"Aqiqah Dengan Kambing, Disunnahkan Memasak Daging Sembelihan Aqiqah" ketegori Muslim.

Aqiqah Dengan Kambing, Disunnahkan Memasak Daging Sembelihan Aqiqah

Kategori Kurban Dan Aqiqah

Jumat, 25 Juni 2004 14:37:50 WIB

AHKAMUL AQIQAH

Oleh
Abu Muhammad 'Ishom bin Mar'i
Bagian Terakhir dari Dua Tulisan [2/2]

[D]. AQIQAH DENGAN KAMBING

TIDAK SAH AQIQAH KECUALI DENGAN KAMBING

Telah lewat beberapa hadist yg menerangkan kehrsan menyembelih dua ekor kambing untuk laki-laki dan satu ekor kambing untuk perempuan. Ini menandakan kehrsan untuk aqiqah dgn kambing.

Dalam “Fathul Bari” (9/593) al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahulloh menerangkan : “Para ulama mengambil dalil dari penyebutan syaatun dan kabsyun (kibas, anak domba yg telah muncul gigi gerahamnya) untuk menentukan kambing untuk aqiqah.” Menurut beliau : “Tidak sah aqiqah seseorang yg menyembelih selain kambing”.

Sebagian ulama berpendpt dibolehkan aqiqah dgn unta, sapi, dan lain-lain. Tetapi pendpt ini lemah krn :

[1]. Hadist-hadist shahih yg menunjukkan kehrsan aqiqah dgn kambing semua shahih, sebagaimana pembahasan sebelumnya.

[2]. Hadist-hadist yg mendukung pendpt dibolehkan aqiqah dgn selain kambing ialah hadist yg talif saqith alias dha’if.

PERSYARATAN KAMBING AQIQAH TIDAK SAMA DENGAN KAMBING KURBAN [IDUL ADHA]

Penulis mengambil hujjah ini berdasarkan pendpt dari Imam As-Shan’ani, Imam Syaukani, dan Iman Ibnu Hazm bahwa kambing aqiqah tdk disyaratkan hrs mencapai umur tertentu atau hrs tdk cacat sebagaimana kambing Idul Adha, meskipun yg lebih utama ialah yg tdk cacat.

Imam As-Shan’ani dalam kitab “Subulus Salam” (4/1428) berkata : "Pada lafadz syaatun (dalam hadist sebelumnya) menunjukkan persyaratan kambing untuk aqiqah tdk sama dgn hewan kurban. Adapun orang yg menyamakan persyaratannya, mereka ha berdalil dgn qiyas.”

Imam Syaukhani dalam kitab “Nailul Authar” (6/220) berkata : “Sudah jelas bahwa konsekuensi qiyas semacam ini akan menimbulkan suatu hukum bahwa semua penyembelihan hukum sunnah, sedang sunnah ialah salah satu bentuk ibadah. Dan saya tdk pernah mendengar seorangpun mengatakan sama persyaratan antara hewan kurban (Idul Adha) dgn pesta-pesta (sembelihan) lainnya. Oleh krn itu, jelaslah bagi kita bahwa tdk ada satupun ulama yg berpendpt dgn qiyas ini sehingga ini mrpk qiyas yg bathil.”

Imam Ibnu Hazm dalam kitab “Al-Muhalla” (7/523) berkata : “Orang yg melaksanakan aqiqah dgn kambing yg cacat, tetap sah aqiqah sekalipun cacat termasuk kategori yg dibolehkan dalam kurban Idul Adha ataupun yg tdk dibolehkan. Namun lebih baik (afdhol) kalau kambing itu bebas dari catat.”

BACAAN KETIKA MENYEMBELIH KAMBING

Firman Alloh Ta'ala : “Maka makanlah dari apa yg ditangkap untukmu dan sebutlah nama Allah…” [Al-Maidah : 4]

Firman Alloh Ta'ala : “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yg tdk disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguh peruntukan semacam itu ialah suatu kefasikan.” [Al-An’am : 121]

Adapun petunjuk Nabi tentang tasmiyah (membaca bismillah) sedah masyhur dan telah kita ketahui bersama (lihat Irwaul Ghalil 2529-2536-2545-2551, karya Syaikh Al-Albani). Oleh krn itu, doa tersebut juga diucapkan ketika meyembelih hewan untuk aqiqah krn mrpk salah satu jenis kurban yg disyariatkan oleh Islam. Maka orang yg menyembelih itu biasa mengucapkan : “Bismillahi wa Allohu Akbar”.

