PROFILE : IMAM ALI Bag. 7

Assalamu’alaykum Wr. Wb

Disadur dari buku :

Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Oleh H.M.H. Al Hamid Al Husaini Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam Jl. Blora 29 Jakarta Oktober 1981

BAB VII

KHALIFAH UMAR IBNUL KHATTAB R.A.

Di samping ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya Umar Ibnul Khattab r.a. terkenal sebagai orang yg bertabiat keras tegas terus terang dan jujur. Sama halnya seperti Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. sejak memeluk Islam ia menyerahkan seluruh hidupnya utk kepentingan Islam dan muslimin. Baginya tak ada kepentingan yg lbh tinggi dan harus dilaksanakan selain perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kekuatan fisik dan mentalnya ketegasan sikap dan keadilan­nya ditambah lagi dgn keberaniannya bertindak membuat­nya menjadi seorang tokoh dan pemimpin yg sangat dihormati dan disegani baik oleh lawan maupun kawan. Sesuai dgn tau­ladan yg diberikan Rasul Allah s.a.w. ia hidup sederhana dan sangat besar perhatiannya kepada kaum sengsara terutama mereka yg diperlakukan secara tidak adil oleh orang lain.

Bila Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. menjadi Khalifah melalui pemilihan kaum muslimin maka Umar Ibnul Khattab r.a. dibai’at sebagai Khalifah berdasarkan pencalonan yg diajukan oleh Abu Bakar r.a. beberapa saat sebelum wafat. Masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab r.a. berlangsung selama kurang lbh 10 ta­hun.

Sukses dan Tantangan

Di bawah pemerintahannya wilayah kaum muslimin bertam­bah luas dgn kecepatan luar biasa. Seluruh Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Sedangkan daerah-daerah kekuasaan By­zantium seluruh daerah Syam dan Mesir satu persatu bernaung di bawah bendera tauhid. Penduduk di daerah-daerah luar Semenan­jung Arabia berbondong-bondong memeluk agama Islam. Dengan demikian lslam bukan lagi hanya dipeluk bangsa Arab saja tetapi sudah rnenjadi agama berbagai bangsa.

Sukses gilang-gemilang yg tercapai tak dapat dipisahkan dari peranan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. sebagai pemimpin. Ia banyak mengambil prakarsa dalam mengatur administrasi pemerintahan sesuai dgn tuntutan keadaan yg sudah ber­kembang. Demikian pula di bidang hukum. Dengan berpegang te­guh kepada prinsip-prinsip ajaran Islam dan dgn memanfaat­kan ilmu-ilmu yg dimiliki para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. khususnya Imam Ali r.a. sebagai Khalifah ia berhasil men­fatwakan bermacam-macam jenis hukum pidana dan perdata disamping hukum-hukum yg bersangkutan dgn pelaksanaan peribadatan.

Tetapi bersamaan dgn datangnya berbagai sukses seka­rang kaum rnuslimin sendiri mulai dihadapkan kepada kehidupan baru yg penuh dgn tantangan-tantangan. Dengan adanya wilayah Islam yg bertambah luas dgn banyaknya daerah­-daerah subur yg kini menjadi daerah kaum muslimin serta dgn kekayaan yg ditinggalkan oleh bekas-bekas penguasa lama kaum muslimin Arab mulai berke­nalan dgn keni’matan hidup keduniawian.

Hanya mata orang yg teguh iman sajalah yg tidak silau melihat istana-istana indah kota-kota gemerlapan ladang-ladang subur menghijau dan emas perak intan-berlian berkilauan. Kaum muslimin Arab sudah biasa menghadapi tantangan fisik dari musuh-musuh Islam yg hendak mencoba menghancurkan mereka tetapi kali ini tantangan yg harus dihadapi jauh lbh berat yaitu tantangan nafsu syaitan yg tiap saat menggelitik dari kiri-kanan muka-belakang.

Tantangan berat itulah yg mau tidak mau harus ditanggu­langi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Berkat ketegasan sikap kejujuran dan keadilannya dan dgn dukungan para sahabat Rasul Allah s.a.w. yg tetap patuh pada tauladan beliau Khalifah Umar r.a. berhasil menekan dan membatasi sekecil-­kecilnya penyelewengan yg dilakukan oleh sementara tokoh kaum muslimin. Pintu-pintu korupsi ditutup sedemikian rapat dan kuatnya. Tindakan tegas dan keras cepat pula diambil terha­dap oknum-oknum yg bertindak tidak jujur terhadap kekayaan negara. Sudah tentu ia memperoleh dukungan yg kuat dari se­mua kaum muslimin yg jujur sedangkan oknum-oknum yg berusaha keras memperkaya diri sendiri keluarga dan golongannya pasti melawan dan memusuhinya.

Selama berada di bawah pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. musuh-musuh kaum muslimin memang tidak dapat berkutik. Namun bahaya latent yg berupa rayuan kesenangan hidup duniawi tetap tumbuh dari sela-sela ketatnya pengawasan Khalifah.

Dalam menghadapi tantangan yg sangat berat itu Khalifah Umar r.a. tidak sedikit menerima bantuan dari Imam Ali r.a. Dalam masa yg penuh dgn tantangan mental dan spiritual itu Imam Ali r.a. menunjukkan perhatiannya yg dalam.

Dengan segenap kemampuan dan kekuatannya Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. bersama para sahabat-sahabat Rasul Allah s.a.w. berusaha keras mengendalikan situasi yg hampir melun­cur ke arah negatif.

Umar r.a. sering berkeliling tanpa diketahui orang utk me­ngetahui kehidupan rakyat terutama mereka yg hidup sengsara. Dengan pundaknya sendiri ia memikul gandum yg hendak di­berikan sebagai bantuan kepada seorang janda yg sedang dita­ngisi oleh anak-anaknya yg kelaparan.

Jika Umar r.a. mengeluarkan peraturan baru anggota-anggota keluarganya justru yg dikumpulkannya lbh dulu. Ia minta su­paya semua anggota keluarganya menjadi contoh dalam melaksa­nakan peraturan baru itu. Apabila di antara mereka ada yg mela­kukan pelanggaran maka hukuman yg dijatuhkan kepada mere­ka pasti lbh berat daripada kalau pelanggaran itu dilakukan oleh orang lain.

Dengan kekhalifahannya. itu Umar Ibnul Khattab r.a. telah menanamkan kesan yg sangat mendalam di kalangan kaum mus­limin. Ia dikenang sebagai seorang pemimpin yg patut dicontoh dalam mengembangkan keadilan. Ia sanggup dan rela menempuh cara hidup yg tak ada bedanya dgn cara hidup rakyat jelata. Waktu terjadi paceklik berat sehingga rakyat hanya makan roti kering ia menolak diberi samin oleh seorang yg tidak tega me­lihatnya makan roti tanpa disertai apa-apa. Ketika itu ia menga­takan: “Kalau rakyat hanya bisa makan roti kering saja aku yg bertanggung jawab atas nasib mereka pun harus berbuat seperti itu juga.”

Memanggil calon pengganti

Kepemimpinan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. atas ummat Islam benar-benar memberikan ciri khusus kepada pertumbuhan Islam. Sumbangan yg diberikan bagi kemantapan hidup ke­negaraan dan kemasyarakatan ummat sungguh tidak kecil.

Umar Ibnul Khattab r.a. wafat setelah menderita sakit parah akibat luka-luka tikaman senjata tajam yg dilakukan secara gelap oleh seorang majusi bernama Abu Lu’lu-ah. Dalam keadaan kritis di atas pembaringan pemimpin ummat Islam ini masih sem­pat meletakkan dasar prosedur bagi pemilihan Khalifah pengganti­nya. Rasa tanggung jawabnya yg besar atas kesinambungan ke­pemimpinan ummat Islam masih tetap merisaukan hatinya walaupun maut sudah berada di ambang kehidupannya.

Dalam saat yg gawat itulah ia meminta pendapat para pe­nasehatnya yg dalam catatan sejarah terkenal dgn sebutan “Ahlu Syuro” tentang siapa yg layak menduduki atau meme­gang pimpinan tertinggi ummat Islam.

Umar Ibnul Khattab r.a. memang terkenal sebagai tokoh besar yg memiliki jiwa kerakyatan. Sehingga ketika di antara penase­hatnya ada yg mengusulkan supaya Abdullah bin Umar pu­tera sulungnya ditetapkan sebagai Khalifah pengganti dgn cepat Umar r.a menolak. Ia mengatakan: “Tak seorang pun dari dua orang anak lelakiku yg bakal meneruskan tugas itu. Cukuplah sudah apa yg sudah dibebankan kepadaku. Cukup Umar saja yg menanggung resiko. Tidak. Aku tidak sanggup lagi memikul tugas itu baik hidup ataupun mati!” Demikian kata Umar r.a. dgn suara berpacu mengejar tarikan nafas yg berat.

Sehabis mengucapkan kata-kata seperti di atas Umar r.a. lalu mengungkapkan bahwa sebelum wafat Rasul Allah s.a.w. telah merestui 6 orang sahabat dari kalangan Qureiys. Yaitu Ali bin Abi Thalib ‘Utsman bin Affan Thalhah bin ‘Ubaidillah Zubair bin Al ‘Awwam Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin ‘Auf. “Aku berpendapat” kata Umar r.a. lbh jauh “sebaiknya kuse­rahkan kepada mereka sendiri supaya berunding siapa di antara mereka yg akan dipilih.”

Kemudian seperti berkata kepada diri sendiri ia berucap: “Jika aku menunjuk siapa orangnya yg akan menggantikan aku hal seperti itu pernah dilakukan oleh orang yg lbh baik dari aku yakni Abu Bakar Ash Shiddiq. Kalau aku tidak menunjuk siapa pun hal itu pun pernah dilakukan oleh orang yg lbh afdhal daripada diriku yakni Nabi Muhammad s.a.w.”

