“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia tetapi dosa keduanya lbh besar dari manfaatnya.” . Baru-baru ini lokalisasi perjudian di kepulauan seribu ramai dibicarakan di berbagai media massa. Lokalisasi itu diijinkan oleh pemerintah setempat dgn dalih sebagai sumber pemasukan bagi pemerintah daerah. Sungguh ironi sekali dalam keadaan bangsa yg mayoritas penduduknya beragama Islam dan pemimpinnya mayoritas beragama muslim perjudian dihalalkan demi utk pemasukan daerahnya. Judi dalam kehidupan masyarakat Indonesia sudah mendarah daging. Hampir di semua daerah bahkan di lingkungan sebuah desa kecil pun perjudian sudah marak walaupun mungkin bentuk dan tata cara pelaksanaannya berbeda-beda. Bahkan anak-anak kecil pun sudah terbiasa dgn perjudian. Oleh krn itu jika pemerintah melokalisasi perjudian hal itu adl sebuah tindakan yg salah. Tindakan itu belum tentu menjamin perjudian terselubung akan habis. Yang menjadi masalah bukan lokalisasi atau tidak; yg menjadi masalah adl jiwa dan mental dari masyarakat itu sendiri yg mesti dibersihkan dari mental yg gemar berjudi. Ada ataupun tidak ada lokalisasi dan pengesahan dari pemerintah perjudian akan tetap ada. Allah SWT telah memperingatkan dgn tegas mengenai bahaya judi ini di dalam surat Al-Maidah ayat 90 - 91 yg artinya “Hai orang-orang mukmin! Sesungguhnya arak dan judi dan berhala dan azlam adl kotor berasal dari perbuatan setan; oleh krn itu jauhilah supaya kamu beruntung. Sesungguhnya setan hanya bermaksud akan menjatuhkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui arak dan permainan judi serta akan menghalangi kamu dari ingat kepada Allah dan salat; oleh krn itu apakah kamu mau berhenti?” Nabi saw bersabda yg artinya “Barangsiapa berkata kepada rekannya mari bermain judi maka hendaklah ia bersedekah.”. Banyak bentuk-bentuk perjudian yg dikemas dgn cara dan model bermacam-macam sehingga memberi kesan bahwa hal itu bukan perjudian. Sekalipun hiburan dan permainan itu dibolehkan oleh Islam tetapi ia juga mengharamkan tiap permainan yg dicampuri perjudian yaitu permainan yg tidak luput dari untung-rugi yg dialami oleh si pemain. Di balik pelarangan judi di dalam Islam ini terkandung suatu hikmah dan tujuan yg tinggi sekali

    Hendaknya seorang muslim mengikuti sunatullah dalam bekerja mencari uang dan mencarinya dgn dimulai dari pendahuluan-pendahuluannya. Masukilah rumah dari pintu-pintunya dan tunggulah hasil dari sebab-sebabnya.
    Islam menjadikan harta manusia sebagai barang berharga yg dilindungi. Oleh krn itu tidak boleh diambil begitu saja kecuali dgn cara tukar-menukar seperti yg telah disyariatkan atau dgn jalan hibah dan sedekah.
    Perjudian itu dapat menimbulkan permusuhan dan pertentangan antara pemain-pemain itu sendiri kendati dari mulut dan lahirnya mereka telah saling merelakannya. Bagi pihak yg kalah dalam judi diamnya itu tidak sekadar diam tetapi membawa perasaan dongkol di dalam hatinya.
    Kerugian itu mendorong pihak yg kalah utk mengulangi perbuatan judi lagi. Dan bagi yg menang pun krn sudah merasa menang ia merasa penasaran dan ketagihan utk memenangkan lagi padahal belum tentu menang lagi boleh jadi sebaliknya kalah. Dan seterusnya sehingga membuat lingkaran setan tak henti-hentinya melakukan maksiat.
    Selamanya permainan judi sibuk dgn permainannya sehingga lupa akan kewajibannya kepada Tuhan kewajiban akan diri kewajiban akan keluarga dan kewajiban-kewajiban lainnya. Renungkanlah firman Allah SWT yg artinya “Barangsiapa yg menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dgn sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yg tidak memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah segala yg mereka usahakan di dunia serta sia-sialah segala yg telah mereka kerjakan.” . Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

    sumber file al_islam.chm