Pemikiran Untuk mendalami suatu aliran seperti Syi’ah perlu bacaan banyak terutama ilmu kalam dan sejarah perkembangannya belum lagi bacaan Islamologi lainnya. Hujjatul Islam Imam AI-Ghazali dgn tegas menyinggung hal di atas bahwa “Untuk mengetahui kesesatan suatu aliran sebelum lbh dahulu mengetahui tentang hakekat aliran tersebut maka hal tersebut adl tidak mungkin bahkan hal yg demikian itu termasuk sikap yg ngawur dan sesat.” Di sini pentingnya ummat Islam Indonesia memiliki ulama-ulama yg benar-benar mendalami studi “Aliran dan Aqidah Islam” . Karena sedikit atau tidak adanya ulama atau narasumber tentang itu maka dapat difahami mengapa para ulama menjauhi masalah Syi’ah. Sementara mereka yg ramai membicarakannya justru anak-anak dan golongan intelektual yg terbatas ilmu agamanya. Mereka banyak membaca buku-buku tentang Syi’ah yg dijual di toko buku Wali Songo dll. Ini sangat berbahaya. Sebagai bukti apa yg terjadi di Surabaya pada waktu yg lalu tentang masalah Mut’ah dan pendapat sementara pemikir-pemikir muda yg membolehkannya mereka tidak dapat membedakan antara Revolusi Iran dan Aqidah Syi’ah yg oleh faham Ahlus Sunnah wal Jamaah digolongkan kedalam faham-faham yg sesat. Faham Syi’ah bukan lahir pada tahun 1979 bersama-sama lahirnya Revolusi Syi’ah di Iran. Syi’ah mempunyai sejarah yg sangat panjang menurut Ahlus Sunnah. Alhamdulillah saya pernah tinggal di negara-negara yg mayoritas penduduknya penganut aliran Syi’ah. Saya belajar kepada ulama-ulama Syi’ah tinggal bersama masyarakat Syi’ah bergaul dgn mereka. Delapan belas tahun saya tinggal dgn mereka tetapi Alhamdulillah saya tidak lantas menjadi penganut Syi’ah. Saya sangat menyayangkan sejumlah mahasiswa Islam dan intelektual Muslim yg mendukung ajaran Syi’ah bahkan menganutnya sehingga menyatakan di depan umum “Saya adl seorang Syi’ie.” Na’udzu billahi min dzalik. Mereka mengenakan seragam hitam Syi’ah berdzikir Syi’ah ibadah shalat cara Syi’ah dll. Mereka memeluk Syi’ah setelah membaca atau mendengarkan ceramah dari tokoh Syi’ah Indonesia hanya beberapa hari atau bulan saja. lnilah yg terjadi di negeri kita yg penduduknya menganut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah baik aqidah syariah maupun tasawuf/tareqatnya. Menjadi kewajiban kita bersama para ulama pimpinan organisasi pondok-pondok pesantren dgn bekerja sama secara terpadu dgn pihak yg berwajib. Aliran ini sangat membahayakan persatuan ummat krn inti ajarannya bukan keimanan dan ketaqwaan tetapi politik dan revolusi. Perbedaan yg mendasar antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah adl masalah kepala negara. Menurut Syi’ah Imam Ali dan keturunannya yg berhak sebagai kepala negara pengganti Nabi saw maka mereka yg menentang aliran Syi’ah hukumnya bukan mukmin. Ketika membicarakan “Al-Imamah’’sebagai rukun iman yg ke-tiga dalam Syi’ah Muhammad Husein Ali Kasyiful Ghitha’ dalam bukunya “Ahlus Syi’ah wa Ushuu-luha” terbitan Darul Qur’an Al-Karim. Qumm mengatakan “Iman kepada Imamah merupakan dasar utama Syi’ah Imamiyah dan dasar inilah yg membedakan Syi’ah dari semua faham Islam yg lain khususnya Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Al-Imamah Sumber Doktrin Faham Syi’ah

    Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah lbh tepat disebut Aliran Politik dari pada Aliran ‘Aqidah Ini dapat dilihat dari definisi para Ulama Syi’ah sendiri tentang faham ini. Sebutan Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah memperkuat makna Syi’ah sebagai faham politik seperti masalah siapa yg berhak menjadi kepala negara sesudah Nabi saw wafat bagaimana bentuk negara Islam apa UUD Islam dsb.