Tanpa menunggu tanggapan orang yg ada disekitarnya Kha­lifah Umar r.a. kemudian memerintahkan supaya ke-enam orang tersebut di atas segera dipanggil.

Kondisi fisik Khalifah Umar r.a. yg terbaring tak berdaya itu tampak bertambah gawat pada saat keenam orang yg di­panggil itu tiba. Ketika ia melihat ke-enam orang itu sudah penuh harap menantikan apa yg bakal diamanatkan dgn sisa-sisa

tenaganya Khalifah Umar r.a. berusaha memperlihatkan kete­nangan. Tiba-tiba ia melontarkan suatu pertanyaan yg sukar dijawab oleh enam orang sahabatnya. “Apakah kalian ingin meng­gantikan aku setelah aku meninggal?”

Tentu saja pertanyaan yg dilontarkan secara tiba-tiba dan sukar dijawab itu sangat mengejutkan semua yg hadir. Mula-mu­la mereka diam tertegun. Dan ketika Khalifah Umar r.a. menatap wajah mereka satu persatu masing-masing menunduk tercekam berbagai perasaan. Di satu fihak tentunya mereka itu sangat se­dih melihat pemimpin mereka dalam kondisi fisik yg begitu me­rosot. Tetapi di fihak lain mereka bingung tidak tahu kemana arah pertanyaan yg dilontarkan oleh seorang yg arif dan bijaksana itu. Karena tak ada yg menjawab Khalifah Umar r.a. mengu­langi lagi pertanyaannya.

Setelah itu barulah Zubair bin Al-’Awwam menanggapi. Ia menjawab: “Anda telah menduduki jabatan itu dan telah melaksa­nakan kewajiban dgn baik. Dalam qabilah Qureiys sebenarnya kami ini menempati kedudukan yg tidak lbh rendah diban­ding dgn anda. Sedangkan dari segi keislaman dan hubungan kekerabatan dgn Rasul Allah s.a.w. kami pun tidak berada di bawah anda. Lalu apa yg menghalangi kami utk memikul tugas itu?”

Tampaknya kata-kata yg ketus itu dilontarkan Zubair kare­na menyadari bahwa tokoh yg berbaring di hadapannya itu su­dah dalam keadaan sangat gawat. Hal itu dapat kita ketahui dari komentar sejarah yg dikemukakan oleh seorang penulis terkenal Syeikh Abu Utsman Al Jahidz. Ia mengatakan: “Jika Zubair tahu bahwa Khalifah Umar r.a. akan segera wafat di depan matanya pasti ia tidak akan melontarkan kata-kata seperti itu dan bahkan tidak akan berani mengucapkan sepatah kata pun.”

Kata-kata Zubair bin Al ‘Awwam itu tidak langsung ditang­gapi oleh Khalifah Umar r.a. Seakan-akan kata-kata itu tak pernah didengarnya. Dengan tersendat-sendat Khalifah Umar r.a. melan­jutkan perkataannya: “Bisakah kuajukan kepada kalian peni­laianku tentang diri kalian?”

Kembali Zubair menukas dgn nada sinis: “Katakan saja. Tokh kalau kami minta supaya kami dibiarkan anda akan tetap tidak membiarkan kami!”

Penilaian

Kata-kata Zubair ini tampaknya sangat menyakitkan telinga Khalifah Umar r.a. yg sabar itu. Sambil memandang tajam ke a­rah Zubair Umar r.a. berkata: “Tentang dirimu Zubair… kau itu adl orang yg lancang mulut kasar dan tidak mempunyai pendirian tetap. Yang kausukai hanyalah hal-hal yg menyenangkan dirimu sendiri dan engkau membenci apa saja yg tidak kau­sukai. Pada suatu ketika engkau benar-benar seorang manusia tetapi pada ketika yg lain engkau adl syaitan! Bisa jadi kalau kekhalifahan kuserahkan kepadamu pada suatu ketika eng­kau akan menampar muka orang hanya gara-gara gandum segan­tang.”

Khalifah Umar menghentikan perkataannya sebentar seolah­olah mengambil nafas utk mengumpulkan kekuatan dan me­ngendalikan emosinya. Kemudian ia meneruskan: “Tahukah engkau jika kekuasaan kuserahkan kepadamu? Lalu siapa yg akan melindungi orang-orang pada saat engkau sedang menjadi syaitan? Yaitu pada saat engkau sedang dirangsang kemarahan?”

Tanpa menunggu jawaban Zubair Khalifah Umar r.a. me­noleh kearah Thalhah bin Ubaidillah yg segera menundukkan kepala setelah melihat sorot mata pemimpin yg berwibawa itu. Bukan rahasia lagi di kalangan kaum muslimin pada masa itu bah­wa sudah beberapa waktu lamanya Khalifah Umar r.a. memen­dam rasa jengkel terhadap tokoh yg satu ini. Peristiwanya ber­mula pada waktu Khalifah Abu Bakar r.a. masih hidup. Ketika itu Thalhah mengucapkan suatu kata kepada Abu Bakar r.a yg sangat tidak mengenakkan perasaan Umar Ibnul Khattab r.a

Setelah memandang Thalhah sejenak Khalifah Umar r.a. ber­tanya: “Sebaiknya aku bicara atau diam saja?”

“Bicaralah!” sahut Thalhah dgn nada acuh tak acuh. “Tokh anda tidak akan berkata baik mengenai diriku!”

“Aku mengenalmu sejak jari-jarimu luka pada waktu perang Uhud” kata Khalifah Umar r.a. kepada Thalhah. “Dan aku juga mengenal kecongkakan yg pernah muncul pada dirimu. Rasul Allah wafat dalam keadaan beliau tidak senang kepadamu. Itu akibat kata-kata yg kauucapkan ketika ayat Al-Hijab turun.”(1)

Menurut catatan yg dibuat oleh Syeikh Abu Utsman Al Jahidz perkataan Thalhah yg dimaksud ialah ucapan kepada salah seorang sahabat. Kata-kata Thalhah itu akhirnya sampai juga ke telinga Rasul Allah s.a.w.: “Apa arti larangan itu baginya sekarang ini? Dia bakal mati. Lalu kita bakal menikahi permpuan-perempuan itu!”(2)

Habis berbicara tentang pribadi Thalhah Khalifah Umar r.a. melihat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash. Kepadanya Umar r.a. berkata: “Engkau seorang yg mempunyai banyak kuda perang. Dengan kuda-kuda itu engkau telah berjuang dan berperang. Banyak sekali senjata yg kau miliki busur dan anak panahnya. Tetapi qabilah Zuhrah kurang tepat utk memangku jabatan Khalifah dan memimpin urusan kaum muslimin.”

Tibalah sekarang giliran Khalifah Umar r.a. menilai pribadi Abdurrahman bin ‘Auf yg rupanya sudah siap mendengarkan penilaiannya. “Jika separoh kaum muslimin imannya ditimbang dgn imanmu” kata Khalifah Umar r.a. “maka imanmulah yg lbh berat. Tetapi kekhalifahan tidak tepat kalau dipegang oleh seorang yg lemah seperti engkau. Qabilah Zuhrah kurang kena utk urusan itu.”

Abdurrahman tidak sepatah kata pun menanggapi penilaian Khalifah Umar r.a. atas dirinya. Ia membiarkan Khalifah berbicara lbh lanjut mengenai diri Iman Ali r.a. “Ya Allah alangkah tepat dan baiknya kalau anda tidak suka bergurau!” kata Khalifah Umar r.a. dgn nada suara yg agak meninggi. Kemudian de­ngan suara merendah dikatakan: “Seandainya anda nanti yg akan memimpin ummat anda pasti akan membawa mereka me­nuju kebenaran yg terang benderang.”

Imam Ali r.a. tampak terjengah dan tersipu-sipu mendengar ucapan orang yg sangat dikaguminya. Juga ia tidak membe­rikan tanggapan terhadap penilaian yg positif atas dirinya. Kha­lifah Umar r.a. akhirnya dgn serius menoleh kearah Utsman bin Affan r.a. Tangannya sudah makin melemah dan tenaganya sudah sangat berkurang. Tetapi ia memaksakan diri utk menilai orang keenam yg ada di hadapannya itu. “Aku merasa seakan-­akan orang Qureiys telah mempercayakan kekhalifahan kepada anda” kata Khalifah dgn suara lembut “karena besarnya rasa kecintaan mereka kepada anda.”

Wajah Khalifah Umar r.a. mendadak kelihatan sendu se­olah-olah sedang menahan perasaan getir yg menyelinap ke dalam kalbu. “Tetapi aku melihat nantinya anda akan meng­angkat orang-orang Bani Umayyah dan Bani Mu’aith di atas orang­orang lain. Kepada mereka anda akan menghamburkan harta ghanimah yg tidak sedikit.” Suara Khalifah meninggi pula: “Akhirnya akan ada segerombolan ’serigala’ Arab datang meng­hampiri anda lalu mereka akan membantai anda di atas pem­baringan.”

Dengan nada peringatan yg sungguh-sungguh Khalifah Umar r.a. mengakhiri kata-katanya: “Demi Allah jika anda sampai melakukan apa yg kubayangkan itu gerombolan ’sri­gala’ itu pasti akan berbuat seperti yg kukatakan. Dan kalau yg demikian itu benar-benar terjadi ingatlah kepada kata-kata­ku ini! Semua itu akan terjadi”(3)

Cara Pemilihan

Berbicara tentag wasyiat Khalifah Umar r.a. menjelang wafat nya Syeikh Abu Utsman Al Jahidz juga mengungkapkan ke­terangan Mu’ammar bin Sulaiman At Taimiy yg diperol~h dari Ibnu Abbas. Yang tersebut belakangan ini diketahui pernah mendengar apa yg pernah dikatakan Umar Ibnul Khattab r.a. kepada para Ahlu Syuro menjelang wafatnya: “Jika kalian saling membantu saling percaya dan saling menasehati maka kuper­cayakan kepemimpinan ummat kepada kalian bahkan sampai kepada anak cucu kalian. Tetapi kalau kalian saling dengki saling membenci saling menyalahkan dan saling bertentangan kepe­mimpinan itu akhirnya akan jauth ke tangan Muawiyah bin Abu Sufyan!”.

