Darah Istihadhah

penulis Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah
Sakinah Wanita dlm Sorotan 05 - Juli - 2003 08:21:35

Istihadhah berbeda dgn haidh. Perbedaan ini menuntut banyak hal. Terutama terkait dgn praktek ibadah. Pembahasan ringkas berikut insya Allah memberikan kemudahan utk memahami apa sesungguh istihadhah itu

Sebagian wanita ada yg mengeluarkan darah dari farji di luar kebiasaan bulanan dan bukan krn melahirkan. Darah ini diistilahkan dgn darah istihadhah. Al Imam An Nawawi rahimahullah mengatakan istihadhah adl darah yg mengalir dari farji wanita di luar waktu dan berasal dari urat yg dinamakan ‘adzil .

Al Imam Al Qurthubi rahimahullah mensifati dgn darah yg keluar dari farji wanita di luar kebiasaan bulanan disebabkan urat yg terputus.

Keluar darah istihadhah ini merupakan hal yg lazim dijumpai para wanita. Bukan hanya di masa sekarang namun sejak dulu dan dialami pula oleh para wanita dari kalangan shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Menurut Al Imam Ash Shan`ani rahimahullah jumlah shahabiyyah yg mengalami istihadhah di masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mencapai sepuluh orang demikian menurut perhitungan ahlul ilmi . Bahkan ada yg menghitung lbh dari sepuluh.

Di antara mereka adl Fathimah bintu Abi Hubaisy radliallahu anha. Ia pernah datang meminta fatwa kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Wahai Rasulullah! Aku adl seorang wanita yg ditimpa istihadhah mk aku tdk suci. Apakah aku harus meninggalkan shalat?”.

Bahkan di antara Ummul Mukminin ada pula yg ditimpa istihadhah seperti yg diberitakan Aisyah radliallahu anha:
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah i`tikaf bersama sebagian istri yg sedang istihadhah dlm keadaan ia melihat keluar darah”

Ibnu ‘Abdil Barr t mengkisahkan tiga orang putri Jahsyin semua mengalami istihadhah. Mereka adl Zainab Ummul Mukminin Hamnah istri Thalhah bin ‘Ubaidillah dan Ummu Habibah istri ‘Abdurrahman bin Auf semoga Allah meridhai mereka semuanya.

Bahkan ada di antara shahabiyyah yg mengalami istihadhah selama bertahun-tahun seperti dialami Ummu Habibah bintu Jahsyin radliallahu anha. Ia istihadhah selama 7 tahun sebagaimana disebutkan dlm hadits riwayat Al Bukhari no. 327 dan Muslim no. 334.

Ada pula di antara mereka yg keluar darah istihadhah dgn deras dan sangat banyak seperti Hamnah bintu Jahsyin radliallahu anha. Ia pernah datang menemui Nabi  mengadukan keadaan dirinya:
“Aku ditimpa istihadhah yg sangat banyak dan deras”

Keadaan Wanita yg Istihadhah

Keadaan pertama: Dia memiliki ‘adat yg tertentu tiap bulan sebelum ditimpa istihadhah. Ketika keluar darah dari farji utk membedakan apakah darah tersebut darah haidh atau darah istihadhah kembali kepada kebiasaan haidhnya. Dia meninggalkan shalat dan puasa di hari-hari kebiasaan haidh dan berlaku pada hukum wanita haidh. Adapun di luar waktu itu bila masih keluar darah berarti ia mengalami istihadhah dan berlaku pada diri hukum wanita suci .

Misalnya: seorang wanita ‘adat 6 hari di tiap awal bulan. Kemudian ia ditimpa istihadhah yg menyebabkan darah keluar terus menerus dari farjinya. mk 6 hari di awal bulan itu dianggap haidh selebih istihadhah. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radliallahu anha. Fathimah menyangka ia harus meninggalkan shalat krn istihadhah yg dialaminya. mk beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan tuntunan:
“Engkau tdk boleh meninggalkan shalat. itu hanyalah darah dari urat bukan haidh. Apabila datang haidhmu mk tinggalkanlah shalat dan bila telah berlalu hari-hari haidhmu cucilah darah darimu dan shalatlah.”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga mengatakan kepada Ummu Habibah bintu Jahsyin x :
“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidhmu kemudian mandilah.”

Keadaan kedua: Ia tdk memiliki ‘adat tertentu sebelum ditimpa istihadhah ataupun ia lupa ‘adat namun ia bisa membedakan darah. mk utk membedakan darah haidh dgn istihadhah ia memakai cara tamyiz . Bila ia dapatkan bau tdk sedap dari darah yg keluar dan sifat-sifat lain yg ia kenali berarti ia sedang haidh selain dari itu berarti ia istihadhah.

