Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husen Al-Atsariyyah
Sakinah Wanita dlm Sorotan 09 - April - 2006 09:09:53

Bagian 1
Setiap amalan yg disyariatkan dlm Islam memiliki batasan-batasan. Hal ini dimaksudkan agar agama ini tdk diaplikasikan secara berlebihan yg ujung-ujung kemudian menjadi amalan bid’ah. Demikian juga dgn ziarah kubur. Amalan yg dianjurkan ini bisa menjadi bid’ah jika batasan-batasan syariat dilanggar. Hal-hal apa saja yg mesti kita perhatikan dlm ziarah kubur? Dan bagaimana hukum amalan tersebut bagi wanita?

Ziarah Kubur Amalan yg Disyariatkan
Ziarah kubur merupakan amalan yg disyariatkan dlm agama ini. Ini bertujuan agar orang yg melakukan bisa mengambil pelajaran dari kematian yg telah mendatangi penghuni kubur dan dlm rangka mengingat negeri akhirat. Tentu disertai syarat orang yg melakukan tdk melakukan perbuatan yg dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti berdoa meminta hajat/ kebutuhan dan istighatsah kepada penghuni kubur dan sebagainya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu membagi ziarah kubur menjadi dua yaitu: ziarah syar’iyyah dan ziarah bid’iyyah . Ziarah yg syar’i adl ziarah yg dilakukan dgn maksud mengucapkan salam kepada mayat dan mendoakan sebagaimana hal ini dilakukan ketika menshalati jenazahnya. Namun ziarah ini dilakukan tanpa syaddu rihal . Adapun ziarah yg bid’ah adl bila peziarah melakukan dgn tujuan meminta kebutuhan/ hajat kepada mayat dan ini merupakan syirik akbar. Atau ia ingin berdoa di sisi kuburan mk ini bid’ah yg diingkari dan mengantarkan kepada kesyirikan. Selain itu yg demikian ini tdk pernah dicontohkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk pula oleh salaful ummah dan para imam dari kalangan umat ini.
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Tidak diragukan lagi bahwa berdoa dan beristighatsah kepada mayat serta meminta kepada Allah dgn menyebut hak si mayat yg dilakukan orang2 awam dan selain mereka ketika berziarah termasuk hujr1 yg paling besar dan ucapan yg batil. Semesti ulama menerangkan hukum Allah terkait dgn masalah ini kepada mereka dan memahamkan mereka bagaimana ziarah kubur yg masyru’ah berikut tujuannya.”
Berikut ini dalil dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang disyariatkan ziarah kubur beserta faedahnya:
Buraidah ibnul Hushaib radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur mk ziarahilah kuburan.”
Dalam riwayat An-Nasa`i disebutkan:

فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُوْرَ فَلْيَزُرْ وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا {2

“Siapa yg ingin ziarah kubur mk silahkan ia berziarah namun jangan kalian mengucapkan hujran.”3
Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّ فِيْهَا عِبْرَةً وَلاَ تَقُوْلُوا مَا يُسْخِطُ الرَّبُّ

“Sesungguh dulu aku melarang kalian dari ziarah kubur. mk ziarahilah kuburan krn dlm ziarah kubur ada ibrah/ pelajaran. Namun jangan kalian mengeluarkan ucapan yg membuat Rabb kalian murka.”
Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan faedah lain dari ziarah kubur. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Ziarahilah kuburan krn sesungguh ziarah kubur itu mengingatkan kepada kematian.”4
Dalam riwayat Ahmad dari Buraidah radhiallahu ‘anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

لِتُذَكِّرَكُمْ زِيَارَتُهَا خَيْرًا

“Agar ziarah kubur itu mengingatkan kalian kepada kebaikan.”5
Dalam riwayat Al-Hakim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu disebutkan:

فَإِنَّهَا تُرِقُّ الْقَلْبَ وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ وَتُذَكِّرُ الآخِرَة وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا

“Karena ziarah kubur itu melembutkan hati dan mengalirkan air mata serta mengingatkan pada akhirat namun jangan kalian mengucapkan hujran.”6
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Ziarah kubur ini awal dilarang krn masih dekat masa mereka dgn masa jahiliyah. Sehingga bisa jadi ketika melakukan ziarah kubur mereka mengucapkan perkataan-perkataan jahiliyah yg batil. mk ketika kaidah-kaidah Islam telah tegak kokoh dan mantap hukum-hukum Islam telah teratur dan terbentang serta telah masyhur tanda-tanda dibolehkanlah bagi mereka utk ziarah kubur. Namun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi dgn ucapan beliau: وَلاَ تَقُوْلُوْا هُجْرًا.”
Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu berkata: “Semua hadits ini menunjukkan disyariatkan ziarah kubur menerangkan hikmah dan dilakukan dlm rangka mengambil pelajaran. mk bila dlm ziarah kubur tdk tercapai hal ini berarti ziarah itu bukanlah ziarah yg dimaukan secara syar’i.”

Hukum Ziarah Kubur bagi Wanita
Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahlul ilmi tentang boleh ziarah kubur bagi laki-laki7. Namun berbeda hal bila berkenaan dgn wanita. Mereka terbagi dlm tiga pendapat dlm menetapkan hukumnya:
Pertama: Makruh tdk haram. Demikian satu riwayat dari pendapat Al-Imam Ahmad rahimahullahu dgn dalil hadits Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha:

كُنَّا نُنْهى عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا {8

“Kami dilarang utk mengikuti jenazah namun tdk ditekankan terhadap kami.” 9
Mayoritas pengikut madzhab Syafi’iyyah10 dan sebagian pengikut madzhab Hanafiyyah11 berpendapat seperti ini.
Kedua: Mubah tdk makruh. Demikian pendapat mayoritas Hanafiyyah Malikiyyah dan riwayat lain dari Al-Imam Ahmad rahimahullahu12 berdalil dengan:
1. Hadits dari Buraidah radhiallahu ‘anhu yg telah disebutkan di atas13.
2. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha tentang ziarah ke kubur saudara Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhuma.14
3. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha juga yg dikeluarkan Al-Imam Muslim tentang doa ziarah kubur yg diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah15 ketika ia berkata: “Apa yg aku ucapkan bila menziarahi mereka wahai Rasulullah?”
Beliau mengajarkan: “Katakanlah:

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ

“Salam sejahtera atas penghuni negeri ini dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang2 yg telah mendahului kami dan orang2 yg belakangan. Insya Allah kami akan menyusul kalian.
4. Hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu ia berkata:

مَرَّ النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِيْ. قَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّيِ فَإِنَّكَ لَمْ تُصِبْ بِمُصِيْبَتِيْ. وَلَمْ تَعْرِفْهُ. فَقِيْلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِيْنَ فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدَمَةِ {16 الأُولَى

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang wanita yg sedang menangis di sisi kubur mk Nabi pun menasehati si wanita: ‘Bertakwalah engkau kepada Allah17 dan bersabarlah.’
Wanita itu menjawab dlm keadaan ia belum mengenali siapa yg menasehatinya: “Biarkan aku krn engkau tdk ditimpa musibah seperti musibahku ”
Dikatakanlah kepada si wanita: “Yang menasehatimu adl Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Wanita itu bergegas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tdk didapati penjaga pintu di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku tadi tdk mengenalmu” kata menyampaikan uzur.
Nabi bersabda: “Hanyalah kesabaran itu pada goncangan yg pertama.” 18
Ketiga: Haram. Demikian pendapat sebagian pengikut madzhab Malikiyyah Syafi’iyyah dan Hanafiyyah serta pendapat ketiga dari Al-Imam Ahmad19 dan pendapat yg dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan murid Al-’Allamah Ibnul Qayyim dgn dalil berikut:
1. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Sesungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yg banyak berziarah ke kuburan.”
Ada hadits lain yg datang tdk dlm bentuk mubalaghah yaitu hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ..

“Sesungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yg berziarah ke kuburan.”20
Namun sanad hadits ini dha’if sebagaimana diterangkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Adh-Dha’ifah ketika membawakan hadits no. 225.
2. Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berkata: “Kami mengubur mayat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah selesai Rasulullah kembali pulang dan kami pun pulang bersama beliau. Ketika beliau bersisian dgn pintu rumah beliau berdiri. Tiba-tiba kami melihat ada seorang wanita yg datang dan ternyata dia adl Fathimah putri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya:

مَا أَخْرَجَكِ مِنْ بَيْتِكِ يَا فَاطِمَةُ؟
قَالَتْ: أَتَيْتُ أَهْلَ هَذَا الْبَيْتِ فَتَرَحَّمْتُ إِلَيْهِمْ وَعَزَّيْتُهُمْ بِمَيِّتِهِمْ.
قَال: لَعَلَّكِ بَلَغْتِ مَعَهُم الْكُدَى!
قَالت: مَعَاذَ اللهِ أَنْ أَكُوْنَ بَلَغْتُهَا وَقَدْ سَمِعْتُكَ تَذْكُرُ فِي ذلِكَ مَا تَذْكُرُ!
فَقَال لَها: لَوْ بَلَغْتِهَا مَعَهُم مَا رَأَيْتِ الْجَنَّةَ حَتّى يَرَاهَا جَدُّ أَبِيْكِ!

“Apa yg membuatmu keluar dari rumahmu wahai Fathimah?”
“Ya Rasulullah aku mendatangi keluarga orang yg meninggal di rumah itu utk mendoakan rahmat bagi mereka dan menghibur mereka ” jawab Fathimah.
“Mungkin engkau sampai ke kuburan bersama mereka” kata Rasulullah.
“Aku berlindung kepada Allah dari melakukan hal itu. Sungguh aku telah mendengar apa yg engkau sabdakan dlm masalah itu” jawab Fathimah.
“Seandai engkau sampai mendatangi kuburan bersama mereka niscaya engkau tdk akan melihat surga sampai surga itu bisa dilihat oleh kakek ayahmu” sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang rajih dari perselisihan yg ada wallahu a’lam adl pendapat yg membolehkan ziarah kubur bagi wanita bahkan hukum mustahab sebagaimana laki2 dgn beberapa alasan yg akan kami bawakan pada edisi mendatang Insya Allah.

1 Akan dijelaskan nantinya
2 Hujran atau hujr adl ucapan-ucapan yg batil atau kata-kata yg keji/ kotor termasuk juga banyak berbicara yg tdk sepantasnya.
3 HR. An-Nasa`i dlm Sunan- no. 2033 kitab Al-Jana`iz bab Ziyaratul Qubur dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dlm Shahih Sunan An-Nasa`i
4 HR. Al-Imam Muslim dlm Shahih- no. 2256 kitab Al-Jana`iz bab Isti`dzanun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rabbahu Subhanahu wa Ta’ala fi Ziyarati Qabri Ummihi
5 HR. Al-Imam Ahmad dlm Musnad- 5/355
6 HR. Al-Hakim dlm Al-Mustadrak 1/376
7Al-Iqna’ fi Masa`ilil Ijma’ 1/190 karya Ibnul Qaththan
8 Sebagaimana dinukil dari Al-Mughni kitab Al-Jana`iz mas’alah: Qala: Wa Tukrahu lin-Nisa` dan Jami’ul Fiqh lil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah 2/497
9 HR. Al-Bukhari no. 1278 kitab Al-Jana`iz bab Ittiba’in Nisa` Al-Jana`iz dan Muslim no. 2163 2164 kitab Al-Jana`iz bab Nahyin Nisa` ‘anit Tiba’il Jana`iz
10 Al-Majmu’ 5/285
11 Raddul Mukhtar 1/151
12 Al-Mughni kitab Al-Jana`iz mas’alah: Qala: Wa Tukrahu lin-Nisa` dan Jami’ul Fiqh lil Imam Ibni Qayyim Al-Jauziyyah 2/497
13 Yaitu hadits:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا
14 Akan dijelaskan nantinya.
15 Hadits ini dan hadits Anas setelah kata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu termasuk dalil yg menunjukkan ziarah kubur itu tdk diharamkan bagi wanita.
16 الصَّدَمَةُ makna asal adl pukulan pada sesuatu yg keras kemudian digunakan secara majaz pada segala yg dibenci/ tdk disukai yg terjadi dgn tiba-tiba.
17 Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Yang dzahir di sini tangisan si wanita melebihi perkara yg dibolehkan berupa niyahah dan selain krn itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk bertakwa .”
18 HR. Al-Bukhari no. 1283 dan Muslim no. 626
19 Al-Imam Ahmad diketahui memang memiliki tiga pendapat dlm masalah ini.
20 Bedakan antara lafadz: زَوَّارَات dgn زَائرَات. Lafadz زَوَّارَات merupakan shighat mubalaghah arti wanita-wanita yg banyak atau sering berziarah. Sehingga bila hanya sesekali mereka melakukan ziarah tidaklah mereka dikatakan زَوَّارَات tetapi dikatakan زَائرَات yg makna wanita-wanita yg berziarah.