    Pengaruh Imamah lbh menonjol dalam kegiatan dan moralitas Syi’ah sehingga mewarnai semua ajarannya seperti Aqidah Syariah dan Tasawuf. Imamah menjadi sumber penafsiran Al-Qur’an pembuatan dan penjelasan hadits dan sumber kekuasaan setelah Allah SWT dan Rasulullah saw.

      Imamah dan Ayat-Ayat Suci Al-Qur’an Hampir semua kalimat wilayah dalam AI-Qur’an surat Al-Maidah sebagai berikut Artinya “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah Rasul-Nya dan orang-orang yg beriman. yg mendirikan shalat dah membayarkan zakat dan mereka tunduk kepada Allah SWT. Dan barang siapa yg menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yg beriman sebagai penolongnya sesungguhnya pengikut Allah itulah yg pasti menang.”

      Ahli tafsir Syi’ah Muhammad Husein Ath-Thabathaba’i dalam kitab tafsirnya yg banyak beredar di Indonesia Al-Mizan mengatakan bahwa yg dimaksud oleh ayat tersebut adl Imam Ali dan anak keturunannya . Demikian juga kalimat tawalfa yg terdapat dalam ayat 56 diartikan wilayah Allah Rasul saw dan wilayah Imam Ali dan anak keturunannya. Semula Ath-Thabathaba’i berusaha menafsirkan dua ayat di atas secara obyektif berdasarkan bahasa tetapi sulit sampai kepada tujuan yg diinginkan yaitu wilayah lmam Ali. Akhimya penulis tafsir AI-Mizan itu harus kembali kepada Nara Sumber Syi’ah seperti Al-Kaafi . Buku inilah Al-Mizan dgn mudah mengartikan kalimat wilayah dalam Surat Al-Maaidah ayat 55-56 dan sejumlah ayat lainnya dgn wilayah lmam Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Selain kata al-wilayah yg dihubungkan kepada kedudukan lmam Ali adl kata al-’amanat. Dalam buku Al-Hukumat Al-Islamiyah Al-Khomeini hlm. 81 disebutkan Artinya “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kamu agar menyerahkan amanat kepada ahlinya.” . Pada dua contoh di atas tentang pengaruh doktrin al-imamah dalam menafsirkan jelas sekali permainan politik ulama Syi’ah dan rekayasa mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an menurnt hwa nfsu (**) nya. Mereka sangat berani memainkan agama seperti menafsirkan Al-Qur’an dgn apa yg disebut Tafsir Bathini padahal Nabi Muhammad saw mengancam cara-cara di atas dgn azab neraka.

        Imamah dan Hadits Nabi saw Syi’ah tidak menerima hadits Nabi saw kecuali dari salah seorang imam mereka seperti Imam Ali Hasan Husein dan seterusnya . Kalau kita baca Al-Kaafi kitab hadits Syi’ah Imamiyah Itsnaa ‘Asyariyah seperti shahih Al-Bukhari utk Ahlus Sunnah kita selalu menjumpai imam-imam tersebut sebagai contoh
          Hadits Syi’ah yg memurtadkan para sahabat Artinya “Dari Hinnan dari bapaknya dari Abi Ja’far berkata “Semua manusia telah murtad sesudah Nabi saw wafat kecuali tiga orang. Mereka itu adl Miqdad Salman dan Abu Dzar.”

            Pengkafiran terhadap Khulafa’ur Rasyidin kecuali Ali Artinya Dan Abi Abdillah berkenaan dgn firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang yg kafir sesudah mereka beriman kemudian bertambah kekafiran mereka sekali-kali taubat mereka tidak akan diterima dan mereka adl orang-orang yg zhalim.”