Perlu diketahui bahwa ketika Khalifah Umar r.a. masih hidup Muawiyah bin Abu Sufyan sudah beberapa tahun lamanya menjabat sebagai kepala daerah Syam. Ia diangkat sebagai kepala daerah oleh Umar Ibnul Khattab r.a. Sejarah kemudian mencatat bahwa yg diperkirakan oleh Khalifah Umax r.a. menjelang akhir hayatnya menjadi kenyataan.

Klimaks dari penyampaian wasyiat oleh Khalifah Umar r.a. ialah memerintahkan supaya Abu Thalhah A1 Anshariy datang menghadap. Waktu orang yg dipanggil itu sudah berada di­dekat pembaringannya berkatalah Khalifah Umar r.a. dgn tegas dan jelas seolah-olah sedang melepaskan sisa tenaganya yg terakhir:

“Abu Thalhah camkan baik-baik! Kalau kalian sudah selesai memakamkan aku panggillah 50 orang Anshar. Jangan lupa supaya masing-masing membawa pedang. Lalu desaklah mereka supaya segera menyelesaikan urusan mereka . Kumpulkan mereka itu dalam sebuah rumah. Engkau bersama-sama teman-i;emanmu berjaga jaga di pintu. Biar­kan mereka bermusyawarah utk memilih salah seorang di an­tara mereka.

“Jika yg Iima setuju dan ada satu yg menentang peng­gallah leher orang yg menentang itu! J’ika empat orang setuju dan ada dua yg menentang penggallah leher dua orang itu! Jika tiga orang setuju dan tiga orang lainnya menentang tunggu dan lihat dulu kepada tiga orang yg diantaranya termasuk Abdurrahman bin ‘Auf. Kalian harus mendukung kesepakatan tiga orang ini. Kalau yg tiga orang lainnya masih bersikeras menen­tangpenggal saja leher tiga orang yg bersikeras itu!.

“Jika sampai tiga hari enam orang itu belum juga mencapai kesepakatan utk menyelesaikan urusan mereka penggal saja leher enam orang itu semuanya. Biarlah kaum muslimin sendiri memilih siapa yg mereka sukai utk dijadikan pemimpin mereka !”.

Dari sekelumit informasi sejarah tersebut di atas kita menge­tahui betapa tingginya rasa tanggung-jawab dan jiwa kerakyatan Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. Secara tertib dan terperinci sampai detik-detik menjelang ajalnya ia masih memikirkan cara­cara pengangkatan seorang Khalifah yg akan mengantikannya. Sambil menahan rasa sakit akibat luka-luka tikaman sejata tajam ia masih sempat berusaha menyinambungkan kepemimpinan um­mat Islam sebaik-baiknya.

BAB VIII

KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN R.A.

Setelah jenazah Umar Ibnul Khattab r.a. dimakamkan Abu Thalhah Al Anshariy segera mengumpulkan 6 orang Ahlu Syuro yg ditunjuk Umar r.a. di sebuah rumah. Sesuai dgn wasiyat Khalifah Umar r.a. maka 50 orang Anshar lengkap dgn pedangnya rnasing-masing ditugaskan menjaga pintu-pintu rumah. Kepada 6 orang itu dipersilakan berunding utk memilih siapa di antara mereka yg akan ditetapkan sebagai Khalifah pengganti Umar Ibnul Khattab r.a.

Pelaksanaan Pemilihan

Tentang pelaksanaan pemilihan Khalifah pengganti Umar r.a. terdapat beberapa riwayat. Menurut Abu Utsman Al-Jahidz pelaksanaannya sebagai berikut:

Keenam Ahlu Syuro itu mulai bermusyawarah dan ber­debat. Thalhah bin Ubaidillah tampil sebagai pembicara pertama. Ia langsung saja mengatakan mendukung Utsman bin Affan sebagai calon Khalifah. Alasan yg diajukannya utk bersikap

demikian krn ia yakin tidak akan ada seorang pun yg akan mencalonkan dirinya sebagai Khalifah selama Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a. masih ada.

Kemudian tampil Zubair bin Al ‘Awwam. Ia menentang pen­calonan Utsman bin Affan r.a. seperti yg diajukan Thalhah. Ia memberikan dukungan kepada Imam Ali r.a. Orang memper­kirakan bahwa Zubair mencalonkan Imam Ali r.a. krn hubung­an kekeluargaan. Seperti diketahui Zubair adl anak lelaki bibi Imam Ali Shafiyyah binti Abdul Mutthalib dan ayah Imam Ali r.a. sendiri adl saudara ibu Zubair.

Setelah ini muncul usul ketiga yg datangnya dari Sa’ad bin Abi Waqqash. Ia mengajukan misanannya sendiri anak pamannya yaitu Abdurrahman bin ‘Auf sebagai Khalifah. Usul Sa’ad ini pun masih berbau fikiran kekerabatan. Kedua-duanya berasal dari qabilah Bani Zuhrah. Selain itu Sa’ad sendiri pun sudah me­rasa kecil kemungkinannya utk terpilih sebagai Khalifah.

Sekarang tinggal 3 orang yg belum mengajukan usul pen­calonan. Abdurrahman kemudian bertanya kepada Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a.: “Siapa di antara kalian berdua yg bersedia mengundurkan diri sebagai calon? Sebab masalah pe­milihan sekarang ini hanya bergantung kepada kalian berdua.”

Ternyata tak seorang pun di antara dua tokoh itu yg menanggapi pertanyaan Abdurahman bin Auf. Setelah beberapa saat lamanya tidak ada jawaban dan semua mata tertuju kepada Imam Ali r.a. dan Utsman bin Affan r.a. Abdurrahman bin Auf berkata lagi: “Sekarang aku menyatakan menarik diri dari pen­calonan.” Seterusnya ditambahkan: “Dengan demikian aku dapat memilih salah seorang di antara kalian berdua.”

Pernyataan Abdurrahman ini pun tidak ditanggapi baik oleh kedua orang calon maupun orang lainnya. Abdurrahman bin Auf kembali mengambil prakarsa utk melancarkan jalannya pe­milihan. Kepada Imam Ali r.a. ia bertanya: “Bagaimana kalau aku membai’at anda utk bekerja berdasarkan Kitab Allah Sunnah Rasul s.a.w. dan mengikuti jejak dua orang Khalifah yg lalu?”

Menghadapi pertanyaan yg agak mendadak itu dgn cepat Imam Ali r.a. menjawab: “Tidak! Aku menerima jika didasarkan kepada Kitab Allah Sunnah Rasul s.a.w. dan ijtihadku sendiri.”

Tanpa mengajukan pertanyaan lbh lanjut kepada Imam Ali r.a. Abdurrahman bin Auf mengajukan pertanyaan yg sama kepada Utsman bin Affan r.a. Dengan singkat dan tegas Utsman bin Affan r.a. menjawab: “ya!”

Mendengar jawaban Utsman bin Affan r.a. itu Abdurrahman masih tiga kali lagi mengajukan pertanyaan yg sama kepada Imam Ali r.a. Imam Ali r.a. tetap pada jawaban semula. Akhir­nya Abdurrahman bin Auf mendekati Utsman bin Affan r.a. kemudian memegang tangannya. Ini sebagai tanda pembai’atan yg diberikannya kepada Utsman bin Affan r.a. Prakarsa Abdur­rahman bin Auf ternyata berhasil menyelesaikan pembai’atan Khalifah baru utk menggantikan Khalifah Tlmar r.a. yg te­lah wafat.

Di samping versi Abu Utsman Al Jahidz ini ada pula versi lain tentang pemilihan Khalifah Utsman r.a. Di dalam versi lain itu dikatakan bahwa setelah beberapa hari melakukan penja­jagan akhirnya pada suatu hari Abdurrahman bin Auf memin­ta kepada kaum muslimin supaya berkumpul di masjid Rasul Allah s.a.w. Dengan menggunakan sorban yg dahulu pernah dipakai oleh Rasul Allah s.a.w. dan dgn berdiri di atas mim­bar pada jenjang tempat Rasul Allah s.a.w. dulu selalu berdiri Abdurrahman bin Auf mengucapkan do’a dgn suara lirih.

Sebenarnya perbuatan Abdurrahman seperti di atas menim­bulkan keheranan di kalangan hadirin. Sebab baik Khalifah Abu Bakar r.a. maupun Khalifah Umar r.a. sendiri belum pernah ber­buat demikian.

Sambil memandang ke tempat Imam Ali r.a. duduk Abdur­rahman berseru dgn gaya penuh wibawa: “Hai Ali majulah engkau!”

Imam Ali r.a. segera memenuhi permintaan Abdurrahman bin Auf. Sebelum Imam Ali r.a. mengetahui benar apa yg menjadi maksud sahabatnya itu tiba-tiba Abdurrahman memegang tangannya sambil mengucapkan kata-kata dgn suara keras. Isi kata-katanya sama dgn apa yg telah dikemukakan oleh Abu Utsman Al-Jahidz di dalam bukunya. Begitu pula proses seterusnya.

Hanya dalam versi ini ditambahkan bahwa Abdurraman bin Auf menyambut kesanggupan Utsman bin Affan r.a. yg sudah berusia lanjut itu dgn berkata : “Ya Allah saksikanlah! Ya Allah saksikanlah!”