Bagian 2
Dalam pembahasan yg lalu telah kita ketahui bahwa dlm masalah ziarah kubur bagi wanita ahlul ilmi terbagi dlm tiga pendapat: yg mengatakan makruh tdk haram mubah tdk makruh dan yg berpendapat haram. Di akhir pembahasan kami telah menyinggung bahwa pendapat yg kuat dan menenangkan hati kami dgn melihat dalil yg ada dan memperhatikan ucapan ulama adl pendapat yg membolehkan ziarah kubur bagi wanita bahkan hukum mustahab sebagaimana laki2 wallahu ta’ala a’lam dgn beberapa alasan yg akan kami bawakan dlm pembahasan berikut ini wabillahi at-taufiq.
Pertama: Hadits-hadits yg membolehkan ziarah kubur bagi wanita lbh shahih daripada hadits-hadits yg melarang.
Kedua: Lafadz: yg terdapat dlm hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

Sesungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yg banyak berziarah ke kuburan1.
menunjukkan mubalaghah arti yg dilaknat adl wanita yg banyak berziarah. Sehingga wanita yg berziarah hanya sekali-kali tidaklah masuk dlm ancaman hadits di atas. Kalau ada yg berargumen bahwa ada hadits lain yg tdk dlm bentuk mubalaghah yaitu hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائرَاتِ الْقُبُوْرِ..

Sesungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yg berziarah ke kuburan2.
Maka penjelasan sebagai berikut: Hadits: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ telah diriwayatkan dari beberapa shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Abu Hurairah Hassan bin Tsabit dan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhum. Semua membawakan dgn bentuk mubalaghah: kecuali satu riwayat dari hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari jalan Abu Shalih maula Ummu Hani’ bintu Abi Thalib radhiallahu ‘anha dibawakan dgn lafadz:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائرَاتِ الْقُبُوْرِ

Kita perhatikan lafadz tdk berbentuk mubalaghah. Namun perlu diketahui rawi yg berkunyah Abu Shalih ini bernama Badzan atau Badzam. Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu: “Ia perawi yg dha’if .”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Ia dha’if menurut jumhur nuqqad3. Tidak ada seorang pun yg mentsiqahkan kecuali Al-’Ijli sebagaimana dikatakan Al-Hafizh dlm At-Tahdzib bahkan Isma’il bin Abi Khalid dan Al-Azdi mendustakannya. Sebagian yg lain menjelekkan dgn suka berbuat tadlis.
Dari keterangan di atas jelaslah bahwa yg shahih dari hadits ini hanyalah yg menyebutkan lafadz mubalaghah krn bersepakat hadits Abu Hurairah dan hadits Hasan radhiallahu ‘anhuma. Bahkan disepakati pula oleh hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dlm riwayat dari kebanyakan perawi walaupun pada ada kelemahan sehingga tdk pantas dijadikan sebagai syahid namun tdk menjadi masalah kata Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu. Dengan demikian yg dilaknat dari hadits tersebut adl wanita-wanita yg banyak melakukan ziarah kubur. Adapun yg tdk sering mk tidaklah masuk dlm laknat tersebut.
Sekarang menjadi jelaslah ketidak-bolehan mempertentangkan hadits ini dgn hadits-hadits yg menunjukkan disunnahkan ziarah kubur bagi wanita. Karena hadits ini khusus sedangkan hadits tentang sunnah ziarah kubur adl umum. mk masing-masing diamalkan sesuai tempatnya. Mengumpulkan dalil-dalil yg ada adl lbh utama daripada menganggap ada naskh .
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Laknat yg disebutkan dlm hadits hanyalah ditujukan kepada para wanita yg banyak ziarah kubur krn dlm hadits disebutkan dgn bentuk mubalaghah. Sebab pelarangan mungkin krn bila wanita sering ziarah kubur akan mengantarkan utk menyia-nyiakan hak suami dan keluar dgn tabarruj. Di samping juga akan muncul teriakan-teriakan/suara keras dari si wanita di sisi kubur dan semisalnya. Dan dinyatakan bahwa bila aman dari terjadi semua itu mk tdk ada larangan memberi izin kepada mereka utk datang ziarah ke kubur krn mengingat kematian dibutuhkan bagi laki2 dan juga bagi wanita.”
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu berkata mengomentari ucapan Al-Imam Al-Qurthubi di atas: “Ucapan ini sepantas dijadikan sebagai sandaran/pegangan dlm mengumpulkan di antara hadits-hadits dlm pembahasan ini yg secara dzahir terlihat saling bertentangan.”
Ketiga: Keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