            Artinya Dari Abi Abdillah berkenaan dgn firman Allah ta’ala “Sesungguhnya orang-orang beriman kemudian kafir kemudian beriman lantas kafir lagi kemudian bertambah kekafirannya maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka dan tidak pula memberi petunjuk kepada mereka jalan yg lunis.” Artinya Abu Abdillah berkata “Ayat-ayat diatas turun berkaitan dgn orang-orang tertentu . Mereka pertama kali beriman dgn membai’at Amirul Mukminin kemudian kafir mengingkarinya setelah Rasulullah wafat. Ketika itu mereka tidak lagi berbai’at kemudian mereka bertambah kufur..” . Artinya Dan dalam tafsir Al-Kaafi riwayat dari Abu Abdillah tentang firman Allah SWT “Sesungguhnya orang-orang yg kembali kebelakang sesudah mereka mendapatkan petunjuk.” Abu Abdillah berkata “Ayat di atas turun utk orang ini orang ini dan orang ini . Mereka telah murtad tidak beriman kepada kewilayahan Imam Ali .” Masih banyak lagi hadits-hadits Syi’ah yg memurtadkan dan mengkafirkan para sahabat khususnya Khulafa’ur Rasyidin. Ini sangat bertentangan dgn firman Allah yg memuji mereka yaitu para sahabat baik Muhajirin maupun Anshar. Dan bahkan Rasulullah pun memerintahkan kepada ummatnya agar berpegang teguh kepada Sunnah beliau dan Sunnah Khulafa’ur Rasyidin Al-Mahdiyyin . Rasulullah saw mengecam melaknat orang yg mencaci para sahabat apalagi mengkafirkan dan memurtadkan mereka. Nabi bersabda “Apabila engkau melihat orang mencaci sahabat-sahabtku maka katakan kepada mereka Tidak Allah melaknati kejahatan kalian.”

              Pengaruh Hadits Syi’ah di Kalangan Kampus Pandangan negatif Syi’ah terhadap para sahahat menjalar ke Indonesia terutama di kalangan mahasiswa dan sejumlah dosen bahkan ada juga pemimpin pondok pesantren dan muballigh yg terkena virusnya. Penganut dan simpatisan Indonesia itu ikut-ikutan mengkritik Abu Hurairah Siti ‘Aisyah Utsman bin Affan dan beberapa lainnya. Di antara ahli hadits yg dikritiknya adl lmam Al-Bukhari yg telah disepakati Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagai ulama hadits terbesar sampai sekarang. Kemarahan mereka kepada lmam Bukhari krn di dalam Shahih Bukhari tidak banyak dicantumkan hadits-hadits lmam Ali tidak seperti pencantuman hadits Abu Hurairah dan Siti ‘Aisyah. Kritikus hadits sempalan itu bukan hanya tidak hafal hadits tetapi juga tidak mendalami ilmu hadits. Mereka membaca masalah-masalah hadits kebanyakan dari musuh-musuh Islam seperti orientalis Barat maupun Timur.
                Pengaruh lmamah dalam Rumusan Ushulul Fiqh Pengaruh doktrin Imamah dalam rumusan Ushulul Fiqh sangat jelas terutama pada sumber pertama dan kedua . Ulama Syi’ah tidak mempunyai kebebasan utk menafsiri nash-nash dari dua sumber tersebut. Mereka harus melalui riwayat-riwayat tentang makna ayat atau hadits dari para imam .
                  Pengaruh Imamah dalam Rumusan Ushuluddin . Imamah dimasukkan dalam bagian keimanan yg harus diyakini kebenaranya. Imamah menurut Syi’ah hanya diberikan Allah kepada Imam ‘Ali dan anak keturunannya.

                  Bersambung ..

                  Sumber Diadaptasi dari Mengapa Kita Menolak Syi’ah Kumpulan Makalah Seminar Nasional tentang Syi’ah Irfan Zidny M.A. oleh LPPI Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

                  sumber file al_islam.chm