Hadits-hadits Dhaif Tentang Haji

penulis Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
Syariah Hadits 19 - Desember - 2006 20:16:00

Setiap muslim pastilah mengetahui bahwa ibadah haji ke Baitullah merupakan salah satu rukun dari lima rukun agamanya. Dan kini bulan pelaksanaan haji telah menjelang. Jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia akan membanjiri tanah suci yg dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut. Ucapan talbiyah menyambut panggilan Allah Subhanahu wa Ta’ala terluncur dari lisan tamu-tamu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah aku penuhi panggilan-Mu tdk ada sekutu bagi-Mu aku penuhi panggilan-Mu sesungguh segala pujian keni’matan dan kerajaan adl milik-Mu tdk ada sekutu bagi-Mu.”
Berangkat ke tanah suci melaksanakan ibadah haji dan umrah ini merupakan impian tiap insan beriman mewujudkan titah Allah Yang Maha Rahman yg telah berfirman:

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ

“Mengerjakan haji adl kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang yg mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari kewajiban haji mk sesungguh Allah Maha Kaya dari semesta alam.”
Namun yg sangat disayangkan banyak sekali hadits dhaif/lemah yg tersebar seputar ibadah yg agung ini. Terkadang hadits-hadits itu dijadikan pegangan oleh sebagian kaum muslimin yg awam tentang hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal dlm syariat yg mulia ini hadits dhaif tdk boleh dijadikan sandaran dlm suatu amalan sekalipun dlm fadhailul ‘amal. Demikian menurut pendapat yg benar.
Sebagai bentuk peringatan bagi kaum muslimin dlm lembaran rubrik Hadits kali ini akan kami sebutkan sedikit dari sekian banyak hadits dhaif yg berkaitan dgn ibadah haji dan umrah. Kami nukilkan hadits-hadits tersebut dari kitab yg sangat berfaedah karya Al-Imam Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah yg berjudul Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah.1 Kami katakan hanya sedikit yg kami bawakan dlm rubrik ini krn lbh banyak lagi hadits dhaif yg tdk dapat kami sebutkan krn terbatas ruang.
Kami berharap semoga yg sedikit ini menjadi perhatian kaum muslimin dan tdk lagi menjadikan sebagai pegangan. Dan semoga kaum muslimin mau utk selalu berta kepada ahlul ilmi tentang perkara agama mereka mana yg diperintahkan dan mana yg tdk diperintahkan mana yg shahih dan mana yg dhaif. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Bertanyalah kalian kepada ahludz dzikr jika kalian tdk tahu.”

Hadits-hadits Dhaif Berkaitan dgn Ibadah Haji
1. Keutamaan berhaji

الْحَاجُّ يَشْفَعُ فِي أَرْبَعِ مِئَةِ أَهْلِ بَيْتٍ -أَوْ قَالَ: مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ-

“Orang yg berhaji akan memberi syafaat kepada 400 orang ahlu bait –atau Nabi mengatakan: 400 orang dari ahlu bait nya–.”

حُجُّوا تَسْتَغْنُوْا..

“Berhajilah kalian niscaya kalian akan merasa berkecukupan.…”

حُجُّوا، فَإِنَّ الْحَجَّ يَغْسِلُ الذُّنُوْبَ كَمَا يَغْسِلُ الْمَاءُ الدَّرَنَ

“Berhajilah kalian krn sesungguh haji itu mencuci dosa-dosa sebagaimana air mencuci kotoran.” diriwayatkan oleh Abul Hajjaj Yusuf bin Khalil dlm As-Saba’iyyat 1/18/1. Lihat Ad-Dha’ifah no. 542}

حَجَّةٌ لِمَنْ لَمْ يَحُجَّ خَيْرٌ مِنْ عَشْرِ غَزَوَاتٍ، وَغَزْوَةٌ لِمَنْ حَجَّ خَيْرٌ مِنْ عَشْرِ حُجَجٍ..

“ haji bagi orang yg belum berhaji itu lbh baik daripada sepuluh peperangan. Dan peperangan bagi orang yg telah berhaji itu lbh baik daripada sepuluh haji….”

إِذَا لَقِيْتَ الْحَاجَّ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَصَافِحْهُ، وَمُرْهُ أَنْ يَسْتَغْفِرَ لَكَ قَبْلَ أَنْ يَدْخُلَ بَيْتَهُ، فَإِنَّهُ مَغْفُوْرٌ لَهُ

“Apabila engkau bertemu dgn seorang haji ucapkanlah salam pada dan jabatlah tangan serta mohonlah pada agar memintakan ampun bagimu sebelum ia masuk ke dlm rumah krn orang yg berhaji itu telah diampuni.”

مَنْ مَاتَ فِي هذَا الْوَجْهِ مِنْ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ، لَمْ يُعْرَضْ وَلَمْ يُحَاسَبْ، وَقِيْلَ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ

“Siapa yg meninggal dlm sisi ini baik ia berhaji atau berumrah niscaya amal tdk dipaparkan kepada dan tdk akan dihisab. Dan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah engkau ke dlm surga.’”