“Aku pernah melarang kalian dari ziarah kubur mk ziarahilah kuburan.”4
Sehingga termasuk di dlm perintah kepada kaum wanita. Karena ketika pada awal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang ziarah kubur tdk diragukan bahwa larangan itu umum mencakup laki2 dan perempuan. Tatkala beliau nyatakan: نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ dipahami bahwa beliau juga menujukan pembicaraan kepada laki2 dan perempuan. mk bila kalimat yg awal ini ditujukan bagi laki2 dan perempuan berarti kalimat selanjut yaitu: فَزُوْرُوْهَا juga ditujukan kepada kedua jenis tersebut.
Yang memperkuat keterangan di atas adl kelanjutan dari hadits ini seperti tersebut dlm riwayat Muslim dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu yg telah disebutkan di atas:

وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُوْمِ اْلأَضَاحِي فَوْقَ ثَلاَثٍ، فَأَمْسِكُوْا مَا بَدَالَكُمْ، نَهَيْتُكُمْ عَنِ النَّبِيْذِ إِلاَّ فِي سِقَاءٍ، فَاشْرَبُوا فِي اْلأَسْقِيَةِ كُلِّهَا وَلاَ تَشْرَبُوا مُسْكِرًا

“Dan aku pernah melarang kalian utk menyimpan daging hewan kurban lbh dari tiga hari mk sekarang tahanlah berapa hari yg kalian inginkan. Aku pernah melarang kalian dari nabidz5 kecuali yg di dlm bejana tempat minum mk sekarang minumlah yg ada di dlm bejana tempat minum seluruh dan jangan kalian meminum minuman yg memabukkan.”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu mengatakan: “Semua perbuatan yg disebutkan dlm hadits di atas pembicaraan ditujukan kepada dua jenis secara pasti sebagaimana sasaran pembicaraan pada kalimat yg awal: كنت نَهَيْتُكُمْ. Bila dikatakan sasaran pembicaraan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: فَزُوْرُوْهَا itu hanya khusus bagi laki2 niscaya akan rusak/kacau susunan kalimat yg ada dan akan hilang kesegarannya. Ini merupakan perkara yg tdk pantas bagi sang pemilik jawami’ul kalim6 .”
Keempat: Berserikat perempuan dgn laki2 dlm tujuan disyariatkan ziarah kubur yaitu melunakkan hati mengalirkan air mata mengingatkan pada kematian dan hari akhir.
Kelima: Pemahaman Aisyah radhiallahu ‘anha dlm masalah ini. Bahkan ia sendiri melakukan ziarah kubur sebagaimana diberitakan Abdullah ibnu Abi Mulaikah: “Suatu hari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha datang dari pekuburan mk aku berkata kepadanya: “Wahai Ummul Mukminin! Dari mana engkau datang?”
Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab: “Dari kubur saudaraku Abdurrahman bin Abi Bakar.” “Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang melakukan ziarah kubur?” tanyaku.
“Iya kemudian beliau perintahkan utk ziarah kubur” jawab ‘Aisyah radhiallahu ‘anha.