Imam Ali r.a. para sababat Rasul Allah s.a.w. lainnya dan semua yg hadir dalam masjid itu tanpa ragu-ragu menerima Us­man bin Affan r.a. yg sudah berusia lanjut itu sebagai pemimpin tertinggi mereka yg baru.

Pembai’atan seorang Khalifah melalui pemilihan salah satu di antara 6 orang Ahlu Syuro merupakan kejadian pertama dalam sejarah kekhalifahan ummat Islam. Khalifah Abu Bakar r.a. di­bai’at langsung oleh kaum muslimin. Khalifah Umar Ibnul Kha­ttab r.a. ditetapkan berdasarkan wasiyat Kahlifah Abu Bakar r.a.

Akan tetapi sejalan dgn pembai’atan Utsman bin Affan r.a. sebagai Khalifah banyak sekali orang bertanya-tanya tentang jawaban yg diberikan Imam Ali r.a. kepada Abdurrahman bin Auf. Mengapa ia mengatakan “Tidak?”

Tidak ada seorang pun yg dapat memberikan jawaban pas­ti. Imam Ali r.a. sendiri tidak pernah mengemukakan secara ter­buka alasan apa yg melandasi jawabannya. Yang pasti Imam Ali r.a. tidak pernah menyesal krn ia gagal menjadi Khalifah disebabkan jawabannya itu. Dengan ikhlas ia menerima Utsman bin Affan r.a. sebagai Amirul Mukminin.

Sementara itu ada yg menafsirkan bahwa perkataan “Ti­dak!” itu bukan ditujukan kepada pertanyaan Abdurrahman bin Auf yg berkaitan dgn keharusan berpegang kepada Ki­tab Allah dan Sunnah Rasul Allah melainkan tertuju kepada ke­harusan mengikuti jejak Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a.

Imam Ali r.a. tidak dapat membenarkan kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar r.a. dalam mengambil keputusan tentang tanah Fadak. Yaitu tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w. yg dica­but oleh Khalifah Abu Bakar r.a. sepeninggal beliau dan dijadikan ­hak milik kaum muslimin . Demikian juga terhadap kebijaksanaan Khalifah Umar r.a. yg mengadakan penggolongan-­penggolongan dalam membagi-bagikan kekayaan Baitul Mal ke­pada kaum muslimin.

Terbuka Kesempatan

Peristiwa yg berlangsung secara wajar menurut norma ka­um muslimin pada masa itu ternyata ditanggapi secara lain oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah. Peristiwa terbai’atnya Utsman bin Affan r.a. sebagai Khalifah diartikan oleh mereka sebagai awal ke­menangan Bani Umayyah atas orang-orang Bani Hasyim.

Padahal Rasul Allah s.a.w. sendiri tidak pernah memandang ummatnya dari kaum apa atau dari keturunan mana. Semua kaum muslimin adl saudara. Prinsip yg mulia itu nampaknya tidak mudah direalisasi krn adat istiadat dan tradisi kuat yg ber­abad-abad bercokol di kalangan orang-orang Arab.

Waktu Utsman bin Affan r.a. terpilih sebagai Khalifah pe­nyakit sukuisme dan keqabilahan muncul kembali dan malah dibesar-besarkan oleh orang-orang Bani Umayyah. Imam Ali r.a. dan orang-orang dari Bani Hasyim lainnya mereka nilai seba­gai mengalami kekalahan dalam persaingan melawan Utsman bin Affan r.a.; yg berasal dari Bani Umayyah.

Padahal Utsman bin Affan r.a. sendiri pada saat terbai’at sebagai Khalifah sama sekali tidak menyimpan fikiran seperti yg diteriakkan oleh kaum kerabatnya. Utsman bin Affan r.a. seorang sahabat terdekat Rasul Allah s.a.w. bahkan sampai dua kali ia

menjadi menantu Nabi. Pertama kali ia nikah dgn Roqayah binti Muhammad Rasul Allah s.a.w. Kemudian setelah Roqayah r.a. meninggal ia nikah lagi dgn Ummu Kaltsum binti Muham­mad Rasul Allah s.a.w. Oleh krn itu Utsman bin Affan r.a. terkenal dgn sebutan “Dzun Nurain” . Ia memeluk Islam di tangan Abu Bakar r.a. dan setelah menjadi orang beriman ia sangat besar taqwanya kepada Allah dan setia kepada Rasul-Nya.

Dalam perjuangan utk kepentingan agama Allah dan per­juangan Rasul-Nya Utsman bin Affan r.a. tidak pernah menghi­tung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya harta ben­da dan jiwanya diserahkan utk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dgn amal perbuatannya yg dgn uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih “Bir Romah” utk kepentingan semua kaum muslimin.

Utsman bin Affan r.a. jugalah yg dgn uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar masjid Rasul Allah s.a.w. ketika masjid itu sudah terlampau sempit utk menampung jemaah yg bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin meng­hadapi paceklik hebat pada saat mana Rasul Allah s.a.w. telah mengambil keputusan utk memberangkatkan pasukan guna menghantam perlawanan Romawi Utsman bin Affan r.a. lah yg mengeluarkan uang dari koceknya utk membeli senjata dan per­lengkapan perang lainnya. Ia memang seorang hartawan dan harta­nya dihabiskan utk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Pada saat menerima tugas dan tanggung jawab sebagai Kha­lifah Utsman bin Affan sudah lanjut usia. Kesempatan ini diper­gunakan sebaik-baiknya oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah yg ada di sekelilingnya. Dalam hal ini yg paling menonjol peranannya ialah Marwan bin Al Hakam misanannya yg menjadi pem­bantu utama paling dipercaya. Demikian juga Muawiyyah bin Abi Sufyan seorang Gubernur atau Kepala Daerah Syam daerah yg sangat makmur dan subur di sebelah utara jazirah Arab. Kedua tokoh Bani Umayyah itu mempergunakan peluang se­cara maksimal ketika usia Khalifah Utsman r.a. makin lanjut dan tidak lagi aktif sepenuhnya mengatur kehidupan negara pe­merintahan dan ummat. Secara pandai orang-orang itu merebut hati Khalifah menanamkan pengaruh dan memperkuat posisi mereka di bidang kekuasaan.

Gejala individualisme mementingkan diri sendiri dan go­longan yg pada masa Khalifah Umar r.a. berhasil dipangkas tunas-tunasnya ternyata tumbuh kembali dgn suburnya ter­utama pada masa-masa terakhir Khalifah Utsman r.a. Sistem pemerintahan yg sangat demokratis yg telah dirintis oleh Rasul Allah s.a.w. Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. setapak demi setapak digantikan dgn sistem oligarki oleh para pembantu Khalifah Utsman r.a. Harta Baitul Mal yg seharusnya digunakan utk kemaslahatan ummat Islam mulai banyak disalahgunakan. Muncullah penguasa-­penguasa hartawan yg mempunyai ratusan ekor unta kuda dan hamba sahaya serta rumah-rumah indah di Bashrah Kufah dan Iskandariyah.

Melihat perkembangan ummat meluncur ke bawah ini Imam Ali r.a. tidak dapat berdiam diri. Sebagai sahabat baik dgn tu­lus ikhlas diminta atau tidak diminta ia menyampaikan saran-sa­ran nasehat-nasehat serta gagasan-gagasan kepada Khalifah Uts­man r.a. Tentu saja sikap dan tindakan yg diambil Imam Ali r.a. menimbulkan rasa tidak senang bahkan sikap permusuhan dari mereka-mereka yg sedang meni’mati hasil perjuangan ummat Islam utk kepentingan diri mereka sendiri.

Cara hidup yg mementingkan kesenangan duniawi di kalangan para penguasa pemerintahan Khalifah dan sistem ke­kuasaan yg berdasarkan kerabat dan keluarga telah membang­kitkan rasa tidak puas yg semakin merata di kalangan ummat Islam khususnya di kalangan qabilah-qabilah tertentu yg hidup merana.

Khalifah Utsman r.a. sendiri dalam batas kemampuan yg ada pada dirinya telah berusaha utk mengatasi keadaan yg semakin kritis itu krn ia menyadari bahayanya bilamana dibiarkan begitu saja. Akan tetapi krn usianya yg telah lanjut

ia tidak berdaya menghadapi “permainan” Marwan bin Al-Ha­kam dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Khalifah Utsman praktis sudah tidak dapat lagi mengendalikan aparaturnya.

Dikorbankan

Apa yg di ramalkan oleh Khalifah Umar r.a. pada saat menjelang ajalnya ternyata memang benar-benar terjadi. Beberapa waktu setelah terbai’at sebagai Khalifah Utsman bin Affan r.a. mengangkat orang-orang dari kalangan Bani Umayyah dan di ­tempatkan pada kedudukan-kedudukan penting atau lbh penting dibanding dgn orang-orang dari qabilah lain. Posisi-posisi pen­ting dalam kekuasaan negara dibagi-bagikan kepada mereka. Kalau tidak sebagai Kepala Daerah atau Gubernur mereka diangkat sebagai panglima-panglima pasukan atau diserahi tanah-tanah yg sangat luas.

Salah satu prestasi besar selama kakhalifahan Utsman r.a. ummat lslam berhasil membebaskan Afrika Utara dari kekuasaan Byzantium. Sayangnya seperlima dari hasil harta jarahan yg didapat oleh kaum muslimin dari daerah-daerah Afrika Utara banyak yg dihadiahkan oleh Khalifah Utsman r.a. kepada para pembantunya terutama Marwan bin Al Hakam. Marwan ini adl kerabatnya dan kemudian dipungut sebagai menantu.