الْحَاجُّ فِي ضَمَانِ اللهِ مُقْبِلاً وَمُدْبِرًا، فَإِنْ أَصَابَهُ فِي سَفَرِهِ تَعْبٌ أَوْ نَصَبٌ غَفَرَ اللهُ لَهُ بِذلِكَ سَيِّئَاتِهِ، وَكَانَ لَهُ بِكُلِّ قَدَمٍ يَرْفَعُهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ، وَبِكُلِّ قَطْرَةٍ تُصِيْبُهُ مِنْ مَطَرٍ أَجْرُ شَهِيْدٍ

“Orang yg berhaji itu dlm tanggungan/jaminan Allah ketika datang maupun pulangnya. Bila dia tertimpa kepayahan atau sakit dlm safar Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya. Dan tiap telapak kaki yg ia angkat utk melangkah ia dapatkan seribu derajat. Dan tiap tetesan hujan yg menimpa ia dapatkan pahala orang yg mati syahid.”

خَيْرُ مَا يَمُوْتُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ قَافِلاً مِنْ حَجٍّ أَوْ مُفْطِرًا مِنْ رَمَضَانَ

“Sebaik-baik keadaan meninggal seorang hamba adl ia meninggal dlm keadaan pulang dari menunaikan ibadah haji atau dlm keadaan berbuka dari puasa Ramadhan.”

2. Keutamaan berhaji yg disertai menziarahi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ حَجَّ حَجَّةَ اْلإِسْلاَمِ، وَزَارَ قَبْرِي وَغَزَا غَزْوَةً وَصَلَّى عَلَيَّ فِي الْمَقْدِسِ، لَمْ يَسْأَلْهُ اللهُ فِيْمَا افْتَرَضَ عَلَيْهِ

“Siapa yg berhaji dgn haji Islam yg wajib menziarahi kuburku berperang dgn satu peperangan dan bershalawat atasku di Al-Maqdis mk Allah tdk akan menanyai dlm apa yg Allah wajibkan kepadanya.” 2

مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ مَوْتِي، كَانَ كَمَنْ زَارَنِي فِي حَيَاتِي

“Siapa yg berhaji lalu ia menziarahi kuburku setelah wafatku mk dia seperti orang yg menziarahiku ketika hidupku.” 3

3. Haji dilaksanakan sebelum menikah

الْحَجُّ قَبْلَ التَّزَوُّجِ

“Haji itu dilaksanakan sebelum menikah.”

مَنْ تَزَوَّجَ قَبْلَ أَنْ يَحُجَّ فَقَدْ بَدَأَ بِالْمَعْصِيَةِ

“Siapa yg menikah sebelum menunaikan ibadah haji mk sungguh ia telah memulai dgn maksiat.”

4. Banyak berhaji mencegah kefakiran

كَثْرَةُ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ تَمْنَعُ الْعَيْلَةَ

“Banyak melaksanakan haji dan umrah mencegah kepapaan.”

5. Tidak boleh mengarungi lautan kecuali orang yg ingin berhaji

لاَ يَرْكَبُ الْبَحْرَ إِلاَّ حَاجٌّ أَوْ مُعْتَمِرٌ، أَوْ غَازٍ فِي سَبِيْلِ اللهِ، فَإِنَّ تَحْتَ الْبَحْرَ نَارًا وَ تَحْتَ النَّارِ بَحْرًا

“Tidak boleh mengarungi lautan kecuali orang yg berhaji atau berumrah atau orang yg berperang di jalan Allah krn di bawah lautan itu ada api dan di bawah api ada lautan.”

6. Keutamaan ber-ihlal dari Masjidil Aqsha

مَنْ أَهَّلَ بِحَجَّةٍ أَوْ عُمْرَةٍ مِنَ الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ، أَوْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

“Siapa yg ber-ihlal4 haji atau umrah dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram akan diampuni dosa-dosa yg telah lalu dan yg akan datang atau diwajibkan surga baginya.”

7. Ancaman bagi orang yg berhaji namun tdk menziarahi kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

مَنْ حَجَّ الْبَيْتَ وَلَمْ يَزُرْنِي فَقَدْ جَفَانِي

“Siapa yg haji ke Baitullah namun ia tdk menziarahi kuburku mk sungguh ia telah berbuat jafa` kepadaku.”

8. Keutamaan menghajikan orang tua

مَنْ حَجَّ عَنْ وَالِدَيْهِ بَعْدَ وَفَاتِهِمَا كَتَبَ اللهُ لَهُ عِتْقًا مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لِلْمَحْجُوْجِ عَنْهُمْ أَجْرُ حَجَّةِ تَامَّةٍ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ

“Siapa yg menghajikan kedua orang tua setelah kedua wafat mk Allah akan menetapkan dia dibebaskan dari api neraka. Dan bagi yg dihajikan akan memperoleh pahala haji yg sempurna tanpa mengurangi pahala orang yg menghajikan sedikitpun.”

