Beberapa Pelajaran Penting Perang Uhud Bagian 4

penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Jejak 25 - Januari - 2006 08:38:37

Di balik kekalahan yg dialami kaum muslimin dlm perang Uhud tersimpan banyak pelajaran berharga yg bisa kita petik.

Ibnul Qayyim t
mengatakan :
“Az-Zuhri ‘Ashim bin ‘Umar Muhammad bin Yahya bin Hibban dan yg lain menyebutkan bahwa peristiwa Uhud ini adl hari-hari ujian dan saringan . Allah k
menguji kaum mukminin melalui peristiwa Uhud ini. Melalui peristiwa ini pula semakin jelaslah siapa yg dgn lisan menyimpan kemunafikan dan menampilkan keislaman. Dan Allah k
memuliakan siapa yg dikehendaki-Nya sebagai syuhada`.”
Allah k
mengisahkan peristiwa Uhud dlm ayat-ayat-Nya yg mulia agar menjadi pelajaran yg berharga bagi kaum muslimin hingga hari kiamat.
Firman Allah k
:

وَإِذْ غَدَوْبَ مِنْ أَهْلِكَ تَبَوَّئُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ. إِذْ هَمَّتْ طَائِفَتَانِ مِنْكُمْ أَنْ تَفْشَلاَ وَاللهُ وَلِيُّهُمَا وَعَلَى اللهِ فَلَيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Dan ketika kamu berangkat pada pagi hari dari keluargamu menempatkan mukminin pada beberapa tempat utk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ketika dua golongan darimu ingin krn takut padahal Allah adl penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah krn Allah saja orang2 mukmin bertawakkal.”
Al-Imam Al-Qurthubi t
menerangkan bahwa ayat ini turun berkenaan dgn orang2 Anshar. Hal itu terjadi setelah membelot Abdullah bin Ubay bin Salul pentolan munafikin dgn membawa sepertiga pasukan. Namun Allah k
memelihara hati orang2 Anshar sehingga mereka tdk ikut berbalik.
Kemudian dlm firman Allah k
:

وَلَقَدْ كُنْتُمْ تَمَنَّوْنَ الْمَوْتَ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَلْقََوْهُ فَقَدْ رَأَيْتُمُوْهُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ

“Sesungguh kamu mengharapkan mati sebelum kamu menghadapinya; sungguh kamu telah melihat dan kamu menyaksikannya.”
Al-Imam Al-Qurthubi t
mengatakan ayat ini berkenaan dgn sebagian shahabat Anshar yg tertinggal dari perang Badr dan mereka ingin turut serta berperang demi memperoleh syahadah. Namun ketika pertempuran berkecamuk sebagian mereka surut. Akan tetapi ada pula yg tetap tabah dan pantang mundur di antara Anas bin An-Nadhr z
. Ketika dia melihat kaum muslimin bercerai-berai dia berkata:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعْتَذِرُ إِلَيْكَ مِمَّا صَنَعَ هَؤُلاَءِ –يَعْنِي الْمُسْلِمِيْنَ- وَأَبْرَأُ إِلَيْكَ مِمَّا جَاءَ بِهِ الْمُشْرِكُوْنَ

“Ya Allah aku meminta uzur kepada-Mu dari apa yg mereka -yakni kaum muslimin- lakukan dan aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yg didatangkan kaum musyrikin.”
Kemudian dia mengambil pedang dan berpapasan dgn Sa’d bin Mu’adz lalu berkata kepadanya: ”Mau ke mana hai Sa’d? Sungguh aku mencium bau harum surga di balik bukit Uhud ini. Diapun maju bertempur dgn sengit sampai gugur sebagai kembang syuhada` dgn hampir 80 bekas tebasan dan tusukan pedang tombak atau panah. Hampir tdk ada yg mengenal kecuali saudari melalui jari-jarinya.1
Peristiwa Uhud ini cukup memilukan. Al-Yaman ayahanda shahabat Hudzaifah terbunuh di tangan kaum muslimin krn salah bunuh. Hamzah Singa Allah dan Rasul-Nya gugur sebagai syuhada` dan masih banyak lagi yg lainnya. Namun demikian hikmah yg terkandung dlm peristiwa ini sangat banyak. Di antara sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar t
:
“Para ulama menjelaskan bahwa dlm kisah perang Uhud ini juga dgn musibah yg dialami kaum muslimin mengandung beberapa pelajaran atau faedah serta hikmah rabbaniyah yg sangat agung di antaranya:
 Memahamkan kepada kaum muslimin betapa buruk akibat kemaksiatan dan mengerjakan apa yg telah dilarang yaitu ketika barisan pemanah meninggal pos-pos mereka yg sudah ditetapkan oleh Rasulullah n
agar mereka berjaga di sana.
 Sudah menjadi kebiasaan bahwa para rasul itu juga menerima ujian dan cobaan yg pada akhir mendapatkan kemenangan. Sebagaimana dijelaskan dlm kisah dialog Abu Sufyan dan Hiraqla . Di antara hikmah apabila mereka senantiasa mendapatkan kemenangan tentu orang2 yg tdk pantas akan masuk ke dlm barisan kaum mukminin sehingga tdk bisa dibedakan mana yg jujur dan benar mana yg dusta. Sebalik kalau mereka terus-menerus kalah tentulah tdk tercapai tujuan diutus mereka. Sehingga sesuai dgn hikmah-Nya terjadilah dua keadaan ini.
 Ditunda kemenangan pada sebagian pertempuran adl sebagai jalan meruntuhkan kesombongan diri. mk ketika kaum mukminin diuji lalu mereka sabar tersentaklah orang2 munafikin dlm keadaan ketakutan.
 Allah k
mempersiapkan bagi hamba-Nya yg beriman tempat tinggal di negeri kemuliaan-Nya yg tdk bisa dicapai oleh amalan mereka. mk Dia tetapkan beberapa sebab sebagai ujian dan cobaan agar mereka sampai ke negeri tersebut.
 Bahwasa syahadah termasuk kedudukan tertinggi para wali Allah k
.
 Allah k
menghendaki kehancuran musuh-musuh-Nya mk Dia tetapkan sebab yg mendukung hal itu seperti kekufuran kejahatan dan sikap mereka melampaui batas dlm menyakiti para wali-Nya. mk dgn cara itulah Allah k
menghapus dosa kaum mukminin.
 Perang Uhud ini seakan-akan persiapan menghadapi wafat Rasulullah n
. Allah k
meneguhkan mereka mencela mereka yg berbalik ke belakang baik krn Rasulullah n
terbunuh atau meninggal dunia.
 Hikmah lain adl ada pembersihan terhadap apa yg ada di dlm hati kaum mukminin.

