Perjudian bukanlah permainan yg baru ditemukan seabad atau dua abad yg lampau. Perjudian adl satu bentuk permainan kuno yg ada sejak zaman jahiliyyah. Alhamdulillahi rabbil alamin washsholatu wassalamu ala asyrofil anbiyaai wal mursalin nabiyyina muhammadin wa ala aalihi wa hahbihi ajmaain wa ba’du. Wahai umat manusia bertakwalah kepada Allah dan jauhilah hal-hal yg diharamkan oleh-Nya. Ikhlaskanlah niat ibadah dan mu’amalahmu hanya kepada Allah semata. Ketahuilah bahwa penyebab paling kuat yg bisa mendatangkan rizki dan keberkahan adl memantapkan diri bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berniat baik dalam bermu’amalah. Jauhilah permainan judi dan lotere. Wahai kaum Muslimin ketahuilah bahwa permainan judi adl jenis permainan yg sangat terkenal di zaman jahiliyyah sebelum Islam datang memberantasnya. Tersebutlah bahwa orang-orang Arab sebelum datangnya Islam gemar berkumpul-kumpul utk bersenang-senang bercanda serta mencari perhatian dan pujian. Untuk sampai kepada tujuan itu mereka menciptakan permainan yg dinamakan maisir. Yakni sebuah permainan dgn menggunakan sepuluh anak panah yg berfungsi sebagai dadu. Setiap dadu tertulis bagian tertentu yg sudah dikenal oleh mereka kecuali tiga buah dadu yg kosong tidak ada bagiannya sebagaimana dilakukan di zaman sekarang. Kemudian mereka menyembelih unta dan memotong-motongnya menjadi banyak sesuai dgn bagian yg tertera dalam dadu tersebut. Selanjutnya dadu-dadu tersebut di masukkan ke dalam sebuah tempat utk diaduk oleh seseorang yg sudah dipercaya keadilannya. Lalu orang ini menyebut nama para pemain sambil mengeluarkan dadu-dadu tersebut dari tempatnya. Apabila dadu yg keluar berisi bagian maka orang yg dipanggil namanya boleh mengambil bagiannya. Adapun jika ia memperoleh dadu yg kosong maka ia tidak boleh mengambil apapun. Bahkan ia diharuskan membayar harga unta yg disembelih tadi. Mereka yg beroleh kemenangan dalam permainan ini tidak mau memanfaatkan hasilnya atau memakannya tetapi oleh mereka diberikan kepada kaum fakir miskin. Dan ini adl salah satu cara utk mendapatkan pujian dan sanjungan di samping sebuah penampilan yg menunjukkan kedermawanan seseorang. Demikianlah menurut kepercayaan mereka. Terkadang dalam satu majlis permainan seseorang bisa memperoleh bagian yg banyak. Tapi semua itu dibagikan kepada kaum fakir miskin dan mereka yg membutuhkan. Sekali lagi dgn maksud agar mereka beroleh pujian dan sanjungan. Demikianlah kisah mula permainan maisir di zaman Jahiliyyah. Dengan tegas Islam melarang permainan ini dan mencapnya sebagai perbuatan najis yg hanya dilakukan oleh setan. Kemudian menghukumi orang-orang yg terlibat di dalamnya atau hanya sekedar iseng atau hanya sekedar menyaksikan permainan ini sebagai orang-orang yg berbuat haram dan dosa besar. Permainan judi ini mencakup semua jenis permainan yg melibatkan dua orang atau lebih hingga pada akhirnya salah seorang dari mereka mengalami kerugian harta krn menderita kekalahan dari lawan mainnya. Dengan demikian masing-masing pemain dalam permainan ini diancam kerugian ludesnya harta benda. Bertolak dari pengertian ini maka segala jenis permainan dadu catur kartu adu jago dan lain sebagainya yg memakai taruhan -sebagaimana telah disebutkan ciri-cirinya- jelas diharamkan. Termasuk dalam kategori maisir adl kartu undian dan lotere yg dewasa ini banyak diperjual belikan di berbagai negara. Sekalipun hal ini ditujukan utk mencari dana guna menyelesaikan proyek-proyek kebajikan atau sumbangan-sumbangan kebaikan tapi prinsipnya persis sama dgn unta yg disembelih di zaman jahiliyyah utk dipertaruhkan dalam permainan maisir di mana mereka tidak memakannya sedikit pun dan bahkan membagi-bagikannya kepada kaum fakir miskin. Oleh krn itu dgn tegas syari’at Islam mengharamkannya atas kaum muslimin. Firman Allah Ta’ala “Hai orang-orang yg beriman sesungguhnya khamar berjudi berhala mengundi nasib dgn panah adl perbuatan keji dari perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu .” . Astaghfirullaha lii wa lakum wa lijami’il muslimin wal muslimat min kulli zanbin fastaghfiruhu innahu huwal ghafuururrahim. Oleh Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm