ANALISA SUNNI - SYIAH

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Adalah suatu hal yg sangat memprihatinkan apabila sampai pada hari ini umat Islam masih bertengkar mempermasalahkan status madzhab pola pikir atau juga sekte. Seolah merasa kebenaran adl mutlak milik madzhab dan golongan masing-masing diluarnya salah dan sesat.

Lalu sampai seberapa jauh Islam ini akan dibawa kepada pertarungan panjang yg melelahkan ? haruskah fanatisme dan kebutaan pemikiran senantiasa melingkupi hati kita mencemari kesucian roh dan mencampakkan Nafs ?

Haruskah semuanya kita lanjutkan sampai masa yg akan datang ?

Semoga Allah mengampuni kita yg tidak mengerti betapa agung dan pluralnya Islam itu kenapa kita menyianyiakan satu ajaran yg konon gunungpun tak kuasa menerimanya ?

Jika dgn mencintai para keluarga Nabi membela kebenaran yg ada didiri Fatimah Ali Hasan dan Husin maka seseorang disebut sebagai Syiah maka saya akan dgn bangga menyatakan diri saya Syiah sebaliknya jika mengagumi ketokohan Umar bin Khatab dan mengamalkan hadis-hadis selain riwayat dari para ahli Bait Nabi maka seseorang disebut sebagai Ahli Sunnah maka sayapun menyebut diri saya demikian.

Tidak ada yg salah dgn kedua istilah tersebut Syiah dan Sunni merupakan istilah yg terbentuk setelah ajaran Islam selesai diwahyukan keduanya pada dasarnya merupakan polarisasi pemahaman yg berawal dari pemilihan pemimpin umat Islam pasca kematian Nabi yg akhirnya meluas sampai pada tingkat penyelewengan dimasing-masing pemahaman oleh generasi-generasi sesudahnya.

Sudah sampai saatnya masing-masing kita melakukan koreksi diri terhadap apa yg selama ini terdoktrinisasi bahwa pelurusan sejarah serta pentaklidan buta sudah saatnya dilakukan.

Isyu perpecahan didalam Islam memang bukan hal yg baru dan rasanya ini sesuatu yg wajar krn tiap orang bisa memahami ajaran Islam dari sudut pandang keilmuan yg berbeda apalagi Islam mencakup pengajaran semua bangsa dan daerah yg masing-masingnya memiliki corak budaya tradisi serta situasi yg beraneka ragam sebagai salah satu sifat universalismenya.

Semua perbedaan tersebut seharusnya tidak dijadikan sekat dalam mengembangkan rasa kebersaudaraan dan toleransi beragama sebagaimana sabda Nabi sendiri bahwa umat Islam itu bagaikan satu tubuh semuanya bersaudara yg diikat oleh tali Tauhid pengakuan ketiadaan Tuhan selain Allah Tuhan yg satu yg tidak beranak dan tidak diperanakkan dalam berbagai bentuk penafsiran serta sifat apapun.

Karenanya kecenderungan utk menghakimi pemahaman yg berbeda dari apa yg kita pahami apalagi sampai melekatkan label kekafiran atasnya sangat bertentangan dgn ajaran Islam yg disampaikan oleh Allah melalui nabi-Nya.

“Barangsiapa bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah

menghadap kiblat kita

mengerjakan Sholat kita dan memakan hasil sembelihan kita

maka ia adl seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yg sama

sebagai Muslim lainnya.”

- Riwayat Bukhari -

Maraknya ajaran-ajaran sesat yg terjadi diberbagai belahan dunia akhir-akhir ini memang sewajarnya membuat umat Islam merasa prihatin terlebih lagi mereka yg menggunakan nama dan tata cara Islam sebagai topeng yg menutupi kesesatannya. ; Akan tetapi kita juga harus mampu bersikap objektif berpikiran terbuka dan jernih menyikapinya selama kita belum mengetahui secara jelas seberapa jauh penyimpangan yg dianggap sudah dilakukan oleh mereka maka selama itu pula hendaknya kita menahan diri dari komentar maupun tanggapan yg justru menimbulkan keresahan dimasyarakat.

Saya tidak terikat dgn organisasi keagamaan manapun atau juga madzhab apapun yg ada secara plural saya menganggap semuanya mengajarkan kebaikan dan dari masing-masing kebaikan yg diajarkan itu saya memetik nilai-nilai kebenaran yg sesuai dgn nash kitab suci serta objektifitas berpikir.

