"Baiat Aqabah Pertama Dan Kedua Terjadi Sebelum Tegak Negara Islam ?" ketegori Muslim.

Baiat Aqabah Pertama Dan Kedua Terjadi Sebelum Tegak Negara Islam ?

Kategori Bai'at Sunnah Dan Bid'ah

Kamis, 26 Februari 2004 16:30:40 WIB

AL-BAI'AH BAINA AS-SUNNAH WAL AL-BID'AH 'INDA AL-JAMA'AH AL-ISLAMIYAH
[BAI'AT ANTARA SUNNAH DAN BID'AH]

Oleh
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
Bagian Ketujuh dari Sembilan Tulisan [7/9]

BEBERAPA SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
Barangkali sebagian para da'i ada yg membantah hasil yg telah kita capai yaitu bahwa bai'at umum di dalam syari'at Islam tdk mungkin diberikan kecuali ha kpd Amirul Mukminin saja. Seorang Amirul Mukminin yg memiliki kepantasan dan tanggung jawab, yg mampu untuk menegakkan agama dan melaksanakan hukum-hukumnya, menjalankan hukum sesuai syari'at, mengumumkan perang, cenderung kpd perdamaian dan lain sebagai dari tugas-tugas yg khusus bagi Amirul Mukminin menurut pandangan Islam. Adapun celaan-celaan ditujukan pada siapa saja yg memberontak dan memisahkan diri dari jama'ah[1] dan lain sebagai tdk lain terjadi pada keadaan seperti ini (ada Amirul Mukminin -ed) [2]

Sebagai penguat lagi bahwa baiat yg umum tdk mungkin diberikan kecuali ha kpd pemimpin kaum muslimin, yg mampu mengumumkan perang, mengikat perdamaian dan menegakkan hukum-hukum had[3]

Jadi, bahwa permasalahan ini ialah permasalahan yg pasti dan tegas tdk menerima basa-basi. Allah Subhanahu wa Ta'ala tdk akan menerima dalam masalah tersebut kecuali kesungguhan yg sangat, suatu kesungguhan yg selayak ada pada seorang muslim dalam masalah agama[4]. Dan perkara ini diambil dari karakter agama ini. Dikrnkan masalah baiat ialah masalah yg jelas yg tdk mengandung kerancuan, tegas tdk menerima basa-basi.[5]

Sedang penentangan-penentangan sebagian orang, terbatas pada beberapa syubhat. Akan kami sebutkan dan kami jawab, dgn daya dan kekuatan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

SYUBHAT PERTAMA
"Tidak ada dalil yg melarang bai'at".

Kami jawab dari beberapa sisi.
[1] Sesungguh semua pembicaraan orang-orang terdahulu dari kalangan ahli ilmu dan fikih berkisar pada baiat kpd seorang khalifah muslim. Tidak seorangpun dari mereka (sesuai penelitianku) berpendpt kpd baiat-baiat istitsnaiyyah yg diberikan kpd bukan pemimpin kaum muslimin! Barangsiapa yg berpendpt selain ini, maka wajib bagi untuk menunjukkan dalil!

[2] Jika kami mengatakan (dalam rangka membantah), boleh baiat semacam ini, maka apakah baiat itu khusus untuk golongan tertentu dari manusia ? Atau boleh untuk seluruh golongan umat dan individu-individu ? Jika kami jawab pertanyaan yg pertama dgn "ya", maka yg demikian berarti batil, dan memuntuk-untuk syari'at yg tdk diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karena tdk ada wahyu yg mengkhususkan sekelompok manusia dgn suatu perkara, tanpa memberikan kpd kelompok yg lain setelah wafat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam! Dan jika kami jawab pertanyaan yg kedua dgn "ya", berarti kami telah memporak porandakan urusan kaum muslimin, mencerai beraikan urusan mereka, dan memecah belah kedigdayaan mereka, serta menjadikan mereka berkelompok-kelompok dan bergolongan-golongan. Dari sana, maka terbuka pintu yg tdk bisa ditutup bagi beribu-ribu ba'iat, sehingga seorang mendatangi orang yg ia kehendaki kemudian membaiat kapan saja yg ia mau. Ini ialah sebatil-batil perkara!