Pertempuran Usai
Setelah peperangan usai Abu Sufyan mendaki sebuah bukit dan berteriak: “Apakah Muhammad ada di antara kalian?!” Namun kaum muslimin tdk menjawabnya. Kemudian dia berteriak lagi: “Apakah Ibnu Abi Quhafah ada di antara kalian?!” Tidak juga dijawab. Akhir dia berteriak lagi: “Apakah ‘Umar bin Al-Khaththab ada di antara kalian?!” Juga tdk dijawab. Dan dia tdk menanyakan siapapun kecuali tiga orang ini krn dia dan kaum mengerti bahwa mereka bertiga adl pilar-pilar Islam. Lalu dia berkata: “Adapun mereka bertiga kalian sudah mencukupkan mereka.”
‘Umar z
tak dapat menahan emosi utk tdk menyahut: “Wahai musuh Allah sesungguh orang2 yg kau sebut masih hidup! Dan semoga Allah menyisakan untukmu sesuatu yg menyusahkanmu.”
Abu Sufyan berkata: “Di kalangan yg mati ada perusakan mayat saya tdk memerintahkan dan tdk pula menyusahkan saya.” Kemudian dia berkata: “Agungkan Hubal!”
Lalu Nabi n
berkata: “Mengapa tdk kalian jawab?” Kata para shahabat: “Apa yg harus kami katakan?” Kata beliau: “Allah Lebih Tinggi dan Lebih Mulia.”
Abu Sufyan berkata lagi: “Kami punya ‘Uzza sedangkan kalian tidak.”
Kata Rasulullah n
: “Mengapa tdk kalian balas?”
Kata para shahabat: “Apa yg harus kami katakan?”
Katakanlah: “Allah adl Maula kami sedangkan kalian tdk mempunyai maula satupun.”2
Perintah Rasulullah n
agar mereka membalas ketika Abu Sufyan merasa bangga dgn sesembahan-sesembahan dan kesyirikan dlm rangka pengagungan terhadap tauhid sekaligus menunjukkan Keperkasaan dan Kemuliaan Dzat yg diibadahi oleh kaum muslimin.
Kemarahan ‘Umar mendengar kata-kata Abu Sufyan menunjukkan penghinaan keberanian terang-terangan kepada musuh tentang kekuatan dan keperkasaan mereka bahwa mereka bukanlah orang yg hina dan lemah.
Berikut ini beberapa hukum dan fiqih yg terkandung dlm peristiwa Uhud yg dinukil Ibnul Qayyim dlm Zaadul Ma’ad antara lain:
 Bahwa jihad harus segera dijalankan. Sehingga siapa yg telah memakai pakaian perang dan melakukan beberapa sebab utk berperang serta bersiap utk berangkat dia tdk boleh kembali sampai dia memerangi musuhnya.
 Kaum muslimin tdk diwajibkan keluar menghadapi musuh apabila diserbu oleh musuh mereka di kampung-kampung mereka. Bahkan hukum boleh tetap berada di rumah-rumah mereka dan memerangi musuh dari rumah-rumah tersebut jika memang hal tersebut lbh memungkinkan utk dapat mengalahkan musuh. Sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah n
dalam peristiwa Uhud.
 Boleh melakukan serangan total ke jantung pertahanan musuh seperti yg dilakukan Anas bin An-Nadhr dan lain-lainnya.
 Kalau imam mendapat musibah dia boleh shalat mengimami sambil duduk dan makmum juga ikut duduk.
 Boleh berdoa mati di jalan Allah k
dan mendambakan hal tersebut.
 Menurut As-Sunnah syuhada` tdk dimandikan dan tdk dishalatkan.3
 Boleh menguburkan dua atau tiga orang dlm satu liang.4
 Menurut As-Sunnah syuhada` dikubur di tempat dia terbunuh tdk dipindah ke lain tempat.
 Apabila kaum muslimin membunuh seorang yg disangka kafir mk tanggung jawab imam utk menyerahkan diat - dari Baitul Mal.
Selengkap lihat Zaadul Ma’ad . Wallahul Muwaffiq.

1 HR. Al-Bukhari dlm Al-Maghazi.
2 HR. Al-Bukhari Ahmad lihat tahqiq Zaadul Ma’ad .
3 Walaupun menurut sebagian pendapat lain hukum adl sunnah bukan wajib lihat tahqiq Zaadul Ma’ad .
4 HR. Al-Bukhari Abu Dawud At-Tirmidzi An-Nasa`i Ibnu Majah dari hadits Jabir z
. Tetapi ini berlaku dlm kondisi darurat lihat tahqiq Zaadul Ma’ad .

Sumber: www.asysyariah.com