Suatu hari Muhammad bin Qais bin Makhramah ibnul Muthallib berkata: “Maukah aku beritakan kepada kalian tentang aku dan ibuku?” Perawi yg mendengar ucapan itu berkata: “Kami menyangka bahwa yg dimaksudkan oleh Muhammad bin Qais adl ibu yg melahirkannya.” Namun ternyata Muhammad bin Qais berkata: “Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: ‘Maukah aku ceritakan kepada kalian tentang aku dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’
‘Tentu kami mau’ jawab kami
‘Aisyah radhiallahu ‘anha pun mulai bercerita: ‘Suatu ketika di malam giliranku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan rida`- melepas kedua sandal dan meletakkan di sisi kedua kakinya. Lalu beliau membentangkan ujung sarung di atas tempat tidur setelah beliau pun berbaring. Tidak berapa lama sekadar beliau menyangka aku telah tertidur beliau bangkit lalu mengambil rida`- dgn perlahan dan mengenakan sandal dgn perlahan kemudian membuka pintu dan keluar setelah pintu ditutup kembali dgn perlahan. Aku pun bangkit dan mengenakan pakaianku menutup kepalaku dan menutup wajahku dgn sarung. Kemudian aku mengikuti jejak beliau hingga sampai di pekuburan Baqi’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri lama lalu mengangkat kedua tangan sebanyak tiga kali. Kemudian beliau berbalik akupun berbalik. Beliau bersegera aku pun bersegera. Beliau berlari kecil akupun berlari kecil. Beliau berlari lbh cepat aku pun melakukan yg sama hingga aku dapat mendahului beliau lalu segera masuk ke dlm rumah. Belum lama aku merebahkan tubuhku beliau masuk. Melihat keadaanku beliau berta heran: ‘Ada apa dgn dirimu wahai ‘Aisy? Kulihat nafasmu memburu.’
‘Tidak apa-apa’ kilahku.
‘Beritahu aku atau Allah yg akan mengabarkan kepadaku!’ ancam beliau.
Aku pun menceritakan kejadian yg baru berlangsung. Mendengar penuturanku beliau berkata: ‘Berarti engkau adl sosok yg aku lihat di hadapanku tadi?’
‘Iya’ jawabku.
Beliau mendorong dadaku dgn kuat hingga membuatku kesakitan. Kemudian beliau bersabda: ‘Apakah engkau menyangka Allah dan Rasul-Nya akan berbuat tdk adil terhadapmu7?’
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: ‘Bagaimana pun manusia menyembunyikan niscaya Allah mengetahuinya. Memang semula aku menyangka demikian.’
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan: ‘Jibril datang menemuiku saat itu. Dia memanggilku mk aku pun menyembunyikan darimu. Aku penuhi panggilan krn Jibril tdk mungkin masuk ke kamar ini sementara engkau telah melepaskan pakaianmu. Dan tadi aku menyangka engkau sudah tidur mk aku tdk ingin membangunkanmu krn aku khawatir engkau akan merasa sendiri dlm sepi di kegelapan malam. Jibril berkata kepadaku saat itu: ‘Sesungguh Rabbmu memerintahkanmu utk mendatangi pekuburan Baqi’ guna memintakan ampun bagi penghuninya.’
‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: ‘Apa yg aku ucapkan bila menziarahi mereka wahai Rasulullah?’
Beliau mengajarkan: ‘Katakanlah:

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، يَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ

“Salam sejahtera atas penghuni negeri ini dari kalangan mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang2 yg telah mendahului kami dan orang2 yg belakangan. Insya Allah kami akan menyusul kalian.”
Hadits ini dijadikan dalil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dlm kitab At-Talkhish utk menyatakan boleh ziarah kubur bagi wanita. Demikian dzahir yg ditunjukkan oleh hadits ini sebagaimana ia mendukung pendapat yg menyatakan rukhshah ziarah kubur setelah pelarangan juga mencakup wanita. Karena kisah yg disebutkan di atas terjadi di Madinah saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah kumpul dgn Aisyah radhiallahu ‘anha. Sedangkan larangan ziarah kubur ditetapkan ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih tinggal di Makkah. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Kami memastikan hal ini walaupun kami tdk mengetahui tarikh yg memperkuat krn penarikan kesimpulan yg shahih yg menjadi saksi/pendukung yaitu ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: كنت نَهَيْتُكُمْ . Tidaklah bisa dinalar larangan semisal ini ditetapkan di masa Madani bukan di masa Makki di mana saat beliau tinggal di Makkah mayoritas hukum yg ditetapkan adl yg berkaitan dgn tauhid dan aqidah. Sementara larangan ziarah kubur termasuk pembahasan tauhid/aqidah krn larangan dimaksudkan sebagai penutup jalan/perantara yg mengantarkan kepada kesyirikan. Pensyariatan larangan ziarah kubur ini hanyalah cocok diterapkan di masa Makki krn manusia ketika itu baru saja masuk Islam dan baru saja meninggalkan kesyirikan. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang mereka ziarah kubur agar tdk menjadi perantara kepada syirik. Sampai ketika tauhid telah kokoh dlm dada-dada mereka dan mereka mengetahui jenis-jenis syirik yg berlawanan dgn tauhid beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengizinkan mereka berziarah. Adapun kalau dianggap beliau membiarkan mereka terus melakukan ziarah sepanjang masa Makki sebagaimana kebiasaan mereka kemudian baru beliau larang setelah di Madinah mk anggapan ini sangat jauh dari hikmah syariat. Karena itulah kami memastikan bahwa larangan tersebut ditetapkan di Makkah. Bila demikian keadaan izin beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha utk berziarah kubur di Madinah merupakan dalil yg jelas atas apa yg telah kami sebutkan. mk perhatikanlah krn ini adl sesuatu yg membekas dlm jiwa. Sementara aku belum pernah melihat ada orang yg mensyarah/ menjelaskan masalah ini sebagaimana sisi yg aku jelaskan. Kalau aku benar mk itu datang dari Allah adapun bila aku salah mk itu semata dari diriku sendiri.”
Keenam: Persetujuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang wanita yg berada di sisi kuburan sebagaimana disebutkan dlm hadits Anas radhiallahu ‘anhu:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ: اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِيْ. قَالَتْ: إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيْبَتِيْ. وَلَمْ تَعْرِفْهُ، فَقِيْلَ لَهَا: إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِيْنَ، فَقَالَتْ: لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ: إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدَمَة اْلأُولَى

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang wanita yg sedang menangis di sisi kubur mk Nabi pun menasehati si wanita: “Bertakwalah engkau kepada Allah9 dan bersabarlah.”
Wanita itu menjawab dlm keadaan ia belum mengenali siapa yg menasehatinya: “Menjauhlah dariku krn engkau tdk ditimpa musibah seperti musibahku ”
Dikatakanlah kepada si wanita: “Yang menasehatimu adl Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Wanita itu bergegas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tdk didapatkan penjaga pintu di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Aku tadi tdk mengenalmu” kata menyampaikan uzur.
Nabi bersabda: “Hanyalah kesabaran itu pada goncangan yg pertama.” 10
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-’Asqalani rahimahullahu berkata: “Sisi pendalilan dari hadits ini adl Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk mengingkari duduk si wanita di sisi kuburan dan persetujuan ini merupakan hujjah.”
Al-’Aini rahimahullahu berkata: “Hadits ini menunjukkan boleh ziarah kubur secara mutlak. Sama saja baik yg berziarah itu laki2 atau wanita dan sama saja baik kubur yg diziarahi itu adl kubur seorang muslim atau orang non muslim11 krn tdk ada perincian dlm hal ini.”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Apa yg ditunjukkan dlm hadits berupa kebolehan ziarah kubur bagi wanita merupakan makna yg langsung dipahami dari hadits tersebut. Namun penunjukan itu barulah sempurna apabila kisah ini tdk terjadi sebelum ada pelarangan ziarah kubur12. Dan inilah yg nampak apabila kita mengingat penjelasan yg telah lewat bahwasa larangan ziarah kubur terjadi di Makkah. Sementara kisah yg diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu ini -dan dia adl Madani yg ketika berusia sepuluh tahun dia dibawa oleh ibu Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha ke hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau hijrah ke Madinah- terjadi di Madinah. mk kuatlah penetapan yg ada bahwa kisah ini terjadi setelah ada larangan ziarah kubur13. Dengan demikian sempurnalah pendalilan dari hadits ini utk menunjukkan boleh ziarah kubur . Adapun ucapan Ibnul Qayyim rahimahullahu dlm kitab Tahdzibus Sunan : “Takwa kepada Allah14 adl mengerjakan apa yg diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yg dilarang-Nya di antara sejumlah larangan-Nya adl larangan ziarah kubur 15.” mk ucapan beliau ini benar bila seandai si wanita mempunyai ilmu tentang dilarang ziarah kubur bagi wanita dan larangan itu berlaku terus-menerus tdk dihapus . Bila demikian keadaan tepatlah ucapan beliau: “ di antara sejumlah larangan-Nya adl larangan ziarah kubur .” Namun sebenar ini adl pendalilan yg tdk tepat. Karena kalau larangan itu berlaku terus-menerus niscaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melarang si wanita dari ziarah kubur secara terang-terangan dan beliau akan menerangkan kepada si wanita. Beliau tdk akan mencukupkan dgn memerintahkan bertakwa kepada Allah dlm bentuk yg umum. Ini jelas sekali insya Allah.”
Ibnu Hazm rahimahullahu menyatakan ziarah kubur itu sunnah baik bagi laki2 maupun bagi wanita.