[3] Dimana pendahulu umat ini dari baiat-baiat semacam ini ? Apakah akal dan hwa nfsu (**) kita bisa sampai kpd suatu kebaikan sedang kita lepas dari orang-orang terbaik dari umat ini dari kalangan salaf dan para imam Ridhwanullah 'alaihim ajma'in ? Maka benarlah Nabi yg terpilih Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika bersabda. "Arti : Barangsiapa memuntuk perkara baru dalam urusan kami yg tdk ada (contoh) kami di atasnya, maka amalan tersebut ditolak" [Hadits Riwayat Bukhari-Muslim dari 'Aisyah]. Maka baiat-baiat istitsnaiyyah seperti ini yg tdk terdpt dalam nash, baik dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits atau tdk terdpt pada peruntukan salah seorang dari salaf as-shalih[6], ialah bid'ah dan perkara yg diada-adakan. Yang diuntuk untuk menghianati orang awam dan kalangan orang-orang yg berilmu dari kaum muslimin, agar terpengaruh dgn tujuan merendahkan dan bertindak sesuka hati terhadap mereka [7]. Dilakukan dibawah syiar al-wala' (loyalitas), al-intima' (kecenderungan), as-sam'u wa ath-tha'ah (mendengar dan taat), taubah dan lain sebagai dari ungkapan-ungkapan yg dikemas dgn indah, kata-kata yg manis dan lafazh-lafazh yg mempesona.

SYUBHAT KEDUA
"Baiat Aqabah yg pertama dan ke dua terjadi sebelum tegak negara Islam".

Jawaban dari beberapa segi.
[1] Kami katakan : "Ini ialah peruntukan yg tdk etis terhadap Rasulullah Shallallahu 'alihi wa sallam. Tidak sepantas diucapkan teradap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau mengajak baiat sesudah atau sebelum tegak daulah. Karena ini ialah kebenaran yg diberikan dan dikhususkan kpd beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaiat sahabat-sahabat untuk tdk melarikan diri dari peperangan dan kadang memba'iat mereka untuk mati dan untuk berjihad sebagaimana membaiat mereka atas Islam. Dan beliau-pun membaiat mereka untuk hijrah sebelum fathu Mekkah, membaiat mereka untuk bertauhid, komitmen dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan beliaupun pernah memba'iat sekelompok dari para sahabat ridhwanullah 'alaihim ajma'in untuk tdk minta-minta sesuatupun terhadap manusia[8]. Maka tdk sepantas bagi seorangpun dari manusia -bagaimanapun sesat orang tersebut- untuk mengkiaskan semua ini untuk diri saja, sebagaimana sudah jelas dan gamblang.

[2] Bahwa baiat tersebut diberikan kpd Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedang beliau ialah orang yg dipersiapkan oleh Rabb semesta alam untuk menjadi amir bagi orang-orang mukmin. Dan tdk seorangpun setelah tegak daulah diberi bai'at secara umum selain beliau, sampai beliau menemui Tuhannya. Maka jadilah beliau amirul mukminin dan melaksanakan hukum had dan hukuman-hukuman lainnya. Kalau begitu siapakah di jaman sekarang ini orang yg seperti beliau di dalam persiapan Allah Subhanahu wa Ta'ala ?

[3] Bahwa baiat yg pertama, ialah baiat untuk beriman kpd Allah saja, berpegang teguh dgn amalan-amalan yg utama dan mejauhi amalan-amalan yg mungkar[9]. Dan engkau tdk mendptkan pada panji-panji pembaitan ini suatu panji yg berkaitan dgn jihad[10] atau yg menyerupainya. Dari sini dpt diambil pelajaran bahwa baiat ini tdk diberikan kpd seorangpun (sebagaimana telah dijelaskan dgn rinci), tetapi ha diberikan kpd Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yg telah dipersiapkan untuk menjadi imam dan pemimpin bagi kaum mukminin.