Islam adl satu semuanya bersumber dari ajaran yg satu yaitu Yang Maha Kuasa yg kemudian diturunkan kepada kita melalui salah seorang hamba terkasih-Nya bernama Muhammad bin Abdullah ditanah Arab pada abad ke-6 masehi.

Jika Islam adl satu maka umatnya pun adl satu dan ini konsekwensi logis darinya krn itu Nabi bersabda :

“Dari Miqdad bin ‘Amr ; ia pernah bertanya kepada Nabi : Bagaimana jika ia berperang dgn kaum kafir lalu berkelahi dgn seorang diantaranya hingga tangannya terputus dan dalam satu kesempatan sang musuh berhasil dijatuhkan lalu saat akan dibunuhnya dia berseru “Aslamtu lillah” - aku Islam kepada Allah - namun masih dibunuhnya apa jawab Nabi ?

- Jangan kau bunuh dia jika kau bunuh dia maka sesungguhnya dia sudah berada dalam kedudukanmu sebelum engkau membunuhnya yaitu seorang Muslim sedangkan kamu berada dalam posisinya sebelum dia mengucapkan kalimat itu .; lalu dijawab oleh Miqdad bahwa pernyataan orang itu hanya utk menghindari pembunuhan saja jawab Nabi lagi bahwa dirinya diutus Allah tidak utk menghakimi hati seseorang.”

“Islam adl kesaksian bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan pembenaran kepada Rasulullah Saw atas dasar itulah nyawa manusia dijamin keselamatannya. Dan atas dasar itu juga berlangsung pernikahan dan pewarisan serta terbina kesatuan kaum Muslimin.” - Riwayat Sama’ah

“Nabi bersabda : bahwa Jibril datang kepada beliau dan mengabarkan tentang keutamaan seseorang yg meninggal dunia dalam keadaan bertauhid secara murni maka ia akan masuk syurga kendati ybs pernah berzina dan mencuri.” - Riwayat Bukhari dari Abu Dzar

Kita semua tahu bagaimana vitalnya posisi dan peranan Ali bin Abu Thalib dikehidupan Nabi dan putrinya Fatimah.

Sejak kecil Nabi dibesarkan dalam lingkungan keluarga ayahnya dari suku Bani Hasyim yg merupakan salah satu keluarga terpandang dikalangan penduduk Mekkah saat itu. Ketika kakeknya Abdul Muthalib wafat hak pengasuhan atas diri Nabi pindah ketangan pamannya yg bernama Abu Thalib dari pamannya inilah Nabi belajar banyak hal mengenai perdagangan dan kejujuran hingga beliau dikenal sebagai al-Amin sampai-sampai beliau dipercaya utk membawa dan menjualkan dagangan sejumlah saudagar hingga kenegri Syam dan bertemu dgn Khadijjah yg kelak dinikahinya.

Dimasa awal turunnya wahyu selain istrinya orang kedua yg mengimani kenabiannya adl Ali putra pamannya Abu Thalib yg dgn beraninya mengumumkan keislamannya secara terbuka kepada keluarganya.

Dalam bukunya yg berjudul “Sejarah Hidup Muhammad” hal 89 Muhammad Husain Haekal menggambarkan pernyataan kesetiaan Ali terhadap Nabi sebagai berikut :

“Tuhan menjadikanku tanpa aku perlu berunding dgn Abu Thalib apa gunanya aku harus berunding dengannya utk menyembah Allah ?”; selanjutnya pada halaman 92 juga dituliskan pernyataan Ali yg lain : “Rasulullah aku akan membantumu aku adl lawan siapa saja yg menentangmu”.

Meskipun demikian Abu Thalib sendiri menurut riwayat tetap pada keyakinan lamanya sebagai penyembah berhala bertolak belakang dgn sikap putranya. Namun perbedaan keyakinan antara mereka tidak membuat Abu Thalib melepaskan perlindungan dan kasih sayangnya pada diri Nabi Ali dan Khadijjah beliaulah yg sering melakukan pembelaan manakala ada pihak Quraisy yg bermaksud mencelakakannya dan ini terus dilakoninya sampai ia wafat.

Ali bin Abu Thalib telah ikut bersama Nabi semenjak usia anak-anak jauh sebelum Nabi bertemu dgn para sahabat lainnya krn itu juga mungkin beliau digelari Karamallahuwajhah .