Ibnu Abil Hadid dalam bukunya Syarh Nahjil Balaghah jilid I halaman 97-152 telah mengungkapkan kebijaksanaan Khalifah Utsman r.a. yg dikendalikan oleh Marwan dan kawan-­kawannya yg sangat meresahkan kaum muslimin.

Diantara tindakan-tindakan itu disebut pemberian uang sebanyak 400.000 dirham kepada Abdullah bin Khalid bin Asid. Khalifah Utsman r.a. juga merehabilitasi dan membolehkan Al-Hakam bin Al-Ash kembali bermukim di Madinah. Padahal Al-Hakam ini dahulu telah diusir oleh Rasul Allah s.a.w. dari kota suci itu krn penghianatannya terhadap kaum muslimin. Bah­kan oleh Khalifah ia diberi modal hidup berupa uang sebesar 100.000 dirham. Sedangkan Khalifah-khalifah yg terdahulu tidak ada yg berani melanggar keputusan yg telah diambil oleh Rasul Allah s.a.w. mengenai pengusiran Al-Hakam.

Masih ada lagi serentetan tindakan atau kebijaksanaan yg dilakukan oleh Khalifah Utsman r.a. atas desakan para penasehat dan pembantunya. Yaitu tindakan atau kebijaksanaan yg menyuburkan benih-benih ke-tidak-puasan di kalangan kaum muslimin. Sebuah tempat pusat perdagangan di kota Madinah yg waktu itu terkenal dgn nama “Mazhur” oleh Khalifah Utsman dikuasakan kepada Al-Harits bin Al-Hakam saudara Marwan bin Al-Hakam. Padahal tempat itu dahulunya oleh Rasul Allah s.a.w. telah diserahkan kepada kaum muslimin sebagai milik umum.

Begitu pula daerah Fadak yg dahulunya berupa tanah hak-guna Rasul Allah s.a.w.; oleh Khalifah diserahkan kepada pembantu dekatnya. Padahal tanah Fadak ini menurut hukum di bawah kekuasaan pribadi Rasul Allah s.a.w.

Dalam sejarah Islam daerah Fadak ini menjadi sangat ter­kenal krn tuntutan dan gugatan yg diajukan oleh Sitti Fatimah r.a. kepada Khalifah Abu Bakar r.a. utk memperoleh hak atas tanah yg dahulu berada di bawah kekuasaan ayah­andanya.

Khalifah Utsman r.a. juga mengeluarkan sebuah peraturan yg menggelisahkan penduduk Madinah. Di dalam peraturan itu ditetapkan bahwa padang ilalang sekitar kota yg secara tradi­sional sudah menjadi padang penggembalaan umum dinyatakan tertutup kecuali bagi ternak milik orang-orang Bani Umayyah.

Lebih dari itu daerah Afrika Barat bagian utara yg se­karang dikenal dgn wilayah-wilayah Marokko Aljazair Tunisia Libya dan terus ke timur sampai Mesir dikuasakan seluruhnya kepada Abdullah bin Abi Sarah dgn wewenang penuh. Ab­dullah adl saudara sesusuan dgn Khalifah. Dengan kekua­saan penuh itu Abdullah mempunyai posisi penguasa mutlak di ­daerah itu seolah-olah seorang penguasa negara di dalam negara.

Kepada Abu Sufyan bin Harb yg dahulu terkenal peranan­nya sebagai salah seorang tokoh paling getol memerangi Rasul Allah s.a.w. dan baru terpaksa masuk Islam setelah jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum muslimin oleh Khalifah Utsman r.a. di­beri hadiah sebesar 200.000 dirham. Uang itu diambil dari Baitul Mal. Sedangkan ketika Marwan bin Al-Hakam dipungut sebagai menantu utk dinikahkan dgn puterinya yg bernama Aban Khalifah Utsman r.a. membekalinya lagi dgn uang sebesar 100.000 dirham juga diambil dari Baitul Mal.

Sebenarnya semua kebijaksanaan yg dilakukan Khalifah Utsman r.a. merupakan pelaksanaan imla yg disodorkan para pembantu yg diberi kepercayaan penuh. Khalifah Uts­man r.a. menyadari bahwa pribadinya ditunggangi sedemikian rupa dan sedang digiring ke marabahaya yg sangat fatal oleh orang-orang kepercayaannya. Seorang Khalifah yg kurang lbh berusia 80 tahun itu oleh tokoh-tokoh Bani Umayyah dikorbankan utk kepentingan pribadi-pribadi golongan dan qabilah.

Penyalahgunaan harta Baitul Mal seperti tersebut di atas sudah tentu menimbulkan kegelisahan masyarakat muslimin pada masa itu. Sebuah riwayat mengisahkan ketika Khalifah Utsman r.a. mengambil uang 100.000 dirham dari Baitul Mal utk diserahkan kepada menantunya Marwan bin Al Hakam datanglah pengurus Baitul Mal bernama Zaid bin Arqam menghadap Kha­lifah. Ia datang sambil menangis utk menyerahkan kunci Baitul Mal.

Dengan keheran-heranan. Khalifah bertanya kepada Zaid bin Arqam: “Mengapa engkau menangis? Apakah krn aku hendak memungut Marwan bin Al-Hakam jadi menantu?”

“Tidak” jawab Zaid sambil menundukkan kepala dan me­ngusap air mata. “Aku menangis krn aku menduga anda me­ngambil harta Baitul Mal itu sebagai pengganti kekayaan anda yg dahulu anda infakkan di jalan Allah yaitu pada masa Rasul Allah

s.a.w. masih hidup. Demi Allah uang 100.000 dirham yg anda berikan kepada Marwan itu sungguh terlampau banyak.”

“Hai Ibnu Arqam letakkan kunci itu!” hardik Khalifah de­ngan wajah merah padam. “Kami bisa mendapatkan orang lain yg tidak seperti engkau.”

Pada masa itu kaum muslimin benar-benar merasakan adanya perbedaan yg sangat menyolok antara kebijaksanaan yg di­lakukan Khalifah-khalifah terdahulu dgn penerusnya yg sekarang ini. Aparatur pemerintahan Khalifah tidak mau me­nanggulangi sehingga keamanan dan ketertiban sangat terganggu. Ini menambah keresahan dan kecemasan penduduk.

Banyak para sahabat Rasul Allah s.a.w. yg heran menyaksi­kan tindakan-tindakan Khalifah Utsman r.a. Sebab mereka tahu ia terkenal sebagai seorang sahabat terdekat Nabi Muhammad. Seorang mukmin yg taqwa dan shaleh tidak pernah memen­tingkan diri sendiri atau golongannya. Dermawan besar yg tak pernah menghitung-hitung untung-rugi dan resiko dalam berjuang utk kejayaan Islam dan kaum muslimin.

Abu Dzar dibuang

Abu Dzar Al-Ghifari adl salah seorang sahabat Rasul Allah s.a.w. yg paling tidak disukai oleh oknum-oknum Bani Umayyah yg mendominasi pemerintahan Khalifah Utsman r.a. seperti Marwan bin Al-Hakam Muawiyyah bin Abu Sufyan dan lain-lain.

Ia berasal dari qabilah Bani Ghifar. Suatu qabilah yg pada masa pra-Islam terkenal amat liar kasar dan pemberani. Tidak sedikit kafilah Arab yg lewat daerah pemukiman mereka men­jadi sasaran penghadangan pencegatan dan perampasan. Abu Dzar sendiri seorang pemimpin terkemuka di kalangan mereka.

Ia mempunyai sifat-sifat pemberani terus terang dan jujur. Ia tidak menyembunyikan sesuatu yg menjadi pemikiran dan pendiriannya.

Ia mendapat hidayat Allah s.w.t. dan memeluk Islam di kala Rasul Allah s.a.w. menyebarkan da’wah risalahnya secara rahasia dan diam-diam. Ketika itu Islam baru dipeluk kurang lbh oleh 10 orang. Akan tetapi Abu Dzar tanpa menghitung-hitung resiko mengumumkan secara terang-terangan keislamannya di hadapan orang-orang non muslim Qureiys. Sekembalinya ke daerah pemukimannya dari Makkah Abu Dzar berhasil mengajak semua anggota qabilahnya memeluk agama Islam. Bahkan qabilah lain yg berdekatan yaitu qabilah Aslam berhasil pula di Islamkan.

Demikian gigih berani dan cepatnya Abu Dzar bergerak menyebarkan Islam sehingga Rasul Allah s.a.w. sendiri merasa kagum dan menyatakan pujiannya. Terhadap Bani Ghifar dan Bani Aslam Nabi Muhammad s.a.w. dgn bangga mengucapkan: “Ghifar… Allah telah mengampuni dosa mereka! Aslam… Allah menyelamatkan kehidupan mereka!”

Sejak menjadi orang muslim Abu Dzar benar-benar telah menghias sejarah hidupnya dgn bintang kehormatan tertinggi. Dengan berani ia selalu siap berkorban utk menegakkan ke­benaran Allah dan Rasul-Nya.Tanpa tedeng aling-aling ia bangkit memberontak terhadap penyembahan berhala dan kebatilan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Kejujuran dan kesetiaan Abu Dzar dinilai oleh Rasul Allah s.a.w. sebagai “cahaya terang ben­derang.”

Pada pribadi Abu Dzar tidak terdapat perbedaan antara lahir dan batin. Ia satu dalam ucapan dan perbuatan. Satu dalam fikiran dan pendirian. Ia tidak pernah menyesali diri sendiri atau orang lain namun ia pun tidak mau disesali orang lain.

Kesetiaan pada kebenaran Allah dan Rasul-Nya terpadu erat degan keberaniannya dan ketinggian daya-juangnya. Dalam berjuang melaksanakan perintah Allah s.w.t. dan Rasul-Nya Abu Dzar benar-benar serius keras dan tulus. Namun demikian ia tidak meninggalkan prinsip sabar dan hati-hati.

