Hak Istri dlm Islam

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah
Sakinah Mengayuh Biduk 31 - Agustus - 2007 09:14:08

Banyak fakta tdk terbantahkan bahwa hak-hak istri sering kali diabaikan oleh para suami. Padahal jika kita runut percikan konflik dlm rumah tangga berakar dari diabaikan hak-hak istri/suami oleh pasangan mereka. Lalu apa saja hak-hak istri yg mesti ditunaikan suami?

Dalam kitab mulia yg tdk dapat disusupi kebatilan sedikit pun Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Dan para istri mempunyai hak yg seimbang dgn kewajiban mereka menurut cara yg ma’ruf.”
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi rahimahullahu menyatakan dlm tafsir ayat di atas bahwa para istri memiliki hak terhadap suami sebagaimana suami memiliki hak yg harus dipenuhi oleh istrinya.
Karena itulah Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata “Aku senang berhias utk istriku sebagaimana aku senang bila ia berdandan untukku krn Allah yg Maha Tinggi sebutan-Nya berfirman:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Dan para istri mempunyai hak yg seimbang dgn kewajiban mereka menurut cara yg ma’ruf.”
Adh-Dhahhak rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas “Apabila para istri menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menaati suami-suami mereka mk wajib bagi suami utk membaguskan pergaulan dgn istri menahan dari memberikan gangguan/menyakiti istri dan memberikan nafkah sesuai dgn kelapangannya.”
Al-‘Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata dlm tafsir “Para istri memiliki hak-hak yg harus dipenuhi oleh suami-suami mereka seimbang dgn kewajiban-kewajiban mereka terhadap suami-suami mereka baik itu yg wajib maupun yg mustahab. Dan masalah pemenuhan hak suami istri ini kembali kepada yg ma’ruf yaitu kebiasaan yg berlangsung di negeri masing-masing dan sesuai dgn zaman.”
Hakim bin Mu’awiyah meriwayatkan sebuah hadits dari ayah Mu’awiyah bin Haidah radhiyallahu ‘anhu. Ayah ini berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟
“Wahai Rasulullah apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّحْ وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Engkau beri makan istrimu apabila engkau makan dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajah jangan menjelekkannya1 dan jangan memboikot kecuali di dlm rumah.”
Ketika haji Wada’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan khutbah di hadapan manusia. Di antara isi khutbah beliau adalah:
أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، فَحَقُّكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِي بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ، أَلاَ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوْا إِلَيْهِنَّ فيِ كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ
“Ketahuilah kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adl mereka tdk boleh membiarkan seseorang yg tdk kalian sukai utk menginjak permadani kalian dan mereka tdk boleh mengizinkan orang yg kalian benci utk memasuki rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adl kalian berbuat baik terhadap mereka dlm hal pakaian dan makanan mereka.”
Dari ayat di atas berikut beberapa penafsiran serta dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kita memahami bahwa dlm Islam kedudukan seorang istri dimuliakan dan diberi hak-hak yg harus dipenuhi oleh pasangan hidupnya. Hal ini termasuk kebaikan agama ini yg memang datang dgn keadilan di mana wanita tdk hanya dituntut utk memenuhi kewajiban namun juga diberikan hak-hak yg seimbang.
Dalam rubrik Mengayuh Biduk kali ini kami sengaja mengangkat pembahasan tentang hak istri sebagai pengajaran kepada mereka yg belum tahu dan sebagai penyegaran ilmu kepada mereka yg sudah tahu. Setelah selesai membahas hak istri kami akan lanjutkan pembahasan tentang hak suami dlm edisi mendatang Insya Allah. Mungkin terlontar ta kenapa hak istri lbh dahulu dibahas daripada hak suami? Kami jawab memang semesti hak suami lbh dahulu dibicarakan daripada hak istri bahkan hak suami harus dikedepankan. Namun krn tujuan kami adl ingin menunjukkan pemuliaan Islam kepada kaum wanita dan bagaimana Islam memerhatikan hak-hak wanita mk kami pun mendahulukan pembicaraan tentang hak istri tanpa mengurangi penyunjungan kami terhadap hak suami. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
Ada beberapa hak yg dimiliki seorang istri terhadap suami di antaranya:

1. Mendapat mahar
Dalam pernikahan seorang lelaki harus menyerahkan mahar kepada wanita yg dinikahinya. Mahar ini hukum wajib dgn dalil ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً
“Berikanlah mahar kepada wanita-wanita yg kalian nikahi sebagai pemberian dgn penuh kerelaan.”
فَآتُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ فَرِيْضَةً
“berikanlah kepada mereka mahar dgn sempurna sebagai suatu kewajiban.”
Dari As-Sunnah pun ada dalil yg menunjukkan wajib mahar yaitu ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang shahabat yg ingin menikah sementara shahabat ini tdk memiliki harta:
انْظُرْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ
“Lihatlah apa yg bisa engkau jadikan mahar dlm pernikahanmu walaupun hanya cincin dari besi.” 2
Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullahu berkata “Kaum muslimin telah sepakat tentang disyariatkan mahar dlm pernikahan.”
Mahar merupakan milik pribadi si wanita. Ia boleh menggunakan dan memanfaatkan sekehendak dlm batasan yg diperkenankan syariat. Adapun orang lain baik ayah saudara laki2 suami atau selain mereka tdk boleh menguasai mahar tersebut tanpa keridhaan si wanita. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:
وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلاَ تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُوْنَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِيْنًا
“Dan jika kalian ingin mengganti salah seorang istri dgn istri yg lain3 sedangkan kalian telah memberikan kepada salah seorang di antara mereka harta yg banyak4 mk janganlah kalian mengambil kembali dari harta tersebut walaupun sedikit. Apakah kalian akan mengambil kembali dgn jalan tuduhan yg dusta dan dgn menanggung dosa yg nyata?”

2. Seorang suami harus bergaul dgn istri secara patut dan dgn akhlak mulia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
“Bergaullah kalian dgn para istri secara patut. Bila kalian tdk menyukai mereka mk bersabarlah krn mungkin kalian tdk menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan pada kebaikan yg banyak.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yg paling sempurna iman adl yg paling baik akhlak dan sebaik-baik kalian adl yg paling baik terhadap istri-istrinya.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan ayat dlm surah An-Nisa` di atas menyatakan: “Yakni perindahlah ucapan kalian terhadap mereka serta perbaguslah perilaku dan penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau menyukai bila ia berbuat demikian mk engkau juga berbuat yg sama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm hal ini:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Dan para istri memiliki hak yg seimbang dgn kewajiban menurut cara yg ma’ruf.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Sebaik-baik kalian adl yg paling baik terhadap keluarga . Dan aku adl orang yg paling baik di antara kalian terhadap keluarga -ku.”
Termasuk akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau sangat baik pergaulan dgn para istrinya. Wajah senantiasa berseri-seri suka bersenda gurau dan bercumbu rayu dgn istri bersikap lemah-lembut terhadap mereka dan melapangkan mereka dlm hal nafkah serta tertawa bersama mereka. Sampai-sampai beliau pernah mengajak ‘Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha berlomba dlm rangka menunjukkan cinta dan kasih sayang beliau terhadapnya.”
Masih keterangan Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu: “ tiap malam beliau biasa mengumpulkan para istri di rumah istri yg mendapat giliran malam itu. Hingga terkadang pada sebagian waktu beliau dapat makan malam bersama mereka. Setelah itu masing-masing istri kembali ke rumah mereka. Beliau pernah tidur bersama salah seorang istri dlm satu selimut. Beliau meletakkan rida dari kedua pundak dan tidur dgn izar. Setelah shalat ‘Isya biasa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk rumah dan berbincang-bincang sejenak dgn istri sebelum tidur guna menyenangkan mereka.”

3. Mendapat nafkah dan pakaian
Hak mendapat nafkah dan pakaian ini ditunjukkan dlm Al-Qur`anul Karim dari firman-Nya:
وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“dan kewajiban bagi seorang ayah utk memberikan nafkah dan pakaian kepada para ibu dgn cara yg ma’ruf.”
Demikian pula firman-Nya:
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا
“Hendaklah orang yg diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dgn kelapangan dan barangsiapa disempitkan rizki mk hendaklah ia memberi nafkah dari harta yg Allah berikan kepadanya. .”
