Jihad Harus Didasari Ilmu

penulisĀ Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al Bugisi
Syariah Tafsir 02 - Maret - 2005 05:14:49

وَالَّذِيْنَ جاَهَدُوا فِيْناَ لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَناَ وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang2 yg berjihad utk Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguh Allah benar-benar beserta orang2 yg berbuat baik.”

Penjelasan ayat

وَالَّذِيْنَ جاَهَدُوا فِيْناَ

“Dan orang2 yg berjihad utk Kami”
Ada beberapa penafsiran para ulama tentang ayat ini:
1. Bahwa yg dimaksud adl berjihad melawan kaum musyrikin utk mencari keridhaan Kami sebagaimana yg disebutkan oleh Al-Qurthubi Al-Baghawi dan Ath-Thabari rahimahumullah.
2. Mereka adl Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para shahabat dan yg mengikuti hingga hari kemudian sebagaimana yg disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah. Ini menunjukkan bahwa mereka adl orang2 yg senantiasa istiqamah berada di jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dgn sanad dari Ahmad bin Abi Al-Hawari ia berkata: ‘Abbas Al-Hamdani Abu Ahmad telah mengabari kami tentang firman Allah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini beliau mengatakan: “ orang2 yg mengamalkan apa-apa yg mereka ketahui mk Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi bimbingan terhadap apa yg mereka belum ketahui.” Ahmad bin Abi Al-Hawari berkata: Akupun memberitakan kepada Abu Sulaiman Ad-Darani mk hal itu membuat takjub dan berkata: “Tidak sepantas bagi yg telah diilhami suatu kebaikan utk mengamalkan sampai ia mendengar dlm atsar . Apabila dia telah mendengar dlm atsar dia pun mengamalkan dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala agar sesuai dgn apa yg ada dlm hatinya.”
3. Makna adl bersabar dlm menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata: “orang2 yg berjihad dlm melaksanakan ketaatan di jalan Kami akan Kami tunjukkan jalan-jalan utk mendapatkan pahala.”
Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Ini dgn makna ketaatan secara umum berarti mencakup seluruh pendapat.”
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Yang bersungguh-sungguh dlm menuntut ilmu akan Kami tunjukkan jalan-jalan utk mengamalkannya.”
Berkata pula Sahl bin Abdillah rahimahullah: “Yaitu orang2 yg berjihad dlm menegakkan sunnah akan kami tunjukkan jalan menuju jannah .”
Beberapa penafsiran di atas tidaklah saling bertentangan bahkan saling menguatkan satu sama lain dan saling melengkapi. Mereka yg menyebutkan jihad dgn makna perang tdk mengkhususkan hanya dlm perkara perang namun menyebutkan salah satu jenis dari amalan jihad tersebut. Sebab jihad meliputi keseluruhan kemampuan yg dikerahkan oleh seorang muslim dlm menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik itu berperang melawan kaum kuffar melakukan amar ma’ruf nahi mungkar menuntut ilmu syar’i menegakkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yg lainnya. Dengan syarat dlm mengamalkan semua itu harus ditopang dgn ilmu yg benar sesuai dgn tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Sebab barangsiapa yg berjihad dgn tdk mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjerumuskan ke dlm kesesatan dan penyimpangan. Oleh krn itu Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: “Bukanlah jihad di dlm ayat ini hanya terkhusus jihad melawan orang2 kafir saja. Namun menolong agama membantah orang yg berada di atas kebatilan mencegah orang yg dzalim dan yg mulia adl beramar ma’ruf nahi mungkar. Dan di antara pula adl berjihad melawan hwa nfsu (**) dlm ketaatan kepada Allah yg merupakan jihad akbar.”
Abu Karimah berkata: “Hadits yg berbunyi: ‘Kami telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yg paling besar ’ adl hadits mungkar sebagaimana telah disebutkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dlm Silsilah Hadits Adh-Dha’ifah .”
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dlm menjelaskan ayat ini berkata: “Mereka adl orang2 yg berhijrah di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala berjihad melawan musuh-musuh-Nya dan mengerahkan segala kemampuan dlm mencari keridhaan-Nya mk akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami yaitu jalan yg akan menyampaikan kepada Kami. Karena mereka adl para muhsinin . Dan sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’alabersama dgn para muhsinin dgn pertolongan bantuan dan hidayah-Nya. Ini menunjukkan bahwa orang yg paling layak dlm mencocoki kebenaran adl orang yg berjihad. Dan barangsiapa berbuat kebaikan terhadap apa yg telah diperintahkan-Nya mk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan memudahkan bagi sebab-sebab hidayah. Barangsiapa yg berusaha dan bersungguh-sungguh dlm menuntut ilmu syar’i mk dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan utk mendapatkan apa yg diinginkan berupa perkara-perkara Ilahiyyah di luar jangkauan ijtihad dan dimudahkan bagi urusan ilmu. Karena menuntut ilmu syar’i termasuk jihad fi sabilillah bahkan merupakan salah satu dari dua jenis jihad yg tdk ada yg melakukan kecuali hamba-hamba-Nya yg khusus. Yaitu berjihad dgn perkataan dan lisan melawan kaum kuffar dan munafiqin berjihad dlm mengajari perkara-perkara agama dan membantah penyimpangan orang2 yg menyelisihi kebenaran walaupun mereka dari kalangan kaum muslimin.”

