Jima’ Saat Puasa Ramadhan

penulis Al-Ustadz Usamah Mahri Lc
Syariah Kajian Khusus Ramadhan 14 - September - 2005 04:54:07

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: وَمَا أَهْلَكَكَ؟ قَالَ: وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِي فِيْ رَمَضَانَ. قَالَ: هَلْ تَجِدُ مَا تَعْتِقُ رَقْبَةً؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مَتَتَابِعَيْنِ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَهَلْ تَجِدُ مَا تُطْعِمُ سِتِّيْنَ مِسْكِيْنًا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: ثُمَّ جَلَسَ فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَقٍ فِيْهِ تَمْرٌ فَقَالَ: تَصَدَّقْ بِهَذَا. قَالَ: أَفْقَرَ مِنَّا؟ فَمَا بَيْنَ لابَتَيْهَا أَهْلُ بَيْتٍ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنَّا فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ: اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

Datang seseorang kepada Nabi n
dan berkata: “Wahai Rasulullah aku telah binasa.” Rasulullah n
bertanya: “Apa yg membinasakanmu?” Orang itu menjawab: “Aku telah menggauli istriku di siang Ramadhan.” Rasulullah n
kemudian menyatakan: “Mampukah engkau utk memerdekakan budak?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian kata beliau: “Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian kata beliau: “Mampukah engkau memberi makan enampuluh orang miskin?” Ia menjawab: “Tidak.” Kemudian iapun duduk dan Rasulullah n
memberi satu wadah kurma dan beliau berkata: “Shadaqahkan ini.” Orang itu bertanya: “Kepada yg lbh fakir dari kami? Sungguh di kota Madinah ini tiada yg lbh membutuhkan kurma ini dari kami.” Mendengar itu Rasulullah n
tertawa hingga terlihat gigi taring kemudian beliau n
berkata: “Pulanglah dan berikan ini kepada keluargamu.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Abu Hurairah z
dalam Kutubus Sittah selain An-Nasai dari jalan Az-Zuhri Muhamad bin Muslim dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah z
.
Dari Az-Zuhri diriwayatkan dari sembilan jalan:
1. Ibrahim bin Sa’d dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari jalan Musa bin Ismail dan Ahmad bin Yunus .
2. Sufyan bin ‘Uyainah dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari jalan Ali bin Abdullah dan Al-Qa’nabi sementara Muslim dari jalan Yahya bin Yahya dan Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair sementara Abu Dawud dari jalan Musaddad dan Muhamad bin ‘Isa sementara At-Tirmidzi dari jalan Nasr bin ‘Ali dan Abu ‘Ammar Al-Husain bin Huraits dan beliau menyatakan: hasan shahih . Juga Ibnu Majah dari jalan Abu Bakr Ibnu Abi Syaibah .
3. Syu’aib bin Abi Hamzah dikeluarkan Al-Bukhari dari jalan Abul Yaman .
4. Manshur dikeluarkan Al-Bukhari dari jalan ‘Utsman dari Jarir sementara Muslim dari jalan Ishaq bin Ibrahim dari Jarir .
5. Al-Laits dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari jalan Qutaibah sementara Muslim dari jalan Yahya bin Yahya Qutaibah dan Muhamad bin Rumh .
6. Ma’mar dikeluarkan Al-Bukhari dari jalan Muhamad bin Mahbub dari Abdul Wahid sementara Muslim dari jalan ‘Abd bin Humaid dari Abdurrazzaq sementara Abu Dawud dari jalan Al-Hasan bin ‘Ali dari Abdurrazzaq
7. Al-Auza’i dikeluarkan Al-Bukhari dari jalan Muhamad bin Muqatil dari Abdullah .
8. Ibnu Juraij dikeluarkan Muslim dari jalan Muhamad bin Rafi’ dari Abdurrazzaq .
9. Malik dikeluarkan Abu Dawud dari jalan Al-Qa’nabi .

