Berdebat Tanpa Ilmu

penulis Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
Syariah Tafsir 28 - Agustus - 2007 20:30:33

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلاَ هُدًى وَلاَ كِتَابٍ مُنِيْرٍ. ثَانِيَ عِطْفِهِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ. ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِظَلاَّمٍ لِلْعَبِيْدِ
“Dan di antara manusia ada orang2 yg membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan tanpa petunjuk dan tanpa kitab yg bercahaya dgn memalingkan lambung utk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Ia mendapat kehinaan di dunia dan di hari kiamat. Kami merasakan kepada adzab neraka yg membakar. : ‘Yang demikian itu adl disebabkan perbuatan yg dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguh Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya’.”

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
ثَانِيَ عِطْفِهِ
“Memalingkan lambung atau lehernya.” Ini merupakan gambaran bahwa dia tdk menerima dan berpaling dari sesuatu.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Ia menyombongkan diri dari kebenaran jika diajak kepadanya.”
Mujahid Qatadah dan Malik dari Zaid bin Aslam mengatakan: “Memalingkan leher yaitu berpaling dari sesuatu yg dia diajak kepada dari kebenaran krn sombong.” Seperti firman-Nya:
وَفِي مُوْسَى إِذْ أَرْسَلْنَاهُ إِلَى فِرْعَوْنَ بِسُلْطَانٍ مُبِيْنٍ. فَتَوَلَّى بِرُكْنِهِ وَقَالَ سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُوْنٌ
“Dan juga pada Musa ketika Kami mengutus kepada Fir’aun dgn membawa mukjizat yg nyata. mk dia berpaling bersama tentara dan berkata: ‘Dia adl seorang tukang sihir atau seorang gila’.”
Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullahu berkata: “Yang benar dari penafsiran tersebut adl dgn mengatakan bahwa sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang yg mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala ini tanpa ilmu bahwa itu krn kesombongannya. Jika diajak kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dia berpaling dari yg mengajak sambil memalingkan leher dan tdk mau mendengar apa yg dikatakan kepada dgn berlaku sombong.”
لِيُضِلَّ
“Untuk menyesatkan.” Ada yg mengatakan bahwa huruf lam dlm ayat ini adl menjelaskan tentang akibat. Makna yaitu yg berakibat dia menyesatkan dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pendapat ini dikuatkan oleh Al-Qurthubi rahimahullahu dlm tafsirnya. Adapula yg mengatakan bahwa huruf lam tersebut sebagai ta’li yg berarti bertujuan utk menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu tatkala menjelaskan ayat ini mengatakan:
“Perdebatan tersebut bagi seorang muqallid . Perdebatan ini berasal dari setan yg jahat yg menyeru kepada berbagai bid’ah. mk Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa dia mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn cara mendebat para rasul Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para pengikut dgn cara yg batil dlm rangka menggugurkan kebenaran tanpa ilmu yg benar dan petunjuk. Dia tdk mengikuti sesuatu yg membimbing dlm perdebatan itu. Tidak dgn akal yg membimbing dan tdk pula dgn seseorang yg diikuti krn hidayah. Tidak pula dgn kitab yg bercahaya yaitu yg jelas dan nyata. Dia tdk memiliki hujjah baik secara aqli maupun naqli namun hanya sekedar menampilkan syubhat-syubhat yg dibisikkan oleh setan kepadanya. :
وَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوْكُمْ
“Sesungguh setan itu membisikkan kepada kawan-kawan agar mereka membantah kamu.”
Bersamaan dgn itu dia memalingkan lambung dan lehernya. Ini merupakan gambaran tentang kesombongan dari menerima kebenaran serta menganggap remeh makhluk yg lain. Dia merasa bangga dgn apa yg dia miliki berupa ilmu yg tdk bermanfaat serta meremehkan orang2 yg berada di atas kebenaran dan al-haq yg mereka miliki. Akibat dia menyesatkan manusia yaitu dia termasuk ke dlm penyeru kepada kesesatan. Termasuk dlm hal ini adl semua para pemimpin kufur dan kesesatan. Lalu menyebutkan hukuman yg mereka dapatkan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَهُ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ
“bagi di dunia kehinaan.” Yaitu dia akan menjadi buruk di dunia sebelum di akhirat.