Pada suatu hari ia pernah ditanya oleh Rasul Allah s.a.w. tentang tindakan apa kira-kira yg akan diambil olehnya jika di kemudian hari ia melihat ada para penguasa yg mengang­kangi harta ghanimah milik kaum muslimin. Dengan tandas Abu Dzar menjawab: “Demi Allah yg mengutusmu mem­bawa kebenaran mereka akan kuhantam dgn pedangku!”

Menanggapi sikap yg tandas dari Abu Dzar ini Nabi Muhammad s.a.w. sebagai pemimpin yg bijaksana memberi pengarahan yg tepat. Beliau berkata: “Kutunjukkan cara yg lbh baik dari itu. Sabarlah sampai engkau berjumpa dgn aku di hari kiyamat kelak!” Rasul Allah s.a.w. mencegah Abu Dzar menghunus pedang. Ia dinasehati berjuang dgn senjata lisan.

Sampai pada masa sepeninggal Rasul Allah s.a.w. Abu Dzar tetap berpegang teguh pada nasehat beliau. Di masa Khalifah Abu Bakar r.a. gejala-gejala sosial ekonomi yg dicanangkan oleh Rasul Allah s.a.w. belum muncul. Pada masa Khalifah Umar Ibnul Khattab r.a. berkat ketegasan dan keketatannya dalam ber­tindak mengawasi para pejabat pemerintahan dan kaum muslimin penyakit berlomba mengejar kekayaan tidak sempat berkembang di kalangan masyarakat. Tetapi pada masa-masa terakhir pemerin­tahan Khalifah Utsman bin Affan r.a. penyakit yg membahaya­kan kesentosaan ummat itu bermunculan laksana cendawan di musim hujan. Khalifah Utsman bin Affan r.a. sendiri tidak ber­daya menanggulanginya. Nampaknya krn usia Khalifah Utsman r.a. sudah lanjut serta pemerintahannya didominasi sepenuhnya oleh para pembantunya sendiri yg terdiri dari golongan Bani Umayyah.

Pada waktu itu tidak sedikit sahabat Rasul Allah s.a.w. yg hidup serba kekurangan hanya krn mereka jujur dan setia kepada ajaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Sampai ada salah seorang di antara mereka yg menggadai hanya sekedar utk dapat membeli beberapa potong roti. Padahal para pengua­sa dan orang-orang yg dekat dgn pemerintahan makin ber­tambah kaya dan hidup bermewah-mewah. Harta ghanimah dan Baitul Mal milik kaum muslimin banyak disalah-gunakan untuk

kepentingan pribadi keluarga dan golongan. Di tengah-tengah keadaan seperti itu para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kaum muslimin pada umumnya dapat diibaratkan seperti ayam mati kelaparan di dalam lumbung padi.

Melihat gejala sosial dan ekonomi yg bertentangan dgn ajaran Islam Abu Dzar Al-Ghifari sangat resah. Ia tidak dapat berpangku tangan membiarkan kebatilan merajalela. Ia tidak betah lagi diam di rumah walaupun usia sudah menua. Dengan pedang terhunus ia berangkat menuju Damsyik. Di tengah jalan ia teringat kepada nasihat Rasul Allah s.a.w.: jangan menghunus pedang. Ber­juang sajalah dgn lisan! Bisikan suara seperti itu terngiang-ngi­ang terus di telinganya. Cepat-cepat pedang dikembalikan kesa­rungnya.

Mulai saat itu Abu Dzar dgn senjata lidah berjuang mem­peringatkan para penguasa dan orang-orang yg sudah tenggelam dalam perebutan harta kekayaan. Ia berseru supaya mereka kem­bali kepada kebenaran Allah dan tauladan Rasul-Nya. Pada waktu Abu Dzar bermukim di Syam ia selalu memperingatkan orang: “Barang siapa yg menimbun emas dan perak dan tidak meng­infaqkannya di jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka bahwa mereka akan mendapat siksa yg Pedih. Pada hari kiamat

Di Syam Abu Dzar memperoleh banyak pendukung. Umum­nya terdiri dari fakir miskin dan orang-orang yg hidup sengsara. Makin hari pengaruh kampanyenya makin meluas. Kampanye Abu Dzar ini merupakan suatu gerakan sosial yg menuntut ditegak­kannya kembali prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan sesuai de­ngan perintah Allah dan ajaran Rasul-Nya.

Muawiyah bin Abi Sufyan yg menjabat kedudukan sebagai penguasa daerah Syam memandang kegiatan Abu Dzar sebagai bahaya yg dapat mengancam kedudukannya. Untuk memben­dung kegiatan Abu Dzar Muawiyyah menempuh berbagai cara guna mengurangi pengaruh kampanyenya. Tindakan Muawiyyah itu tidak mengendorkan atau mengecilkan hati Abu Dzar. Ia tetap berkeliling kemana-mana sambil berseru kepada tiap orang: “Aku sungguh heran melihat orang yg di rurnahnya tidak mem­punyai makanan tetapi ia tidak mau keluar menghunus pedang!”

Seruan Abu Dzar yg mengancam itu menyebabkan makin banyak lagi jumlah kaum muslimin yg menjadi pendukungnya. Bersama dgn itu para penguasa dan kaum hartawan yg telah memperkaya diri dgn cara yg tidak jujur sangat cemas.

Keberanian Abu Dzar dalam berjuang tidak hanya dapat dibuktikan dgn pedang tetapi lidahnya pun dipergunakan utk membela kebenaran. Di mana-mana ia menyerukan ajar­an-ajaran kemasyarakatan yg pernah didengarnya sendiri dari Rasul Allah s.a.w.: “Semua manusia adl sama hak dan sama derajat laksana gigi sisir…” “Tak ada manusia yg lbh afdhal selain yg lbh besar taqwanya…” “Penguasa adl abdi masyarakat” “Tiap orang dari kalian adl penggembala dan tiap penggembala bertanggung jawab atas kegembalaannya..” dan lain sebagainya.

Para penguasa Bani Umayyah dan orang-orang yg ber­gelimang dalam kehidupan mewah sangat kecut menyaksikan kegiatan Abu Dzar. Hati nuraninya mengakui kebenaran Abu Dzar tetapi lidah dan tangan mereka bergerak di luar bisikan hati nura­ni. Abu Dzar dimusuhi dan kepadanya dilancarkan berbagai tuduh­an. Tuduhan-tuduhan mereka itu tidak dihiraukan oleh Abu Dzar. Ia makin bertambah berani.

Pada suatu hari dgn sengaja ia menghadap Muawiyah penguasa daerah Syam. Dengan tandas ia menanyakan tentang kekayaan dan rumah milik Muawiyyah yg ditinggalkan di Mak­kah sejak ia menjadi penguasa Syam. Kemudian dgn tanpa ra­sa takut sedikit pun ditanyakan pula asal-usul kekayaan Muawiy­yah yg sekarang! Sambil menuding Abu Dzar berkata: “Bu­kankah kalian itu yg oleh Al-Qur’an disebut sebagai penumpuk emas dan perak dan yg akan dibakar tubuh dan mukanya pada hari kiyamat dgn api neraka?!”

Betapa pengapnya Muawiyah mendengar kata-kata Abu Dzar yg terus terang itu! Muaw iyah bin Abu Sufyan memang bukan orang biasa. Ia penguasa. Dengan kekuasaan di tangan ia dapat berbuat apa saja. Abu Dzar dianggap sangat berbahaya. Ia harus disingkirkan. Segera ditulis sepucuk surat kepada Khalifah Utsman r.a. di Madinah. Dalam surat itu Muawiyah melaporkan tentang Abu Dzar menghasut orang banyak di Syam. Disarankan supaya Khalifah mengambil salah satu tindakan. Berikan ke­kayaan atau kedudukan kepada Abu Dzar. Jika Abu Dzar menolak dan tetap hendak meneruskan kampanyenya kucilkan saja di pem­buangan.

Khalifah Utsman r.a. melaksanakan surat Muawiyah itu. Abu Dzar dipanggil menghadap. Kepada Abu Dzar diajukan dua pili­han: kekayaan atau kedudukan. Menanggapi tawaran Khalifah itu Abu Dzar dgn singkat dan jelas berkata: “Aku tidak membu­tuhkan duniamu!”

Khalifah Utsman r.a. masih terus menghimbau Abu Dzar. Di­kemukakannya: “Tinggal sajalah di sampingku!”

Sekali lagi Abu Dzar mengulangi kata-katanya: “Aku tidak membutuhkan duniamu!”

Sebagai orang yg hidup zuhud dan taqwa Abu Dzar ber­juang semata-mata utk menegakkan kebenaran dan keadilan yg diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Abu Dzar hanya meng­hendaki supaya kebenaran dan keadilan Allah ditegakkan seperti yg dulu telah dilaksanakan oleh Rasul Allah s.a.w. Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. Memang justru itulah yg sangat sukar dilaksanakan oleh Khalifah Utsman r.a. sebab ia ha­rus memotong urat nadi para pembantu dan para penguasa bawah­annya.

Abu Dzar tidak bergeser sedikit pun dari pendiriannya. A­khirnya atas desakan dan tekanan para pembantu dan para pe­nguasa Bani UmayyahKhalifah Utsman r.a. mengambil keputu­san: Abu Dzar harus dikucilkan dalam pembuangan di Rabadzah. Tak boleh ada seorang pun mengajaknya berbicara dan tak boleh ada seorang pun yg mengucapkan selamat jalan atau mengantar­kannya dalam perjalanan.