Hadits ‘Aisyah Ummul Mukminin x
:
Hadits ‘Aisyah x
semakna dgn hadits Abu Hurairah z
di atas dan dlm Kutubus Sittah selain An-Nasai diriwayatkan dari jalan Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair dari ‘Abad bin Abdullah bin Az-Zubair dari ‘Aisyah x
.
Dari Muhammad bin Ja’far bin Az-Zubair diriwayatkan dari dua jalan:
1. Abdurrahman bin Harits dikeluarkan oleh Abu Dawud dari jalan Muhamad bin Auf dari Sa’id bin Abi Maryam dari Abdurrahman bin Abi Zinad dari Abdurrahman bin Al-Harits.

بِعَرَقٍ فِيْهِ عِشْرُوْنَ صَاعًا

.
2. Abdurrahman bin Qasim dan dari diriwayatkan dari dua jalan:
1}. ‘Amr bin Harits dikeluarkan Al-Bukhari secara mu’allaq dari Al-Laits dan disebutkan secara maushul oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dlm Taghliqut Ta’liq . Sementara Muslim dari jalan Abu Thahir bin Sarh dari Ibn Wahb dan Abu Dawud dari jalan Sulaiman bin Dawud Al-Mahri dari Ibn Wahb
2}. Yahya bin Sa’id dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari jalan Abdullah bin Numair dari Yazid bin Harun sementara Muslim dari jalan Muhammad bin Rumh dari Al-Laits dan dari Muhammad bin Mutsanna dari Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi .

Fiqhul Hadits:
1. Orang yg disebut dlm riwayat di atas adl Salamah bin Shakhr Al-Bayadhi sebagaimana dikuatkan oleh Ibnu Hajar dlm Al-Ishabah juga oleh Ibnu Abdil Bar dlm At-Tamhid dan Ibnu Mulaqqin dlm Al-I’lam.
2. Hadits ‘Aisyah x
di atas dikeluarkan Al-Bukhari dlm Shahih- pada bab:

إِذَا جَامَعَ فِيْ رَمَضَانَ

Menurut Al-Hafidz yg dimaksud adl orang tersebut telah melakukan jima’ di siang hari pada bulan Ramadhan dgn sengaja dan ia tahu keharaman sehingga ia wajib membayar kaffarah.
Al-Imam Al-Bukhari dlm bab yg sama juga membawakan riwayat dari Abu Hurairah z
dgn sighah tamridh:

وَيُذْكَرُ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ: مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عِلَّةٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضَهُ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ. وَبِهِ قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ

Disebutkan dari Abu Hurairah z
secara marfu’:
“Barangsiapa yg berbuka di bulan Ramadhan tanpa sebab dan bukan krn sakit mk ia tdk bisa membayar dgn puasa selama kalaupun ia lakukan.”
Al-Hafidz berkata: “Riwayat di atas disebutkan secara maushul oleh Abu Dawud An-Nasai At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dlm Sunan mereka dan dishahihkan Ibnu Hazm dari jalan Sufyan Ats-Tsauri dan Syu’bah kedua dari Habib bin Abi Tsabit dari ‘Ammarah bin Umair dari Abul Muthawwas dari ayah dari Abu Hurairah z
mirip dgn riwayat di atas. dlm riwayat Syu’bah dgn lafadz:

