Berbuka Puasa
Oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Bagian 2

Berbuka Dengan Apa ?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dgn korma, kalau tdk ada korma dgn air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayg dan semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umat dan dalam menasehati mereka. Allah berfirman.

“Arti : Sesungguh telah datang kpdmu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa oleh penderitaan olehmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayg terhadap orang-orang mukmin” [At-Taubah : 128]

Karena memberikan ke tubuh yg kosong sesuatu yg manis, lebih membangkitkan selera dan bermanfaat bagi badan, terutama badan yg sehat, dia akan menjadi kuat dgn (korma). Adapun air, krn badan ketika dibawa puasa menjadi kering, jika didinginkan dgn air akan sempurna manfaat dgn makanan.

Ketahuilah wahai hamba yg taat, sesungguh korma mengandung berkah dan kekhususan -demikian pula air- dalam pengaruh terhadap hati dan mensucikannya, tdk ada yg mengetahui kecuali orang yg berittiba’. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu (ia berkata) :

“Arti : Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dgn korma basah (ruthab), jika tdk ada ruthab maka berbuka dgn korma kering (tamr), jika tdk ada tamr maka minum dgn satu tegukan air“[5]

Yang Diucapkan Ketika Berbuka

Ketahuilah wahai saudaraku yg berpuasa - mudah-mudahan Allah memberi taufiq kpd kita untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesungguh engkau pu do’a yg dikabulkan, maka manfaatkanlah, berdo’alah kpd Allah dalam keadaan engkau yakin akan dikabulkan, -ketahuilah sesungguh Allah tdk mengabulkan do’a dari hati yg lalai-. Berdo’alah kpd-Nya dgn apa yg kamu mau dari berbagai macam do’a yg baik, mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Arti : Tiga do’a yg dikabulkan : do’a orang yg berpuasa, do’a orang yg terdhalimi dan do’a musafir” [6]

Do’a yg tdk tertolak ini ialah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Arti : Tiga orang yg tdk akan ditolak do’a : orang yg puasa ketika berbuka, Imam yg adil dan do’a orang yg didhalimi” [7]

Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Arti : Sesungguh orang yg puasa ketika berbuka memeliki doa yg tdk akan ditolak” [8]

Do’a yg paling afdhal ialah do’a ma’tsur dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau jika berbuka mengucapkan.

Dzahaba al-dhoma’u wabtali al-’uruuqu watsabbati al-ajru insya Allah

“Arti : Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan pahala Insya Allah” [9]

Memberi Makan Orang Yang Puasa

Bersemangatlan wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah memberkatimu dan memberi taufik kpdmu untuk mengamalkan kebajikan dan taqwa- untuk memberi makan orang yg puasa krn pahala besar dan kebaikan banyak.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Arti : Barangsiapa yg memberi buka orang yg puasa akan mendptkan pahala seperti pahala orang yg berpuasa tanpa mengurangi pahala sedikitpun” [10]

Orang yg puasa hrs memenuhi undangan (makan) saudaranya, krn barangsiapa yg tdk menghadiri undangan berarti telah durhaka kpd Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia hrs berkeyakinan bahwa Allah tdk akan menyia-nyiakan sedikitpun amal kebaikannya, tdk akan dikurangi pahala sedikitpun.

Orang yg diundang disunnahkan mendo’akan pengundang setelah selesai makan dgn do’a-do’a dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Arti : Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat bershalawat (mendo’akan kebaikan) atas kalian, orang-orang yg berpuasa telah berbuka di sisi kalian” [11]

“Arti : Ya Allah, berilah makan orang yg memberiku makan berilah minum orang yg memberiku minum” [Hadits Riwayat Muslim 2055 dari Miqdad]

“Arti : Ya Allah, ampunilah mereka dan rahmatilah, berilah barakah pada seluruh rizki yg Engkau berikan” [Hadits Riwayat Muslim 2042 dari Abdullah bin Busrin]

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]

Foote Note

[5]. Hadits Riwayat Ahmad (3/163), Abu Dawud (2/306), Ibnu Khuzaimah (3/277,278), Tirmidzi 93/70) dgn dua jalan dari Anas, sanad shahih
[6]. Hadits Riwayat Uqaili dalam Ad-Dhu’afa’ (1/72), Abu Muslim Al-Kajji dalam Juz-nya, dan dari jalan Ibnu Masi dalam Juzul Anshari { } sanad hasan kalau tdk ada ‘an-’annah Yahya bin Abi Katsir, hadits ini pu syahid yaitu hadits selanjutnya.
[7]. Hadits Riwayat Tirmidzi (2528), Ibnu Majah (1752), Ibnu Hibban (2407) ada jahalah Abu Mudillah.
[8]. Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128), Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yg shahih, perawi-perawi tsiqat.
[9]. Hadits Riwayat Abu Dawud 92/306), Baihaqi (4/239), Al-Hakim (1/422) Ibnu Sunni (128), Nasaai dalam ‘Amalul Yaum (296), Daruquthni (2/185) dia berkata : “sanad hasan”. Aku katakan : memang seperti ucapannya.
[10]. Hadits Riwayat Ahmad (4/144,115,116,5/192) Tirmidzi (804), ibnu Majah (1746), Ibnu Hibban (895), dishahihkan oleh Tirmidzi.
[11]. Hadits Riwayat Abi Syaibah (3/100), Ahmad (3/118), Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum” (268), Ibnu Sunni (129), Abdur Razak (4/311) dari berbagai jalan darinya, sand shahih

Peringatan.
Apa yg ditambahkan oleh sebagian orang tentang hadits ini : “Allah menyebutkan di majlis-Nya” ialah tdk ada asalanya.

Sumber Berbuka Puasa 2/2 : http://alsofwah.or.id