Allah Menghalalkan Jual Beli dan Mengharamkan Riba

penulis Al-Ustadz Askari bin Jamal Al-Bugisi
Syariah Tafsir 28 - Februari - 2007 06:02:39

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ

“orang2 yg makan riba tdk dapat berdiri melainkan seperti berdiri orang yg kemasukan setan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yg demikian itu adl disebabkan mereka berkata sesungguh jual beli itu sama dgn riba padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang2 yg telah sampai kepada larangan dari Rabb lalu terus berhenti mk bagi apa yg telah diambil dahulu ; dan urusan kepada Allah. Orang yg mengulangi mk orang itu adl penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Penjelasan Mufradat Ayat

يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا

“Mereka memakan riba.” Maksud memakan di sini adl mengambil. Digunakan istilah “makan” utk makna mengambil sebab tujuan mengambil adl memakan sebagaimana yg dijelaskan oleh Al-Imam Al-Qurthubi. Ini pula yg ditegaskan oleh Al-Imam At-Thabari dlm menafsirkan ayat ini. Beliau rahimahullahu berkata: “Maksud ayat ini dgn dilarang riba bukan semata krn memakan saja namun orang2 yg menjadi sasaran dari turun ayat ini pada hari itu makanan dan santapan mereka adl dari hasil riba. mk Allah menyebutkan berdasarkan sifat mereka dlm menjelaskan besar yg mereka lakukan dari riba dan menganggap jelek keadaan mereka terhadap apa yg mereka peroleh utk menjadi makanan-makanan mereka. dlm firman-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan:

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُوْنَ وَلاَ تُظْلَمُوْنَ

“Hai orang2 yg beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang2 yg beriman. Jika kamu tdk mengerjakan mk ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat mk bagimu pokok hartamu; kamu tdk menganiaya dan tdk dianiaya.”
Ayat ini mengabarkan akan benar apa yg kami katakan dlm permasalahan ini yaitu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan segala hal yg memiliki makna riba. Sama saja baik melakukan aktivitas yg bernilai riba memakan mengambil atau memberikan . Sebagaimana permasalahan ini telah jelas keterangan dari berbagai kabar yg datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَعَنَ اللهُ آكِلَ الرِّبَا، وَمُوْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ إِذَا عَلِمُوا بِهِ

“Allah melaknat yg memakan riba yg memberi riba penulis dan dua saksi jika mereka mengetahuinya.” .
Makna riba secara bahasa berarti tambahan. Dikatakan:

رِبَا الشَّيْءُ يَرْبُو

arti bertambah sesuatu. Adapun secara istilah riba ada dua macam:
Pertama: Riba Nasi`ah
Riba jenis ini ada dua bentuk:
1. Menambah jumlah pembayaran bagi yg berhutang dgn alasan melewati tempo pembayaran. Ini merupakan pokok riba yg diamalkan kaum jahiliyah.
2. Tukar menukar antara dua barang yg sejenis yg termasuk ke dlm barang-barang yg mengandung unsur riba pada dgn mengakhirkan pemberian salah satu dari barang tersebut kepada pihak kedua. Seperti tukar menukar emas yg tdk dilakukan secara kontan di tempat tersebut namun diakhirkan kedua atau salah satunya.
Kedua: Riba Al-Fadhl
Yaitu menambah jumlah takaran atau timbangan terhadap salah satu dari dua barang yg sejenis yg dijadikan sebagai alat tukar menukar dimana barang-barang tersebut termasuk mengandung unsur riba di dalamnya.

لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Mereka tdk bangun melainkan seperti orang yg kemasukan setan lantaran gila.”
Pendapat yg masyhur di kalangan mufassirin bahwa yg dimaksud adl pada saat mereka bangkit dari kubur di hari kiamat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Auf bin Malik Sa’id bin Jubair As-Suddi Rabi’ bin Anas Qatadah Muqatil bin Hayyan dan yg lainnya. Ada pula yg menafsirkan bahwa yg dimaksud adl kesulitan mereka dlm mencari penghasilan dgn cara riba yg menyebabkan akal mereka hilang sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dlm Tafsir-nya.
Yang dimaksud dgn al-mas adl kegilaan.

مَوْعِظَةٌ

“Mau’izhah” Yang dimaksud adl peringatan dan ancaman yg memperingatkan dan membuat mereka takut dgn ayat-ayat Al-Qur`an. Menjanjikan hukuman atas mereka disebabkan mereka memakan hasil riba.

فَلَهُ مَا سَلَفَ

“Maka bagi apa yg telah lalu” yaitu tdk ada celaan atas mereka apa yg telah dimakan dan dimanfaatkan sebelum dia mengetahui haram hal tersebut.

وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ

“Perkara dikembalikan kepada Allah.” Kata ganti hu pada lafadz diperselisihkan makna menjadi empat pendapat:
Pertama kata ganti tersebut kembali ke lafadz riba yg maksud bahwa perkara riba tersebut kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm menetapkan keharamannya.
Kedua kembali kepada lafadz “apa yg telah lalu” yaitu apa yg telah lalu urusan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm hal dimaafkan dan diangkat celaan dari yg melakukan.
Ketiga kembali kepada pelaku riba yaitu urusan kembali kepada Allah. Apakah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan hati utk berhenti dari perbuatan tersebut ataukah dia kembali kepada kemaksiatan dgn melakukan praktek riba.
Keempat kembali kepada lafadz “menghentikan perbuatannya” yaitu memberi makna hiburan dan dorongan kepada orang yg telah berhenti melakukan agar menjadi baik di masa yg akan datang.
Keempat makna ini disebutkan oleh Al-Imam Al-Qurthubi dlm Tafsir-nya.

وَمَنْ عَادَ

“Siapa yg kembali” yaitu kembali melakukan praktek riba sampai dia mati. Ada pula yg mengatakan: “Barangsiapa yg kembali dgn ucapannya: ‘Sesungguh jual beli itu sama saja dgn riba’.”

Penjelasan Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata:
“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang orang2 yg makan dari hasil riba jelek akibat yg mereka peroleh dan kesulitan yg mereka hadapi di kemudian hari. Mereka tdk bangun dari kubur pada hari mereka dibangkitkan melainkan seperti orang yg kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila. Mereka bangkit dari kubur dlm keadaan bingung sempoyongan dan mengalami kegoncangan. Mereka khawatir dan penuh kecemasan akan datang siksaan yg besar dan kesulitan sebagai akibat perbuatan mereka.
Sebagaimana terbalik akal mereka yaitu dgn mereka mengatakan: Jual beli itu seperti riba. Perkataan ini tidaklah bersumber kecuali dari orang yg jahil yg sangat besar kejahilannya. Atau berpura-pura jahil yg keras penentangannya. mk Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas sesuai keadaan mereka sehingga keadaan mereka seperti keadaan orang2 gila.
Ada kemungkinan yg dimaksud dgn firman-Nya: “Mereka tdk dapat berdiri melainkan seperti berdiri orang yg kemasukan setan lantaran tekanan penyakit gila” yaitu pada saat hilang akal mereka utk mencari penghasilan dgn cara riba harapan mereka berkurang dan akal mereka semakin melemah sehingga keadaan dan gerakan mereka menyerupai orang2 yg gila tdk ada keteraturan gerakan dan hilang akal yg meyebabkan tdk memiliki adab.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm membantah mereka dan menjelaskan hikmah-Nya yg agung: “Dan Allah menghalalkan jual beli.”
Karena di dlm mengandung keumuman maslahat. Ia merupakan perkara yg sangat dibutuhkan dan akan menimbulkan kemudharatan bila diharamkan. Ini merupakan prinsip asal dlm menghalalkan segala jenis mata pencaharian hingga datang dalil yg menunjukkan larangan.
“Dan mengharamkan riba” krn di dlm yg mengandung kedzaliman dan akibat yg jelek.
Asy-Syaikh As-Sa’di melanjutkan penjelasannya: “Barangsiapa yg datang kepada mau’izhah dari Rabbnya” yaitu nasehat peringatan dan ancaman dari menjalani cara riba melalui tangan orang yg digerakkan hati utk menasehati sebagai bentuk kasih sayang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap yg dinasehati dan penegakan hujjah atas “lalu dia berhenti” dari perbuatan dan tdk lagi menjalani “maka bagi apa yg telah lalu” yaitu apa yg telah berlalu dari berbagai bentuk mu’amalah yg pernah dilakukan sebelum nasehat datang kepada sebagai sebagai balasan atas sikap dlm menerima nasehat.
Pemahaman dari ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yg tdk berhenti dia akan dibalas dari awal hingga akhirnya. “Dan urusan kembali kepada Allah” berupa pembalasan dari-Nya dan apa yg dilakukan di masa datang dari perkaranya. “Dan barangsiapa yg kembali” dlm menjalani praktek riba dan tdk bermanfaat bagi nasehat bahkan berkelanjutan atas hal itu “Maka mereka adl penghuni neraka mereka kekal di dalamnya.”