[4] Sebagai penguat jawaban yg telah lewat, bahwa baiat Aqabah yg kedua mrpk kebulatan tekad untuk berhijrah dan pengukuhan pendirian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kpd orang-orang Anshar serta kesanggupan mereka untuk memberikan kedamaian dgn suasana yg cerah di Madinah[11]. Baiat tersebut juga mrpk janji militer saja. Tidak dibahas di tengah-tengah perundingan tersebut suatu masalah kecuali tentang kesanggupan tempat perlindungan ke Madinah. Serta untuk memerangi musuh-musuh beliau dan musuh agamanya. Maka baiat Aqabah lebih dari sekedar perjanjian untuk membela dari serangan. Sesungguh baiat tersebut ialah mrpk janji militer[12]

Bait Aqabah yg kedua ini mrpk suatu landasan pijak bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk hijrah ke Madinah. Oleh krn itulah baiat tersebut mencakup dasar-dasar yg sempurna pensyariaatan setelah hijrah, dan yg paling utama ialah jihad dan membela dakwah dgn kekuatan. Dan baiat Aqabah ini telah menjadi salah satu hukum -walaupun Allah belum memberitahukan kpd Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa hal itu akan disyariatkan di masa yg akan datang [13]

Maka berdalih dgn ke dua baiat tersebut atas baiat-baiat istitsnaiyyah seperti ini ialah alasan yg batil, sebagaimana tdk samar lagi setelah penjelasan ini.

Oleh krn itu tdk boleh dikatakan bahwa baiat itu terjadi sebelum ada daulah! Akan tetapi baiat itu ialah kunci pertama dan pendahuluan yg pokok untuk tegak daulah!

[Disalin dari kitab Al-Bai'ah baina as-Sunnah wa al-bid'ah 'inda al-Jama'ah al-Islamiyah, edisi Indonesia Bai'at antara Sunnah dan Bid'ah oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid, terbitan Yayasan Al-Madinah, penerjemah Arif Mufid MF.]

__________
Foote Note.
[1]. Tidak seperti yg dikatakan oleh Ahmad Abdul Mun'im Al-Badri di dalam Al Tanhim Al-Haraki, hal 37-38, ketika membawakan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Barangsiapa mati dan dileher tdk ada baiat, maka mati ialah jahiliyyah". Dia (Ahmad Abdul Mun'im) berkata : "Maka hadits ini menunjukkan tentang wajib seorang mukmin yg mukallaf (sudah terkean beban syari'at) untuk memba'iat imam atau pemimpin. Kalau tdk maka dia berdosa dan mati sebagaimana mati ahli jahiliyyah krn tdk ada kepemimpinan dan keamiran yg mengatur ikatan mereka.." Dia (Ahmad Abdul Mun'im) menukil perkataan tersebut dari al-Nizham as-Siayasi… hal.159. Ha saja dia melakukan tahrif (perubahan kata) yg merusak makna. Untuk mengetahui maka lihatlah buku tersebut. Akan tetapi hati-hati.
[2]. Nazharat fi Masiirah …., hal.77, Umar Ubaid Hasanah
[3]. Fiqh al-Da'wah al-Islamiyyah …. hal.22
[4]. Fi Dzilal al-Qur'an (II/782)
[5]. Idem (3/687)
[6]. Para ulama mempunyai kaidah :"Asal di dalam semua ibadah ialah batil, sehingga ada dalil". Dan baiat ialah ibadah, krn seorang hamba ber-taqarub kpd Rabb Tabaraka wa Ta'ala dgn baiat tersebut, sebagaimana tdk samar lagi !!
[7]. Ila al-Tshawwuf yaa ibadallah …hal.23, Abu Bakar Jabir Al-Jazairy. Dan Fadhilatu al-Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, Mufti negeri Saudi telah berfatwa tentang batil semua baiat istitsnaiyyah
[8]. Zaad al-Ma'ad (3/95), Ibnu Qayyim, cet.ar-Risalah
[9]. Fiqh al-Shirah, hal.154, Muhammad al-Ghazali
[10]. Fiqh al-Shirah, hal.128, Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi
[11]. Nizham al-Hukmi fi al-Syari'ah wa al-Tarikh (I/254), Zhafir al-Qasim
[12]. Idem, dan lihat nash baiat di dalam Musnad Imam Ahmad (3/322, 323-339), Mustadzrak (2/624-625), Al-Bidayah wa al-Nihayah (3/159-160), agar anda tahu batil kiyas tersebut.
[13]. Fiqh al-Sirah, hal.132, al-Buthi

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=305&bagian=0

Sumber Baiat Aqabah Pertama Dan Kedua Terjadi Sebelum Tegak Negara Islam ? : http://alsofwah.or.id