فِيْ غَيْرِ رَخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللهُ تَعَالَى لَهُ لَمْ يُقْضَ عَنْهُ وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“ Tanpa rukhshah yg Allah berikan bagi mk ia tdk akan bisa membayar walaupun ia puasa sepanjang masa.”
3. Lafadz
هَلَكْتُ
yg dimaksud adl “Aku terjatuh pada dosa” krn melakukan hal terlarang yg diharamkan ketika puasa yaitu jima’. dlm riwayat Muslim dari ‘Aisyah x
dgn lafadz
احْتَرَقْتُ
: “Aku telah terbakar” mk Nabi n
berta kepadanya: “Mengapa?” Jawabnya: “Karena aku menggauli istriku di siang hari bulan Ramadhan.”
4. Hadits ini menunjukkan wajib berta tentang hukum syariat dari yg dilakukan orang ketika menyelisihi syariat dan kekhawatiran dari dampak bahaya dosa.
5. Juga menunjukkan boleh mengungkap maksiat bagi orang yg ingin membersihkan diri dari dosa dan akibat dosa itu.
6. Pelajaran adab agar seseorang menggunakan kata kiasan dlm hal-hal yg tdk pantas disampaikan seperti penggunaan kata muwaqa’ah atau ishabah sebagai isyarat dari jima’.
7. Hadits ini pula menunjukkan wajib membayar kaffarah bagi orang yg berjima’ dgn sengaja dan ini merupakan madzhab seluruh ulama kecuali yg menyelisihi dgn pernyataan tdk wajib membayar kaffarah demikian. Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi dan beberapa ulama lain hal ini mereka kiaskan dgn shalat krn tdk ada kaffarah bagi yg merusaknya. Namun kias ini tdk berguna dgn ada nash selain juga krn perbedaan yg jelas dimana tdk ada jalan bagi harta utk mengganti shalat. Berbeda dgn puasa bukti orang tua yg lemah dan lain yg tdk mampu puasa .
Mungkin mereka akan mengatakan bila kaffarah itu memang wajib mk tdk akan gugur krn ketidakmampuan. Pernyataan inipun lemah krn justru gugur kewajiban membayar kaffarah menunjukkan bahwa kaffarah itu wajib krn kalau tdk demikian tdk akan dinyatakan gugur hukumnya.
8. Jika seseorang melakukan jima’ di siang hari Ramadhan krn lupa apakah puasa batal sekaligus berkewajiban bayar kaffarah? dlm masalah ini ada tiga pendapat para ulama dan yg benar adl dlm madzhab Asy-Syafi’i bahwa puasa tdk batal dan tdk wajib pula membayar kaffarah.
9. Susunan pembayaran kaffarah dlm hadits yaitu memerdekakan budak puasa dua bulan berturut-turut dan memberi makan enam puluh orang miskin. Susunan ini dilakukan secara berurutan dan tdk dgn pilihan secara bebas demikian menurut pendapat mayoritas ulama.
10. Hadits ini juga menunjukkan bahwa jima’ antara suami istri hanya terkena satu kaffarah dimana tdk disebutkan dlm riwayat di atas kewajiban kaffarah atas si istri. Demikian pendapat terbenar bagi Al-Imam Asy-Syafi’i juga madzhab Dawud dan madzhab Dzahiri. Sementara ulama lain membedakan antara istri yg dipaksa melakukan jima’ -bagi tdk berkewajiban bayar kaffarah- dgn istri yg melakukan jima’ dgn kesadaran -wajib membayar kaffarah-. Demikian madzhab Malik Al-Imam Ahmad dan Hanafiyyah. Adapula di kalangan ulama yg menyamakan antara istri yg dipaksa maupun tdk tetap berkewajiban bayar kaffarah yaitu Al-Imam Al-Auza’i.
11. Madzhab jumhur ulama menyebutkan bahwa puasa kaffarah ini dilakukan dua bulan dgn syarat berturut-turut.
12. Sabda Rasulullah n
:

اذْهَبْ فَأَطْعِمْهُ أَهْلَكَ

“Pergi dan berikan ini pada keluargamu”
Arti yg paling benar menurut Ibnul ‘Arabi Al-Baghawi Ibnu Abdil Bar dan Ibnu Daqiqil ‘Ied adl Rasulullah n
memberikan shadaqah itu kepada orang tersebut utk dibagikan kepada keluarga krn kefakiran sementara kewajiban kaffarah tetap dlm tanggungan dan harus ia bayar ketika mampu. Ini adl madzhab Malik bin Anas.
Oleh sebab itu Al-Bukhari memberi judul bab:

إِذَا جَامَعَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَيْءٌ فَتُصَدِّقُ عَلَيْهِ فَلْيُكَفِّرْ