MENGUSAP DARAH SEMBELIHAN AQIQAH DI ATAS KEPALA BAYI MERUPAKAN PERBUATAN BID'AH DAN JAHILIYAH

“Dari Aisyah berkata : Dahulu ahlul kitab pada masa jahiliyah, apabila mau mengaqiqahi bayinya, mereka mencelupkan kapas pada darah sembelihan hewan aqiqah. Setelah mencukur rambut bayi tersebut, mereka mengusapkan kapas tersebut pada kepala ! Maka Rasulullah bersabda : “Jadikanlah (gantikanlah) darah dgn khuluqun (sejenis minyak wangi).” [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (5284), Abu Dawud (2743), dan disahihkan oleh Hakim (2/438)]

Al-‘Allamah Syaikh Al-Albani dalam kitab “Irwaul Ghalil” (4/388) berkata : “Mengusap kepala bayi dgn darah sembelihan aqiqah termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyah yg telah dihapus oleh Islam.”

Al-‘Allamah Imam Syukhani dala, kitab “Nailul Aithar” (6/214) menyatakan : “Jumhur ulama memakruhkan (membenci) at-tadmiyah (mengusap kepala bayi dgn darah sembelihan aqiqah)..”

Sedangkan pendpt yg membolehkan dgn hujjah dari Ibnu Abbas bahwasan dia berkata : “Tujuh perkara yg termasuk amalan sunnah terhadap anak kecil….dan diusap dgn darah sembelihan aqiqah.” [Hadits Riwayat Thabrani], maka ini mrpk hujjah yg dhaif dan mungkar.

BOLEH MENGHANCURKAN TULANGNYA [DAGING SEMBELIHAN AQIQAH]SEBAGAIMANA SEMEBLIHAN LAINNYA

Inilah kesepekatan para ulama, yakni boleh menghancurkan tulangnya, seperti ditegaskan Imam Malik dalam “Al-Muwaththa” (2/502), krn tdk ada dalil yg melarang maupun yg menunjukkan makruhnya. Sedang menghancurkan tulang sembelihan sudah menjadi kebiasan disamping ada kebaikan juga, yaitu bisa diambil manfaat dari sumsum tersebut untuk dimakan.

Adapun pendpt yg menyelisihi berdalil dgn hadist yg dhaif, diantara ialah :

[1]. Bahwasan Rasulullah bersabda : “Janganlah kalian menghancurkan tulang sembelihannya.” [Hadist Dhaif, krn mursal terputus sanadnya, Hadits Riwayat Baihaqi (9/304)]

[2]. Dari Aisyah dia berkata : “….termasuk sunnah aqiqah yaitu tdk menghancurkan tulang sembelihannya….” [Hadist Dhaif, mungkar dan mudraj, Hadits Riwayat. Hakim (4/283]

Kedua hadist diatas tdk boleh dijadikan dalil krn kedua tdk shahih. [lihat kitab “Al-Muhalla” oleh Ibnu Hazm (7/528-529)].

DISUNNAHKAN MEMASAK DAGING SEMBELIHAN AQIQAH DAN TIDAK MEMBERIKANNYA DALAM KEADAAN MENTAH

Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh dalam kitab “Tuhfathul Maudud” hal.43-44, berkata : “Memasak daging aqiqah termasuk sunnah. Yang demikian itu, krn jika daging sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga (yg mendpt bagian) tdk merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan rasa syukur terhadap nikmat tersebut. Para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dpt menyantap dgn gembira. Sebab orang yg diberi daging yg sudah masak, siap makan, dan enak rasanya, tentu rasa gembira lebih dibanding jika daging mentah yg masih membutuhkan tenaga lagi untuk memasaknya….Dan pada umumnya, makanan syukuran (diuntuk dalam rangka untuk menunjukkan rasa syukur) dimasak dahulu sebelum diberikan atau dihidangkan kpd orang lain.”

TIDAK SAH AQIQAH SESEORANG KALAU DAGING SEMBELIHANNYA DIJUAL

Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh dalam kitab “Tuhfathul Maudud” hal.51-52, berkata : “Aqiqah mrpk salah satu bentuk ibadah (taqarrub) kpd Alloh Ta'ala. Barangsiapa menjual daging sembelihan sedikit saja maka pada hakekat sama saja tdk melaksanakannya. Sebab hal itu akan mengurangi inti penyembelihannya. Dan atas dasar itulah, maka aqiqah tdk lagi sesuai dgn tuntunan syariat secara penuh sehingga aqiqah tdk sah. Demikian pula jika harga dari penjualan itu digunakan untuk upah penyembelihan atau upah mengulitinya” [lihat pula “Al-Muwaththa” (2/502) oleh Imam Malik].