Beramal shalih sebelum berperang
Demikianlah Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan salah satu judul bab dlm Kitabul Jihad dlm Shahih- beliau berkata : Bab Beramal Shalih Sebelum Berperang. Lalu beliau menyebutkan atsar dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu secara mu’allaq bahwa beliau berkata:

إِنَّمَا تُقَاتِلُوْنَ بِأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguh kalian berperang dgn amalan-amalan kalian.”
Lalu Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan hadits Al-Bara’ bin Azib radhiallahu ‘anhu ia berkata: Seorang laki2 datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menutup wajah dgn topi baja lalu berkata: “Wahai Rasulullah aku berperang atau aku masuk Islam?” Beliau menjawab: “Masuk Islamlah kemudian berperang.” mk diapun masuk Islam lalu berperang hingga terbunuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia beramal sedikit dan diberi pahala yg banyak.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Ibnu Ishaq di dlm kitab Al-Maghazi meriwayatkan kisah ‘Amr bin Tsabit dgn sanad yg shahih dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata: Mereka mengabariku tentang seorang lelaki yg masuk jannah padahal tdk pernah shalat sekalipun!” Beliau berkata: “Dia adl ‘Amr bin Tsabit.” Ibnu Ishaq berkata: Hushain bin Muhammad berkata: Aku berta kepada Mahmud bin Labid: “Bagaimana kisahnya?” Beliau menjawab: “Dahulu beliau enggan masuk ke dlm Islam. mk tatkala Perang Uhud dia pun berkeinginan . Dia mengambil pedang mendatangi kaum dan masuk ke kancah pertempuran lalu berperang hingga terluka. Kaum pun mendapati dlm peperangan lalu mereka bertanya: “Apa yg membuatmu ikut serta rasa kasihan terhadap kaummu ataukah cinta kepada Islam?” Dia pun menjawab: “Cinta kepada Islam. Aku berperang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga aku terluka.” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguh dia termasuk penduduk jannah.”
Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim dari jalan Muhammad bin ‘Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata: Dahulu ‘Amr enggan masuk Islam disebabkan krn riba yg dimiliki di zaman jahiliyyah. Tatkala tiba perang Uhud dia bertanya: “Di manakah kaumku?” Mereka menjawab: “Di Uhud.” Lalu dia mengambil pedang dan menyusul mereka. Tatkala melihat ‘Amr mereka berkata: “Jauhilah kami.” Dia menjawab: “Sesungguh aku telah masuk Islam.” Lalu dia pun berperang hingga terluka. Sa’ad bin Ubadah mendatangi lalu berkata: “Engkau dlm keadaan marah krn Allah dan Rasul-Nya.” Lalu dia meninggal dan masuk jannah dlm keadaan tdk pernah mengerjakan satu pun shalat.
Kisah di atas menjelaskan kepada kita penting amalan shalih sebelum seseorang menuju ke medan peperangan. Hal ini disebabkan agar seorang mujahid senantiasa mendapatkan bimbingan dlm mengamalkan amalan yg mulia tersebut sehingga selalu istiqamah di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seseorang tdk mungkin membenarkan amalan dan membedakan antara amalan shalih dgn yg buruk kecuali dgn ilmu syar’i dgn bimbingan para ulama Rabbani yg senantiasa menuntun para mujahidin di atas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.