Jika berjima’ dan tdk memiliki sesuatu kemudian mendapat shadaqah mk hendak ia membayar kaffarah.
Kata Al-Hafidz ini menunjukkan bahwa ketidakmampuan seseorang tidaklah menggugurkan kewajiban membayar kaffarah namun hal itu tetap menjadi tanggungannya.
13. Hadits di atas juga mengajarkan berlemah lembut pada orang yg belajar dan memberi pengajaran dgn cara lunak. Juga mengambil simpati orang dlm agama.
14. Hadits itu juga mengajarkan penyesalan dari perbuatan maksiat dan merasa takut dari akibat buruknya.
15. Boleh duduk di masjid utk selain shalat tapi utk kemaslahatan lain seperti belajar dan mengajar.
16. Boleh tertawa ketika ada sebabnya.
17. Diterima berita dari seseorang berkaitan dgn hal pribadi yg tdk diketahui kecuali dari dirinya.
18. Ta’awun dlm ibadah dan membantu seorang muslim dlm hajatnya.
19. Orang yg mudhthar tdk berkewajiban utk memberikan itu atau sebagian pada orang mudhthar lainnya.
20. Jumhur ulama berpendapat wajib membayar puasa bagi yg merusak puasa dgn jima’ dgn alasan puasa yg diwajibkan kepada belum ia laksanakan mk menjadi tanggungannya. Sama dgn shalat dan lain ketika belum ia lakukan dgn syarat-syaratnya.
Walaupun sebagian ulama menyatakan tdk wajib lagi puasa atas krn telah tertutupi dgn kaffarah. Juga krn Rasulullah n
diam dan tdk memerintahkan puasa kepadanya.
Ada pula yg menyatakan bila dia tunaikan kaffarah dgn puasa mk telah terbayar hutang puasanya. Tetapi bila tdk mk tetap harus dia bayar krn jenis amalan berbeda demikian pendapat Al-Auza’i.
Termasuk yg menguatkan pendapat yg mewajibkan membayar puasa bersama dgn kaffarah adl lafadz
صُمْ يَوْمًا مَكَانَهُ
: “Dan puasalah sehari sebagai gantinya.” Dari riwayat Amr bin Syu’aib dari ayah dari kakek juga tersebut pada hadits Abu Hurairah z
dari jalan Abu Uwais Abdul Jabbar dan Hisyam bin Sa’d semua dari Az-Zuhri juga dlm mursal Sa’id bin Musayyib Nafi bin Jubair Hasan dan Muhamad bin Ka’b. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar dari keseluruhan jalan di atas diketahui bahwa tambahan perintah utk bayar puasa memiliki asal
21. Hadits dan atsar ini menurut Ibnu Hajar sengaja dibawakan oleh Al-Imam Al-Bukhari utk menunjukkan bahwa kewajiban membayar kaffarah diperselisihkan oleh salaf dan bahwa yg membatalkan puasa dgn jima’ mk wajib membayar kaffarah sementara hadits Abu Hurairah z
beliau mengisyaratkan kelemahan dgn sighah tamridh . Kalaupun shahih mk isi menguatkan pendapat yg tdk mewajibkan qadha bagi yg membatalkan puasa dgn makan tetapi tetap hal itu menjadi tanggungan sebagai tambahan balasan baginya. Hal ini krn dgn diqadha berarti terhapus dosa dari namun bukan berarti dgn tdk bisa diqadha berarti gugur pula kewajiban membayar kaffarah pada sebab yg disebutkan yaitu jima’ dan pembatalan krn jima’ berbeda jelas dgn pembatalan krn makan.
22. Hadits ini juga menunjukkan bahwa orang yg menyampaikan udzur yg dengan gugur suatu hukum dari atau berhak dengan mengambil sesuatu mk keterangan diterima dan tdk dibebani utk mendatangkan bukti krn orang ini mengaku bahwa diri fakir dan mengaku telah merusak puasanya.
23. Hadits ini ditulis sebagai sebuah karya secara tersendiri tentang penjelasan dan keterangan oleh Al-Imam Abdurrahim bin Hussain Al-‘Iraqi dimana beliau membahas dan meng-istimbath tentang 1001 masalah dlm satu hadits ini. Dan ini cukup sebagai bantahan terhadap ahlul bid’ah yg menyatakan bahwa ulama hadits hanya tersibukkan dgn periwayatan pembicaraan tentang sanad al-jarh wat-ta’dil dan sejenis dan tdk mengerti tentang fiqh hadits.

وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Sumber Bacaan:
1. Al-I’lam bi Fawa ‘id ‘Umdatil Ahkam Ibnul Mulaqqin
2. Tuhfatul Ahwadzi Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfury
3. Sunan Ibnu Majah
4. ‘Aridhotul Ahwadzi Ibnul ‘Arabi Al-Maliki
5. ‘Aunul Ma’bud Muhammad Syamsul Haq Al-Adzimi Abadi
6. Fathul Bari Ibnu Hajar Al-’Asqalani
7. Syarah Shahih Muslim An-Nawawi

Sumber: www.asysyariah.com