Hukuman bagi Orang yg Memakan Hasil Riba
Sesungguh orang2 yg melakukan berbagai macam praktek riba setelah datang penjelasan kepada mereka namun mereka tdk mengindahkan mereka akan mendapatkan dua kehinaan kehinaan di dunia dan kehinaan di akhirat.
Di dunia dia akan ditimpa kehinaan kerendahan tdk memiliki kemuliaan dan wibawa di mata masyarakat apalagi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yg diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian berjual beli dgn cara ‘inah1 dan mengambil ekor-ekor sapi kalian kalian senang dgn sawah2 dan kalian meninggalkan jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala mk Allah akan mencampakkan pada kalian kehinaan. Dia tdk akan melepaskan dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” Abu Dawud Al-Baihaqi dan yg lainnya. Dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullahu dlm Shahih Al-Jami’ no. 423}
Dalam riwayat lain:

إِذَا ضَنَّ النَّاسُ بِالدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيْرِ وَتَبَايَعُوا بِالْعِيْنَةِ وَاتَّبِعُوا أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَتَرَكُوا الْجِهَادَ، بَعَثَ اللهُ عَلَيْهِمْ ذُلاًّ ثُمَّ لاَ يَنْزِعُهُ عَنْهُمْ حَتَّى يُرَاجِعُوا دِيْنَهُمْ

“Jika manusia kikir dgn perak dan emas lalu berjual beli dgn cara ‘inah mengikuti ekor-ekor sapi dan meninggalkan jihad mk Allah akan mencampakkan atas mereka kehinaan. Dia tdk melepaskan dari mereka hingga mereka kembali kepada agamanya.” Ath-Thabarani dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahih Al-Jami’: 675}.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggolongkan dosa orang yg memakan riba termasuk diantara dosa-dosa besar yg membinasakan. Hal ini sebagaimana yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ

“Jauhilah tujuh perkara yg membinasakan.” Para shahabat bertanya: “Apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Allah sihir membunuh jiwa yg diharamkan Allah kecuali dgn cara yg haq memakan hasil riba makan harta anak yatim melarikan diri pada saat perang berkecamuk dan menuduh kepada wanita mukminah yg terjaga.”
Tersebar perbuatan zina dan riba di sebuah kampung akan menjadi penyebab turun adzab dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dijelaskan dlm hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila telah nampak zina dan riba di sebuah kampung mk sungguh mereka telah menghalalkan diri mereka utk mendapatkan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Para pelaku riba juga termasuk orang2 yg mendapatkan laknat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana yg diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata:

