Hukum Melafadzkan Niat

penulisĀ Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Sarbini
Syariah Problema Anda 21 - Oktober - 2004 10:58:19

Apakah benar tdk ada bacaan khusus sebelum takbir ?
Koko Wiharto - kok..@yahoo.com

Jawab:
الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
Memang benar demikian bahkan hal itu merupakan bid’ah yg diada-adakan dlm agama yg sempurna ini. Sebagaimana diterangkan para ulama berdasarkan dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah dgn pemahaman yg benar yg diwarisi dari para shahabat ridhwanullahi alaihim ajma’in.
1. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata dlm Asy-Syarhul Mumti’ : “Ketahuilah bahwa niat itu tempat di qalbu oleh krn itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguh amalan-amalan itu dikerjakan dgn niat dan bagi tiap orang apa yg dia niatkan.”
Maka niat itu bukan amalan anggota tubuh1 oleh krn itu kami mengatakan bahwa melafadzkan niat adl bid’ah. Tidak disunnahkan bagi seseorang jika hendak melaksanakan suatu ibadah2 utk mengucapkan:
اللَّهُمَّ نَوَيْتُ كَذَا أَوْ أَرَدْتُ كَذَا
“Ya Allah tuhanku aku berniat untuk…” atau “aku bermaksud untuk…” baik secara jahr maupun sirr krn hal ini tdk pernah dinukilkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah mengetahui apa yg ada dlm qalbu tiap orang. mk engkau tdk perlu mengucapkan niatmu krn niat itu bukan dzikir sehingga diucapkan dgn lisan. Dia hanyalah suatu niat yg tempat di hati. Dan tdk ada perbedaan dlm hal ini antara ibadah haji dan yg lainnya. Bahkan dlm ibadah haji pun seseorang tdk disunnahkan utk mengatakan:
اللَّهُمَّ إِنِّيْ نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ أَوْ نَوَيْتُ الْحَجَّ
“Ya Allah aku berniat utk umrah atau aku berniat utk haji.”
Namun dia mengucapkan talbiyah sesuai dgn yg dia niatkan. Dan talbiyah bukanlah merupakan pengkabaran niat krn talbiyah mengandung jawaban terhadap panggilan Allah. mk talbiyah itu sendiri merupakan dzikir dan bukan pengkabaran tentang apa yg diniatkan di dlm hati. Oleh krn itu seseorang mengucapkan:
لَبَّيْكَ عُمْرَةً أَوْ لَبَّيْكَ حَجًّا
“ aku memenuhi panggilan-Mu utk menunaikan umrah” atau “ aku memenuhi panggilan-Mu utk menunaikan haji.”

2. Syaikh kami Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah berkata dlm Ijabatus Sail : “Melafadzkan niat merupakan bid’ah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ أَتُعَلِّمُوْنَ اللهَ بِدِيْنِكُمْ
“Katakanlah apakah kalian hendak mengajari Allah tentang agama kalian?”
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari a’rabi yg tdk benar cara shalat dgn sabdanya:
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ
“Jika kamu bangkit utk shalat mk bertakbirlah .”
Jadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk mengatakan kepadanya: “Ucapkanlah: Aku berniat untuk…”3
Dan niat itu tempat di hati berdasarkan hadits:
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguh amalan-amalan itu dikerjakan dgn niat.”
Maka merupakan suatu kekeliruan jika dikatakan bahwa dlm kitab Al-Umm4 ada penyebutan melafadzkan niat. Tidak ada dlm kitab Al-Umm penyebutan tersebut.
Dan melafadzkan niat tdk ada sama sekali dlm ibadah apapun dlm agama ini. Adapun talbiyah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: mk ada 2 kemungkinan:
1. Kata manshub5 sebagai mashdar yaitu “ aku menjawab panggilan-Mu utk menunaikan haji.”
2. Kata manshub sebagai maf’ul dari fi’il yaitu “ aku menjawab panggilanmu aku berniat utk haji.”
Namun ibadah ini disamakan dgn ibadah-ibadah lain mk kemungkinan yg pertama yg benar.6
3. Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Bahwasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan shalat beliau mengatakan dan beliau tdk mengucapkan sesuatu sebelumnya. Dan tidaklah beliau melafadzkan niat sama sekali dan tdk pula mengatakan:
أُصَلِّي لِلَّهِ صَلاَةَ كَذَا مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ إِمَاماً أَوْ مَأْمُوْمًا
“Aku berniat shalat ini menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam” atau “sebagai makmum.”
Dan beliau tdk mengatakan:7 atau 8 tdk pula 9. Ini adl 10 bid’ah10 tdk seorangpun yg menukilkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dgn sanad yg shahih atau dha’if atau musnad atau mursal satu lafadz pun dari lafadz-lafadz itu. Bahkan tdk juga dari seorang shahabat sekalipun. Dan tdk seorang tabi’in pun yg menganggap baik dan tdk pula dari kalangan imam yg empat .
Ha saja sebagian orang dari kalangan mutaakhirin salah memahami perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i tentang shalat bahwa: ‘Shalat itu tdk sama dgn puasa mk tidaklah seseorang mengawali shalat kecuali dgn dzikir’ mk orang ini menyangka bahwa yg dimaksud adl melafadzkan niat utk shalat. Padahal yg dimaksud oleh Al-Imam Asy-Syafi’i adl takbiratul ihram bukan yg lainnya.”
Wallahu a’lam.

1 Karena Rasulullah memisahkan antara amalan-amalan anggota tubuh dgn niat bahwa niat itu yg menggerakkan tubuh utk beramal.

2 Baik itu wudhu shalat puasa dan ibadah lainnya.

3 Atau “ushalli…” sebagaimana yg sering kita dengar dari saudara-saudara kita yg sangat jahil dgn agama ini.

4 Kitab karangan Al-Imam Asy-Syafi’i.

5 Istilah dlm ilmu nahwu.

6 Arti bahwa talbiyah merupakan dzikir dan bukan melafadzkan niat.

7 Arti ibadah yg ditunaikan pada waktunya.

8 Arti ibadah yg ditunaikan setelah waktu berlalu.

9 Arti shalat yg diwajibkan pada waktu itu baik dzuhur atau ashar dan lainnya.

10 Yaitu 10 lafadz kata yg disebutkan.

Sumber: www.asysyariah.com