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menafsirkan ayat dlm surah Al-Baqarah di atas menyatakan “Maksud dari ayat ini adl wajib bagi seorang ayah utk memberikan nafkah kepada para ibu yg melahirkan anak-anak serta memberi pakaian dgn ma’ruf yaitu sesuai dgn kebiasaan yg berlangsung dan apa yg biasa diterima/dipakai oleh para wanita semisal mereka tanpa berlebih-lebihan dan tanpa mengurangi sesuai dgn kemampuan suami dlm keluasan dan kesempitannya.”
Ada pula dalil dari As-Sunnah bahkan didapatkan dlm beberapa hadits. Di antara hadits Hakim bin Mu’awiyah bin Haidah yg telah kami bawakan di atas. Demikian pula hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia mengabarkan bahwa Hindun bintu ‘Utbah radhiyallahu ‘anha istri Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhu datang mengadu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِي إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ. فَقَالَ: خُذِي مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ
“Wahai Rasulullah sungguh Abu Sufyan seorang yg pelit5. Ia tdk memberiku nafkah yg dapat mencukupiku dan anakku terkecuali bila aku mengambil dari harta tanpa sepengetahuannya6.” Bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Ambillah dari harta suamimu sekadar yg dapat mencukupimu dan mencukupi anakmu dgn cara yg ma’ruf.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata “Di dlm hadits ini ada beberapa faedah di antara wajib memberikan nafkah kepada istri.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika haji Wada’ berkhutbah di hadapan manusia. Setelah memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau memberi peringatan dan nasihat. Kemudian bersabda:
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً، أَلاَ إِنَ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، فَحَقُّكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لاَ يُوْطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُوْنَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِي بُيُوْتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُوْنَ، أَلاَ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوْا إِلَيْهِنَّ فيِ كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ
“Ketahuilah berwasiatlah kalian dgn kebaikan kepada para wanita 7 krn mereka hanyalah tawanan di sisi kalian. Kalian tdk menguasai mereka sedikitpun kecuali hanya itu8 terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yg nyata9. mk bila mereka melakukan hal itu boikotlah mereka di tempat tidur dan pukullah mereka dgn pukulan yg tdk keras. Namun bila mereka menaati kalian tdk ada jalan bagi kalian utk menyakiti mereka. Ketahuilah kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adl mereka tdk boleh membiarkan seorang yg kalian benci utk menginjak permadani kalian dan mereka tdk boleh mengizinkan orang yg kalian benci utk masuk ke rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adl kalian berbuat baik terhadap mereka dlm hal pakaian dan makanan mereka.”
Dalam Nailul Authar disebutkan bahwa salah satu kewajiban sekaligus tanggung jawab seorang suami adl memberi nafkah kepada istri dan anak-anak sesuai kemampuannya. Kewajiban ini selain ditunjukkan dlm Al-Qur`an dan As-Sunnah juga dgn ijma’ .
Seberapa banyak nafkah yg harus diberikan dikembalikan kepada kemampuan suami sebagaimana ditunjukkan dlm ayat:
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ مَا آتَاهَا
“Hendaklah orang yg diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dgn kelapangan dan barangsiapa disempitkan rizki mk hendaklah ia memberi nafkah dari harta yg Allah berikan kepadanya.”

4. Diberi tempat utk bernaung/tempat tinggal
Termasuk pergaulan baik seorang suami kepada istri yg dituntut dlm ayat:
وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
“Bergaullah kalian dgn para istri secara patut.”
adalah seorang suami menempatkan istri dlm sebuah tempat tinggal. Di samping itu seorang istri memang mau tdk mau harus punya tempat tinggal hingga ia dapat menutup diri dari pandangan mata manusia yg tdk halal melihatnya. Juga agar ia dapat bebas bergerak serta memungkinkan bagi dan bagi suami utk bergaul sebagaimana layak suami dgn istrinya. Tentu tempat tinggal disiapkan sesuai kadar kemampuan suami sebagaimana pemberian nafkah.