ORANG YANG AQIQAH BOLEH MEMAKAN, BERSEDEKAH, MEMBERI MAKAN, DAN MENGHADIAHKAN DAGING SEMEBELIHANNYA, TETAPI YANG LEBIH UTAMA JIKA SEMUA DIAMALKAN

Imam Ibnu Qayyim rahimahulloh dalam kitab “Tuhfathul Maudud” hal.48-49, berkata : “Karena tdk ada dalil dari Rasulullah tentang cara penggunaan atau pembagian daging maka kita kembali ke hokum asal, yaitu seseorang yg melaksanakan aqiqah boleh memakannya, memberi makan dgnnya, bersedekah dgn kpd orang fakir miskin atau menghadiahkan kpd teman-teman atau karib kerabat. Akan tetapi lebih utama kalau diamalkan semuanya, krn dgn demikian akan memuntuk senang teman-teman yg ikut menikmati daging tersebut, beruntuk baik kpd fakir miskin, dan akan memuat saling cinta antar sesama teman. Kita memohon taufiq dan kebenaran kpd Alloh Ta'ala”. [lihat pula “Al-Muwaththa” (2/502) oleh Imam Malik].

JIKA AQIQAH BERTETAPAN DENGAN IDUL QURBAN, MAKA TIDAK SAH KALAU MENGERJAKAN SALAH SATUNYA [SATU AMALAN DUA NIAT]

Penulis berkata : “Dalam masalah ini pendpt yg benar ialah tdk sah menggabungkan niat aqiqah dgn kurban, kedua-dua hrs dikerjakan. Sebab aqiqah dan adhiyah (kurban) ialah bentuk ibadah yg tdk sama jika ditinjau dari segi bentuk dan tdk ada dalil yg menjelaskan sah mengerjakan salah satu dgn niat dua amalan sekaligus. Sedangkan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Rasulullah dan Alloh Ta'ala tdk pernah lupa.”

TIDAK SAH AQIQAH SESEORANG YANG BERSEDEKAH DENGAN HARGA DAING SEMBELIHANNYA SEKALIPUN LEBIH BANYAK

Al-Khallah pernah berkata dalam kitab : “Bab Maa yustahabbu minal aqiqah wa fadhliha ‘ala ash-shadaqah” : “ Kami diberitahu Sulaiman bin Asy’ats, dia berkata Saya mendengar Ahmad bin Hambal pernah dita tentang aqiqah : “Mana yg kamu senangi, daging aqiqah atau memberikan harga kpd orang lain (yakni aqiqah kambing diganti dgn uang yg disedekahkan seharga dagingnya) ? Beliau menjawab : “Daging aqiqahnya.” [Dinukil dari Ibnul Qayyim dalam “Tuhfathul Maudud” hal.35 dari Al-Khallal]

Penulis berkata : “Karena tdk ada dalil yg menunjukkan boleh bershadaqah dgn harga (daging sembelihan aqiqah) sekalipun lebih banyak, maka aqiqah seseorang tdk sah jika bershadaqah dgn harga dan ini termasuk peruntukan bid’ah yg mungkar ! Dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad .”

ADAB MENGHADIRI JAMUAN AQIQAH

Diantara bid’ah yg sering dikerjakan khusus oleh ahlu ilmu ialah memberikan ceramah yg berkaitan dgn hukum aqiqah dan adab-adab serta yg berkaitan dgn masalah kelahiran ketika berkumpul orang banyak (undangan) di acara aqiqahan pada hari ketujuh.

Jadi saat undangan pada berkumpul di acara aqiqahan, mereka memuntuk suatu acara yg berisi ceramah, rangkaian do’a-do’a, dan bentuk-bentuk seperti ibadah lainnya, yg mereka meyakini bahwa semua termasuk dari amalan yg baik, padahal tdk lain hal itu ialah bid’ah, pent.

Peruntukan semacam itu tdk pernah dicontohkan dalam sunnah yg shahih bahkan dalam dhaif sekalipun !! Dan tdk pernah pula dikerjakan oleh Salafush Sholih rahimahumulloh. Seandai peruntukan ini baik niscaya mereka sudah terlebih dahulu mengamalkan daripada kita. Dan ini termasuk dalam hal bid’ah-bid’ah lain yg sering dikerjakan oleh sebagian masyarakat kita dan telah masuk sampai ke depan pintu rumah-rumah kita, pent !!

Sedangkan yg disyariatkan disini ialah bahwa berkumpul kita di dalam acara aqiqahan hanyalah untuk menampakkan kesenangan serta menyambut kelahiran bayi dan bukan untuk rangkaian ibadah lain yg diuntuk-untuk.

Sedang sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad . Semua kabaikan itu ialah dgn mengikuti Salaf dan semua kejelekan ada pada bid’ah Khalaf.

Wallahul Musta’an wa alaihi at-tiklaan.

[Disalin ringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’I, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, dgn judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=857&bagian=0

Sumber Aqiqah Dengan Kambing, Disunnahkan Memasak Daging Sembelihan Aqiqah : http://alsofwah.or.id