Sebab tanpa ilmu syar’i dan bimbingan para ulama Salaf seorang yg berjihad akan terjatuh dlm berbagai kesalahan dan penyimpangan dlm keadaan dia merasa berada di atas kebenaran dan menganggap suatu amalan tersebut sebagai bagian dari jihad meskipun sama sekali tdk termasuk ke dalamnya. Bahkan bukan termasuk perkara yg disyariatkan. Perkara inilah yg menyebabkan banyak kalangan hizbiyyin terjatuh dlm kesesatan dan menyelisihi kebenaran dlm keadaan mereka masih saja meneriakkan bahwa amalan itu termasuk jihad dan yg mati ketika mengamalkan amalan tersebut mati syahid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tdk mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguh pendengaran penglihatan dan hati semua itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Jihad termasuk amalan mulia bahkan merupakan semulia-mulia amalan. Namun dlm beramal harus mengikuti tuntunan syariat yg shahihah. Ahlus Sunnah wal Jamaah adl kelompok yg sangat cinta dgn jihad. Mereka terkenal sebagai pemberani semenjak zaman para shahabat hingga zaman kita sekarang ini. Cukuplah beberapa negeri yg menjadi saksi akan kejantanan mereka seperti Kunar yg merupakan salah satu daerah di Afghanistan Chech dan Bosnia. Bahkan mereka terus melangkah ke medan jihad walaupun orang2 yg membenci mereka tetap benci.
Maluku dan Poso pun turut menjadi saksi akan kesungguhan Ahlus Sunnah dlm menegakkan kalimat Allah. Seiring dgn bergulir waktu aktivitas jihad di dua negeri ini yg tadi berjalan mengikuti koridor As-Sunnah dgn tuntunan dan fatwa ulama mulai disisipi kesalahan demi kesalahan.
Namun inilah Ahlus Sunnah yg menjadikan ilmu sebagai landasan berpijak. Ketika disadari kesalahan-kesalahan tersebut dapat menjauhkan dari tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat dgn jantan mereka mengakui berbagai kesalahan tersebut dan bertaubat darinya. Dengan berbekal nasihat ulama pula mereka dgn lapang dada menarik diri dari bumi Maluku dan Poso meski banyak masyarakat di sana menahan kepergiannya.
Mereka kemudian kembali membuka ma’had-ma’had di berbagai daerah utk mengkader para penuntut ilmu syar’i. Tapi sekali lagi apabila Ahlus Sunnah telah meyakini suatu kebenaran mereka tidaklah mempedulikan banyak orang2 yg menyelisihi dan membencinya. Ini semua menunjukkan bahwa dlm berjihad sangatlah membutuhkan ilmu yg mapan dan bimbingan para ulama dlm menghadapi berbagai problem yg mereka hadapi tersebut.
Bandingkanlah dgn keadaan mereka yg tdk menjadikan ilmu sebagai landasan amal mereka dan tdk menjadikan para ulama sebagai penasehat. Mereka malah mengangkat para tokoh kejahilan sebagai “ulama” pembimbing mereka. Mereka menganggap sebagai orang yg mengerti al-waqi’ . Sementara para ulama Rabbani seperti Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan yg lain mereka anggap sebagai “ulama haidh dan nifas” atau “ulama wudhu’” atau “ulama yg tdk mengerti al-waqi’” atau “ulama yg tdk mengerti masalah jihad” dan semisalnya.
Dengan sebab inilah muncul berbagai fatwa menyesatkan dan menisbahkan kepada amalan jihad. seperti ucapan “Jihad melalui parlemen” “Bom bunuh diri termasuk amalan jihad” “Kewajiban memerangi seluruh kaum kafir/ musyrik” dan yg semisal yg keluar dari orang2 jahil tentang syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Na’udzu billahi minal khudzlan .

Sumber: www.asysyariah.com