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُوْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yg memakan hasil riba yg memberi makan dengan penulis dan dua saksinya. Beliau berkata: Mereka semua sama .”
Adapun hukuman di akhirat mk telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm ayat ini bahwa mereka termasuk diantara penghuni neraka Jahannam. Juga diriwayatkan oleh Bukhari dlm Shahih- dari hadits Samurah bin Jundab radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai shalat beliau menghadapkan wajah kepada kami lalu berkata: “Siapa di antara kalian yg bermimpi tadi malam?”
Jika ada seseorang yg bermimpi mk ia pun mengkisahkan lalu beliau berkata: “Masya Allah.” Suatu ketika beliau berta kepada kami: “Apakah ada seseorang dari kalian bermimpi?” Kami menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Akan tetapi tadi malam aku melihat dua lelaki mendatangiku lalu mengambil tanganku. Mereka mengeluarkanku menuju bumi yg disucikan.3 Tiba-tiba ada seorang laki2 yg sedang duduk dan seorang lagi berdiri. Di tangan ada kallub4 dari besi. Dia memasukkan besi tersebut melalui rahang hingga menembus tengkuk lalu dia melakukan hal yg serupa pada rahang yg lain. Rahang kembali seperti semula lalu dia kembali melakukan perbuatan serupa. Aku bertanya: ‘Ada apa dgn orang ini?’ Kedua menjawab: ‘Lanjutkan .’
Kami melanjutkan perjalanan sampai kami mendatangi seseorang yg berbaring di atas tengkuk dan seseorang berdiri di atas kepala sambil memegang sebongkah batu lalu memukulkan ke kepala hingga pecah. Bila ia telah memukulkan batu tersebut jatuh ke bawah. Ia pun mengambil lagi dan sebelum sampai ke orang itu lagi kepala telah kembali seperti semula. Lalu orang itu memukul kepala kembali.
Aku bertanya: ‘Siapa ini?’ Kedua menjawab: ‘Lanjutkan .’ Kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah lubang seperti tungku perapian. Di bagian atas sempit dan bagian bawah luas. Di bawah dinyalakan api. Jika api itu mendekat mereka pun memanjat hingga hampir saja mereka keluar. Jika api padam mereka kembali ke tempat semula. Di dlm terdapat para lelaki dan wanita dlm keadaan tak mengenakan busana. Aku bertanya: ‘Siapa ini?’ Kedua menjawab: ‘Lanjutkan .’
Kami berjalan lagi hingga mendatangi sebuah sungai yg berisi darah. Di dlm ada seseorang yg berdiri di tengah sungai. Di tepi sungai ada orang yg menggenggam batu pada kedua tangannya. Orang yg ada di tengah sungai ingin menepi. Jika Ia hendak keluar orang yg di pinggir sungai melempar dgn batu yg mengenai mulut lalu ia kembali ke tempat semula. Setiap kali ia hendak keluar ia pun dilempar dgn batu pada mulut lalu ia kembali ke tempat semula.
Aku bertanya: ‘Ada apa dgn orang ini?’ Kedua menjawab: ‘Lanjutkan .’ Kami pun melanjutkan perjalanan hingga kami berhenti di sebuah kebun hijau. Di dlm terdapat pohon yg besar. Di bawah berteduh seorang tua dan anak-anak. Di dekat pohon tersebut ada seseorang yg memegang api pada kedua tangan yg ia menyalakannya.
Lalu kedua membawaku naik ke atas pohon lalu memasukkan aku ke dlm satu rumah yg aku tdk pernah sama sekali melihat rumah lbh indah darinya. Di dlm terdapat beberapa lelaki tua anak-anak muda wanita dan anak-anak kecil. Kedua mengeluarkan aku dari rumah tersebut kemudian membawaku menaiki sebuah pohon dan memasukkan aku ke dlm sebuah rumah yg lbh indah dan lbh afdhal . Di dlm terdapat orang2 tua dan anak-anak muda.
Aku bertanya: ‘Kalian berdua telah membawaku berkeliling pada malam hari ini. Kabarkanlah kepadaku tentang apa yg telah aku lihat.’ Kedua menjawab: ‘Ya. Tentang orang yg engkau lihat menusuk rahang dia adl pendusta. Dia suka berbicara dusta mk kedustaan dibawa orang hingga mencapai ke berbagai penjuru dan dia diperlakukan demikian sampai hari kiamat.
Orang yg engkau lihat dipukul kepala mk dia adl seseorang yg Allah ajarkan kepada Al-Qur`an. Dia tidur di malam hari dan tdk mengamalkan di siang hari. mk dia diperlakukan demikian hingga hari kiamat.
Orang yg engkau lihat dlm tungku adl para pezina. Dan yg engkau lihat di sungai mereka adl orang2 yg memakan hasil riba.
Adapun orang tua yg ada di bawah pohon adl Ibrahim ‘alaihissalam dan anak-anak yg di sekitar adl anak-anak manusia. Yang menyalakan api adl Malik penjaga neraka. Adapun rumah pertama yg engkau masuki adl tempat keumuman kaum mukminin. Adapun rumah ini adl tempat para syuhada. Aku adl Jibril dan ini adl Mikail mk angkatlah kepalamu.’
Akupun mengangkat kepala ternyata di atasku seperti awan. Kedua berkata: ‘Itu adl tempatmu.’ Aku berkata: ‘Biarkan aku memasuki rumahku.’ Kedua menjawab: ‘Sesungguh masih tersisa umurmu yg engkau belum menyempurnakannya. Sekira engkau telah menyempurnakan tentu engkau akan mendatangi tempatmu.’
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata:
“Perkataannya: “Mereka adl orang yg makan hasil riba” Ibnu Hubairah berkata: Sesungguh orang yg makan hasil riba dihukum dgn berenang di sungai merah dan dilempar dgn batu. Sebab asal riba muncul dari emas dan emas berwarna merah. Adapun malaikat yg melempar dgn batu adl isyarat bahwa tdk memberi manfaat sedikitpun kepadanya. Demikian pula riba dimana pemilik harta tersebut membayangkan bahwa harta bertambah padahal Allah melenyapkannya.”
Wallahu a’lam.

1 Salah satu transaksi dgn cara riba. Yaitu seseorang menjual kepada orang lain dgn cara kredit dan barang tersebut telah diserahkan kepada si pembeli. Lalu dia membeli secara kontan dgn harga yg lbh murah dari harga kreditnya.
2 Yaitu menyibukkan diri dgn dunia di saat diwajibkan atas mereka utk berjihad.
3 dlm riwayat lain: mk kedua membawaku menuju langit.
4 Seperti alat utk mengail ujung bengkok dan runcing.

Sumber: www.asysyariah.com