5. Wajib berbuat adil di antara para istri
Bila seorang suami memiliki lbh dari satu istri wajib bagi utk berlaku adil di antara mereka dgn memberikan nafkah yg sama memberi pakaian tempat tinggal dan waktu bermalam. Keharusan berlaku adil ini ditunjukkan dlm firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُوْلُوا
“maka nikahilah wanita-wanita yg kalian senangi: dua tiga atau empat. Namun jika kalian khawatir tdk dapat berbuat adil di antara para istri nanti mk nikahilah seorang wanita saja atau dgn budak-budak perempuan yg kalian miliki. Yang demikian itu lbh dekat bagi kalian utk tdk berbuat aniaya.”
Dalil dari As-Sunnah didapatkan antara lain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia menyampaikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ كَانَتْ لَهُ امْرَأَتَانِ فَمَالَ إِلَى إِحدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِلٌ
“Siapa yg memiliki dua istri10 lalu ia condong kepada salah satu mk ia akan datang pada hari kiamat nanti dlm keadaan satu sisi tubuh miring/lumpuh.”
Hadits di atas menunjukkan keharaman sikap tdk adil dari seorang suami di mana ia melebihkan salah satu istri dari yg lain. Sekaligus hadits ini merupakan dalil wajib suami menyamakan di antara istri-istri dlm perkara yg dia mampu utk berlaku adil seperti dlm masalah mabit makanan pakaian dan pembagian giliran.
Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu menyatakan datang si suami dlm keadaan seperti yg digambarkan dlm hadits disebabkan ia tdk berlaku adil di antara dua istri menunjukkan berlaku adil itu wajib. Kalau tdk wajib niscaya seorang suami tdk akan dihukum seperti itu.
Keharusan berbuat adil yg Allah Subhanahu wa Ta’ala wajibkan kepada suami ini tidaklah bertentangan dgn firman-Nya:
وَلَنْ تَسْتَطِيْعُوا أَنْ تَعْدِلُوا بَيْنَ النِّسَاءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيْلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ غَفُوْرًا رَحِيْمًا
“Dan kalian sekali-kali tdk akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian krn itu janganlah kalian terlalu cenderung kepada istri yg kalian cintai sehingga kalian biarkan istri yg lain terkatung-katung.”
Karena adil yg diperintahkan kepada suami adl adil di antara para istri dlm perkara yg dimampu oleh suami. Adapun adil yg disebutkan dlm surah An-Nisa` di atas adl berbuat adil yg kita tdk mampu melakukan yaitu adil dlm masalah kecenderungan hati dan cinta.
Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari rahimahullahu berkata “Kalian wahai para suami tdk akan mampu menyamakan di antara istri-istri kalian dlm hal rasa cinta di hati kalian kepada mereka sampai pun kalian berusaha adil dlm hal itu. Karena hati kalian tdk bisa mencintai sebagian mereka sama dgn yg lain. Perkara di luar kemampuan kalian. Urusan hati bukanlah berada di bawah pengaturan kalian walaupun kalian sangat ingin berbuat adil di antara mereka.”
Masih kata Al-Imam Ath-Thabari rahimahullahu “Maka janganlah kalian terlalu cenderung dgn hwa nfsu (**) kalian terhadap istri yg kalian cintai hingga membawa kalian utk berbuat dzalim kepada istri yg lain dgn meninggalkan kewajiban kalian terhadap mereka dlm memenuhi hak pembagian giliran nafkah dan bergaul dgn ma’ruf. Akibat istri yg tdk kalian cintai itu seperti terkatung-katung yaitu seperti wanita yg tdk memiliki suami namun tdk juga menjanda.”
Tidak wajib pula bagi suami utk berbuat adil dlm perkara jima’ krn jima’ ini didorong oleh syhwt (**) dan ada kecondongan. Sehingga tdk dapat dipaksakan seorang suami utk menyamakan di antara istri-istri krn hati terkadang condong kepada salah seorang istri sementara kepada yg lain tidak.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata “Jima’ bukanlah termasuk syarat dlm pembagian giliran. Ha saja disenangi bagi suami utk menyamakan istri-istri dlm masalah jima’.”