Bagi Abu Dzar pembuangan bukan apa-apa. Sekuku-hitam pun ia tidak syak bahwa Allah s.w.t. selalu bersama dia. Kapan saja dan di mana saja. Menanggapi keputusan Khalifah Utsman r.a. ia berkata: “Demi Allah seandainya Utsman hendak menyalib­ku di kayu salib yg tinggi atau di atas bukit aku akan taat sabar dan berserah diri kepada Allah. Aku pandang hal itu lbh baik bagiku. Seandainya Utsman memerintahkan aku harus ber­jalan dari kutub ke kutub lain aku akan taat sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupandang hal itu lbh baik bagiku. Dan se­andainya besok ia akan mengembalikan diriku ke rumah pun akan kutaati aku akan sabar dan berserah diri kepada Allah. Kupan­dang hal itu lbh baik bagiku.”

Itulah Abu Dzar Ghifari pejuang muslim tanpa pamrih duniawi yg semata-mata berjuang utk menegakkan kebenaran dan keadilan demi keridhoan Al Khalik. Ia seorang pahlawan yg dgn gigih dan setia mengikuti tauladan Nabi Muhammad s.a.w. Ia seorang zahid yg penuh taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya tidak berpangku tangan membiarkan kebatilan melanda ummat.

Peristiwa dibuangnya Abu Dzar Al Ghifari ke Rabadzah sa­ngat mengejutkan kaum muslimin khususnya para sahabat Nabi Muhammad s.a.w. Imam Ali r.a. sangat tertusuk perasaannya. Bersama segenap anggota keluarga ia menyatakan rasa sedih dan simpatinya yg mendalam kepada Abu Dzar.

Abu Bakar Ahmad bin Abdul Aziz Al Jauhariy dalam buku­nya As Saqifah berdasarkan riwayat yg bersumber pada Ibnu Abbas menuturkan antara lain tentang pelaksanaan keputusan Khalifah Utsman r.a. di atas:

Khalifah Utsman r.a. memerintahkan Marwan bin Al Hakam membawa Abu Dzar berangkat dan mengantarnya sampai di tengah perjalanan. Tak ada seorang pun dari penduduk yg berani mendekati Abu Dzar kecuali Imam Ali r.a. Aqil bin Abi Thalib dan dua orang putera Imam Ali r.a. yaitu Al-Hasan r.a. dan Al Husein r.a. Beserta mereka ikut pula Ammar bin Yasir.

Menjelang saat keberangkatannya Al Hasan mengajak Abu Dzar bercakap-cakap. Mendengar itu Marwan bin Al-Hakam dgn bengis menegor: “Hai Hasan apakah engkau tidak me­ngerti bahwa Amirul Mukminin melarang bercakap-cakap dgn orang ini? Kalau belum mengerti ketahuilah sekarang!”

Melihat sikap Marwan yg kasar itu Imam Ali r.a. tak dapat menahan letupan emosinya. Sambil membentak ia mencam­buk kepala unta yg dikendarai oleh Marwan: “Pergilah engkau dari sini! Allah akan menggiringmu ke neraka.”

Sudah tentu unta yg dicambuk kepalanya itu meronta-­ronta kesakitan. Marwan sangat marah tetapi ia tidak punya keberanian melawan Imam Ali r.a. Cepat-cepat Marwan kembali menghadap Khalifah utk mengadukan perbuatan Imam Ali r.a. Khalifah Utsman meluap krn merasa perintahnya tidak dihiraukan oleh Imam Ali r.a. dan anggota-anggota keluarganya.

Tindakan Imam Ali r.a. terhadap Marwan itu ternyata men­dorong orang lain berani mendekati Abu Dzar guna mengucap­kan selamat jalan. Di antara mereka itu terdapat seorang bernama Dzakwan maula Ummi Hani binti Abu Thalib.

Dzakwan di kemudian hari Menceritakan pengalamannya sebagai berikut: Aku ingat benar apa yg dikatakan oleh mereka. Kepada Abu Dzar Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Hai Abu Dzar engkau marah demi krn Allah! Orang-orang itu yakni para penguasa Bani Umayyah takut kepadamu sebab mereka takut kehilangan dunianya. Oleh krn itu mereka mengusir dan mem­buangmu. Demi Allah seandainya langit dan bumi tertutup ra­pat bagi hamba Allah tetapi hamba itu kemudian penuh taqwa kepada Allah pasti ia akan dibukakan jalan keluar. Hai Abu Dzar tidak ada yg menggembirakan hatimu selain kebenaran dan tidak ada yg menjengkelkan hatimu selain kebatilan!”

Atas dorongan Imam Ali r.a. Aqil berkata kepada Abu Dzar: “Hai Abu Dzar apa lagi yg hendak kukatakan kepadamu! Engkau tahu bahwa kami ini semua mencintaimu dan kami pun tahu bahwa engkau sangat mencintai kami juga. Bertaqwa sa­jalah sepenuhnya kepada Allah sebab taqwa berarti selamat. Dan bersabarlah krn sabar sama dgn berbesar hati. Ke­tahuilah tidak sabar sama artinya dgn takut dan mengharap­kan maaf dari orang lain sama artinya dgn putus asa. Oleh ka­rena itu buanglah rasa takut dan putus asa.”

Kemudian Al-Hasan berkata kepada Abu Dzar: “Jika seorang yg hendak mengucapkan selamat jalan diharuskan diam dan orang yg mengantarkan saudara yg berpergian harus segera pulang tentu percakapan akan menjadi sangat sedikit sedangkan sesal dan iba akan terus berkepanjangan. Engkau menyaksikan sendiri banyak orang sudah datang menjumpaimu. Buang saja­lah ingatan tentang kepahitan dunia dan ingat saja kenangan manisnya. Buanglah perasaan sedih mengingat kesukaran di masa silam dan gantikan saja dgn harapan masa mendatang. Sabarkan hati sampai kelak berjumpa dgn Nabi-mu dan beliau itu benar-benar ridho kepadamu.”

Setelah Al Hasan kini berkatalah Al Husein: “Hai paman sesungguhnya Allah s.w.t. berkuasa mengubah semua yg paman alami. Tidak ada sesuatu yg lepas dari pengawasan dan kekua­saan-Nya. Mereka berusaha agar paman tidak mengganggu dunia mereka. Betapa butuhnya mereka itu kepada sesuatu yg hendak paman cegah! Berlindunglah kepada Allah s.w.t. dari keserakahan dan kecemasan. Sabar merupakan bagian dari ajaran agama dan sama artinya dgn sifat pemurah. Keserakahan tidak akan mem­percepat datangnya rizki dan kebatilan tidak akan menunda da­tangnya ajal!”

Dengan nada marah Ammar bin Yasir menyambung: “Allah tidak akan membuat senang orang yg telah membuatmu sedih dan tidak akan menyelamatkan orang yg menakut-nakutimu. Seandainya engkau puas melihat perbuatan mereka tentu mereka akan menyukaimu. Yang mencegah orang supaya tidak mengata­kan seperti yg kaukatakan hanyalah orang-orang yg merasa puas dgn dunia. Orang-orang seperti itu takut menghadapi maut dan condong kepada kelompok yg berkuasa. Kekuasaan hanyalah ada pada orang-orang yg menang. Oleh krn itu ba­nyak orang “menghadiahkan” agamanya masing-masing kepada mereka dan sebagai imbalan mereka memberi kesenangan du­niawi kepada orang-orang itu. Dengan berbuat seperti itu se­benarnya mereka menderita kerugian dunia dan akhirat. Bukan­kah itu suatu kerugian yg senyata-nyatanya?!”

Sambil berlinangan air mata Abu Dzar berkata: “Semoga Allah merahmati kalian wahai Ahlu Baitur Rahman! Bila melihat kalian aku teringat kepada Rasul Allah s.a.w. Suka-dukaku di Madinah selalu bersama kalian. Di Hijaz aku merasa berat krn Utsman dan di Syam aku merasa berat krn Muawiyah. Mereka tidak suka melihatku berada di tengah-tengah saudara-saudaraku di kedua tempat itu. Mereka memburuk-burukkan diriku lalu aku diusir dan dibuang ke satu daerah di mana aku tidak akan mem­punyai penolong dan pelindung selain Allah s.w.t. Demi Allah aku tidak menginginkan teman selain Allah s.w.t. dan bersama-Nya aku tidak takut menghadapi kesulitan…”

Tutur Dzakwan lbh lanjut: Setelah semua orang yg me­ngantarkan pulang Imam Ali r.a. segera datang menghadap Kha­lifah Utsman bin Affan r.a. Kepada Imam Ali r.a. Khalifah ber­tanya dgn hati gusar: “Mengapa engkau berani mengusir pulang petugasku -yakni Marwan- dan meremehkan perintahku?”

“Tentang petugasmu” jawab Imam Ali r.a. dgn tenang “ia mencoba menghalang-halangi niatku. Oleh krn itu ia ku­balas. Adapun tentang perintahmu aku tidak meremehhannya.”

“Apakah engkau tidak mendengar perintahku yg melarang orang bercakap-cakap dgn Abu Dzar?” ujar Khalifah dgn marah.

“Apakah tiap engkau mengeluarkan larangan yg ber­sifat kedurhakaan harus kuturut?” tanggap Imam Ali r.a. ter­hadap kata-kata Khalifah tadi dalam bentuk pertanyaan.

“Kendalikan dirimu terhadap Marwan!” ujar Khalifah mem­peringatkan Imam Ali r.a.

“Mengapa?” tanya Imam Ali r.a.

“Engkau telah memaki dia dan mencambuk unta yg di­kendarainya” jawab Khalifah.

“Mengenai untanya yg kucambuk” Imam Ali menjelas­kan sebagai tanggapan atas keterangan Khalifah Utsman r.a. “bolehlah ia membalas mencambuk untaku. Tetapi kalau dia sampal memaki diriku tiap satu kali dia memaki engkau sendiri akan kumaki dgn makian yg sama. Sungguh aku tidak berkata bohong kepadamu!”

