Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah Aalu Fauzan Barangsiapa yg membatalkan puasa Ramadhan dgn sebab yg dibolehkan seperti udzur- udzur syar’i yg membolehkan seseorang utk membatalkan puasa atau yg diharamkan seperti orang yg membatalkan puasanya dgn jima’ ia wajib melakukan qadha.

Berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla: Maka sebanyak hari yg ditinggalkan itu pada hari-hari yg lain.

Disunnahkan bagi mereka utk segera membayar qadha’nya agar segera terbebas dari tanggungan.Qadha disunnahkan utk dilakukan dgn cara berturut-turut krn qadha mengikuti ada’ menurut ijma’. Jika tidak menggadha dengan segera is wajib betekad utk itu dan boleh baginya mengundurkannya krn waktunya panjang. Setiap kewajiban yg waktunya panjang diperbolehkan mengundurkannya dengan tekad mengerjakannya diperbolehkan utk melakukannya secara terpisah-pisah tanpa berurutan.Akan tetapi jika bulan Sya’ban tersisa sejumlah puasa yg harus digadha ia wajib melakukan qadha dgn cara berurutan. Demikian menurut ijma’. Hal itu krn sempitnya waktu.Tidak boleh menundanya hingga Ramadhan berikutnya tanpa adanya udzur. Berdasarkan ucapan Aisyah Radhiallahu ‘anha Suatu ketika aku memiliki hutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha puasa Ramadhan melainkan pada bulan Sya’ban krn kesibukan melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Hadits ini menunjukkan bahwa waktu meng-qadha itu luas hingga bulan Sya’ban tidak tersisa selain sejumlah puasa yg ditinggalkan Maka wajib baginya berpuasa sejumlah hari itu sebelum Ramadhan berikutnya.Jika mengakhirkan mengqadha puasa hingga tiba Ramadhan yg berikutnya maka ia melakukan puasa Ramadhan yg tiba itu dan melakukan qadha hutang puasanya setelahnya.

Kemudian jika meninggalkannya krn adanya udzur sehingga la tidak bias meng-qadha di waktu yg ada itu maka tiada lain wajib baginya kecuali qadha.Jika meninggalkannya krn tanpa udzur maka di samping meng-qadha ia wajib memberikan makanan tiap hari meng-qadha itu sebanyak setengah sha’ berupa makanan pokok di daerah tempat tinggalnya.

Orang yg meninggal dgn kewajiban qadha padanya sebelum tibanya bulan Ramadhan yg akan datang maka tidak ada kewajiban atasnya krn la menundanya dalam waktu yg diperbolehkan.Jika meninggal setelah Ramadhan yg berikutnya dan menunda qadha krn adanya udzur seperti sakit atau dalam perjalanan hingga disusul dgn tibanya bulan Ramadhan berikutnya maka ia tidak menanggung beban apa-apa juga. Jika la menundanya tanpa udzur apa pun maka ia wajib membayar kafarat dgn cara mengeluarkan atas namanya makanan_untuk orang-orang miskin sejumlah hari puasa yg la tinggalkanBarangsiapa meninggal dan masih menanggung puasa kafarat seperti puasa utk kafarat dzihar atau puasa wajib sebagai dam haji tamattu’ maka harus memberi makanan atas namanya tiap hari satu orang miskin dan tidak perlu diqadha puasanya. Pemberian makanan itu diambilkan dari harta peninggalannya krn puasanya adl puasa yg sama sekali tidak bisa diwakilkan kepada orang yg masih hidup.

Demikianlah pendapat mayoritas ahli ilmu.Barangsiapa yg meninggal dan padanya tanggungan puasa nadzar maka disunnahkan kepada walinya utk melakukan puasa atas namanya. Berdasarkan hadits di dalam kitab Ash- Shahihain Seorang wanita datang menghadap kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata ‘Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dgn meninggalkan tanggungan puasa nadzar.

Apakah aku harus berpuasa atas namanya?’ Beliau menjawab ‘Ya benar’. Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata Dilakukan puasa nadzar atas namanya dan tidak demikian untuk puasa fardhu yg asli. Ini adl madzhab Ahmad dan lainnya ini nash yg datang dari Ibnu Abbas dan Aisyah. Itu selaras dalil dan qiyas krn puasa nadzar pada dasarnya menurut syariat adl bukan puasa wajib akan tetapi diwajibkan oleh hamba kepada dirinya. Maka menjadi semacam hutang atas dirinya. Oleh krn itu Nabi menyerupakannya dgn hutang.Adapun puasa yg dari awalnya telah difardhukan oleh Allah Azza wa Jalal maka puasa itu adalah salah satu dari rukun Islam. Maka bagaimanapun tidak bisa digantikan oleh orang lain dalam pengamalannya sebagaimana shalat dan syahadat. Sesungguhnya yg dimaksudkan dari keduanya itu adl ketaatan hamba kepada dirinya sendiri dan kesiapannya utk memenuhi hak ibadah yg merupakan tujuan penciptaan makhluk. Yang demikian ini tidak bisa diwakilkan dan shalat tidak bisa diwakilkan kepada yg lain.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata Setiap hari ia harus memberikan makanan pokok kepada satu orang miskin. Pendapat ini diikuti oleh Ahmad Ishaq dan lainnya. Ini merupakan tuntunan hukum sebagaimana diwajibkan oleh atsar. Nadzar adl sesuatu yg sangat baku sebagai suatu beban tanggung jawab maka harus dikerjakan setelah kematian. Adapun puasa Ramadhan Allah Azza wa Jalla tidak mewajibkannya kepada orang yg tidak mampu melakukannya. Akan tetapi Dia memerintahkan kepadanya utk membayar fidyab saja dengan memberikan makanan pokok kepada seorang miskin. Sedangkan kewajiban mengqadha adalah atas orang-orang yg mampu melakukannya bukan atas orang-orang yg tak mampu.

Maka tidak perlu seseorang melakukan qadha atas nama orang lain.Sedangkan nadzar puasa atau lainnya maka baleh dilakukan orang lain tanpa khilaf karena berdasarkan hadits-hadits shahih. Muttafaqun’alaih: Al-Bukhari Bab Shaum 40 dan Muslim {4:2 Bab Shiyam. 151.Muttafaqun ‘alaih dari hadits Ibnu Abbas: Al-Bukhari ; Muslim dan lafadz-nya .. Puasalah kamu utk ibumu. {Referensi : Buku “Ringkasan Fiqih Islam” Panduan Ibadah Sesuai Sunnah Jilid 2 Hal. 93-96 Penerbit: Pustaka Salafiyah Cetakan Pertama : Juni 2006/Jumada Ula 1427 H Penerjemah: AL Ustadz Akhmad Yusjawi}
sumber : file chm Darus Salaf 2