Dan ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yg menakjubkan di mana tidaklah engkau mendapati seorang da’i yg menyeru kepada kekafiran dan kesesatan melainkan dia akan dimurkai di jagad raya ini. Ia mendapatkan laknat kebencian celaan yg berhak ia peroleh. Setiap mereka tergantung keadaannya.
وَنُذِيْقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيْقِ
“Dan Kami akan merasakan kepada pada hari kiamat adzab neraka yg membakar.”
yaitu Kami akan menjadikan dia merasakan panas yg dahsyat dan api yg sangat panas. Hal itu disebabkan apa yg telah dia amalkan. Dan sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk berlaku dzalim terhadap hamba-hamba-Nya.
Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan keadaan orang2 sesat yg jahil dan hanya bertaqlid dlm firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيْدٍ
“Di antara manusia ada orang yg membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti tiap setan yg sangat jahat.”
Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut dlm ayat ini keadaan para penyeru kepada kesesatan dari tokoh-tokoh kekafiran dan kesesatan. Yaitu di antara manusia ada yg mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn tanpa ilmu tanpa hidayah dan tanpa kitab yg bercahaya yaitu tanpa akal sehat dan tanpa dalil syar’i yg benar dan jelas. Namun hanya sekedar akal dan hwa nfsu (**) .
Terjadi perselisihan di kalangan para ulama tentang siapa yg dimaksud dlm ayat ini. Ada yg mengatakan bahwa yg dimaksud adl An-Nadhr bin Al-Harits dari Bani Abdid Dar tatkala dia berkata bahwa para malaikat ini merupakan anak-anak perempuan Allah. Adapula yg mengatakan yg dimaksud adl Abu Jahl bin Hisyam dan ada lagi yg mengatakan bahwa yg dimaksud adl Al-Akhnas bin Syuraiq. Namun ayat ini mencakup tiap yg mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berakibat menolak kebenaran dan menjauhkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dia orang non muslim munafik atau dari kalangan ahli bid’ah.
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala beliau menjelaskan makna “ia memalingkan leher utk menyesatkan manusia dari jalan Allah”: “Dia adl ahli bid’ah.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn tanpa ilmu” ini merupakan celaan terhadap tiap orang yg mendebat tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa ilmu. Juga merupakan dalil yg menunjukkan boleh bila dgn ilmu sebagaimana yg dilakukan oleh Ibrahim ‘alaihissalam dgn kaumnya.”

Berdebat antara yg Boleh dan yg Terlarang
Terdapat nash-nash yg menjelaskan tentang tercela berdebat dlm agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا فَلاَ يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلاَدِ
“Tidak ada yg memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah kecuali orang2 yg kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dgn bebas dari suatu kota ke kota yg lain memperdayakan kamu.”
dan firman-Nya:
إِنَّ الَّذِيْنَ يُجَادِلُوْنَ فِي آيَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِنْ فِي صُدُوْرِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَا هُمْ بِبَالِغِيْهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Sesungguh orang2 yg memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yg sampai kepada mereka tdk ada dlm dada mereka melainkan hanyalah kebesaran yg mereka sekali-kali tiada akan mencapai mk mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Telah diriwayatkan dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلىَ اللهِ اْلأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Orang yg paling dibenci Allah adl yg suka berdebat.”
Juga dari hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوا الْجَدَلَ. ثُمَّ تَلاَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ اْلآيَةَ:
“Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yg dahulu mereka di atas melainkan mereka diberi sifat berdebat.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُوْنَ
“Mereka tdk memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dgn maksud membantah saja sebenar mereka adl kaum yg suka bertengkar.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah dihasankan Al-Albani t dlm Shahih Al-Jami’ no. 5633)
Abdurrahman bin Abiz Zinad berkata: “Kami mendapati orang2 yg mulia dan ahli fiqih -dari orang2 pilihan manusia- sangat mencela para ahli debat dan yg mendahulukan akalnya. Dan mereka melarang kami bertemu dan duduk bersama orang2 itu. Mereka juga memperingatkan kami dgn keras dari mendekati mereka.”
Demikian pula Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Pokok-pokok ajaran As-Sunnah menurut kami adalah: berpegang teguh di atas metode para sahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikuti mereka dan meninggalkan bid’ah. Dan tiap bid’ah adl sesat. Dan meninggalkan pertengkaran serta duduk bersama pengekor hwa nfsu (**) juga meninggalkan dialog dan berdebat serta bertengkar dlm agama ini.”
Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: “Tinggalkan perdebatan dari perkaramu. Karena sesungguh engkau tdk akan terlepas dari menghadapi salah satu dari dua orang: orang yg lbh berilmu darimu lalu bagaimana mungkin engkau berdebat dgn orang yg lbh berilmu darimu? orang yg engkau lbh berilmu dari mk bagaimana mungkin engkau mendebat orang yg engkau lbh berilmu dari lalu dia tdk mengikutimu? mk tinggalkanlah perdebatan tersebut!”
Namun di samping dalil-dalil yg melarang berdebat tersebut di atas juga terdapat nash-nash lain yg menunjukkan kebolehannya. Di antara yg menunjukkan boleh berdebat adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah kepada jalan Rabbmu dgn hikmah dan pelajaran yg baik dan bantahlah mereka dgn cara yg baik. Sesungguh Rabbmu Dialah yg lbh mengetahui tentang siapa yg tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yg lbh mengetahui orang2 yg mendapat petunjuk.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan beberapa kisah debat antara Rasul-Nya dgn orang2 kafir. Seperti kisah Ibrahim ‘alaihissalam yg mendebat kaumnya. Demikian pula debat Nabi Musa ‘alaihissalam dgn Fir’aun dan berbagai kisah lain yg disebutkan dlm Al-Qur`an. Demikian pula dlm hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg menyebutkan perdebatan antara Nabi Adam dan Musa ‘alaihissalam sebagaimana yg disebutkan dlm riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Banyak dari kalangan imam salaf mengatakan: Debatlah kelompok Al-Qadariyyah dgn ilmu jika mereka mengakui mk mereka membantah . Dan jika mereka mengingkari mk sungguh mereka telah kafir.”
Demikian pula banyak terjadi perdebatan di kalangan ulama salaf seperti yg terjadi antara ‘Umar bin Abdil ‘Aziz rahimahullahu dgn Ghailan Ad-Dimasyqi Al-Qadari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yg mendebat kelompok Khawarij Al-Auza’i rahimahullahu yg berdebat dgn seorang qadari Abdul ‘Aziz Al-Kinani rahimahullahu dgn Bisyr bin Ghiyats Al-Marisi Al-Mu’tazili Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dgn para tokoh ahli bid’ah serta yg lain yg menunjukkan diperbolehkan melakukan dialog dan debat tersebut.
Apa yg telah kami sebutkan di atas menunjukkan bahwa dlm masalah berdebat tdk dihukumi dgn sikap yg sama. Namun tergantung dari keadaan tujuan dan maksud dari perdebatan tersebut. An-Nawawi rahimahullahu berkata:
“Jika perdebatan tersebut dilakukan utk menyatakan dan menegakkan al-haq mk hal itu terpuji. Namun jika dgn tujuan menolak kebenaran atau berdebat tanpa ilmu mk hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yg menyebutkan tentang boleh dan tercela berdebat.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pertengkaran dan perdebatan dlm perkara agama terbagi menjadi dua:
Pertama: dilakukan dgn tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara yg terpuji. Adakala hukum wajib atau sunnah sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah kepada jalan Rabbmu dgn hikmah dan pelajaran yg baik dan bantahlah mereka dgn cara yg baik. Sesungguh Rabbmu Dialah yg lbh mengetahui tentang siapa yg tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yg lbh mengetahui orang2 yg mendapat petunjuk.”
Kedua: dilakukan dgn tujuan bersikap berlebih-lebihan utk membela diri atau membela kebatilan. Ini adl perkara yg buruk lagi terlarang berdasarkan firman-Nya:
مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللهِ إِلاَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوا
“Tidak ada yg memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah kecuali orang2 yg kafir.”
Dan firman-Nya:
وَجَادَلُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ فَأَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ
“Dan mereka membantah dgn yg batil utk melenyapkan kebenaran dgn yg batil itu; krn itu Aku adzab mereka. mk betapa adzab-Ku.” (Mauqif Ahlis Sunnah 2/600-601)
Ibnu Baththah rahimahullahu berkata: “Jika ada seseorang bertanya: ‘Engkau telah memberi peringatan kepada kami dari melakukan pertengkaran perdebatan dan dialog . Dan kami telah mengetahui bahwa inilah yg benar. Inilah jalan para ulama jalan para sahabat dan orang2 yg berilmu dari kalangan kaum mukminin serta para ulama yg diberi penerangan jalan. Lalu jika ada seseorang datang kepadaku berta tentang sesuatu berupa berbagai macam hwa nfsu (**) yg nampak dan berbagai macam pendapat buruk yg menyebar lalu dia berbicara dgn sesuatu dari dan mengharapkan jawaban dariku; sedangkan aku termasuk orang yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan ilmu tentang serta pemahaman yg tajam dlm menyingkapnya. Apakah aku tinggalkan dia berbicara seenak dan tdk menjawab serta aku biarkan dia dgn bid’ah dan saya tdk membantah pendapat jelek tersebut?’
