Akal yg sehat tidak akan menyelisihi syariatDisebutkan dalam kaidah ahlul kalam –ringkasnya– bahwa tatkala bertentangan antara akal dan wahyu maka mesti dikedepankan akal. Dengan prinsip ini mereka menolak sekian banyak nash yg shahih dulu maupun sekarang.

Tentu kita tahu bahwa pendapat mereka adl salah dan sangat berbahaya. Untuk mengetahui bathilnya pendapat mereka dgn singkat dan mudah cukup dgn kita merujuk kepada lima hal yg disebutkan Ibnul Qayyim t di atas.Lebih rinci para ulama seperti Ibnu Taimiyyah t menjelaskan: Sesuatu yg diketahui dgn jelas oleh akal sulit dibayangkan akan bartentangan dgn syariat sama sekali. Bahkan dalil naqli yg shahih tidak akan bertentangan dgn akal yg lurus sama sekali. Saya telah memperhatikan hal itu pada kebanyakan hal yg diperselisihkan oleh manusia. Saya dapati sesuatu yg menyelisihi nash yg shahih dan jelas adl syubhat yg rusak dan diketahui kebatilannya dgn akal. Bahkan diketahui dgn akal kebenaran kebalikan dari hal tersebut yang sesuai dgn syariat. Kita tahu bahwa para Rasul tidak memberikan kabar dgn sesuatu yang mustahil menurut akal tapi mengabarkan sesuatu yg membuat akal terkesima. Para Rasul itu tidak mengabarkan sesuatu yg diketahui oleh akal sebagai sesuatu yang tidak benar namun akal tidak mampu utk menjangkaunya.Karena itu wajib bagi orang-orang Mu’tazilah yg menjadikan akal mereka sebagai hakim terhadap nash-nash wahyu demikian pula bagi mereka yg berjalan di atas jalan mereka serta meniti jejak mereka agar mengetahui bahwa tidak terdapat satu haditspun di muka bumi yg bertentangan dgn akal kecuali hadits itu lemah atau palsu. Wajib bagi mereka utk menyelisishi kaidah kelompok Mu’tazilah kapan terjadi pertentangan antara akal dan syariat menurut mereka maka wajib utk mengedepankan syariat. Karena akal telah membenarkan syariat dalam segala apa yg ia kabarkan sedang syariat tidak membenarkan segala apa yg dikabarkan oleh akal. Demikian pula kebenaran syariat tidak tergantung dgn semua yg dikabarkan oleh akal.” Ketika dalil bertentangan dgn akalSesungguhnya pertentangan akal dgn syariat takkan terjadi manakala dalilnya shahih dan akalnya sehat. Namun terkadang muncul ketidakcocokan akal dgn dalil walaupun dalilnya shahih. Kalau terjadi hal demikian maka jangan salahkan dalil namun curigailah akal. Di mana bisa jadi akal tidak memahami maksud dari dalil tersebut atau akal itu tidak mampu memahami masalah yg sedang dibahas dgn benar. Sedangkan dalil maka pasti benarnya.Hal ini berangkat dari ajaran Al Qur’an dan As Sunnah yg mengharuskan kita utk selalu kembali kepada dalil. Demikian pula anjuran para shahabat yg berpengalaman dgn Nabi  dan mengalami kejadian turunnya wahyu. Seperti dikatakan oleh ‘Umar bin Al-Khaththab: “Wahai manusia curigailah akal kalian terhadap agama ini.” {Riwayat Ath-Thabrani lihat Marwiyyat Ghazwah Al-Hudaibiyyah hal. 177 301}Beliau mengatakan demikian krn pernah membantah keputusan Nabi  dgn pendapatnya walaupun pada akhirnya tunduk. Beliau pada akhirnya melihat ternyata maslahat dari keputusan Nabi  begitu besar dan tidak terjangkau oleh pikirannya.Oleh karenanya Ibnul Qayyim mengatakan: “Jika dalil naqli bertentangan dgn akal maka yang diambil adl dalil naqli yg shahih dan akal itu dibuang dan ditaruh di bawah kaki tempatkan di mana Allah meletakkannya dan menempatkan para pemiliknya.” {Mukhtashar As- Shawa’iq hal. 82-83 dinukil dari Mauqif Al-Madrasah Al-‘Aqliyyah 1/61-63}Abul Muzhaffar As-Sam’ani t ketika menerangkan Aqidah Ahlus Sunnah berkata: “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka dan mencari agama dari keduanya. Apa yg terbetik dalam akal dan benak mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dgn keduanya mereka terima dan bersyukur kepada Allah di mana Allah perlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik-Nya. Tapi jika tidak sesuai dgn keduanya maka mereka meninggalkannya dan mengambil Al Kitab dan As Sunnah kemudian menuduh salah terhadap akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya {Al Kitab dan As Sunnah} tidak akan menunjukkan kecuali kepada yg hak sedang pendapat manusia kadang benar kadang salah.” Bila akal didahulukanJika akal didahulukan maka akan tergelincir pada sekian banyak bahaya:1. Menyerupai Iblis –semoga Allah melaknatinya– ketika diperintahkan utk sujud kepada Nabi Adam  kemudian ia membangkang dan menentang dgn akalnya.قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍْ“Allah berfirman: ‘Apakah yg menghalangimu utk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab ‘Saya lbh baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah’.” 2. Menyerupai orang non muslim yg menolak keputusan Allah dgn akal mereka seperti penentangan mereka terhadap kenabian Nabi Muhammad . Mereka katakan:وَقَالُوْا لَوْلاَ نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ“Dan mereka berkata: ‘Mengapa Al Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini?’.” 3. Tidak mengambil faidah dari Rasul sedikitpun krn mereka tidak merujuk kepadanya pada perkara-perkara ketuhanan. Sehingga adanya Rasul menurut mereka seperti tidak ada. Keadaan mereka bahkan lbh jelek krn mereka tidak mengambil manfaat sedikitpun justru butuh utk menolaknya.4. Mengikuti hwa nfsu (**) dan keinginan jiwa. Allah berfirman:فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ“Maka jika mereka tidak menjawab ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hwa nfsu (**) mereka . Dan siapakah yg lbh sesat daripada orang yang mengikuti hwa nfsu (**) nya dgn tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yg zalim.” 5. Menyebabkan kerusakan di muka bumi sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim.6. Berkata dgn mengatasnamakan Allah dan Rasul-Nya tanpa ilmu.فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُوْنَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنَ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ“Dan di antara manusia ada orang-orang yg membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan tanpa petunjuk dan tanpa kitab yg bercahaya.” Ini termasuk larangan terbesar.قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَاْلإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوْا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ“Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yg keji baik yg nampak ataupun yang tersembunyi dan perbuatan dosa melanggar hak manusia tanpa alasan yg benar mempersekutukan Allah dgn sesuatu yg Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengada-adakan terhadap Allah apa yg tidak kamu ketahui’.” 7. Menyebabkan perbedaan dan perpecahan pendapat.8. Terjatuh dalam keraguan dan bimbang. (Al-Mauqih 1/81-92)Pantaslah kalau Al-Imam Adz-Dzahabi mengatakan tentang orang-orang yg tetap mengedepankan akalnya: “Jika kamu melihat ahlul kalam ahli bid’ah mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari Al Qur’an dan hadits ahad dan tampilkan akal’ maka ketahuilah bahwa ia adl Abu Jahal.”
sumber : file chm Darus Salaf 2