Allah sendiri melalui wahyu-Nya telah menekankan kepada Nabi agar terlebih dahulu menyerukan ajaran Islam kepada keluarga terdekatnya :

Dan berilah peringatan kepada keluargamu yg terdekat Limpahkanlah kasih sayang terhadap orang-orang beriman yg mengikutimu; Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah:”Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yg kamu kerjakan”. – Qs. Asy-Syu’araa 26:214-216

Seruannya memang di-ikuti oleh keluarganya dimulai oleh Khadijjah istrinya Ali bin Abu Thalib sepupu sekaligus menantunya kelak paman sesusuannya Hamzah bin Abdul Muthalib Ja’far bin Abu Thalib dan pamannya Abbas bin Abdul Muthalib.

Olehnya tidak menjadi suatu kesangsian lagi bila Ali mengenal betul sifat dan watak yg ada pada diri Nabi sehingga tidak ada alasan baginya utk menolak perintah maupun membantah keputusannya terlebih dalam kapasitasnya selaku seorang Rasul Tuhan. ; Jelas dalam hal ini sikap Ali bin Abu Thalib tidak bisa disejajarkan dgn sikap beberapa sahabat yg kritis dan vokal terhadap beberapa pendapat Nabi bisa dimaklumi bahwa notabene mereka mengenal Nabi tidak lbh lama dari Ali bin Abu Thalib selain juga ditentukan oleh faktor watak dan kondisi lain yg melatar belakanginya.

Dimalam hijrahnya ke Madinah Nabi meminta Ali bin Abu Thalib menggantikan posisi tidurnya dipembaringan dgn mengenakan mantel hijaunya dari Hadzramut menyongsong rencana pembunuhan yg sudah disusun oleh para kafir Quraisy yg saat itu berada disekitar kediaman Nabi.

Tindakan Nabi ini seolah mengisyaratkan bahwa beliau berkeinginan utk menjadikan sepupunya itu pengganti dirinya dikala hidup dan mati.

Saat Nabi mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dikota Madinah Nabi sendiri justru mengangkat Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya berbeda misalnya dgn Abu Bakar yg disaudarakan dgn Kharija bin Zaid Umar bin Khatab dgn ‘Itban bin Malik al-Khazraji bahkan pamannya sendiri yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib dipersaudarakan dgn Zaid mantan budaknya.

Persaudaraannya ini sering di-ingatkan oleh Nabi dalam hadis-hadisnya bahwa kedudukannya terhadap Ali laksana kedudukan Musa terhadap Harun

Dari Sa’ad bin Abu Waqqas : “Rasulullah Saw mengatakan kepada Ali : Engkau dgn aku serupa dgn kedudukan Harun dgn Musa tetapi sesungguhnya tidak ada Nabi sesudah aku” – Hadis Riwayat Muslim

Saat semua sahabat utamanya mengajukan lamaran utk menyunting Fatimah sebagai istri mereka Nabi menolaknya dan menikahkan putri tercintanya itu dgn Ali bin Abu Thalib.

Tatkala Hisyam bin Mughirah meminta izin kepada Nabi agar memperbolehkan mengawinkan anak perempuannya dgn Ali Nabi juga menolaknya dan bersabda :

“Aku tidak mengizinkan sekali lagi aku tidak mengizinkan dan sekali lagi aku tidak mengizinkannya kecuali bila Ali bin Abu Thalib mau menceraikan puteriku dan kawin dgn anak-anak perempuan Hisyam krn sesungguhnya puteriku darah dagingku menyusahkanku apa yg menyusahkannya dan menyakitkanku apa saja yg menyakitkannya” – Riwayat Muslim

Ali juga merupakan satu-satunya orang yg diserahi panji Islam dalam peperangan Khaibar oleh Nabi yg menurut beliau bahwa panji itu hanya layak bagi laki-laki yg benar-benar mencintai Allah dan Rasul-Nya lalu ditangannya Allah akan memberikan kemenangan.; Padahal Umar bin Khatab sangat berambisi agar tugas itu diserahkan kepadanya.

Saat akan terjadi Mubahalah antara Nabi dgn para pendeta dari Najran beliau memanggil Ali Fatimah serta kedua cucunya yaitu Hasan dan Husin utk mendampinginya baru para istri beliau .