إِذَا حَجَّ الرَّجُلُ عَنْ وَالِدَيْهِ تُقْبَلُ مِنْهُ وَمِنْهُمَا، وَاسْتُبْشِرَتْ أَرْوَاحُهُمَا فِي السَّمَاءِ وَكُتِبَ عِنْدَ اللهِ بَرًّا

“Apabila seseorang menghajikan kedua orang tua mk akan diterima amalan itu dari dan dari kedua orang tua dan diberi kabar gembira ruh kedua di langit dan ia dicatat di sisi Allah sebagai anak yg berbakti .”

9. Hadits dhaif tentang keutamaan berhaji dgn jalan kaki

إِنَّ لِلْحَجِّ الرَّاكِبِ بِكُلِّ خَطْوَةٍ تَخْطُوْهَا رَاحِلَتُهُ سَبْعِيْنَ حَسَنَةً، وَالْمَاشِي بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوْهَا سَبْعَ مِئَةِ حَسَنَةٍ

“Sesungguh orang yg berhaji dgn berkendaraan mendapatkan 70 kebaikan dgn tiap langkah yg dilangkahkan oleh kendaraannya. Sementara orang yg berhaji dgn berjalan kaki dgn tiap langkah yg ia langkahkan mendapatkan 700 kebaikan.” 5

10. Keutamaan thawaf

مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ خَمْسِيْنَ مَرَّةً، خَرَجَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمٍ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yg thawaf di Baitullah 50 kali mk ia terlepas dari dosa-dosa sehingga keberadaan laksana hari ia dilahirkan oleh ibu .”

طَوَافُ سَبْعٍ لاَ لَغْوَ فِيْهِ يَعْدِلُ رَقَبَةً

“Thawaf tujuh kali tanpa melakukan perkara laghwi di dlm sebanding dgn membebaskan budak.” diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dlm Al-Mushannaf 5/8833. Lihat Adh-Dha’ifah no. 4035}

11. Hari Arafah

عَرَفَةُ يَوْمَ يُعَرِّفُ النَّاسُ

“Arafah adl hari di mana manusia wuquf di Arafah.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Guru Besar kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dlm kitab beliau Ijabatus Sa`il berkata: “Adapun yg ditulis oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dlm kitab Silsilah Adh-Dha’ifah ketika membaca benar-benar menenangkan hati kami .”
2 Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata: “ krn membuat anggapan telah diwahyukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa menunaikan perkara yg disebutkan dlm hadits berupa haji ziarah kubur dan berperang bisa menggugurkan pelaku dari hukuman bila ia bermudah-mudahan dlm meninggalkan kewajiban-kewajiban agama yg lain. Ini merupakan kesesatan. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amat jauh dari mengucapkan perkataan yg menimbulkan anggapan yg salah. Bagaimana lagi dgn ucapan yg secara jelas menunjukkan kesesatan?!”
3 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dlm Al-Qa’idah Al-Jalilah berkata: “Hadits-hadits tentang ziarah kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruh dhaif. Tidak ada satupun yg bisa dijadikan sandaran dlm agama ini. Karena itu ahlu Shihah dan Sunan tdk ada yg meriwayatkan sedikit pun. Yang meriwayatkan hadits-hadits semacam itu hanyalah ulama yg biasa membawakan hadits-hadits dhaif seperti Ad-Daraquthni Al-Bazzar dan selain keduanya.”
Kemudian Ibnu Taimiyyah rahimahullah membawakan hadits di atas. Setelah itu beliau berkata: “Hadits ini kedustaan jelas sekali. Hadits ini menyelisihi agama kaum muslimin. Karena orang yg menziarahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hidup dan beriman kepada beliau berarti orang itu termasuk shahabat beliau. Terlebih lagi bila orang itu termasuk orang2 yg berhijrah kepada beliau dan berjihad bersama beliau. Telah pasti sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Janganlah kalian mencela para shahabatku. mk demi Zat yg jiwaku berada di tangan-Nya seandai salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud niscaya tdk dapat mencapai satu mud infak salah seorang mereka dan tdk pula setengahnya.”
Seseorang yg hidup setelah shahabat tidaklah bisa sama dgn shahabat hanya dgn mengerjakan amalan-amalan wajib yg diperintahkan seperti haji jihad shalat lima waktu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana lagi dgn amalan yg tdk wajib dgn kesepakatan kaum muslimin ? Tidak pula disyariatkan utk safar utk mengerjakan bahkan dilarang. Adapun safar menuju ke masjid beliau guna mengerjakan shalat di dlm mk hal itu mustahab .”
4 Memulai ihram dan mengucapkan talbiyah
5 Al-Imam Al-Albani rahimahullah berkata: “Bagaimana bisa hadits ini dianggap shahih sementara yg ada justru sebaliknya? Di mana telah shahih riwayat yg menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan haji dgn berkendaraan. Seandai berhaji dgn jalan kaki itu lbh afdhal niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memilih hal itu utk Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itulah jumhur ulama berpendapat bahwa haji dgn berkendaraan itu lbh utama sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawi rahimahullah dlm Syarh Muslim.”

Sumber: www.asysyariah.com