"Beberapa Pertanyaan Tentang Bid'ah Dan Jawabannya" ketegori Muslim.

Beberapa Pertanyaan Tentang Bid'ah Dan Jawabannya

Kategori Kesempurnaan Islam

Senin, 23 Agustus 2004 13:38:34 WIB

BEBERAPA PERTANYAAN TENTANG BID'AH DAN JAWABANNYA

Oleh
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin

Mungkin ada di antara pembaca yg berta : Bagaimanakah pendpt anda tentang perkataan Umar bin Khatab Radhiyallahu 'Anhu setelah memerintahkan kpd Ubay bin Ka'ab dan Tamim Ad-Dari agar mengimami orang-orang di bulan Ramadhan. Ketika keluar mendptkan para jama'ah sedang berkumpul dgn imam mereka, beliau berkata : "inilah sebaik-baik bid'ah …. dst".

Jawabannya.

Pertama.
Bahwa tak seorangpun di antara kita boleh menentang sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun dgn perkataan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali atau dgn perkataan siapa saja selain mereka. Karena Allah Ta'ala berfirman :

"Arti : Maka hendaklah orang-orang yg menyalahi perintah (Rasul) takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yg pedih". [An-Nuur : 63].

Imam Ahmad bin Hambal berkata : "Tahukah anda, apakah yg dimaksud dgn fitnah ?. Fitnah, yaitu syirik. Boleh jadi apabila menolak sebagian sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam akan terjadi pada hati suatu kesesatan, akhir akan binasa".

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata : "Hampir saja kalian dilempar batu dari atas langit. Kukatakan : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, tapi kalian menentang dgn ucapan Abu Bakar dan Umar".

Kedua.
Kita yakin kalau Umar Radhiyallahu 'anhu termasuk orang yg sangat menghormati firman Allah Ta'ala dan sabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Beliaupun terkenal sebagai orang yg berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, sehingga tak heran jika beliau mendpt julukan sebagai orang yg selalu berpegang teguh kpd kalamullah. Dan kisah perempuan yg berani menyggah pernyataan beliau tentang pembatasan mahar (maskawin) dgn firman Allah, yg arti : " … sedang kamu telah memberikan kpd seseorang di antara mereka harta yg banyak …" [An-Nisaa : 20] bukan rahasia lagi bagi umum, sehingga beliau tdk jadi melakukan pembatasan mahar.

Sekalipun kisah ini perlu diteliti lagi tentang keshahihahnya, tetapi dimaksudkan dpt menjelaskan bahwa Umar ialah seorang yg senantiasa berpijak pada ketentuan-ketentuan Allah, tdk melanggarnya.

Oleh krn itu, tak patut bila Umar Radhiyallahu 'anhu menentang sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata tentang suatu bid'ah : "Inilah sebaik-baik bid'ah", padahal bid'ah tersebut termasuk dalam kategori sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Setiap bid'ah ialah kesesatan".

Akan tetapi bid'ah yg dikatakan oleh Umar, hrs ditempatkan sebagai bid'ah yg tdk termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut. Maksud : ialah mengumpulkan orang-orang yg mau melaksanakan shalat sunat pada malam bulan Ramadhan dgn satu imam, di mana sebelum mereka melakukan sendiri-sendiri.

Sedangkan shalat sunat ini sendiri sudah ada dasar dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana dinyatakan oleh Sayyidah Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata : "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melakukan qiyamul lail (bersama para sahabat) tiga malam berturut-turut, kemudian beliau menghentikann pada malam keempat, dan bersabda :
"Arti : Sesungguh aku takut kalau shalat tersebut diwajibkan atas kamu, sedanghkan kamu tdk mampu untuk melaksanakannya". [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim].

Jadi qiyamul lail (shalat malam) di bulan Ramadhan dgn berjamaah termasuk sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun disebut bid'ah oleh Umar Radhiyallahu anhu dgn pertimbangan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah menghentikan pada malam keempat, ada di antara orang-orang yg melakukan sendiri-sendiri, ada yg melakukan secara berjama'ah dgn orang banyak. Akhir Amirul Mu'minin Umar Radhiyallahu 'anhu dgn pendpt yg benar mengumpulkan mereka dgn satu imam. Maka peruntukan yg dilakukan oleh Umar ini disebut bid'ah, bila dibandingkan dgn apa yg dilakukan oleh orang-orang sebelum itu. Akan tetapi sebenar bukanlah bid'ah, krn pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dengan penjelasan ini, tdk ada suatu alasan apapun bagi ahli bid'ah untuk menyatakan peruntukan bid'ah mereka sebagai bid'ah hasanah.

Mungkin juga di antara pembaca ada yg berta : Ada hal-hal yg tdk pernah dilakukan pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi disambut baik dan diamalkan oleh umat Islam, seperti; ada sekolah, penyusunan buku, dan lain sebagainya. Hal-hal baru seperti ini dinilai baik oleh umat Islam, diamalkan dan dipandang sebagai amal kebaikan. Lalu bagaimana hal ini, yg sudah hampir menjadi kesepakatan kaum Muslimin, dipadukan dgn sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Setiap bid'ah ialah kesesatan ?".