Dalam haji terakhirnya disuatu daerah bernama ghadir khum beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi sempat menyinggung tentang regenerasi kepemimpinan umat sepeninggal beliau dan mengumumkan Ali sebagai penerusnya.; dan memperingatkan kaum Muslimin agar memperhatikan keluarga beliau sepeninggalnya kelak ucapan ini sampai diulangnya sebanyak 3 kali dan Zaid bin Arkam menyatakan bahwa yg dimaksud oleh Nabi adl keluarga Ali ‘Aqil keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas. – Riwayat Muslim

Menjelang akhir hayatnya Nabi menugaskan sebagian besar sahabat utamanya termasuk Abu Bakar dan Umar kedalam satu ekspedisi ke daerah Ubna suatu tempat di Syiria dibawah komando Usamah bin Zaid bin Haritsah sementara Ali sendiri diminta utk tetap menemani hari-hari terakhirnya dikota Madinah serta memberinya wasiat agar mau mengurus jenasah dan pemakamannya bila waktunya tiba.

Ini juga tersirat tentang keinginan Nabi menjadikan dan memantapkan posisi Ali sebagai pengganti beliau memimpin umat dijauhkannya para sahabat senior lain dari kota Madinah agar ketika mereka kembali tidak akan terjadi keributan seputar suksesi kepemimpinan.

Hanya sayang rencana Nabi kandas krn sebagian sahabat senior merasa enggan berada dalam komando Usamah bin Zaid yg masih relatif remaja sampai Nabi marah dan mempertanyakan kredebilitas dirinya dihadapan mereka mengenai penunjukan Usamah itu.

Pada akhirnya kehendak Nabi harus mengalah dgn kehendak Tuhan yg sudah mentakdirkan jalan lain tidak ubah seperti keinginan Isa al-Masih agar cawan penyaliban dihindarkan darinya namun Tuhan tetap menginginkan semuanya terjadi sesuai mau-Nya.

Nabi wafat dipelukan Ali setelah membisikkan kepada Fatimah agar tidak bersedih sepeninggalnya krn dalam waktu tidak berapa lama setelah kematiannya putrinya itupun akan menyusulnya.

Ali juga yg memandikan jenasah Nabi bersama Ibnu Abbas dan mengurus pemakamannya saat yg sama sekelompok orang disaat itu malah meributkan suksesi kepemimpinan dan akhirnya menobatkan Abu Bakar selaku Khalifah penerus Nabi dalam memimpin umat serta melupakan semua peran dan posisi Ali dihadapan Nabi.

Inilah awal dari isyu perpecahan ditubuh Islam sebagai bentuk protes terhadap perbuatan mereka ini Ali Fatimah dan sejumlah sahabat lainnya menolak mengakui kepemimpinan Abu Bakar lebih-lebih lagi setelah sang Khalifah menolak memberikan tanah Fadak yg diwariskan Nabi kepada Fatimah hasil rampasan perang Khaibar.; Padahal semua orang tahu bahwa menyakiti Fatimah sama seperti menyakiti Nabi namun mereka mengabaikannya hingga akhirnya Fatimah wafat dalam keadaan tetap mendiamkan Abu Bakar dan menolak berbaiat kepada pemerintahannya.

Ali bin Abu Thalib memakamkan jenasah istrinya disuatu tempat pada malam harinya secara diam-diam dan hanya dihadiri oleh para simpatisan dan pengikut mereka krn tidak ingin dihadiri oleh pihak yg berseberangan dengannya.

Manakala keadaan Madinah semakin memanas dan beberapa pihak berusaha menghasut terjadinya peperangan antara pihak Ali dan Abu Bakar sebuah keputusan berdamai diambil oleh Ali demi menjaga persatuan umat dan terciptanya kedamaian.

“Dan orang-orang yg mempunyai hubungan darah satu sama lain lbh berhak di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu . Adalah yg demikian itu telah tertulis di dalam Kitab . - Qs. al-Ahzaab 33:6

Kondisi ini terus berlangsung hingga wafatnya Umar bin Khatab dan turunnya kredibelitas Usman bin Affan selaku Khalifah ke-3 akibat ulah para keluarganya yg tamak dan haus kekuasaan.

Keterbunuhan Usman bin Affan dan pengangkatan dirinya sebagai Amirul Mukminin membangkitkan dendam lama Quraisy terhadap Bani Hasyim keturunan Nabi walaupun berakhir dgn baik dan terhormat tidak urung pertempuran Jamal yg dipimpin langsung oleh ‘Aisyah istri Nabi merupakan awal yg bagus utk dimanfaatkan oleh Muawiah bin Abu Sofyan dalam mengobarkan pemberontakan terhadap otoritas kepemimpinan Ali.

Ali akhirnya terbunuh dimasjid Kufah akibat tusukan pedang beracun milik salah seorang dari kelompok Khawarij bernama Abdurahman bin Muljam pada suatu Jum’at pagi dan menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Ahad 21 Ramadhan 40 H.