6. Dibantu utk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga dari api neraka dan memberikan pengajaran agama
Seorang suami harus mengajarkan perkara agama kepada istri terlebih lagi bila istri belum mendapatkan pengajaran agama yg mencukupi dimulai dari meluruskan tauhid dan mengajarkan amalan-amalan ibadah yg lainnya. Sama saja baik si suami mengajari sendiri atau membawa ke majelis ilmu atau dgn cara yg lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yg bahan bakar adl manusia dan batu.”
Menjaga keluarga yg dimaksud dlm ayat yg mulia ini adl dgn cara mendidik mengajari memerintahkan mereka dan membantu mereka utk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Seorang suami wajib mengajari keluarga tentang perkara yg di-fardhu-kan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segera dinasihati dan diperingatkan.
Hadits Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu juga menjadi dalil pengajaran terhadap istri. Malik berkata “Kami mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ketika itu kami adl anak-anak muda yg sebaya. Kami tinggal bersama beliau di kota Madinah selama sepuluh malam. Kami mendapati beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl seorang yg penyayang lagi lembut. Saat sepuluh malam hampir berlalu beliau menduga kami telah merindukan keluarga kami krn sekian lama berpisah dgn mereka. Beliau pun berta tentang keluarga kami mk cerita tentang mereka pun meluncur dari lisan kami. Setelah beliau bersabda:
ارْجِعُوْا إِلَى أَهْلِيْكُمْ فَأَقِيْمُوا فِيْهِمْ وَعَلِّمُوْهُمْ وَمُرُوْهُمْ
“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka serta perintahkanlah mereka.”
Seorang suami harus menegakkan peraturan kepada istri agar si istri berpegang dgn adab-adab yg diajarkan dlm Islam. Si istri dilarang bertabarruj ikhtilath dan keluar rumah dgn memakai wangi-wangian krn semua itu akan menjatuhkan ke dlm fitnah. Apatah lagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا بَعْدُ، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yg kedua belum pernah aku lihat pertama: satu kaum yg memiliki cemeti-cemeti seperti ekor sapi yg dengan mereka memukul manusia. Kedua: para wanita yg berpakaian tapi tak mengenakan busana mereka menyimpangkan lagi menyelewengkan orang dari kebenaran. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yg miring/condong. Mereka ini tdk akan masuk surga dan tdk akan mencium wangi surga padahal wangi surga sudah tercium dari jarak perjalanan sejauh ini dan itu.”

7. Menaruh rasa cemburu kepadanya
Seorang suami harus memiliki rasa cemburu kepada istri yg dgn perasaan ini ia menjaga kehormatan istrinya. Ia tdk membiarkan istri bercampur baur dgn lelaki ngobrol dan bercanda dgn sembarang laki-laki. Ia tdk membiarkan istri ke pasar sendirian atau hanya berduaan dgn sopir pribadinya.
Suami yg memiliki rasa cemburu kepada istri tentu tdk akan memperhadapkan istri kepada perkara yg mengikis rasa malu dan dapat mengeluarkan dari kemuliaan.
Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata mengungkapkan kecemburuan terhadap istrinya:
لَوْ رَأَيْتُ رَجُلاً مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرَ مُصْفِحٍ
“Seandai aku melihat seorang laki2 bersama istriku niscaya aku akan memukul laki2 itu dgn pedang bukan pada bagian sisi 11.”
Mendengar ucapan Sa’d yg sedemikian itu tidaklah membuat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencelanya. Bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda
أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غِيْرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي
“Apakah kalian merasa heran dgn cemburu Sa’d? Sungguh aku lbh cemburu daripada Sa’d dan Allah lbh cemburu daripadaku.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullahu menyebutkan dlm hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yg diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad Abu Dawud dan Al-Hakim dikisahkan bahwa tatkala turun ayat:
وَالَّذِيْنَ يَرْمُوْنَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوْهُمْ ثَمَانِيْنَ جَلْدَةً وَلاَ تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ
“Dan orang2 yg menuduh wanita baik-baik berzina kemudian mereka tdk dapat menghadirkan empat saksi mk hendaklah kalian mencambuk mereka sebanyak 80 cambukan dan jangan kalian terima persaksian mereka selama-lamanya.”