Jawab : Kita katakan bahwa hal-hal seperti ini sebenar bukan bid'ah, melainkan sebagai sarana untuk melaksanakan perintah, sedangkan sarana itu berbeda-beda sesuai tempat dan zamannya. Sebagaimana disebutkan dalam kaedah : "Sarana dihukumi menurut tujuannya". Maka sarana untuk melaksanakan perintah, hukum diperintahkan ; sarana untuk peruntukan yg tdk diperintahkan, hukum tdk diperintahkan ; sedang sarana untuk peruntukan haram, hukum ialah haram. Untuk itu, suatu kebaikan jika dijadikan sarana untuk kejahatan, akan berubah hukum menjadi hal yg buruk dan jahat.

Firman Allah Ta'ala.

"Arti : Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yg mereka sembah selain Allah, krn mereka nanti akan memaki Allah dgn melampaui batas tanpa pengetahuan". [Al-An'aam : 108].

Padahal menjelek-jelekkan sembahan orang-orang yg musyrik ialah peruntukan hak dan pada tempatnya. Sebaliknya, mejelek-jelekan Rabbul 'Alamien ialah peruntukan durjana dan tdk pada tempatnya. Namun, krn peruntukan menjelek-jelekkan dan memaki sembahan orang-orang musyrik menyebabkan mereka akan mencaci maki Allah, maka peruntukan tersebut dilarang.

Ayat ini sengaja kami kutip, krn mrpk dalil yg menunjukkan bahwa sarana dihukumi menurut tujuannya. Ada sekolah-sekolah, karya ilmu pengetahuan dan penyusunan kitab-kitab dan lain sebagai walaupun hal baru dan tdk ada seperti itu pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, namun bukan tujuan, tetapi mrpk sarana. Sedangkan sarana dihukumi menurut tujuannya. Jadi seandai ada seseorang membangun gedung sekolah dgn tujuan untuk pengajaran ilmu yg haram, maka pembangunan tersebut hukum ialah haram. Sebaliknya, apabila bertujuan untuk pengajaran ilmu syar'i, maka pembangunan ialah diperintahkan.

Jika ada pula yg mempertanyakan : Bagaimana jawaban anda terhadap sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

"Arti : Siapa yg memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendpt pahala peruntukan dan pahala orang-orang yg mengikuti (meniru) peruntukan itu ..".

"Sanna" di sini arti : memuntuk atau mengadakan.

Jawab :
Bahwa orang yg menyampaikan ucapan tersebut ialah orang yg menyatakan pula : "Setiap bid'ah ialah kesesatan". yaitu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tdk mungkin sabda beliau sebagai orang yg jujur dan terpercaya ada yg bertentangan satu sama lainnya, sebagaimana firman Allah juga tdk ada yg saling bertentangan. Kalau ada yg beranggapan seperti itu, maka hendaklah ia meneliti kembali. Anggapan tersebut terjadi mungkin krn diri yg tdk mampu atau krn kurang jeli. Dan sama sekali tdk akan ada pertentangan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala atau sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dengan demikian tdk ada pertentangan antara kedua hadits tersebut, krn Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan : "man sanna fil islaam", yg arti : "Barangsiapa beruntuk dalam Islam", sedangkan bid'ah tdk termasuk dalam Islam ; kemudian menyatkan : "sunnah hasanah", berarti : "Sunnah yg baik", sedangkan bid'ah bukan yg baik. Tentu berbeda antara beruntuk sunnah dan mengerjakan bid'ah.

Jawaban lainnya, bahwa kata-kata "man sanna" bisa diartikan pula : "Barangsiapa menghidupkan suatu sunnah", yg telah ditinggalkan dan pernah ada sebelumnya. Jadi kata "sanna" tdk berarti memuntuk sunnah dari diri sendiri, melainkan menghidupkan kembali suatu sunnah yg telah ditinggalkan.

Ada juga jawaban lain yg ditunjukkan oleh sebab timbul hadits diatas, yaitu kisah orang-orang yg datang kpd Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mereka itu dalam keadaan yg amat sulit. Maka beliau menghimbau kpd para sahabat untuk mendermakan sebagian dari harta mereka. Kemudian datanglah seorang Anshar dgn membawa sebungkus uang perak yg kelihatan cukup banyak, lalu diletakkan di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Seketika itu berseri-serilah wajah beliau dan bersabda.

"Arti : Siapa yg memulai memberi contoh kebaikan dalam Islam maka ia mendpt pahala peruntukan dan pahala orang-orang yg mengikuti (meniru) peruntukan itu ..".

Dari sini, dpt dipahami bahwa arti "sanna" ialah : melaksanakan (mengerjakan), bukan berarti memuntuk (mengadakan) suatu sunnah. Jadi arti dari sabda beliau : "Man Sanna fil Islaami Sunnatan Hasanan", yaitu : "Barangsiapa melaksanakan sunnah yg baik", bukan memuntuk atau mengadakannya, krn yg demikian ini dilarang. berdasarkan sabda beliau : "Kullu bid'atin dhalaalah".

[Disalin dari buku Al-Ibdaa' fi Kamaalisy Syar'i wa Khatharil Ibtidaa' edisi Indonesia Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid'ah karya Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-'Utsaimin, penerjemah Ahmad Masykur MZ, terbitan Yayasan Minhajus Sunnah, Bogor - Jabar]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1003&bagian=0

Sumber Beberapa Pertanyaan Tentang Bid'ah Dan Jawabannya : http://alsofwah.or.id