Setelah kematian Ali bin Abu Thalib Hasan puteranya tertua diangkat oleh sekelompok besar sahabat Nabi selaku Khalifah pengganti. Namun lagi-lagi Muawiyah tidak senang dan terus mengobarkan semangat permusuhan dgn Ali dan keturunannya orang dipaksa utk mencaci maki keluarga Nabi itu sejahat-jahatnya bahkan termasuk dalam mimbar-mimbar Jum’at.

Kenyataan ini jelas semakin memperdalam kehancuran persatuan umat Islam suatu ironi yg tidak dapat dihindarkan betapa dgn susah payah Nabi menggalang satu tatanan kehidupan masyarakat yg madani dgn mengorbankan air mata dan tetesan darah para syuhada harus hancur dihadapan cucu beliau sendiri.

Akhirnya Hasan bin Ali memutuskan utk berdamai dgn Muawiyah dan menyerahkan tampuk kekuasaan Khalifah kepadanya demi utk menghindarkan jurang yg lbh dalam lagi dikalangan umat Islam dgn beberapa persyaratan perjanjian.

Beberapa isi dari perjanjian itu adl pemerintahan Muawiyah akan menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya menjaga persatuan umat menyejahterakannya melindungi kepentingannya tidak membalas dendam kepada anak-anak yg orang tuanya gugur didalam berperang dgn Muawiyah juga tidak mengganggu seluruh keluarga Nabi Muhammad Saw baik secara terang-terangan maupun tersembunyi dan menghentikan caci maki terhadap para Ahli Bait ini serta tidak mempergunakan gelar “Amirul Mukminin” sebagaimana pernah disandang oleh Khalifah Umar bin Khatab dan Khalifah Ali bin Abu Thalib.

Akan tetapi selang beberapa saat sesudah Muawiyah diakui sebagai Khalifah dia mulai melanggar isi perjanjian tersebut orang-orang yg dianggap mendukung keluarga Nabi diculik dan dibunuh perbendaharaan kas baitul mal Kufah disalah gunakan caci maki terhadap keturunan Nabi dari Fatimah kembali dibangkitkan malah lbh parah lagi mereka memaksa orang utk memutuskan hubungan dgn ahli Bait Nabi.

Tidak hanya sebatas itu beberapa hukum agama yg diatur oleh Nabi Muhammad Saw pun dirombak oleh Muawiyah misalnya Sholat hari raya mempergunakan azan khotbah lbh didahulukan daripada sholat laki-laki diperbolehkan memakai pakaian sutera dan sebagainya.

Mereka juga membuat pernyataan-pernyataan yg dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw dan beberapa sahabat utama yg sebenarnya tidak pernah ada.

Hal ini membuat prihatin para pendukung Hasan bin Ali bin Abu Thalib mereka sepakat utk kembali menyatakan cucu Nabi Saw ini selaku seorang Imam atau pemimpin mereka.

Orang-orang ini diantaranya Hajar bin Adi Adi bin Hatim Musayyab bin Nujbah Malik bin Dhamrah Basyir al-Hamdan dan Sulaiman bin Sharat.

Akan tetapi selang tak lama putera pertama dari Fatimah az-Azzahrah ini wafat krn diracun lama masa pemerintahan Khalifah Hasan ini 6 bulan lbh 1 hari.

Kekejaman dinasti Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim keturunan Nabi Muhammad Saw terus berlanjut sampai pada masa pemerintahan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sofyan yg melakukan pembantaian besar-besaran atas diri Husain sekeluarga dan para pengikutnya dipadang Karbala pada hari Asyura.

Kepala Husain yg mulia telah dipenggal wanita dan anak-anak di-injak-injak wanita hamil serta orang tua pun tidak luput dari pembunuhan kejam itu.

Seluruh keturunan Nabi Muhammad Saw melalui Ali bin Abu Thalib terus dicaci maki meskipun tubuh mereka telah bersimbah darah merah semerah matahari senja yg meninggalkan cahaya ke-emasannya utk berganti pada kegelapan.

Kekejaman Yazid dalam membunuh Husain menyembelih anak-anak dan pembantu-pembantunya begitu pula memberi aib kepada wanita-wanitanya ditambah dalam tahun ke-2 memperkosa kota Madinah yg suci serta membunuh ribuan penduduknya tidak kurang dari 700 orang dari Muhajirin dan Anshar sahabat-sahabat besar Nabi yg masih hidup.