Berkatalah Sa’d bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu: “Apakah demikian ayat yg turun? Seandai aku dapatkan seorang laki2 berada di paha istriku apakah aku tdk boleh mengusik sampai aku mendatangkan empat saksi? Demi Allah aku tdk akan mendatangkan empat saksi sementara laki2 itu telah puas menunaikan hajatnya.”
Mendengar ucapan Sa’d Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian orang2 Anshar tidakkah kalian mendengar apa yg diucapkan oleh pemimpin kalian?”
orang2 Anshar pun menjawab: “Wahai Rasulullah janganlah engkau mencela krn dia seorang yg sangat pencemburu. Demi Allah dia tdk ingin menikah dgn seorang wanita pun kecuali bila wanita itu masih gadis. Dan bila dia menceraikan seorang istri tdk ada seorang laki2 pun yg berani utk menikahi bekas istri tersebut krn cemburu yg sangat.”
Sa’d berkata: “Demi Allah sungguh aku tahu wahai Rasulullah bahwa ayat ini benar dan datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan tetapi aku cuma heran.”
Islam telah memberikan aturan yg lurus berkenaan dgn penjagaan terhadap rasa cemburu ini dengan:
1. Memerintahkan kepada wanita utk berhijab
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُوْرًا رَحِيْمًا
“Wahai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanita kaum mukminin hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lbh pantas bagi mereka utk dikenali hingga mereka tdk diganggu. Dan adl Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.”
2. Memerintahkan wanita utk menundukkan pandangan mata dari memandang laki2 yg bukan mahramnya:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: ‘Hendaklah mereka menundukkan sebagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka’.”
3. Tidak membolehkan wanita menampakkan perhiasan kecuali kepada suami dan laki2 dari kalangan mahramnya.
وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلاَّ لِبُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُوْلَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ أُولِي اْلإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ
“ janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yg biasa tampak dari . Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka atau ayah-ayah mereka atau ayah-ayah suami mereka atau di hadapan putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau di hadapan saudara laki2 mereka atau putra-putra saudara laki2 mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka atau di hadapan wanita-wanita mereka atau budak yg mereka miliki atau laki2 yg tdk punya syhwt (**) terhadap wanita atau anak laki2 yg masih kecil yg belum mengerti aurat wanita.”
4. Tidak membiarkan bercampur baur dgn laki2 yg bukan mahram.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu dgn ipar12?” Beliau menjawab “Ipar itu maut13.”
5. Tidak memperhadapkan kepada fitnah seperti bepergian meninggalkan dlm waktu yg lama atau menempatkan di lingkungan yg rusak.
Seorang suami hendaklah memerhatikan perkara-perkara di atas agar ia dapat menjaga kehormatan istri sebagai bentuk kecemburuan kepada si istri.
Demikianlah Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Maksudnya: mengucapkan kepada istri ucapan yg buruk mencaci maki atau mengatakan pada “Semoga Allah menjelekkanmu” atau yg semisalnya.
2 Secara lengkap hadits dibawakan oleh Sahl bin Sa’d As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Seorang wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata “Wahai Rasulullah aku datang utk menghibahkan diriku kepadamu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengangkat pandangan kepada wanita tersebut utk mengamati kemudian beliau menundukkan kepalanya. Ketika si wanita melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk memutuskan apa-apa dlm perkara diri ia duduk.
Berdirilah seorang lelaki dari kalangan shahabat beliau lalu berkata “Wahai Rasulullah bila engkau tdk berminat kepada mk nikahkanlah aku dengannya.” Rasulullah balik berta “Apa engkau memiliki sesuatu utk dijadikan mahar?”
“Tidak ada demi Allah wahai Rasulullah” jawab si lelaki. “Pergilah kepada keluargamu lalu lihatlah mungkin engkau mendapatkan sesuatu” titah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Laki-laki itu pun pergi. tdk berapa lama kemudian ia kembali seraya berkata “Aku tdk mendapatkan apa-apa demi Allah.” Rasulullah bersabda “Lihatlah dan carilah walau hanya sebuah cincin dari besi.”