Wanita Dilarang Sering Ziarah Kubur
Sekalipun ziarah kubur dibolehkan bagi wanita namun tdk diperkenankan bagi mereka utk banyak atau sering melakukannya. Karena perbuatan demikian akan mengantarkan utk melakukan perkara yg menyelisihi syariat misal berteriak-teriak di kuburan keluar dgn tabarruj menjadikan kuburan sebagai tempat rekreasi/piknik menyia-nyiakan waktu dgn obrolan yg sia-sia di sisi kubur dan sebagai sebagaimana banyak kita saksikan di negeri kita ini. Wanita yg banyak dan sering berbolak-balik ke kuburan inilah yg dituju oleh hadits:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Sesungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita-wanita yg banyak berziarah ke kuburan.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 HR. Ahmad 2/337 At-Tirmidzi no. 1056 kitab Al-Jana`iz bab Ma Ja‘a fi Karahiyati Ziyaratil Qubur lin Nisa’ Ibnu Majah no. 1576 kitab Al-Jana`iz bab Ma Ja‘a fin Nahyi ‘an Ziyaratin Nisa‘ Al-Qubur. Dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibni Majah Irwa‘ul Ghalil no. 762.
2 HR. An-Nasa‘i no. 2043 kitab Al-Jana`iz bab At-Taghlizh fit Tikhadzis Suruj ‘alal Qubur
3 Ulama yg ahli dlm mengkritik kelemahan yg ada pada hadits
4 HR. Muslim no. 2257 kitab Al-Jana`iz bab Isti`dzanun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Rabbahu Subhanahu wa Ta’ala fi Ziyarati Qabri Ummihi
5 Minuman yg dibuat dari tamr/ kurma kering anggur kering madu gandum dan selain
6 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dgn ucapan yg ringkas/pendek sedikit lafadz namun banyak maknanya.
7 Dengan pergi ke tempat istri yg lain sementara malam ini adl malam giliranmu. –pent
9 Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata: “Yang dzahir di sini tangisan si wanita melebihi perkara yg dibolehkan berupa niyahah dan selainnya. Karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk bertakwa .”
10 HR. Al-Bukhari no. 1283 kitab Al-Jana`iz bab Ziyaratul Qubur dan Muslim no. 626
11 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menziarahi kubur ibu padahal sang ibu meninggal dlm keadaan musyrik dan kafir. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata:

زَارَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُوْرَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُوْرُوْا الْقُبُوْرَ، فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menziarahi kubur ibu mk beliau menangis dan tangis beliau membuat orang2 yg ada di sekitar beliau ikut menangis. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Aku minta izin kepada Rabbku utk memintakan ampun bagi ibuku namun Rabbku tdk mengizinkannya. Dan aku pun minta izin utk menziarahi kuburan ibuku mk utk yg ini Rabbku mengizinkannya. mk ziarahilah kuburan krn ziarah kubur itu akan mengingatkan kepada kematian.”
12 Yakni kisah ini terjadi setelah disyariatkan ziarah kubur.
13 Yaitu ketika ziarah kubur telah disyariatkan setelah sebelum dilarang.
14 Demikian yg diperintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada si wanita yg sedang menangis di sisi kuburan.
15 Ibnul Qayyim rahimahullahu memaksudkan ziarah kubur itu dilarang bagi wanita.

Sumber: www.asysyariah.com