Marilah sekarang kita berpikir secara objektif apakah perbuatan ini dianggap baik oleh orang yg mengaku mencintai Nabinya dan senantiasa bersholawat kepada beliau dan keluarganya dalam tiap sholat ?

Masihkah kita berpikir jahat terhadap orang yg mencintai dan mengasihi ahli Bait sementara kita sendiri justru berusaha utk membela orang-orang yg justru telah secara nyata melakukan pembasmian terhadap keluarga Nabi Muhammad Saw ?

Permusuhan Muawiyyah bin Abu Sofyan terhadap Bani Hasyim terus menurun kepada generasi sesudahnya seperti Yazid bin Muawiyah Marwan Abdul Malik dan Walid barulah pada pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz keadaan berubah.

Sekalipun Umar bin Abdul Aziz berasal dari klan Bani Umayyah sebagaimana juga pendahulunya namun beliau bukan orang yg zalim seluruh penghinaan terhadap keluarga Nabi dilarangnya sebaliknya beliau membersihkan nama dan sangat menghormati para ahli Bait.

Sebagai tambahan catatan dendam lama antara Bani Umayyah terhadap Bani Hasyim pernah secara nyata dilakukan pada jaman Nabi Muhammad Saw masih hidup yaitu manakala Hindun istri Abu Sofyan melakukan permusuhan terhadap Rasul dan bahkan ia juga yg membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib secara licik dalam peperangan Uhud lalu tanpa prikemanusiaan mencincang tubuh paman Nabi itu lalu mengunyah hatinya dimedan perang.

Namun pembalasan apa yg dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw ketika berhasil menguasai seluruh kota Mekkah pada hari Fath Mekkah ?

Seluruh kejahatan Abu Sofyan dan Hindun justru dimaafkan begitu saja oleh Nabi dan rumah Abu Sofyan dinyatakan sebagai tempat yg aman bagi semua orang sebagaimana juga Masjidil Haram dinyatakan bersih dan terjamin keselamatan orang-orang yg berada disana.

Sungguh bertolak belakang sekali perlakuan generasi Bani Hasyim dibanding perlakukan Bani Umayyah terhadap sisa-sisa Bani Hasyim dari keturunan Nabi.

Jika keagungan tujuan kesempitan sarana dan hasil yg menakjubkan adl tiga kriteria kejeniusan manusia siapa yg berani membandingkan manusia yg memiliki kebesaran didalam sejarah modern dgn Muhammad ?

Orang-orang paling terkenal menciptakan tentara hukum dan kekaisaran semata.

Mereka mendirikan apa saja tidak lbh dari kekuatan material yg acapkali hancur didepan mata mereka sendiri.

Nabi Muhammad Saw Rasul Allah yg agung penutup semua Nabi tidak hanya menggerakkan bala tentara rakyat dan dinasti mengubah perundang-undangan kekaisaran. Tetapi juga menggerakkan jutaan orang bahkan lbh dari itu dia memindahkan altar-altar agama-agama ide-ide keyakinan-keyakinan dan jiwa-jiwa.

Berdasarkan sebuah kitab yg tiap ayatnya menjadi hukum dia menciptakan kebangsaan beragama yg membaurkan bangsa-bangsa dari tiap jenis bahasa dan tiap ras.

Dalam diri Muhammad dunia telah menyaksikan fenomena yg paling jarang diatas bumi ini seorang yg miskin berjuang tanpa fasilitas tidak goyah oleh kerasnya ulah para pendosa.

Dia bukan seorang yg jahat dia keturunan baik-baik keluarganya merupakan keluarga yg terhormat dalam pandangan penduduk Mekkah kala itu. Namun dia meninggalkan semua kehormatan tersebut dan lbh memilih utk berjuang mengalami sakit dan derita panasnya matahari dan dinginnya malam hari ditengah gurun pasir hanya utk menghambakan dirinya demi Tuhannya. Dia lbh baik dari apa yg semestinya terjadi pada seseorang seperti dia.

Mari kita semua berpikir objektif dan mengedepankan kejujuran .. sekali lagi jika dgn mencintai keluarga Nabi maka seseorang disebut sebagai Syiah maka saya adl Syi’ah .. tetapi apakah Syi’ah dalam arti aliran keagamaan ? - Tidak - Islam yg saya yakini bukan Islam yg disekat oleh aliran dan madzhab.

Wassalam

Armansyah

Copyright

sumber : file chm kajian islam