Laki-laki itu pergi lagi kemudian tdk berapa lama ia kembali lalu berkata “Tidak ada demi Allah wahai Rasulullah walaupun cincin dari besi. Tapi ini ada izarku setengah sebagai mahar untuk –kata Sahl “ laki2 itu tdk memiliki rida` ”-. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berta “Apa yg dapat engkau perbuat dgn izarmu? Kalau engkau pakai berarti ia tdk mengenakan sedikitpun dari izar ini sebalik kalau ia yg pakai berarti engkau tdk dapat menggunakan sedikitpun.”
Si lelaki terduduk. Ketika telah lama duduk ia bangkit. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ia pergi mk beliau menyuruh orang utk memanggilnya. Ketika si lelaki telah berada di hadapan beliau beliau berta “Apa yg engkau hapal dari Al-Qur`an?” “Aku hapal surah ini surah itu –ia menyebut beberapa surah–” jawabnya.
“Apakah engkau hapal surah-surah tersebut dari hatimu ?” ta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. “Iya” jawabnya. “Kalau begitu pergilah aku telah nikahkan engkau dgn si wanita dgn mahar surah-surah Al-Qur`an yg engkau hapal.”
3 Maksudnya: menceraikan seorang istri dan menggantikan posisi dgn istri yg baru .
4 Kalian tdk boleh mengambil mahar yg telah kalian berikan kepada walaupun pemberian kalian itu berupa harta yg sangat banyak.
5 Hindun tidaklah menyatakan bahwa Abu Sufyan bersifat pelit dlm seluruh keadaannya. Dia hanya sebatas menyebutkan keadaan bersama suami di mana suami sangat menyempitkan nafkah untuk dan utk anaknya. Hal ini tidaklah berarti Abu Sufyan memiliki sifat pelit secara mutlak. Karena betapa banyak di antara para tokoh/ pemuka masyarakat melakukan hal tersebut kepada istrinya/keluarga dan lbh mendahulukan/mementingkan orang lain .
6 dlm riwayat Muslim Hindun bertanya:
فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ؟
“Apakah aku berdosa bila melakukan hal itu?”
7 Al-Qadhi berkata: “Al-Istisha’ adl menerima wasiat. mk makna ucapan Nabi ini adl ‘aku wasiatkan kalian utk berbuat kebaikan terhadap para istri mk terimalah wasiatku ini’.”
8 Maksud selain istimta’ menjaga diri utk suami menjaga harta suami dan anak serta menunaikan kebutuhan suami dan melayaninya.
9 Seperti nusyuz buruk pergaulan dgn suami dan tdk menjaga kehormatan diri.
10 Misal ia punya dua istri.
11 Sa’d memaksudkan ia akan memukul laki2 itu dgn bagian pedang yg tajam bukan dgn bagian yg tumpulnya. Orang yg memukul dgn bagian pedang yg tajam berarti bermaksud membunuh orang yg dipukulnya. Beda hal kalau ia memukul dgn bagian yg tumpul tujuan berarti bukan utk membunuh tapi utk ta`dib .
12 Atau kerabat suami lainnya.
13 Ipar dikatakan maut makna kekhawatiran terhadap lbh besar daripada kekhawatiran dari orang lain yg bukan kerabat. Kejelekan dan fitnah lbh mungkin terjadi dlm hubungan dgn ipar krn ipar biasa bebas keluar masuk menemui si wanita dan berduaan dengan tanpa ada pengingkaran krn dianggap keluarga sendiri/saudara. Beda hal dgn ajnabi .
Yang dimaksud dgn al-hamwu di sini adl kerabat suami selain ayah dan anak laki2 suami krn dua yg disebutkan terakhir ini merupakan mahram bagi si wanita hingga mereka boleh berduaan dgn si wanita dan tdk disifati dgn maut.
Adapun yg disifati dgn maut adl saudara laki2 suami keponakan laki2 suami paman suami dan anak paman suami serta selain mereka yg bukan mahram si wanita . Kebiasaan yg ada di kalangan orang2 mereka bermudah-mudahan dlm hal ini sehingga ipar dianggap biasa bila berduaan dgn istri saudaranya. Inilah maut dan yg seperti ini lbh utama utk disebutkan pelarangan daripada pelarangan dgn ajnabi.

Sumber: www.asysyariah.com