“Mengapa dia tidak boleh memakimu?” tanya Khalifah Utsman r.a. dgn mencemooh. “Apakah engkau lbh baik dari dia?!”

“Demi Allah bahkan aku lbh baik daripada engkau!” sahut Imam Ali r.a. dgn tandas. Habis mengucapkan kata-kata itu Imam Ali r.a. cepat-cepat keluar meninggalkan tempat.

Beberapa waktu setelah terjadi insiden itu Khalifah Utsman r.a. memanggil tokoh-tokoh kaum Muhajirin dan Anshar termasuk tokoh-tokoh Bani Umayyah. Di hadapan mereka itu ia menyata­kan keluhannya terhadap sikap Imam Ali r.a.

Menanggapi keluhan Khalifah Utsman bin Affan r.a. para pemuka yg beliau ajak berbicara menasehatkan: “Anda adl pemimpin dia. Jika anda mengajak berdamai itu lbh baik.”

“Aku memang menghendaki itu” jawab Khalifah Utsman r.a. Sesudah ini beberapa orang dari pemuka muslimin itu me­ngambil prakarsa utk menghapuskan ketegangan antara Imam Ali r.a. dan Khalifah Utsman r.a. Mereka menghubungi Imam Ali r.a. di rumahnya. Kepada Imam Ali r.a. mereka bertanya: “Bagaimana kalau anda datang kepada Khalifah dan Marwan utk meminta maaf?”

“Tidak” jawab Imam Ali r.a. dgn cepat. “Aku tidak akan datang kepada Marwan dan tidak akan meminta maaf kepadanya. Aku hanya mau minta maaf kepada Utsman dan aku mau datang kepadanya.”

Tak lama kemudian datanglah panggilan dari Khalifah Utsman r.a. Imam Ali r.a. datang bersama beberapa orang Bani Hasyim. Sehabis memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah s.w.t. Imam Ali r.a. berkata: “Yang kauketahui tentang percakapanku dgn Abu Dzar waktu aku mengantar keberangkatannya demi Allah tidak bermaksud mempersulit atau menentang keputus­anmu. Yang kumaksud semata-mata hanyalah memenuhi hak Abu Dzar. Ketika itu Marwan menghalang-halangi dan hendak mencegah supaya aku tidak dapat memenuhi hak yg telah diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada Abu Dzar. Karena itu aku terpaksa menghalang-halangi Marwan sama seperti dia mengha­lang-halangi maksudku. Adapun tentang ucapanku kepadamu itu dikarenakan engkau sangat menjengkelkan aku sehingga keluar­lah marahku yg sebenarnya aku sendiri tidak menyukainya.”

Sebagai tanggapan atas keterangan Imam Ali r.a. tersebut Khalifah Utsman r.a. berkata dgn nada lemah lembut: “Apa yg telah kau ucapkan kepadaku sudah kuikhlaskan. Dan apa yg telah kaulakukan terhadap Marwan Allah sudah memaaf­kan perbuatanmu. Adapun mengenai apa yg tadi engkau sam­pai bersumpah jelas bahwa engkau memang bersungguh-sungguh dan tidak berdusta. Oleh krn itu ulurkanlah tanganmu..!”

Imam Ali r.a. segera mengulurkan tangan kemudian ditarik oleh Khalifah Utsman r.a. dan dilekatkan pada dadanya.(4)

Bagaimana keadaan Abu Dzar Al Ghifari di tempat pembu­angannya? Ia mati kelaparan bersama isteri dan anak-anaknya. Ia wafat dalam keadaan sangat menyedihkan sehingga batu pun bisa turut menangis sedih!

Menurut riwayat tentang penderitaannya dan kesengsaraan­nya di tempat pembuangan dituturkan sebagai berikut:

Setelah ditinggal mati oleh anak-anaknya ia bersama isteri hidup sangat sengsara. Berhari-hari sebelum akhir hayatnya ia bersama isteri tidak menemukan makanan sama sekali. Ia me­ngajak isterinya pergi ke sebuah bukit pasir utk mencari tetum­buhan. Keberangkatan mereka berdua diiringi tiupan angin ken­cang menderu-deru. Setibanya di tempat tujuan mereka tidak me­nemukan apa pun juga. Abu Dzar sangat pilu. Ia menyeka cucuran keringat padahal udara sangat dingin. Ketika isterinya melihat kepadanya mata Abu Dzar kelihatan sudah membalik. Isterinya menangis kemudian ditanya oleh Abu Dzar: “Mengapa engkau menangis?”

“Bagaimana aku tidak menangis” jawab isterinya yg setia itu “kalau menyaksikan engkau mati di tengah padang pasir seluas ini? Sedangkan aku tidak mempunyai baju yg cukup utk dijadikan kain kafan bagimu dan bagiku! Bagaimana pun juga akulah yg akan mengurus pemakamanmu!”

Betapa hancurnya hati Abu Dzar melihat keadaan isterinya. Dengan perasaan amat sedih ia berkata: “Cobalah lihat ke jalan di ­gurun pasir itu barangkali ada seorang dari kaum muslimin yg lewat!”

“Bagaimana mungkin?” jawab isterinya. “Rombongan haji sudah lewat dan jalan itu sekarang sudah lenyap!”

“Pergilah kesana nanti engkau akan melihat” kata Abu Dzar menirukan beberapa perkataan yg dahulu pernah diucapkan oleh Rasul Allah s.a.w. “Jika engkau melihat ada orang lewat berarti Allah telah menenteramkan hatimu dari perasaan tersiksa. Tetapi jika engkau tidak melihat seorang pun tutup sajalah muka­ku dgn baju dan letakkan aku di tengah jalan. Bila kaulihat ada seorang lewat katakan kepadanya: Inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah. Ia sudah hampir menemui ajal utk menghadap Allah Tuhannya. Bantulah aku mengurusnya!”

Dengan tergopoh-gopoh isterinya berangkat sekali lagi ke bukit pasir. Setelah melihat ke sana-ke mari dan tidak menemukan apa pun juga ia kembali menjenguk suaminya. Di saat ia sedang mengarahkan pandangan mata ke ufuk timur nan jauh di sana tiba-tiba melihat bayang-bayang kafilah lewat tampak benda-­benda muatan bergerak-gerak di punggung unta. Cepat-cepat isteri Abu Dzar melambai-lambaikan baju memberi tanda. Dari ke­jauhan rombongan kafilah itu melihat lalu menuju ke arah isteri Abu Dzar berdiri. Akhirnya mereka tiba di dekatnya kemudian bertanya: “Hai wanita hamba Allah mengapa engkau di sini?”

“Apakah kalian orang muslimin?” isteri Abu Dzar balik ber­tanya. “Bisakah kalian menolong kami dgn kain kafan?”

“Siapa dia?” mereka bertanya sambil menoleh kepada Abu Dzar.

“Abu Dzar Al-Ghifari!” jawab wanita tua itu.

Mereka saling bertanya di antara sesama teman. Pada mula­nya mereka tidak percaya bahwa seorang sahabat Nabi yg mulia itu mati di gurun sahara seorang diri. “Sahabat Rasul Allah?” tanya mereka utk memperoleh kepastian.

“Ya benar!” sahut isteri Abu Dzar.

Dengan serentak mereka berkata: “Ya Allah..! Dengan ini Allah memberi kehormatan kepada kita!”

Mereka meletakkan cambuk untanya masing-masing lalu segera menghampiri Abu Dzar. Orangtua yg sudah dalam ke­adaan payah itu menatapkan pendangannya yg kabur kepada orang-orang yg mengerumuninya. Dengan suara lirih ia berkata:

“Demi Allah… aku tidak berdusta… seandainya aku mempunyai baju bakal kain kafan utk membungkus jenazahku dan jenazah isteriku aku tidak akan minta dibungkus selain de­ngan bajuku sendiri atau baju isteriku…Aku minta kepada kalian jangan ada seorang pun dari kalian yg memberi kain kafan ke­padaku jika ia seorang penguasa atau pegawai.”

Mendengar pesan Abu Dzar itu mereka kebingungan dan saling pandang-memandang. Di antara mereka ternyata ada seorang muslim dari kaum Anshar. Ia menjawab: “Hai paman akulah yg akan membungkus jenazahmu dgn bajuku sendiri yg kubeli dgn uang hasil jerih-payahku. Aku mempunyai dua lembar kain yg telah ditenun oleh ibuku sendiri utk kupergunakan sebagai pakaian ihram…”

“Engkaukah yg akan membungkus jenazahku? Kainmu itu sungguh suci dan halal….!” Sahut Abu Dzar.

Sambil mengucapkan kata-kata itu Abu Dzar kelihatan lega dan tentram. Tak lama kemudian ia memejamkan mata lalu secara perlahan-lahan menghembuskan nafas terakhir dalam ke­adaan tenang berserah diri ke hadirat Allah s.w.t. Awan di langit berarak-arak tebal teriring tiupan angin gurun sahara yg amat kencang menghempaskan pasir dan debu ke semua penjuru. Saat itu Rabadzah seolah-olah berubah menjadi samudera luas yg sedang dilanda tofan.

Selesai di makamkan orang dari Anshar itu berdiri di atas kuburan Abu Dzar sambil berdoa: “Ya Allah inilah Abu Dzar sahabat Rasul Allah s.a.w. hamba-Mu yg selalu bersembah sujud kepada-Mu berjuang demi keagungan-Mu melawan kaum musyri­kin tidak pernah merusak atau mengubah agama-Mu. Ia melihat kemungkaran lalu berusaha memperbaiki keadaan dgn lidah dan hatinya sampai akhirnya ia dibuang disengs