Misalnya: seorang wanita keluar darah dari kemaluan secara terus menerus namun 10 hari yg awal darah yg keluar berwarna hitam selebih berwarna merah. mk 10 hari yg awal itu dihitung haidh selebih istihadhah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam kepada Fathimah bintu Abi Hubaisy radliallahu anha:
“Apabila darah itu darah haidh mk dia berwarna hitam yg dikenal. Bila demikian darah yg keluar darimu berhentilah shalat. Namun bila tdk demikian keadaan berwudhulah dan shalatlah.”

Muncul permasalahan bagaimana bila wanita yg istihadhah punya ‘adat haidh dan bisa membedakan sifat darah ? Mana yg harus dia dahulukan ‘adat atau tamyiz ?

Dalam hal ini ulama berselisih pendapat. Al Imam Malik Asy Syafi‘i dan satu riwayat dari Al Imam Ahmad berpendapat tamyiz didahulukan. Mereka berdalil dgn sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Apabila darah itu darah haidh mk dia berwarna hitam yg dikenal. Bila demikian darah yg keluar darimu berhentilah shalat. Namun bila tdk demikian keadaan berwudlulah dan shalatlah”.
Mereka juga beralasan tamyiz merupakan tanda yg jelas sekali mk sepantas kembali kepadanya.

Adapun Abu Hanifah berpendapat ‘adat didahulukan. Pendapat ini dikuatkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dgn berdalil sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :
“Tinggalkanlah shalat sekadar hari-hari haidhmu kemudian mandilah.”

Dalam hadits ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyuruh Ummu Habibah utk melihat kebiasaan haidh meski Ummu Habibah bisa saja membedakan darah tersebut. Namun ternyata beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tdk meminta perincian misal dgn bertanya: “Apakah darah yg keluar itu warna berubah?”. Jadi jelaslah bahwa `adat-lah yg dipegangi bukan tamyiz.

Pendapat terakhir ini yg lbh benar kata Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dgn alasan:
1. Hadits yg di dlm ada penyebutan tamyiz diperselisihkan keshahihannya.
2. Penetapan dgn ‘adat lbh meyakinkan bagi seorang wanita krn sifat darah itu terkadang
berubah atau keluar bergeser ke akhir bulan atau awal bulan atau terputus-putus sehari berwarna hitam hari berikut berwarna merah.

Dengan demikian bila seorang wanita ‘adat 5 hari pada hari ke-4 dari masa haidh keluar darah berwarna merah seperti darah istihadhah namun pada hari ke 5 kembali darah berwarna hitam mk ia berpegang dgn ‘adat yg 5 hari sehingga hari ke-4 yg keluar dari darah berwarna merah tetap terhitung dlm masa haidhnya. Wallahu a‘lam.

Keadaan ketiga: Wanita itu tdk memiliki kebiasaaan haidh dan tdk pula dapat membedakan darah. Sementara darah keluar terus menerus dari farji dan sifat darah itu sama atau tdk jelas. mk cara membedakan dgn melihat kebiasaan umum wanita yaitu menganggap diri haidh selama enam atau tujuh hari pada tiap bulan dimulai sejak awal dia melihat keluar darah. Adapun selebih berarti istihadhah.

Misalnya: seorang wanita melihat pertama kali keluar darah dari vagina pada hari Kamis bulan Ramadhan dan darah itu terus keluar tanpa dapat dibedakan apakah darah haidh atau bukan. mk dia menganggap diri haidh selama 6 atau 7 hari dimulai hari Kamis. Hal ini berdasarkan sabda Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Hamnah:
“Yang demikian itu hanyalah satu gangguan dari syaitan mk anggaplah dirimu haidh selama enam atau tujuh hari. Setelah lewat dari itu mandilah mk apabila engkau telah suci shalatlah selama 24 atau 23 hari puasalah dan shalatlah. Hal ini mencukupimu demikianlah engkau lakukan tiap bulan sebagaimana para wanita biasa berhaidh.”

Al Imam Ash Shan‘ani rahimahullah berkata bahwa hadits ini menunjukkan utk menentukan haidh dgn yg selain dikembalikan kepada kebiasaan umum wanita.

Beliau rahimahullah juga menyatakan: “Ucapan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dlm hadits di atas: “Anggaplah dirimu haidh selama 6 atau 7 hari” bukanlah keraguan dari rawi dan bukan pula disuruh memilih antara 6 atau 7 hari. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan demikian utk mengajarkan bahwasa kaum wanita memiliki dua `adat di antara mereka ada yg haidh selama 6 hari dan ada yg 7 hari. mk seorang wanita mengembalikan kebiasaan kepada wanita yg sebaya dan memiliki keserupaan dengannya.”

Dan tentu lbh pantas bagi wanita ini utk melihat kerabat yg paling dekat seperti ibu saudara perempuan dan semisal mereka. Bukan kembali kepada kebiasaan umum wanita yg haidh krn persamaan seorang wanita dgn kerabat lbh dekat daripada persamaan dgn keumuman wanita. Demikian dikatakan Asy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dlm Asy Syarhul Mumti` .

Sumber: www.asysyariah.com