Maka aku akan mengatakan kepadanya: Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatimu– bahwa orang yg seperti ini keadaan yg engkau diuji dengan tdk lepas dari tiga keadaan:
Adakala dia orang yg engkau telah mengetahui metode dan pendapat yg baik serta kecintaan utk mendapatkan keselamatan dan selalu berusaha berjalan di atas jalan istiqamah. Namun dia sempat mendengar perkataan mereka yg para setan telah bercokol dlm hati-hati mereka sehingga dia berbicara dgn berbagai jenis kekufuran melalui lisan-lisan mereka. Dan dia tdk mengetahui jalan keluar dari apa yg telah menimpa tersebut sehingga dia berta dgn pertanyaan seseorang yg meminta bimbingan utk mendapat solusi dari problem yg dihadapi dan obat dari gangguan yg dialaminya. Dan engkau memandang bahwa dia akan taat dan tdk menyelisihinya.
Orang yg seperti ini yg wajib atasmu adl mengarahkan dan membimbing dari berbagai jeratan setan. Dan hendaklah engkau membimbing kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta atsar-atsar yg shahih dari ulama umat ini dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Semua itu dilakukan dgn cara hikmah dan nasihat yg baik. Dan jauhilah sikap berlebih-lebihan terhadap apa yg engkau tdk ketahui lalu hanya mengandalkan akal dan tenggelam dlm ilmu kalam. Karena sesungguh perbuatanmu tersebut adl bid’ah. Jika engkau menghendaki sunnah mk sesungguh keinginanmu mengikuti kebenaran namun dgn tdk mengikuti jalan kebenaran tersebut adl batil. Dan engkau berbicara tentang As-Sunnah dgn cara bukan As-Sunnah adl bid’ah. Jangan engkau mencari kesembuhan saudaramu dgn penyakit yg ada pada dirimu. Jangan engkau memperbaiki dgn kerusakanmu krn sesungguh orang yg menipu diri tdk bisa menasihati manusia. Dan siapa yg tdk ada kebaikan pada diri mk tdk ada pula kebaikan utk yg lainnya. Siapa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala beri taufiq mk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meluruskan jalannya. Dan barangsiapa yg bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala mk Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong dan membantunya.”
Abu Bakr Al-Ajurri rahimahullahu berkata:
“Jika seseorang berkata: ‘Jika seseorang yg telah diberi ilmu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu ada seseorang datang kepada berta tentang masalah agama lalu mendebatnya; apakah menurutmu dia perlu mengajak berdialog agar sampai kepada hujjah dan membantah pemikirannya?’
Maka katakan kepadanya: ‘Inilah yg kita dilarang dari melakukan dan inilah yg diperingatkan oleh para imam kaum muslimin yg terdahulu.’
Jika ada yg bertanya: ‘Lalu apa yg harus kami lakukan?’
Maka katakan kepadanya: ‘Jika orang yg menanyakan permasalahan kepadamu adl orang yg mengharapkan bimbingan kepada al-haq dan bukan perdebatan mk bimbinglah dia dgn cara yg terbaik dgn penjelasan. Bimbinglah dia dgn ilmu dari Al-Kitab dan As-Sunnah perkataan para shahabat dan ucapan para imam kaum muslimin. Dan jika dia ingin mendebatmu mk inilah yg dibenci oleh para ulama dan berhati-hatilah engkau terhadap agamamu.’
Jika dia bertanya: ‘Apakah kita biarkan mereka berbicara dgn kebatilan dan kita mendiamkan mereka?’
Maka katakan kepadanya: ‘Diam engkau dari mereka dan engkau meninggalkan mereka dlm apa yg mereka bicarakan itu lbh besar pengaruh atas mereka daripada engkau berdebat dengannya. Itulah yg diucapkan oleh para ulama terdahulu dari ulama salafush shalih kaum muslimin.”

Sumber: www.asysyariah.com